Skip to content

Gua Selomangleng Tulungagung, Sepenggal Kisah Arjunawiwaha

Gua Selomangleng terletak di Desa Sanggrahan, Kec. Campurdarat, Tulungagung. Gua ini merupakan salah satu destinasi wisata sejarah di Tulungagung. Letaknya cukup strategis karena berdekatan dengan obyek wisata sejarah lainnya seperti Candi Sanggrahan dan Candi Boyolangu.

Kata Selomangleng ditafsiri dari Selo (Batu), Mang (Siwa/Matahari), Leng ( Lubang) jadi artinya adalah batu siwa yang berlubang. Sesuai dengan namanya, Gua Selomangleng memang merupakan ceruk yang dibuat pada sebongkah batu raksasa. Terdapat dua ceruk pada situs ini. Diduga pada masa lalu ceruk-ceruk tersebut difungsikan sebagai tembat bertapa ka-rsi-an. Di atas salah satu ceruk, sekilas terlihat pahatan kala yang cukup besar sebagai penjaga ambang pintu gua.

Menarik untuk disimak bahwa pada salah satu ceruk terdapat relief yang merupakan penggalan kisah dari cerita Arjunawiwaha. Cerita Arjunawiwaha mengisahkan tentang Arjuna yang mengasingkan diri dengan bertapa di gunung. Hal ini ia lakukan karena merasa prihatin atas terjadinya perselisihan antara Pandawa dengan Kurawa (dalam cerita pewayangan Jawa kisah bertapanya Arjuna berjudul Begawan Ciptahening/Mintaraga). Cerita ini menggambarkan perjuangan dan kesabaran Arjuna dalam menjalani kehidupan. Pengorbanan selalu hadir dalam setiap usaha manusia dan Arjuna berhasil menjalaninya dengan baik. Dalam pertapaannya ini, Arjuna memperoleh cobaan dari para Dewa. Dikirimlah tujuh bidadari cantik untuk menggagalkan pertapaan Arjuna, namun Arjuna mampu melewati godaan yang diberikan oleh para Dewa.

Para Dewa di Kahyangan kembali menguji Arjuna dan kali ini para dewa memerintahkan langsung kepada Dewa Indra untuk menguji Arjuna. Dewa Indra menyamar menjadi seorang brahmana tua yang tinggal di hutan dan berhasil menemui Arjuna. Mereka berdiskusi soal agama dan kehidupan, sekali lagi Arjuna mampu melewati ujian dari para dewa. Sehingga Indra menyatakan jati dirinya dan kembali ke Kahyangan. Di lain waktu terjadilah peristiwa di luar pertapaannya, seekor babi hutan datang mengamuk dan akan merusak tempat pertapaan. Arjuna sangat terganggu atas keberadaan babi hutan ini. Ia keluar dari tempat pertapaannya untuk menangkap binatang pengganggu tersebut. Dengan menggunakan busur dan anak panahnya, Arjuna memanah babi hutan tersebut. Tetapi tanpa ia sangka pada saat yang bersamaan melesat pula anak panah dari seorang pemburu tua yang juga mengincar keberadaan babi hutan tersebut. Terjadilah perselisihan antara Arjuna dan pemburu tua tersebut tentang anak panah siapa yang terlebih dahulu mengenai babi hutan tersebut. Ternyata pemburu tua ini adalah jelmaan dari Dewa Siwa yang sedang mengujinya pula. Kedatangan Dewa Siwa ini juga bermaksud meminta bantuan Arjuna untuk meredakan Kahyangan yang sedang guncang akibat diserang seorang raksasa setengah dewa yang bernama Niwatakawaca. Dewa Siwa memberikannya senjata kadewatan berupa Panah Pasopati serta memberinya tugas membinasakan Niwatakawaca. Arjuna menyelesaikan tugasnya dengan baik. Atas keberhasilannya ini Arjuna diberi anugrah menikahi bidadari Kahyangan dan pesta perkawinannya dilaksanakan selama tujuh hari dan tujuh malam.

Uniknya relief Gua Selomangleng tidak menampilkan peristiwa amukan babi. Apakah mungkin karena relief adegan tersebut dianggap kurang mewakili tujuan dari pertapaan, sehingga relief yang dipahatkan hanya sepenggal kisah yang berkaitan dengan pertapaan saja? Hal ini menarik untuk dikaji lebih lanjut.


Writer: Zid

Photographer: Nikaliana

Sumber: Pemaparan Novi BMW pada jelajah situs dalam event Kemah Budaya Festival Gunung Budheg 2017

Participant: Zid, Amalia, Nikaliana

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *