Skip to content

Candi Mirigambar Tulungagung, dari Anglingdharma hingga Cerita Panji

Candi Mirigambar secara administratif terletak di desa Miri Gambar, Kecamatan Kalidawir (dulu termasuk dalam wilayah Kecamatan Sumber Gempol), Kabupaten Tulungagung. Candi Mirigambar tersusun dari bata. Candi Mirigambar menghadap ke barat, ditandai dengan tangga masuknya yang berada di bagian sisi barat candi. Saat ini Candi Mirigambar sudah tidak lengkap lagi karena bagian atap candi sudah tidak ada lagi, yang tersisa hanya bagian kaki dan batur serta sedikit bagian badan candi. Pada bagian kaki seharusnya terdapat 11 panil relief namun saat ini tinggal terdapat empat panil relief, dua diantaranya telah rusak.

Dalam mitos setempat Candi Mirigambar dikenal pula sebagai Candi Anglingdharma. Hal ini didasari oleh keberadaan relief bersayap yang dipercaya sebagai penggambaran burung mliwis putih dalam cerita Anglingdharma. Penamaan struktur-struktur bangunan cagar budaya di sekitar candi ini pun juga mendapat pengaruh dari mitos Anglingarma. Bekas petirtaan di barat candi dinamai dengan petirtaan mliwis putih, dan Candi Tuban yang terletak ± 300 m di selatan candi ini pun dikaitkan dengan tokoh Batikmadrim (Patih Anglingdharma).

Relief bersayap yang dipercaya sebagai burung mliwis putih

Serakan bata kuno pada patirtaan mliwis putih

Lokasi Candi Tuban Tulungagung yang kini tak berbekas

Terlepas dari mitos. Jika ditinjau dari sisi arkeologis Candi Mirigambar sebenarnya memiliki latar belakang yang luar biasa. Candi ini merupakan bagian dari komplek percandian yang luas dan berasal dari renang waktu sejarah yang cukup panjang. Menurut laporan penduduk, pada abad 19 M di dekat Candi Mirigambar (pada radius sekitar 50–300 m) ada 3 runtuhan candi lainnya. Satu bangunan disusun dari batu dan dua lainnya dari bata. Salah satunya yang berdenah 6,70 x 6,40 m dinamakan Candi Tuban. Menurut laporan dari Oudheidkundigen Dienst dalam tahun 1915 dan 1916, di candi itu pernah ditemukan batu berangka tahun 1129 Saka/1207 M, kronologi dalam periode akhir Kerajaan Kadiri. Menurut laporan N.J. Krom pada tahun 1923, dari sekitar Candi Mirigambar pernah ditemukan prasasti tembaga yang menyebut nama raja Wikramawarddhana dari Majapahit. Berdasarkan laporan-laporan di atas dapat dikatahui bahwa kronologi sejarah seputar Candi Mirigambar bergitu panjang yakni dari masa akhir Kadhiri, melewati Singhasari, hingga masa Majapahit. Saat ini ada tiga angka tahun yang terdapat di halaman Candi Mirigambar yakni 1122 Saka/ 1200 M, 1264 Saka/ 1342 M, 1310 Saka/ 1388 M.

1122 Saka

1264 Saka

1310 Saka

Ditinjau dari reliefnya, Candi Mirigambar memiliki genre cerita yang menarik yakni cerita Panji. Genre cerita ini tergolong satra baru yang berkembang pada masa keemasan Majapahit. Cerita Panji bukan saduran dari epos Ramayana dan Mahabharata India, bukan pula menguraikan kisah para ksatria India, melainkan kisah tentang para ksatria Jawa Kuno sendiri, di alam geografi Jawa dan uraian peristiwanya tentang putra-putri raja-raja Jawa. Tokoh utama dalam cerita Panji adalah Panji, seorang pangeran dari Jenggala, dan Sekartaji atau Candrakirana, putri Kadhiri, dengan latar tempat Jenggala, Kadhiri, Ngurawan, Singhasari, dan Gagelang.

Relief Panji sisi barat

Relief Panji sisi selatan

Dalam relief pada candi-candi (tidak cuma Candi Mirigambar), tokoh Panji digambarkan dengan sosok yang mengenakan penutup kepala tekes (mirip blangkon tapi tanpa tonjolan di belakang). Pada Candi Mirigambar terdapat dua panil relief yang dengan jelas menggambarkan tokoh Panji yakni pada panil depan (barat) dan panil selatan.


Writer: Galy Hardyta

Sumber:

  • Hidayat, T. 2009. Candi Miri Gambar : Tinjauan Arsitektur Percandian Majapahit Abad 14-15 Masehi. Skripsi. Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya. Universitas Indonesia. Depok
  • Cerita Panji di Candi Miri Gambar http://historia.id/kuno/cerita-panji-di-candi-miri-gambar

Participant: Galy, Ali Moes, Chusna, Nikaliana

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *