Skip to content

Punden Gadung Melati Balesono Tulungagung, Aneka Artefak dan Lumpang Kuno Berinskripsi

Jangan buru-buru beranjak setelah puas memanjakan mata di hamparan sawah Mbalong Ilat Desa Balesono. Selain panorama alam, wilayah ini juga memiliki koleksi artefak masa klasik yang menarik untuk dikunjungi. Koleksi artefak tersebut disebut sebagai Punden Gadung Melati.

Deskripsi Situs

Punden Gadung Melati merupakan salah satu tempat yang dihormati di Desa Balesono. Punden ini tersusun dari sejumlah artefak kuno yang dilindungi bangunan cungkup. Terdapat tiga buah lumpang, sejumlah umpak batu dan sepasang gandik pipisan.

Ketiga lumpang tersebut memiliki ukuran dan bentuk yang berbeda-beda. Pada salah satu lumpang terdapat inskripsi pendek yang ditulis dalam aksara Jawa kuno. Inskripsi tersebut berisi informasi mengenai akta pembuatannya 😀 hehehe. Ya, inskripsi tersebut memuat informasi berupa angka tahun 1107 Saka.

Kondisi umpak batu yang ada di situs ini sudah banyak yang terkikis. Sementara itu sepasang gandik dan pipisannya juga sudah aus. Pipisan sudah terbelah dan bagian tengahnya tampak sudah aus, menandakan dulunya benda ini sering digunakan.

Punden Gadung Melati Balesono Tulungagung, Aneka Artefak dan Lumpang Kuno Berinskripsi 6

Lumpang, gandik dan pipisan merupakan peralatan sehari-hari yang berkaitan dengan pengolahan bahan makanan atau ramuan. Lumpang berfungsi sebagai wadah untuk bahan yang akan ditumbuk atau dihaluskan menggunakan alu. Gandik dan pipisan juga merupakan sepasang alat yang berfungsi untuk menghaluskan. Gandik berfungsi sebagai alat penggilas, sedangkan pipisan berfungsi sebagai alas.

Sejarah

Punden Gadung Melati Balesono Tulungagung, Aneka Artefak dan Lumpang Kuno Berinskripsi 7

Berdasarkan akta pebuatan alias angka tahun yang terpahat pada lumpang, kita dapat mengetahui kesejarahan situs Punden Gadung Melati ini. Beruntungnya terdapat prasasti lain yang memuat informasi lebih lengkap yang juga dibuat pada tahun 1107 Saka. Ya, inskripsi pada situs lumpang kuno Gadung Melati Balesono ini menunjukkan tahun yang sama dengan Prasasti Ceker. Prasasti Ceker dianugerahkan oleh Śri Mahārāja Śri Kāmešvara Trivikramāvatāra Anivāryyaviryya Parākrama Digjayottunggadewanāma dari Kerajaan Kadhiri. Prasasti tersebut kini menjadi koleksi Museum Airlangga Kota Kediri, dulunya berasal dari Desa Sukoanyar, Kec. Mojo, Kab. Kediri[1]. Berdasarkan kecocokan dengan tahun diterbitkannya Prasasti Ceker, lumpang kuno Balesono ini berasal dari masa Kerajaan Kadhiri periode pemerintahan Raja Kameswara.

Cerita Rakyat

Meski informasi tertulis yang terpahat pada lumpang kuno Punden Gadung Melati ini masuk dalam periode sejarah masa klasik, penamaannya justru lekat dengan cerita rakyat pada masa setelahnya. Berdasarkan berbagai sumber kajian ilmiah, nama Gadung Melati erat kaitannya dengan mitologi kesuburan di sekitar Gunung Merapi Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah [2][3][4]. Meskipun demikian, tidak bisa dipungkiri bahwa di Jawa Timur terdapat banyak punden yang dikaitkan dengan Gadung Melati, misalnya saja di Kuningan, Maliran dan Tangkilan di Blitar. Opini kami, cerita rakyat Gadung Melati tersebar ke Jawa Timur berbarengan dengan pecahnya Perang Diponegoro atau Perang Jawa yang memaksa sejumlah pengikut Diponegoro melarikan diri ke Jawa bagian timur termasuk Tulungagung hingga Blitar.

Selain cerita mitologis, Gadung Melati juga erat kaitannya dengan istri tokoh Kebo Kanigoro. Dalam legenda, tokoh ini berkelana dan meninggalkan jejak di banyak petilasan termasuk di Jawa Timur. Di akhir kehidupannya, tokoh ini dimakamkan di Sukoharjo, Jawa Tengah[5].

Sepintas informasi yang terhimpun dari cerita rakyat tampak saling bertabrakan dengan data sejarah tertulis. Angka tahun 1107 Saka (1185 Masehi) yang terpahat pada lumpang kuno adalah fakta, begitu pula penyebutan artefak-artefak tersebut oleh masyarakat yang lebih terkini sebagai Punden Gadung Melati juga fakta. Lalu bagaimana kita mendudukkannya? Perlu kita pahami bahwa sebuah obyek atau tempat bisa saja didukung oleh banyak kebudayaan yang silih berganti sepanjang zaman. Bisa jadi suatu kebudayaan merupakan kelanjutan dari kebudayaan sebelumnya, bisa juga tidak, dan justru mengemas narasi baru yang sesuai dengan konteks zamannya. Artefak di Punden Gadung Melati Balesono usianya sudah hampir satu milenium, wajar jika narasinya mengalami penyesuaian.

Lokasi dan Rute

Bagi travelers sekalian yang tertarik untuk menyambangi Punden Gadung Melati dapat mengikuti rute berikut: Dari Balai Desa Balesono, Kec. Ngunut, Tulungagung, berkendaralah pelan ke arah timur sejauh 600 m. Setelah menempuh jarak tersebut, kalian akan menjumpai gang dengan jalan konblok di kiri jalan (sisi utara). Kalau tidak ketemu, berkendaralah sampai Musola Al Huda kemudian putar balik sedikit sambil perhatikan sisi utara. Gang konblok yang kami maksud berada tak jauh dari sana. Selanjutnya ikuti gang koblok tersebut sejauh 200 meter dan kalian akan menemukan cungkup Penden Gadung Melati di kanan jalan.


Writer: Deiki & Galy

Sumber:

  1. Survei prasasti zaman Hindu-Buddha di Provinsi Jawa Timur, Kota dan Kabupaten Pasuruan, Malang, Blitar, Tulungagung, Trenggalek, Kediri, dan Nganjuk, tahun 2023. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dan Organisasi Riset Arkeologi, Bahasa dan Sastra; École française d’Extrême-Orient.
  2. Laporan Penelitian Komunitas Lereng Merapi Serta Respon Terhadap Erupsi Merapi 2010. Laboratorium Antropologi Untuk Riset dan Aksi Universitas Gadjah Mada
  3. Nugraheni, M. W. (2025). Mitos Nyi Gadung Melati sebagai Manifestasi Budaya di Gunung Merapi. Prosiding Seminar Nasional Kajian Bahasa, Sastra, Dan Pengajarannya: Semnas Kabastra, 2(2 November), 84–104. Retrieved from https://journal.untidar.ac.id/index.php/semnas-kabastra/article/view/3389
  4. Permana, D. S. A., & Hartanto, S. (2019). MITOLOGI SEBAGAI PENDIDIKAN KEBENCANAAN DALAM MEMAHAMI ERUPSI GUNUNG MERAPI. Refleksi Edukatika : Jurnal Ilmiah Kependidikan, 9(2). https://doi.org/10.24176/re.v9i2.3277
  5. https://arifmuzayinshofwan.blogspot.com/2014/09/sejarah-kyai-ageng-banyubiru.html

Tinggalkan Balasan

error: Content is protected !!

Eksplorasi konten lain dari D'Travellers

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca