Skip to content

Menelusuri Situs Domasan Tulungagung, dari Altar Berinskripsi hingga Candi Tuban

Sore itu, sepulang kerja, sebuah dorongan tak biasa mengarahkan kendaraan saya bukan menuju jalan pulang, melainkan menuju Desa Domasan, Kalidawir, Tulungagung. Di balik ketenangan desa ini, kabarnya tersimpan jejak-jejak masa klasik yang layak untuk ditelusuri. Perjalanan ini didorong oleh rasa penasaran setelah saya menyimak unggahan di media sosial yang membahas keberadaan Situs Domasan.

Perjalanan menemukan Situs Domasan tidaklah mudah. Mengingat informasi mengenai situs ini cukup terbatas, saya memberanikan diri untuk bertandang ke Balai Desa Domasan. Alhamdulillah, kedatangan saya disambut hangat oleh perangkat desa setempat. Tidak hanya memberikan petunjuk arah, beliau bahkan meluangkan waktu untuk memandu saya langsung menuju lokasi Situs Domasan.

Deskripsi Situs

Altar Batu Situs Domasan

Ketika berhasil menyaksikan secara langsung benda cagar budaya Situs Domasan, rasa bahagia dan takjub saling berkelindan di dalam pikiran saya. Benda cagar budaya Domasan terdiri dari dua altar batu. Pada salah satu batu altar terdapat inskripsi yang ditulis dengan angka Jawa kuno. Inskripsi tersebut menunjukkan tahun 1061 Saka (1139 Masehi). Sementara itu, pada bagian atas altar yang tidak berinskripsi, terdapat goresan goresan yang terlihat dengan jelas.

Menelusuri Situs Domasan Tulungagung, dari Altar Berinskripsi hingga Candi Tuban 11

Altar batu Situs Domasan.

Kasi pemerintahan, selaku perangkat desa yang menemani saya, menjelaskan bahwa dahulu artefak-artefak Situs Domasan berada di area belakang SD Domasan. Atas kesepakatan masyarakat, artefak-artefak ini dipindahkan ke lokasinya saat ini.

Candi Tuban

Menelusuri jejak peninggalan masa klasik di Desa Domasan tidak bisa dilepaskan dari keberadaan Candi Tuban. Selanjutnya saya diantar oleh prangkat Desa Domasan untuk menuju lokasi bekas Candi Tuban.

Menelusuri Situs Domasan Tulungagung, dari Altar Berinskripsi hingga Candi Tuban 12

Bekas Candi Tuban dokumentasi DTrav tahun 2010

Menelusuri Situs Domasan Tulungagung, dari Altar Berinskripsi hingga Candi Tuban 13

Bekas Candi Tuban dokumentasi DTrav tahun 2017.

Menelusuri Situs Domasan Tulungagung, dari Altar Berinskripsi hingga Candi Tuban 14

Bekas Candi Tuban dokumentasi DTrav tahun 2026.

Lokasi yang diyakini sebagai Candi Tuban kini berupa kolam ikan. Lokasinya berada di lahan pribadi dan diberi pagar keliling. Nyaris tak ada yang tersisa di Candi Tuban. Candi ini dijarah dan dihancurkan sekitar tahun 1967 imbas dari pergolakan politik Indonesia tahun 1965. Beruntungnya, banyak catatan masa kolonial  yang mendiskripsikan candi ini dengan jelas. Bahkan terdapat pula dokumentasi visual yang diarsipkan di laman Leiden University Libraries.

Riwayat Pelestarian

Jejak-jejak peningalan masa klasik di Desa Domasan telah tercatat dalam berbagai laporan di era kolonial Belanda. Sebagian besar membahas panjang lebar mengenai Candi Tuban, tetapi belum ada laporan yang secara khusus mengulas altar batu Situs Domasan.

Catatan paling awal mengenai peninggalan di Domasan dilaporkan oleh Hopermans pada tahun 1866 [1]. Hoepermans melaporkan secara terperinci mengenai kompleks percandian yang ada di Dukuh Gambar, Desa Domasan. Dalam kurun waktu pelaporannya, wilayah Desa Domasan meliputi sebagian wilayah yang saat ini masuk dalam wilayah Desa Mirigambar.

Hoepermans melaporkan mengenai enam candi yang ada di Dukuh Gambar. Candi pertama adalah satu satunya candi berbahan batu trasit (Knebel meluruskannya sebagai batu andesit) yang ada di Dukuh Gambar. Menurut beliau, candi ini akan segara runtuh dan hilang. Meskipun demikian keindahannya dapat dilihat dari ornamen yang tersisa. Pada candi ini juga terdapat insikripsi.

Candi kedua adalah candi bata dengan oranamen yang sangak kaya dan indah. Pahantannya halus dan reliefnya menampilkan figur-figur seperti wayang.

500 meter keselatan dari candi kedua terdapat candi ketiga yang juga tersusun dari bata dengan pintu berada di sisi barat. Pada candi ini ditemukan pula fragmen arca. Kondisi candi ketiga sudah akan runtuh. Jika mengamati dengan seksama, tak jauh dari candi ketiga akan dijumpai reruntuhan candi ke empat, lima dan enam yang tersusun dari bata dengan batu trasit di sudutnya.

Melalui laporan-laporan selanjutnya, kita akan dapat menginterpretasikan identitas candi-candi yang disebut Hopermans. Candi kedua adalah candi yang saat ini dikenal sebagai Candi Mirigambar, sedangkan candi ketiga adalah Candi Tuban. Sedangkan opini saya, jangan-jangan reruntuhan candi pertama berkaitan dengan ODCB Mbah Brojol. Bagaimana menurut kalian? 😉

Catatan selanjutnya dilaporkan oleh Knebel dalam ROC tahun 1908 [2]. Saat membahas peninggalan masa klasik di Domasan, beliau hanya membahas mengenai Candi Tuban tanpa menyingung candi-candi lain yang disebut Hopermans. Knebel membahas Candi Gambar(Mirigambar) dalam sub bab tersendiri. Memang benar dalam pembahasan Domasan, ringkasan laporan Hopermans tetap ditampilkan, bahkan keterangan mengenai inskripsi candi pertama dilengkapi menjadi terbaca 1214?. Namun laporan Knebel secara eksplisit hanya mencatat Candi Tuban sebagai peninggalan masa klasik di Desa Domasan saat itu. Dalam sejarah Desa Mirigambar, memang dijelaskan bahwa pada tahun 1870 terjadi pemekaran dan pendirian Desa Gambar. Mungkin atas dasar hal tersebut, Knebel memisah pembahasan mengenai Candi Gambar dan Candi Tuban.

Laporan Knebel mendiskripsikan Candi Tuban secara lebih detail. Candi Tuban dihiasi dengan ornamen medalion dan tapak dara (Knebel menyebutnya salib, Krom menyebutnya belah ketupat bergerigi). 50 meter dari Candi Tuban ditemukan dua buah batu altar polos. Opini saya, dua altar ini berbeda dengan altar berinskripsi yang deskripsinya kita ulas di atas. Selain ciri-cirinya yang berbeda, jarak altar batu Situs Domasan dengan Candi Tuban lebih jauh dari yang dideskripsikan Knebel, yakni lebih dari 700 m di selatan Candi Tuban.

Dokumen visual Candi Tuban tersaji dalam Verslag oleh Oudheidkundigen Dienst (Dinas Purbakala era kolonial) pada tahun 1915 dan 1916. Dokumen visual tersebut dapat pula diakses pada laman Leiden University Libraries berikut dan berikut.

Catatan selanjutnya dilaporkan Krom pada tahun 1923 [3]. Laporan ini meringkas dan melengkapi laporan-lapiran terdahulu. Banyak laporan mengenai batu berinskripsi yang sebagian cocok dengan yang disimpan di Candi Mirigambar saat ini. Nah ada yang manarik, yaitu mengenai informasi tentang Prasasti dari Raja Kadhiri yang bertarikh 1129 Masehi. Prasasti tersebut tercatat dalam laporan Damais tahun 1952 [4] sebagai Prasasti Candi Tuban bertarikh 1051 Saka. Saat ini prasasti tersebut disimpan di Museum Nasional.

Sejarah

situs comasan

Inskripsi Situs Domasan.

Berdasarkan data laporan dan observasi lapangan, kita dapat mengetahui latar sejarah dari peninggalan-peninggalan sejarah yang ada di Desa Domasan. Prasasti Candi Tuban 1129 M sezaman dengan Pemerintahan Raja Bameswara Kerajaan Kadhiri. Sedangkan altar berinskripsi Situs Domasan 1139 M sezamam dengan Raja Jayabaya Kerajaan Kadhiri (Abad ke-12). Meskipun demikian, kita tidak bisa melepaskan tinggalan-tinggalan yang ada di Desa Domasan dari inskripsi-inskripsi yang ditemukan disekitar Candi Mirigambar yang rentangnya menyentuh hingga masa Majapahit di abad ke 14. Secara corak ornamen dan arsitektur, Krom lebih condong menggolongkan candi-candi di sini berasal dari abad ke-14.

Berdasarkan data laporan dan observasi lapangan tersebut, diketahi bahwa perkembangan budaya klasik Jawa kuno di Domasan dan sekitarnya, berlangsung dalam rentang waktu yang lama dan berkesinambungan dari masa ke masa.

Cerita Rakyat

Peninggalan-peninggalan masa klasik di Domasan dan sekitarnya sempat ditinggalkan dan hilang dari memori masyarakat. Jejak-jejak masa klasik ini ditemukan kembali sekitar tahun 1825 – 1870an berbarengan dengan pembukaan lahan pada masa kolonial Belanda [5]. Interaksi antara jejak-jejak masa klasik dengan masyarakat zaman baru tersebut memunculkan cerita rakyat yang menarik. Contohnya seperti yang dituturkan Krom mengenai perubahan tafsir relief Candi Gambar menjadi cerita Angling Dharma (saya tidak akan membahas laporan tersebut pada artikel ini).

Menelusuri Situs Domasan Tulungagung, dari Altar Berinskripsi hingga Candi Tuban 15

Goresan pada altar batu Situs Domasan.

Kembali ke perjalanan, selama menemani saya menyusuri situs-situs di Desa Domasan, perangkat desa membagikan narasi lokal yang berkembang luas di masyarakat terkait batu altar Situs Domasan. Dalam cerita tutur, goresan yang terdapat pada permukaan altar batu diyakini sebagai bekas asahan senjata pusaka. Ada pula cerita tutur yang mengabarkan bahwa fungsi batu ini adalah sebagai alas atau media untuk menunaikan ibadah salat. Bukti pendukung yang diyakini masyarakat adalah fakta bahwa sebelum benda ini dipindahkan dari lokasi aslinya, posisinya membujur dan menghadap langsung ke arah kiblat. Wow menarik. 😀

Tuturan lisan ini mencerminkan bagaimana masyarakat zaman baru menafsirkan keberadaan benda cagar budaya di lingkungan mereka sesuai dengan konteks zamannya.

…

Perjalanan singkat sore ini memberikan wawasan berharga mengenai kekayaan warisan masa lalu yang masih tersisa di sekitar kita. Jejak peninggalan sejarah di Desa Domasan bukan sekadar batu tua yang dimaknai hanya dalam satu tafsir. Ia adalah jembatan ingatan yang menghubungkan kejayaan di masa lalu dengan dinamika kehidupan masyarakat zaman baru hingga saat ini. Pelestarian fisik atas situs ini beserta pengkajian sejarah yang mendalam menjadi langkah mutlak agar jejak peradaban yang berharga ini tidak sirna ditelan zaman.


Writer: Deiki

Narasumber: Perangkat Desa Domasan

Sumber:

  1. Hindoe-oudheden van Java 1864-1867
  2. Rapporten van de Commissie in Nederlandsch Indie voor Oudheidkundig Onderzoek op Java en Madoera (ROC) 1908
  3. Inleiding tot de Hindoe-Javaansche kunst 1923
  4. Études d’épigraphie indonésienne 1952
  5. Pratiwi, D.I. 2018. PENGAhttp://repo.uinsatu.ac.id/view/divisions/es/RUH MODAL DAN HARGA JUAL TERHADAP LABA KERAJINAN ANYAMAN BAMBU DESA MIRIGAMBAR (DALAM PRESPEKTIF EKONOMI ISLAM). Skripsi. Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam. Universitas Islam Negeri Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung

Tinggalkan Balasan

error: Content is protected !!

Eksplorasi konten lain dari D'Travellers

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca