Gua Selomangleng Tulungagung.
Di Jawa Timur terdapat dua gua peninggalan sejarah masa klasik yang memiliki nama sama namun keduanya terletak di wilayah administratif yang berbeda. Gua tersebut adalah Gua Selomangleng yang dapat dijumpai di wilayah Kediri dan Tulungagung. Baik Selomangleng Kediri maupun Tulungagung, masing-masing dari keduanya memiliki latar sejarah dan gaya arsitektur yang khas. Kali ini DTrav akan mengulas Gua Selomangleng Tulungagung. Berikut ulasannya.
Table of Contents
Lokasi dan Rute
Gua Selomangleng Tulungagung secara administraif terletak di Dusun Sanggrahan Kidul, Desa Sanggrahan, Kecamatan Boyolangu, Kabupaten Tulungagung. Gua ini berada satu desa dengan Candi Sanggrahan.
Untuk menuju Goa Selomangleng Tulungagung, travelers sekalian dapat menyusuri jalan raya Boyolangu ke arah Popoh. Sesampai di perempatan pasar Boyolangu silakan belok ke kiri (ke arah timur) sejauh 2,3 km hingga perempatan SDN 1 Sanggrahan. Di perempatan ini terdapat plang petunjuk arah menuju Gua Selomangleng dan Candi Sanggrahan. Untuk menuju Gua Selomangleng silakan belok ke kanan (ke arah selatan) sementara untuk menuju Candi Sanggrahan silakan belok ke kiri (ke arah utara).
Kondisi Medan
Menuju lokasi situs.
Gua Selomangleng Tulungagung terletak di kaki Pegunungan Wajak yang berada jauh dari pemukiman. Karena letaknya cukup terpencil, umumnya gua ini dikunjungi dengan berjalan kaki menyisir jalan setapak di antara ladang warga. Kendaraan dapat dititipkan di lokasi penitipan yang tersedia di kawasan pemukiman.
Deskripsi Situs
Situs Gua Selomangleng Tulungagung sebenarnya tidak hanya terdiri dari gua, beberapa meter dari gua tersebut terdapat struktur candi berbentuk batur. Diduga di masa lalu keduanya merupakan satu rangkaian tempat pemujaan.
Gua
Gua Selomangleng Tulungagung merupakan gua buatan yang dibangun pada sebongkah batu raksasa (monolit) berjenis batuan sedimen. Pada bongkahan batu raksasa tersebut terdapat dua buah ceruk.
Ceruk pertama (ceruk I) berbentuk persegi panjang dengan ukuran lebar mulut gua 397 cm, kedalaman 322 cm, dan tinggi 197 cm. Ceruk ini menghadap ke barat dan terdapat relief di dalamnya. Relief Gua Selomangleng Tulungagung merupakan relief naratif yang menceritakan kisah Arjunawiwaha. Secara ringkas Arjunawiwaha menceritakan tentang tokoh Arjuna yang berhasil menyelamatkan kayangan dengan mengalahkan Raksasa Niwatakawaca atas permintaan Dewa Indra.
Alkisah, Dewa Indra merasa khawatir terhadap Niwatakawaca yang merupakan ancaman bagi kayangan. Niwatakawaca hanya dapat dikalahkan oleh manusia, oleh karena itu Dewa Indra mencoba bersekutu dengan Arjuna. Namun sebelum itu, Dewa Indra merasa perlu untuk menguji Arjuna yang sedang bertapa di Gunung Indrakila. Dewa Indra memerintahkan tujuh bidadari yang dipimpin Tilottama dan Supraba untuk menggoda Arjuna. Singkat cerita Arjuna berhasil melewati ujian dari bidadari. Ujian selanjutnya datang dari Dewa Siwa (Batara Guru), setelah lulus dari ujian tersebut Arjuna diberi senjata sakti. Dengan menggunakan senjata tersebut Arjuna mampu mengalahkan Niwatakawaca. Arjuna memperoleh ganjaran setelah berhasil menyelesaikan tugasnya.
Meski tokoh-tokoh yang dikisahkan dalam relief adalah tokoh-tokoh Hindu, namun beberapa peneliti menduga bahwa latar belakang situs Goa Selomangleng Tulungagung belum tentu Hindu. Beberapa peneliti mengasosiasikan situs ini dengan Buddha, mengingat sinkretisme Hindu dan Buddha memang mencapai puncaknya pada masa klasik periode Jawa Timur.
Adegan Dewa Indra mengutus bidadari untuk menguji Arjuna.
Relief paling kiri menunjukkan adegan tapa Arjuna yang sedang diuji para bidadari; Relief tengah menunjukkan adegan ketika Arjuna diuji oleh Batara Guru yang menyamar dalam wujud orang tua; Relief paling kanan menunjukkan adegan para prajurit yang mengawal Arjuna berperang.
Adegan Dewa Indra di kayangan menunggu berita dari Arjuna yang sedang berperang dilanjutkan adegan Arjuna yang mendapat hadiah untuk menikahi bidadari dan memiliki kekayaan Dewa Indra.
Di Tulungagung terdapat situs gua bersejarah lain yang juga memiliki relief Arjunawiwaha, situs tersebut adalah Gua Pasir. Relief Arjunawiwaha Gua Selomangleng Tulungagung dan Gua Pasir digambarkan dengan keunikannya masing-masing. Relief Arjunawiwaha Gua Selomangleng Tulungagung digambarkan dengan gaya yang lebih naturalis jika dibandingkan dengan relief di Gua Pasir.
Penggalan kisah yang dipahatkan juga berbeda. Relief Gua Selomangleng Tulungagung memiliki alur cerita yang lebih panjang, mulai dari adegan Dewa Indra di kayangan mengutus bidadari untuk menguji pertapaan Arjuna; adegan pertapaan Arjuna yang diuji bidadari; adegan Arjuna diuji oleh Dewa Siwa (Batara Guru); adegan persiapan pertempuran Arjuna melawan Niwatakawaca; dan adegan Arjuna memperoleh hadiah dari dewa setelah berhasil mengalahkan Niwatakawaca. Sementara itu, alur cerita relief Arjunawiwaha di Gua Pasir hanya berfokus pada adegan pertapaan Arjuna yang diuji bidadari.
Di luar ceruk I terdapat sejumlah hiasan yang dipahatkan. Di bagian atas ceruk terdapat kala berukuran raksasa. Sementara itu, di sebelah kanan ceruk terdapat pahatan tokoh yang digambarkan mengenakan mahkota dalam posisi berdiri di atas lapik padma (teratai).
Ceruk kedua (ceruk II) Gua Selomangleng Tulungagung menghadap ke selatan dan letaknya lebih tinggi dari ceruk I. Terdapat lima anak tangga untuk naik menuju ceruk II. Ceruk II memiliki ukuran lebar 409 cm, dalam 200 cm dan tinggi 184 cm. Pada ceruk II tidak terdapat relief di dalamnya.
Ceruk II.
Candi
Candi Meja.
Struktur Candi Selomangleng atau terkadang disebut juga Candi Meja terletak beberapa meter di belakang gua. Lokasinya berada di lereng yang lebih tinggi dari gua. Area belakang candi adalah tebing Pegunungan Wajak, sudah tidak terdapat struktur lain lagi kecuali struktur-struktur di puncak-puncak gunung yang dikelompokkan ke dalam kompleks Candi Dadi.
Candi Meja merupakan struktur berbentuk batur (tanpa bilik dan atap) yang dibangun pada sebuah monolit dengan tambahan tumpukan struktur balok batu di sisi tenggaranya. Batur ini berukuran kurang lebih 472 cm x 472 cm. Kemungkinan karena monolitnya tidak cukup untuk membentuk denah persegi, maka pada sisi tenggara disempurnakan dengan menambah tumpukan balok batu.
Tak jauh dari candi terdapat sebuah lapik yang berbentuk lingkaran.
Candi Meja menghadap ke arah barat dengan susunan tangga berada di depannya. Di kanan kiri tangga terdapat pahatan fauna berkaki empat. Dinding batur dihias dengan pelipit rata dan deretan motif geometri tapak dara. Hiasan dinding tapak dara lazim ditemukan di candi-candi Jawa Timur seperti Candi Boyolangu, Candi Gambar Wetan, Candi Penataran, Candi Sawentar, Candi Ngepung Patianrowo, Candi Ngetos.
Hiasan tapak dara pada dinding batur.
. . .
Hubungan antara gua dan candi di Situs Gua Selamangleng Tulungagung dapat dikorelasikan dengan konsep-konsep dalam Hindu yaitu pembagian dunia dan konsep sifat kedewataan dalam ajaran yoga tantris. Ajaran yoga tantris mengenal istilah sakala, sakala-niskala, niskala. Sakala adalah tahapan yang membutuhkan sifat-sifat kebendaan yang mampu ditangkap pancar indera, sementara niskala adalah tahapan yang sudah tidak memerlukan sifat kebendaan. Oleh karena itu pada gua masih terdapat relief yang ceritanya dapat diikuti oleh panca indera, sedangkan pada candinya tidak terdapat bilik dan atap sehingga menggambarkan kondisi kosong tanpa kebendaan.
Riwayat Pelestarian
Catatan awal mengenai Gua Selomangleng dapat ditemukan dalam laporan Hoepermans tahun 1866. Dalam laporan tersebut terdapat catat mengenai lokasi situs, ukuran ceruk, relief dalam ceruk, dan sejumlah raga hias. Tak banyak deskripsi mendetail dalam laporan Hoepermans. Laporan selanjutnya datang dari Dr. Verbeek tahun 1890 yang memasukkan situs ini ke dalam catatannya dengan nomor 536.
Laporan lebih detail dibuat oleh Knebel pada tahun 1908. Kenebel mengunjungi situs ini bersama Raden Tumenggung Sasrawidigda. Selain mengutip dan melengkapi laporan-laporan pendahulunya, Knebel juga mendeskripsikan adegan-adegan pada relief gua tetapi tanpa memberikan identifikasi mengenai kisah dalam relief. Identifikasi kisah pada relief gua ini sebagai penggambaran kisah Arjunawiwaha dapat dilihat dalam laporan N.J. Krom tahun 1923. Selanjutnya dalam tulisannya di tahun 1959, A.J. Bernet Kempers menduga bahwa situs ini didirikan pada masa pra Kerajaan Kadhiri.
Gua Selomangleng Tulungagung terus menarik para peneliti untuk menelitinya. Penelitian mengenai fungsi situs dilakukan oleh Edy Purwanto pada tahun 1983. Agus Aris Munandar dalam sejumlah karya dan pidato ilmiahnya mengulas mengenai situs ini. Pada tahun 2003 dalam bukunya Worshiping Siva and Buddha The Temple Art of East Java, Kinney et al. juga mengulas mengenai situs ini. Penelitian-penelitian selanjutnya mengenai Gua Selomangleng Tulungagung dilakukan oleh Nainunis Aulia Izza yang dipublikasikan pada tahun 2015 dan 2022.
Kegiatan inventarisasi dan registrasi terhadap situs Gua Selamangleng Tulungagung dilakukan pada tahun 1996 oleh SPSP Jawa Timur (sekarang BPK Wilayah XI). Selanjutnya, penetapan status cagar budaya terhadap situs ini dilakukan pada tahun 2019 dengan diterbitkannya SK Bupati Tulungagung No. 188.45/96/013/2019.
Sejarah
Belum ditemukan sumber sejarah sezaman berupa prasasti atau kitab yang menyinggung Situs Gua Selomangleng Tulungagung. Akan tetapi berdasarkan identifikasi reliefnya, terdapat dua pendapat umum mengenai latar sejarah situs ini. Pendapat pertama menduga bahwa situs ini didirikan pada masa pra Kerajaan Kadhiri (pendapat ini didukung A.J. Bernet Kempers, Ann R. Kinney, Marijke J. Klokke dan Lydia Kieven) kira-kira pada paruh kedua abad kesebelas atau awal abad keduabelas berdasarkan penggambaran reliefnya yang naturalis dan penggalan adegan ceritanya yang mengingatkan pada relief di Patirtaan Jolotundo.
Pendapat kedua menduga bahwa situs ini didirikan pada masa pra Kerajaan Kadhiri namun tetap dimanfaatkan hingga masa Majapahit (pendapat ini didukung oleh Agus Aris Munandar, Kresno Yulianto dan Nainunis Aulia Izza). Mengingat kisah Arjunawiwaha digubah di Jawa Kuno oleh Mpu Kanwa pada masa pemerintahan Raja Airlangga, lebih lanjut Nainunis Aulia Izza menduga bahwa situs ini didirikan sejak masa Airlangga. Raja Airlangga secara umum dikenal sebagai raja Kerajaan Kahuripan, namun dalam karya ilmiahnya Nainunis Aulia Izza lebih memilih menyebut Airlangga sebagai Raja Mataram Kuno periode Jawa Timur. Memang secara kronologi, pemerintahan Airlangga adalah kelanjutan dari kerajaan Mataram Kuno (Medang/ Mdang) periode Jawa Timur.
Writer: Galy Hardyta
Sumber:
- Hindoe-oudheden van Java 1864-1867
- Rapporten van de Commissie in Nederlandsch Indie voor Oudheidkundig Onderzoek op Java en Madoera (ROC) 1908
- Inleiding tot de Hindoe-Javaansche Kunst 1923
- Ancient Indonesian Art 1959
- Worshiping Siva and Buddha The Temple Art of East Java 2003
- Arjunawiwaha The Marriage of Arjuna of Mpu Kanwa 2008
- Munandar, A. A. 2012. Peradaban Majapahit: Data dan Masalah Interpretasinya. Seminar Nasional Teladan Peradaban: Nilai-nilai Luhur Kerajaan Majapahit dalam Perspektif Kekinian. 10 November 2012.
- Sedyawati, E., H. Santiko, H. Djafar, R. Maaulana, W.D. Sudjana Ramelan dan C. Ashari. 2013. Candi Indonesia Seri Jawa. Direktorat Pelestarian Cagar Budaya dan Permuseuman, Direktorat Pelestarian Cagar Budaya dan Permuseuman
- Izza, N. A. 2015. Gaya Arsitektur Gua Selomangleng Tulungagung Sebagai Pertapaan Masa Mataram Kuno Jawa Bagian Timur Dan Muatan Pendidikannya.
- https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/bpcbjatim/gua-selomangleng/
Participant: Galy, Deiki, Gading, Habib








