Skip to content

Candi Boyolangu A.K.A Candi Gayatri, Makam Nenek Hayam Wuruk

mwaɳ taiki ri bhayalangö ngwanira saɳ çri rajapatnin dinarmma

rahyaɳ jñanawidinutus/ muwah amuja bhumi çudda pratista

etunyan manaran/ wiçesapura kharambhanya pinrih ginöɳ twas

mantryagöɳ winkas/ wruherikha dmuɳ bhoja nwam utsaha wijna.

Artinya:

Di Bayalango akan dibangun pula candi pendharmaan Sri Padukapatni

Pendeta Jnyanawidi lagi yang ditugaskan memberkahi tanahnya

Maka diberi nama Wisesapura sebab sejak awal perencanaanya diusahakan dengan kebulatan tekad

Menteri terkemuka yang amat bijaksana yakni Demung Boja yang mulai mengusahakan dengan pengalamannya

Berdasarkan uraian kakawin Nagarakrtagama di atas diketahui bahwa Gayatri Rajapatni (Padukapatni) didharmakan (awam: dimakamkan) di Bayalango, dengan nama resmi Wisesapura. Beberapa ahli seperti P.V. Stein Callenfel, N.J. Krom dan W.F Stutterheim mengidentifikasikan bangunan suci Wisesapura adalah Candi Boyolangu yang terletak di Kelurahan/Kecamatan Boyolangu, Kab. Tulungagung.

Candi Boyolangu atau dikenal juga sebagai Candi Gayatri terdiri atas sebuah candi induk dan dua buah candi perwara yang kesemuanya tersusun dari batu bata. Candi induk menghadap ke barat, pada bagian atasnya terdapat 11 umpak dan sebuah arca tokoh. Mungkin dulunya candi ini memiliki tiang dan atap, namun karena terbuat dari bahan mudah rusak, maka yang tersisa kini tinggal umpaknya saja. Pada salah dua dari umpaknya termuat angka tahun 1291 Saka (1369 M) dan 1311 Saka(1389 M).

1291 Saka

1311 Saka

Arca tokoh yang terdapat pada Candi Boyolangu memang sudah rusak, namun beberapa ahli mengidentifikasikannya sebagai arca Prajnaparamita berdasarkan pembandingan dengan bentuk arca yang serupa. Prajnaparamita adalah salah satu bodhisattva dalam ajaran Budha. Diduga arca Prajnaparamita ini merupakan arca perwujudan dari Gayatri Rajapadni yang semasa hidupnya memang tekun menjalankan ajaran Budha.

Tokoh Gayatri Rajapatni adalah putri Sri Kretanegara, yang kemudian menjadi istri dari Raden Wijaya (Krtarajasa Jayawhardana) pendiri Majapahit. Keturunannya adalah Tri Buwana Tunggadewi (Ibu Hayam Wuruk) yang menjadi penguasa Majapahit setelah Jayanegara. Rajapadni wafat pada tahun saka Drestisaptaruna 1272 (1350 Masehi). Pada umumnya 12 tahun setelah wafatnya raja atau keluarga raja akan diselenggarakan upacara sraddha yang diikuti dengan pendirian candi. Oleh karenanya harusnya Candi Boyolangu didirikan pada tahun 1284 Saka, namun angka tahun yang ditemukan pada candi ini justu menunjukkan tahun 1291 dan 1311 Saka. Selisih waktu yang tidak sesuai ini ternyata telah dijelaskan dalam Nagarakrtagama.

Mukyantahpura sagalathawa ri Simping

Mwaɳ sri ranggapura muah ri buddhi kuncir

Prajnaparamita puri hanar panambeh

Mwaɳ tekang ri bhayalangö duweg kinnarya

Artinya:

Bangunan-bangunan suci penting (antara lain) Sagala, Simping

Juga Sri Ranggapura dan (bangunan yang terletak) di Buddi Kuncir

Prajnaparamitapuri (adalah) penambahan yang baru

Adapun (bangunan suci) di Bayalang adalah dicari waktu yang tepat untuk mengerjakannya.

Candi Perwara


Writer: Zid

Photographer: Nikaliana

Sumber:

  • Wasisto, B.L.A. 2009. Candi Boyolangu: Tinjauan Arsitektur dan Arkeologis. Skripsi. Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya. Universitas Indonesia. Depok

Participant: Zid, Amalia, Nikaliana, dalam event Kemah Budaya Festival Gunung Budheg 2017

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *