Skip to content

Mengurai Filosofi Tradisi Berkatan di Masjid Baitulrohman Demuk, Tulungagung: Jembatan Spiritual dan Refleksi Kesetaraan Sosial dalam Iduladha

Hari Raya Iduladha di Masjid Baitulrohman, Desa Demuk, Kecamatan Pucanglaban, Kabupaten Tulungagung, selalu menyajikan pemandangan gotong royong yang menyentuh hati. Rangkaian kegiatan tradisi yang khas di masjid ini dimulai persis setelah ibadah salat Id dan khotbah selesai dikumandangkan. Sebelum jemaah beranjak untuk melaksanakan prosesi penyembelihan hewan kurban, sebuah tradisi luhur langsung digelar di selasar masjid yang teduh. Inilah tradisi berkatan.

Deskripsi Event

Mengurai Filosofi Tradisi Berkatan di Masjid Baitulrohman Demuk, Tulungagung: Jembatan Spiritual dan Refleksi Kesetaraan Sosial dalam Iduladha 5

Berkatan adalah tradisi makan bersama di Desa Demuk setelah rangkaian ibadah salat Id, sebelum menyembelih hewan kurban. Dari sudut pandang sosiologi budaya, penempatan waktu tradisi ini setelah khotbah bukanlah tanpa alasan. Kegiatan ini bertindak sebagai ruang transisi yang sakral, mengubah energi spiritual ibadah ritual menjadi aksi sosial yang nyata. Di balik kesederhanaan nasi yang beralaskan daun pisang, terkandung manifestasi luhur dari keseimbangan hubungan manusia dengan Tuhan (hablum minallah) dan hubungan manusia dengan sesamanya (hablum minannas).

Dimensi Vertikal

Kata berkat secara etimologis berakar dari bahasa Arab, yakni barokah, yang berarti nikmat yang membawa kebaikan. Memulai tradisi ini tepat setelah khotbah selesai merupakan bentuk pengikatan doa-doa yang baru saja dipanjatkan.

Sebelum hidangan dinikmati, para tokoh agama kembali memimpin jemaah untuk melantunkan doa kesyukuran, tahlil singkat, dan kalimat tayyibah. Prosesi ini mengubah sepiring makanan menjadi simbol rasa syukur yang membumi atas segala nikmat iman, kesehatan, dan ketenteraman yang diberikan oleh Sang Pencipta.

Masyarakat meyakini bahwa setiap bulir nasi dan kesederhanaan lauk yang tersaji telah dialiri oleh energi positif dari kekhusyukan ibadah salat Id yang baru saja usai. Lewat medium makanan ini, warga desa menundukkan ego mereka di hadapan Tuhan, mengukuhkan kesadaran bahwa hari raya ini adalah momen perayaan kemenangan spiritual bersama.

Dimensi Horizontal

Jika khotbah salat Id memberikan siraman rohani secara teoretis, maka tradisi berkatan yang langsung menyusul setelahnya adalah bentuk praktik sosialnya. Manfaat nyata dari kagiatan makan-makan sederhana ini dapat diurai ke dalam beberapa fungsi sosial yang luar biasa.

Fungsi pertama adalah penghapusan sekat sosial. Saat tradisi makan bersama dimulai, seluruh jemaah yang masih mengenakan pakaian terbaik mereka untuk salat Id duduk bersila dalam posisi yang sama rendah. Di atas hamparan lantai masjid, status sosial melebur seketika. Siapapun dia, apakah ia seorang tokoh masyarakat, perangkat desa, petani, tua, atau muda, semua duduk berdampingan, menikmati menu yang persis sama: telur dadar goreng yang mekar, mie goreng, dan nasi hangat. Daun pisang yang menjadi alas makan menjadi simbol dari bumi tempat mereka hidup, mengingatkan bahwa semua manusia berdiri setara di hadapan Sang Pencipta.

nasi berkat

Fungsi selanjutnya adalah resolusi konflik hidup bermasyarakat. Di tengah dinamika kehidupan bermasyarakat, gesekan sosial atau kesalahpahaman adalah hal yang lumrah terjadi. Momentum berkumpul tepat setelah khotbah ini menjadi instrumen “pendingin” yang sangat efektif. Obrolan-obrolan ringan, saling mengoper lauk, dan tawa yang pecah di sela-sela suapan menjadi terapi sosial untuk mencairkan kecanggungan dan memperkuat tali silaturahmi.

Mengurai Filosofi Tradisi Berkatan di Masjid Baitulrohman Demuk, Tulungagung: Jembatan Spiritual dan Refleksi Kesetaraan Sosial dalam Iduladha 6

Tradisi ini juga menjadi media transmisi nilai pada generasi muda. Kehadiran anak-anak berpakaian takwa dan berpeci yang ikut larut dalam momen ini memiliki fungsi edukasi yang besar. Melalui pengalaman visual dan emosional ini, generasi muda Desa Demuk secara langsung merekam dan mengadopsi nilai gotong royong, kebersamaan, dan tata krama bermasyarakat sejak dini.

Tradisi berkatan yang digelar tepat setelah khotbah Iduladha di Masjid Baitulrohman Desa Demuk memberikan kita refleksi yang berharga mengenai cara masyarakat lokal merawat modal sosialnya. Ibadah ritual kepada Tuhan (hablum minallah) disempurnakan secara instan melalui kebaikan sosial kepada sesama (hablum minannas).

…

Melalui tradisi sederhana yang terus dijaga ini, masyarakat Desa Demuk berhasil membuktikan bahwa keharmonisan sejati tidak membutuhkan formula yang rumit. Cukup dengan duduk bersama setelah beribadah, membuka hati, merapalkan doa syukur, dan saling berbagi makanan, kedamaian hidup bermasyarakat akan senantiasa terjaga dengan kokoh.


Writer: Deiki

Tinggalkan Balasan

error: Content is protected !!

Eksplorasi konten lain dari D'Travellers

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca