Skip to content

Perjalanan Hayam Wuruk di Blitar I

Ndan ring saka tri tanu rawi ring wesaka, sri na-/-tha muja mara ri palah sabrtya, jambat sing ramya pinaraniran langlitya, ri lwang wentar manguri balitar mwang jimbe

Lalu pada tahun saka Tritanurawi-1283 (1361 Masehi) bulan Wesaka (April-Mei), Baginda Raja memuja (nyekar) ke Palah dengan pengiringnya, berlarut-larut setiap yang indah dikunjungi untuk menghibur hati, di Lawang Wentar Manguri Balitar dan Jimbe

Janjan sangke balitar angidul tut margga, sangkan poryyang gatarasa tahenyadoh wwe, ndah prapteng lodhaya sira pirang ratryangher, sakterumning jaladhi jinalah tut pinggir.

Tidak peduli dari Blitar menuju ke selatan sepanjang jalan, mendaki kayu-kayu mengering kekurangan air tak sedap dipandang, maka Baginda Raja tiba di Lodaya beberapa malam tinggal disana, tertegun pada keindahan laut dijelajahi menyisir pantai.

Sah sangke lodhaya sira manganti simping, sweccha nambya mahajenga ri sang hyang dharma, sakning prasada tuwi hana dohnya ngulwan, na hetuyan bangunenanga wetan matra.

Baginda Raja meninggalkan Lodaya menuju Simping, Dengan rela seraya memperbaiki candi tempat memuja leluhur, Candi itu rusak tampak bergeser ke barat, Itulah sebabnya direnovasi digeser agak ke timur.

Mwang tekang parimana ta pwa pinatut wyaktinya lawan prasasti, hetuyan tinapan sama padhinepan purwwadhi sampun tinugwan, ndan sang hyang kuti ring gurung gurunginambil bhumya sang hyang dharma, gontong, wisnu rareka bajradharaneka pangheli sri narendra.

Serta merta penataannya diperbaiki disesuaikan dengan bunyi prasasti, Lalu diukur yang benar dengan depa di ujung timur telah dibuat tugu, Maka wihara di Gurung Gurung diambil halamannya untuk tempat candi, Gotong, Wisnurare Bajradarana itu sebagai penggantinya oleh Baginda Raja.

Uraian di atas merupakan petikan dari Kakawin Desa Warnnana/ Negara Krtagama yang digubah oleh Mpu Prapanca untuk memuji kebesaran Hayam Wuruk (Rajasa Nagara). Di antara isinya adalah mengenai perjalanan Hayam Wuruk ke berbagai wilayah Majapahit di Jawa. Pada tahun 1283 Saka (1361 Masehi) Bulan Wesaka (April-Mei), Hayam Wuruk melakukan perjalanan ke Blitar. Seperti yang termuat di atas ada beberapa tempat di Blitar yang disinggahi Hayam Wuruk saat melakukan perjalanan di Blitar. Tempat tempat tersebut antara lain adalah: Palah, Lwang Wentar, Manguri, Balitar, Jimbe, Lodaya, Pantai di Blitar Selatan, dan Simping. Tempat tempat tersebut ada yang masih dapat dikenali hingga sekarang.

Palah

Palah merupakan nama kuno dari Candi Penataran. Nama Palah termuat dalam prasasti yang saat ini berada di halaman Candi Penataran. Prasasti tersbut berangka tahun 1197 M, dikeluarkan oleh Raja Srengga dari Kadhiri. Dalam prasasti tersebut diutarakan bahwa Raja Srengga mempersembahkan candi bernama “Palah” untuk Bhatara. Nama Palah juga dapat dijumpai pada catatan Bujangga Manik sekitar tahun 1500 M. Sumber pertama yang menyebut Candi Palah dengan nama Panataran adalah Serat Centhini dari abad ke 19 M.

Lwang Wentar

Menurut sejumlah pendapat Lwang Wentar identik dengan Sawentar. Saat ini di Sawentar masih bisa dijumpai Candi Sawentar.

Manguri

Wilayah Manguri disebutkan berada di sekitar Gunung Pegat Srengat. Sumber tertulis lain yang menyebutan wilayah Manguri adalah Prasasti Gunung Pegat dari Candi Pertapan Gunung Pegat.

