Skip to content

Menelisik ODCB Relief di Punden Caker Blitar

punden caker blitarPunden Caker.

Punden (bukan punden berundak) adalah istilah bagi tempat keramat atau tempat yang dihormati dalam suatu wilayah[1] yang didiami masyarakat Jawa. Bentuknya beragam, ada yang berupa obyek alam seperti batu atau pohon, ada pula yang berupa obyek budaya seperti makam ataupun struktur kuno (bisa juga struktur yang dalam istilah arkeologis disebut punden berundak). Secara konsep, punden dikenal di berbagai wilayah di Nusantara dengan istilah yang berbeda-beda, misalnya istilah Kabuyutan untuk Sunda[2] dan Jere[3] untuk Maluku Utara.

Dalam perjalanan menyusuri berbagai wilayah di Jawa, travelers sekalian akan dengan mudah menemukan keberadaan punden. Ada yang keberadaanya masih lestari, ada pula yang tinggal cerita karena kehilangan masyarakat pendukungnya. Di lingkungan Dusun Banjarjo Kelurahan Kanigoro Blitar terdapat sebuah punden yang masih lestari hingga kini. Punden tersebut benama Punden Caker, ada pula yang menyebutnya Punden Taker. Keunikan punden ini terletak pada salah satu koleksinya yang merupakan Obyek Diduga Cagar Budaya (ODCB).

Deskripsi Punden Caker

Punden Caker merupakan kumpulan benda seni pahat yang dikeramatkan di lingkungan Banjarjo Kanigoro. Benda-benda tersebut kondisinya terawat dan terlindungi di dalam balai terbuka. Benda-banda yang dikeramatkan tersebut cukup beragam. Sebagian besar diindikasikan sebagai karya seni baru namun terdapat satu benda yang merupakan ODCB.

ODCB Punden Caker

ODCB Punden Caker berupa panil relief yang dipahat pada batu andesit. Relief ini menggambarkan seorang tokoh yang berada pada sebuah bale (balai) berhadapan dengan seorang abdi (emban). Menurut Ferry Riyandika, tokoh yang digambarkan berada di balai adalah tokoh wanita. Berdasarkan ukuran batu dan gaya pahatnya, beliau menduga panil ini setidaknya sezaman dengan Candi Sawentar II.

relief punden caker blitar

Panil Relief Punden Caker

Keadaan panil relief Punden Taker saat ini memang tidak terlalu halus, namun beberapa detailnya masih dapat kita nikmati. Bangunan bale pada relief ini dipahat cukup detail. Bagian batur (bagian kaki)[4]nya dilengkapi dengan hiasan geometri yang khas kita jumpai pada peninggalan-peninggalan era Majapahit. Bagian batur bale pada relief Punden Taker ini padananya dapat kita jumpai pada batur batur di kompleks Candi Penataran, Candi Meja Selomangleng, dan peninggalan Majapahit lainnya. Di atas batur terdapat umpak, di atas umpak barulah terdapat alas, tiang dan atap yang tersusun dari bahan mudah rusak (kayu dan ijuk). Padanan utuhnya masih bisa kita jumpai di bale-bale kompleks pure yang ada di Bali.

Panil relief ini dulunya berasal dari luar punden. Relief ini kemudian diamankan bersama benda-benda keramat yang sudah terlebih dulu ada di Punden Caker.

Benda-benda keramat Punden Caker

Menelisik ODCB Relief di Punden Caker Blitar 7

Patung dwarapala.

Benda keramat lainnya di Punden Caker terdiri dari beragam patung. Terdapat patung katak, patung tokoh dengan pahatan berbeda setiap sisinya, dan relief menyerupai kala. Corak pahatan patungnya mengingatkan DTrav pada patung-patung yang dulu bisa dijumpai di tepi jalan menuju Telaga Pacuh. Menurut pemiliknya patung tersebut adalah karya seni baru. Kita bisa komparasikan corak antara kedua patung tersebut melalui dokumentasi di bawah ini. Bagaimana menurut kalian?

Menelisik ODCB Relief di Punden Caker Blitar 8

DI Punden Taker.

Menelisik ODCB Relief di Punden Caker Blitar 9

Di dekat Telaga Pacuh.

Meskipun terindikasi karya baru, tidak serta merta benda-benda di Punden Caker ini diabaikan. Memang ada kemungkinan patung-patung ini hanyalah upaya visualisasi pengalaman spiritual masyarakat yang tidak merujuk pada akar sejarah tertentu. Namun tidak menutup kemungkinan bahwa benda benda tersebut merupakan visualisasi memori kolektif atas benda kuno yang benar-benar pernah ada.

Kemungkinan keterkaitan koleksi Punden Taker dengan tinggalan kuno perlu dipertimbangkan. Sebagai contoh dalam catatan Knebel tahun 1908[5], dilaporkan bahwa pada punden di Desa Slorok Blitar pernah ditemui sejumlah arca kuno berupa Nandi dan Dwarapala. Saat ini benda-benda tersebut sudah tidak ditemukan kembali, sebagai gantinya di punden desa terdapat replika Nandi dan Dwarapala. DTrav pernah mendokumentasikannya namun hilang. Lain waktu akan kami lengkapi fotonya hehe. 😀

Apabila dilacak dalam catatan[5] dan dokumentasi masa kolonial, di sekitar kanigoro memang pernah ditemukan arca siwa dan inskripsi. Saat ini inskripsinya diamankan di halaman Candi Sawentar, sementara dokumentasi arcanya masih dapat kita jumpai pada laman Leiden University Libraries berikut ini.

Semua kemungkinan masih terbuka. Jika travelers sekalian punya teori lain, silakan komen di bawah ya. 😀


Writer: Galy Hardyta

Narasumber: Ferry Riyandika

Sumber:

  1. Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI)
  2. Darsa, U. A., Permana, R. S., & Sumarlina, E. S. N. 2024. KABUYUTAN DALAM TRADISI SUNDA. Jurnal Kajian Budaya Dan Humaniora, 6(2), 181–185. https://doi.org/10.61296/jkbh.v6i2.244
  3. Ansori, C., Iriyanto, N., Hastria, D., Taniardi, P. N., Arif, A. K. D., & Fariji, M. A. 2025. Spatial geoarchaeology of megalithic cultural site (Jere) at Ternate Aspiring National Geopark, North Maluku, Indonesia. International Journal of Geoheritage and Parks, 13(4), 671–690. https://doi.org/10.1016/j.ijgeop.2025.12.002
  4. Rapporten van de Commissie in Nederlandsch Indie voor Oudheidkundig Onderzoek op Java en Madoera (ROC)
  5. Krisnawan, G.A. 2017. Konservasi arsitektur Palebahan Saren Kangin Delodan Puri Saren Agung, Ubud : objek studi Bale Loji dan Bale Meten. Program Studi Arsitektur Fakultas Teknik – UNPAR

Participants: Agung Sasono P. & Galy Hardyta

Tinggalkan Balasan

error: Content is protected !!

Eksplorasi konten lain dari D'Travellers

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca