Bentangan pegunungan selatan di wilayah Tulungagung begitu kaya dengan situs-situs sejarah masa klasik. Salah satu situs sejarah terebut berada di area Gunung Padha (Podho). Inilah Situs Gua Pasir.
Table of Contents
Lokasi dan Rute
Situs Gua Pasir secara administratif masuk dalam wilayah Dusun Pasir, Desa Junjung, Kec. Sumbergempol, Tulungagung. Situs ini dapat dituju dari arah Boyolangu ataupun Sumbergempol.
Dari arah Boyolangu, travelers sekalian dapat berpatokan dari perempatan Pasar Boyolangu. Perempatan pasar ke timur melintasi Jl. Pucung Kidul di pinggiran Gunung Wajak. Ikuti jalan raya hingga tiba di Desa Junjung. Kantor Desa Junjung masih terus lurus hingga perempatan Pasar Junjung. Dari Perempatan Pasar Junjung silakan ke selatan (ke kanan). Ikuti jalan desa, jembatan belok kiri hingga menjumpai tempat penitipan kendaraan bermotor Gua Pasir. Gua Pasir dapat dituju dengan menyusuri jalan di samping penitipan kendaraan tersebut.
Dari arah Sumbergempol, travelers sekalian dapat berpatokan dari perempatan Gragalan, Sumberdadi. Dari perempatan tersebut silakan ke selatan mengikuti jalan raya Wonorejo kemudian bersambung ke jalan raya Doroampel hingga tiba di perempatan Pasar Junjung. Perempatan Pasar Junjung lurus saja ke selatan. Rute setelah ini sama seperti rute yang telah dijelaskan sebelumnya.
Silakan pilih rute yang tepat sesuai dengan arah keberangkatan travelers sekalian.
Deskripsi Situs
Situs Gua Pasir terdiri dari sejumlah gua, struktur kuno baik yang tampak maupun terpendam, dan tinggalan lepas lainnya seperti fragmen arca dan umpak. Area sebaran tinggalan arkeologi di Situs Gua Pasir cukup luas mulai dari kaki hingga lereng Gunung Padha.
Dari pintu masuk, mula-mula akan dijumpai struktur bata merah yang hampir acak tak beraturan. Di sisi kanan struktur tersebut akan dijumpai bangunan masa kini berupa cungkup yang di dalamnya terdapat dua buah makam keramat. Makam keramat tersebut tersusun dari bata kuno, pada beberapa bata penyusunnya terdapat ornamen geometri. Keberadaan makam keramat di area Gua Pasir setidaknya sudah tercatat pada laporan para peneliti sejak tahun 1866. Para peneliti tidak mengomentari apakah makam keramat tersebut memiliki latar belakang yang sama dengan Gua Pasir. Makam tersebut saat ini dikenal dengan nama Mbah Bodho. Dalam laporan penelitian terdahulu, di area Gua Pasir juga didapati nama serupa (Kyai Bodho) namun merujuk pada arca.
Struktur bata Situs Goa Pasir.
Makam keramat Goa Pasir.
Di depan bangunan cungkup terdapat sejumlah arca dan umpak batu berbahan batu transit yang ditata berjajar. Jika merujuk pada laporan-laporan penelitian terdahulu, susunan arca tersebut sudah tidak in situ. Sebagian besar arca dalam kondisi rusak sehingga hanya sebagian kecil yang dapat diidentifikasi. Salah satu arca yang dapat diidentifikasi adalah arca dwarapala berdasarkan posisi penggambarannya yang jongkok sambil memegang gada. Terdapat arca berwujud raksasa dalam keadaan berdiri, arca ini merupakan arca terbesar dari kelompok tersebut. Pada fragmen arca yang lain, dijumpai penggambaran tokoh yang diapit tanaman teratai yang keluar dari vas. Sementara itu fragmen-fragmen arca lain sudah sangat rusak. Terdapat arca yang digambarkan bersila di atas sebuah lapik, namun ciri-ciri spesifiknya sudah sulit diamati.
Arca-arca Situs Goa Pasir.
Di belakang tatanan arca adalah tebing Gunung Padha. Pada bagian atas tebing ini lah Goa Pasir berada. Jika diperhatikan, pada tebing di belakang tatanan arca terdapat pahatan anak tangga yang mengarah ke atas. Susunan anak tangga tersebut cukup terjal untuk dilalui. Biasanya untuk menuju lokasi goa, para travelers yang berkunjung akan mendaki melalui jalan lain yakni melalui bongkahan batu-batu besar di belakang tanah lapang.
Anak tangga di tebing gunung.
Menuju gua utama.
Dalam perjalanan menuju gua, travelers sekalian dapat menjumpai arca kura-kura.
Setelah mendaki bongkahan batu batu besar, travelers sekalian akan tiba di Gua Pasir. Gua Pasir merupakan gua buatan yang dipahatkan pada sebuah tebing gunung. Mulut Gua Pasir menghadap ke timur laut, berbentuk segi empat dengan ukuran panjang 440 cm, tinggi mulut gua 186 cm, dan dalam ceruk 166 cm. Di dalam gua terdapat relief yang menggambarkan potongan cerita Arjunawiwaha.
Cerita Arjunawiwaha digubah di Jawa Kuno oleh Mpu Kanwa, pada masa pemerintahan Raja Airlangga penguasa Kerajaan Kahuripan. Karya ini terinspirasi dari kisah Mahabarata, namun jalan ceritanya diduga didasarkan pada perjalanan hidup Sri Airlangga. Secara ringkas Arjunawiwaha menceritakan tentang tokoh Arjuna yang berhasil menyelamatkan kayangan dengan mengalahkan Raksasa Niwatakawaca atas permintaan Dewa Indra.
Dewa Indra merasa khawatir terhadap Niwatakawaca yang merupakan ancaman bagi kayangan. Niwatakawaca hanya dapat dikalahkan oleh manusia, oleh karena itu Dewa Indra mencoba bersekutu dengan Arjuna. Namun sebelum itu, Dewa Indra merasa perlu untuk menguji Arjuna yang sedang bertapa di Gunung Indrakila. Dewa Indra memerintahkan tujuh bidadari yang dipimpin Tilottama dan Supraba untuk menggoda Arjuna. Singkat cerita Arjuna berhasil melewati ujian dan kemudian mampu mengalahkan Niwatakawaca. Arjuna memperoleh ganjaran setelah berhasil menyelesaikan tugasnya.
Cerita Arjunawiwaha berlatar belakang Agama Hindu, namun cerita ini juga dapat dilihat dari sudut padang Agama Buddha. Tokoh Kempers berpendapat bahwa di mata seorang Buddhis cerita Arjunawiwha memiliki bagian potongan cerita yang mirip dengan ujian Sang Buddha saat digoda putri-putri Mara. Sinkretisme Agama Hindu dan Buddha memang mencapai puncaknya pada masa klasik periode Jawa Timur.
Relief Arjunawiwaha yang ada di Gua Pasir merupakan potongan cerita saat Arjuna digoda bidadari. Alasan pemilihan potongan cerita ini diduga untuk menyesuaikan dengan fungsi Gua Pasir, yaitu untuk bertapa.
Pada sisi kanan dan kiri dinding gua, masing-masing dipahatkan gambar seorang resi (punokawan/ abdi Arjuna) dalam posisi duduk bertapa berhadapan dengan seorang wanita (bidadari). Bidadari digambarkan dengan gestur menggoda. Sementara itu pada dinding belakang gua dipahatkan gambar Arjuna yang sedang duduk bersila dengan posisi tangan bersemadi, di sampingnya terdapat bidadari yang menggoda.
Relief punakawan digoda bidadari.
Relief punakawan digoda bidadari.
Relief Arjuna digoda bidadari.
Di Tulungagung, terdapat gua sejarah lain yang juga memiliki relief Arjunawiwaha. Gua tersebut adalah Gua Selomangleng. Adegan cerita yang digambarkan di gua tersebut lebih panjang, dengan gaya pahatan relief yang lebih naturalis.
Kembali ke Situs Gua Pasir, di tebing bagian bawah dengan lokasi sedikit memutar terdapat gua lain. Gua tersebut tidak memiliki relief ataupun ornamen. Gua berbentuk segi empat, dengan ukuran panjang 300 cm, tinggi mulut gua 170 cm, dan dalam ceruk 220 cm.
Gua tanpa relief dan ornamen.
Sedikit terpisah dari lokasi gua, tepatnya di seberang tanah lapang dapat dijumpai tinggalan arkeologi berupa ceruk tangga yang terbuat dari batu monolit yang dibelah diperuntukkan sebagai tangga. Tak jauh dari tangga batu tersebut dapat dijumpai serakan bata kuno dan relief relief yang dipahatkan pada sejumlah bongkahan batu gunung. Relief-relief yang dipahatkan cukup beragam. Terdapat gambar satwa seperti kera dan gajah, terdapat relief tokoh manusia dan relief raksasa (dwarapala).
Tinggalan arkeologi di seberang tanah lapang. Pada bagian kiri bawah terdapat dua bongkahan batu yang berjajar.
Dua bongkahan batu yang disebutkan pada keterangan foto sebelumnya, sebenarnya merupakan tangga batu yang dibuat dari batu monolit yang dibelah. Bagian tangga tersebut pernah ditampakkan dalam kegiatan pelestarian Situs Gua Pasir. Dokumentasi DTrav tahun 2017.
Relief kera, gajah dan tokoh berwujud manusia (mungkin dewa).
Relief yang diidentifikasikan sebagai manusia mengendarai perahu.
Relief raksasa.
Riwayat Pelestarian
Goa Pasir telah dimuat dalam berbagai laporan penelitian peneliti terdahulu. Hoepermans pada tahun 1866 melaporkan mengenai keadaan Candi Junjung (situs ini belum dikenal sebagai Goa Pasir) yang jauh berbeda dengan kondisi yang kita ketahui saat ini. Dalam laporannya, Hoepermans mendeskripsikan mengenai posisi arca yang tidak terkonsentrasi seperti saat ini. Beberapa arca juga masih dapat diidentifikasikan dengan baik. Salah satu yang paling ikonik dalam laporannya adalah arca tokoh wanita berlengan empat berada di atas padma, kedua tangannya memegang teratai. Terdapat pula arca Iain yang juga berlengan empat, memiliki inskripsi yang menunjukkan tahun 1224 Çaka (1302 Masehi). Dalam laporan Hoepermans disinggung pula mengenai keberadaan makam keramat yang berjumlah empat buah.
Selanjutnya Knebel melaporkan mengenai tinggalan arkeologi di Desa Junjung dalam dalam ROC 1908. Dari laporan tersebut diperoleh keterangan mengenai Kyai Bodho suami Nyai Bodho yang merujuk pada penyebutan sebuah arca di Situs Junjung. Laporan Knebel dilengkapi pula dengan sebagian keterangan Hoepermans dan juga hasil pembacaan Verbeek mengenai inskripsi angka tahun 1224 Çaka (yang kemudian terbaca dari sebuah abklatsch menjadi 1325 Çaka, tetapi angka 3 tidak jelas). Baik laporan Hoepermans maupun Knebel tidak menyinggung mengenai keberadaan goa dan Desa Junjung masih masuk dalam wilayah distrik Ngunut.
Selanjutnya, goa pada Situs Goa Pasir diulas secara detail oleh Stutterheim dalam karyanya berjudul De Goewa Pasir bij Toeloeng Agoeng tahun 1933. Kemudian Kempers dalam karyanya berjudul Ancient Indonesian Art tahun 1959 juga menyinggung tentang goa pada Situs Goa Pasir.
Pada tahun 1996 dilaksanakan kegiatan pelestarian berupa inventarisasi dan registrasi dengan memberi nomor inventaris 117/TLA/1996 oleh SPSP Jawa Timur (sekarang BPK Wilayah XI). Pada tahun 2014 dilaksanakan kegiatan pemetaan dan penggambaran Goa Pasir dan pada tahun 2017 dilakukan verifikasi cagar budaya Kabupaten Tulungagung yang dilakukan oleh Balai Pelestarian Cagar Budaya Jawa Timur (sekarang BPK Wilayah XI).
Sejarah
Fragmen arca yang menggambarkan tokoh diapit tanaman teratai yang muncul dari vas.
Berdasarkan inskripsi pada arca di Situs Gua Pasir yang terbaca tahun 1224 Çaka (kemudian terbaca 1325 Çaka dengan catatan angka 3 tidak terbaca dengan jelas) diketahui bahwa situs ini berasal dari masa Kerajaan Majapahit. Kesimpulan ini diperkuat dengan adanya fragmen arca yang menggambarkan tokoh diapit tanaman teratai yang muncul dari vas. Stutterheim dalam De dateering van eenige Oostjavaansche beeldengroepen tahun 1936 berpendapat bahwa arca yang memiliki pahatan tanaman teratai yang muncul dari vas menunjukkan identitas sebagai wangsa Majapahit. Stutterheim dalam De Goewa Pasir bij Toeloeng Agoeng tahun 1933 berpendapat bahwa Gua Pasir adalah tempat pertapaan Rajapatni (Gayatri) nenek dari Raja Rajasanagara (Hayam Wuruk) yang didarmakan di Boyolangu (kemungkinan Candi Boyolangu) dengan corak Candi Buddha.
Writer: Galy Hardyta
Photographer:
- Dokumentasi DTrav tahun 2017 Enny Dwi L.
- Dokumentasi DTrav tahun 2023 Agung Sasono P.
Sumber:
- Hindoe-oudheden van Java 1864-1867
- Rapporten van de Commissie in Nederlandsch Indie voor Oudheidkundig Onderzoek op Java en Madoera (ROC) 1908
- De Goewa Pasir bij Toeloeng Agoeng 1933
- De dateering van eenige Oostjavaansche beeldengroepen 1936
- Ancient Indonesian Art 1959
- Arjunawiwaha The Marriage of Arjuna of Mpu Kanwa 2008
- http://kebudayaan.kemdikbud.go.id/bpcbjatim/gua-pasir/
Participant: Agung, Galy, Adib, Deiki
