swasti cakawarsatïta 1120 karttikamasa tithipaïïcadacï | cuklapaksa ha po | ca wara wugu grahacara agneyastba bharanï naksatra yama(de) | wata wyatighata yo

ga tetila karana baruna parwweca agneyamandala irika diwaca | nya kaki ri subhasita ma | miwruh( )wadin kabuyutan i mukudütan ri mangu ri tanda mangaran i subhasita | samya lwir warasamya |

wleri talwang jurang birikuruwil pandyasan su wwa | risi walat waduri kina | katyanikang kweh nira saksï sinungan cancut tuhun sira si | manwam atuha lwirnira isbi |

i wleri i pandyasan luwëm i lajiran i rawadi i pandyasan | makadi sira ri trinayana | muwah i jalasa( )i( )ha i lwapandak padëlgan pinggir ing tasik | samangkana kweh nira saksï |

n düwan ri manghuri kabuyutan turang sunga lan kewala saka | micranira kapwa mangikut ya ri sang hyang kabuyutan ri subhasita tka dha | haring dlaha tatkala bu |

yut rama ku la jaya ri wleri bu( )cri( )ka buyut | lan juru rakryan pa | sung salai buyut bukung juru mpu santaraja biring pinghai rakrya | n ri manghuri kabaya |

n ring pamalajaran mangaran sa( )la buyut san | kawi buyut sira [tsi] makasi(r)kasi(r) ranggarangga dabadas buyut ha | dyan makasirkasir bhata |

Prasasti Gunung Pegat berasal dari tahun 1120 Saka (1198 Masehi) yang masuk dalam kurun waktu pemerintahan Raja Srengga dari Kerajaan Kadhiri. Prasasti ini tidak dikeluarkan oleh raja. Isinya memberitakan tentang Kaki di Subhasita memberitahukan kepada Kabuyutan di Makudutan di Manghuri selanjutnya ikut ke Sang Hyang Kabuyutan di Subhasita sampai akhri zaman.

Balitar

Di Wilayah Kota Blitar hingga kini masih dapat dijumpai Kelurahan Blitar. Pada wilayah ini masih dijumpai adanya reruntuhan bangunan kuno di Petilasan Aryo Blitar. Selain itu juga masih dapat dijumpai adanya arca dwarapala di halaman warga.

Jimbe

Nama Jimbe hingga kini masih lestari. Pada wilayah ini juga masih dapat disaksikan sejumlah benda cagar budaya masa Hindu Buda yang dikumpulkan di Kekunaan Jimbe.

Lodaya (Lodoyo) dan Pantai Selatan

Meski secara administratif nama Lodaya (Lodoyo) sudah tidak digunakan, namun nama itu masih digunakan sebagian besar masyarakat Blitar untuk menyebut wilayah di selatan Kali Brantas utamanya di sekitar Kecamatan Sutojayan. Hingga kini masih kita masih dapat menjumpai sejumlah benda cagar budaya yang tersebar pada sejumlah titik di selatan Brantas. Baik dari yang ada di pinggiran brantas maupun yang ada di pegunungan selatan hingga dekat pantai.

Arca Siwa dan Ganesa di halaman rumah warga Kalipang, Sutojayan.

Batu candi di Dusun Bening, Kelurahan Jingglong, Sutojayan.

Candi Bacem, Desa Bacem, Sutojayan.

Prasasti Jaring di Kelurahan Kembangarum, Sutojayan.

Situs Pangeran Songgong Buwono di Kelurahan Kedungbunder, Sutojayan

Yoni di Situs Makam Sentono, Kelurahan Sutojayan, Sutojayan.

Candi Cungkup Banjarsari, Desa/ Kec. Wonotirto di selatan Sutojayan.

Prasasti Gunung Nyamil dan Punden Mbah Putri di Desa Ngeni, Kecamatan Wonotirto di selatan Sutojayan, sekarang berada di jalur menuju pantai-pantai Desa Ngadipuro.

Situs Pesanggrahan Hargo Ageng di Desa Gununggede, Wonotirto di selatan Sutojayan.

Dari Lodaya Hayam Wuruk melanjutkan perjalanan ke pantai selatan. Sayangnya Kakawin Desa Warnnana tidak menyebutkan secara jelas nama pantai yang dimaksud. Di selatan Sutojayan sendiri berjajar belasan pantai dari Tambakrejo hingga Serang.

Simping

Nama Simping hingga kini masih dapat kita jumpai. Simping merupakan sebuah Candi Yang terletak di Desa Sumberjati, Kademangan, Kab. Blitar. Dalam Kakawin Desa Warnnana disebutkan bahwa Candi Simping merupakan salah satu tempat pendharmaan Raden Wijaya (Krtarajasa Jaya Wardhana), leluhur Hayam Wuruk.

 

Ring saka matryaruna lina nirang narendra, drak pinratista jina wimbha sire puri jro, hantahpura ywa panelah sikana sudharmma, saiwa pratista cari teki muwah ri simping.

Pada tahun saka Matryaruna (1231 Saka/ 1309 M) Baginda Raja wafat, segera diwujudkan dengan arca Budha di dalam istana (puri jro), Antah Pura demikian nama Candi Baginda, tersebut pula dengan perwujudan Siwa di Simping.

. . .

Demikian lah tempat-tempat yang dikunjungi Hayam Wuruk saat melakukan perjalanan di Blitar pada tahun 1361. Berdasarkan Kakawin Desa Warnnana, pada tahun 1363 Hayam Wuruk kembali melakukan perjalanan ke Blitar.

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *