Skip to content

Candi Boyolangu A.K.A Candi Gayatri, Makam Nenek Hayam Wuruk

candi boyolangu atau candi gayatri

Candi Boyolangu atau Candi Gayatri.

Tulungagung memiliki tinggalan arkeologi yang melimpah. Beberapa di antaranya memengang peranan penting dalam perhelatan sejarah di masa klasik. Dalam postingan kali ini DTrav akan mengulas salah satu di antaranya. Yak, inilah Candi Boyolangu alias Candi Gayatri.

Lokasi dan Rute

Candi Boyolangu atau Candi Gayatri secara administratif masuk dalam wilayah Dusun Dadapan, Desa/Kec. Boyolangu, Tulungagung. Untuk menuju lokasi candi, travelers sekalian tinggal mengarahkan perjalanan ke Jl. Raya Boyolangu. Museum Daerah Tulungagung masih terus ke selatan. Memasuki Desa Boyolangu perhatikan sebelah kanan jalan. SDN 1 Boyolangu dan UPTD Pendidikan & Kebudayaan Kec. Boyolangu masih ke selatan sedikit hingga menjumpai Gapura Gang Candi Gayatri. Dari gapura tersebut silakan belok ke kanan. Ikuti jalan kurang lebih 600 m, Candi Boyolangu terletak di kanan jalan.

Deskripsi Candi

Pada Candi Boyolangu terdapat tiga struktur candi yang terdiri dari sebuah candi induk dan dua buah candi perwara (candi pendamping/ penyerta). Candi induk berukuran paling besar, letaknya berada di tengah diapit candi perwara di sebelah utara dan selatan. Semua struktur yang ada pada kompleks candi ini tersusun dari batu bata.

Candi perwara sisi selatan berdenah persegi dengan ukuran 5,7 m x 5,6 m dengan ketinggian yang tersisa 0,68 m. Terdapat lima umpak batu andesit yang dikumpulkan di bagian tengah struktur. Di atas umpak-umpak tersebut terdapat fragmen hiasan sudut dengan ragam hias tanaman yang distilir. Tidak didapati ragam hias pada struktur ini.

Candi Boyolangu A.K.A Candi Gayatri, Makam Nenek Hayam Wuruk 17

Candi perwara sisi selatan.

Candi perwara sisi utara berdenah persegi panjang dengan ukuran 6 m x 2,9 m dan ketinggian yang tersisa 0,68 m. Ruang candi terbagi atas dua ruang berdenah persegi panjang di sisi utara dan selatan. Pada struktur ini terdapat ragam hias tapak dara.

Candi Boyolangu A.K.A Candi Gayatri, Makam Nenek Hayam Wuruk 18

Candi perwara sisi utara.

Candi induk menghadap ke barat, strukturnya tersusun atas tiga tingkat dengan bagian terluasnya berdenah persegi berukuran 11,4 m x 11,4 m. Candi induk dihiasi dengan ragam hias tapak dara dan elips menonjol. Pada bagian atas candi induk terdapat 11 umpak dan sebuah arca tokoh. Berdasarkan keberadaan umpak, diduga dulunya candi ini memiliki tiang dan atap, namun karena terbuat dari bahan mudah rusak, maka tiang dan atapnya tidak dapat dijumpai lagi. Adapun tiang dan atap pelindung yang saat ini ada di atas candi induk merupakan atap baru yang didirikan pada tahun 2000. Pada salah dua di antara umpak-umpak Candi Boyolangu termuat angka tahun 1291 Saka (1369 M) dan 1311 Saka(1389 M).

Candi Boyolangu A.K.A Candi Gayatri, Makam Nenek Hayam Wuruk 19

Candi Boyolangu atau Candi Gayatri dokumentasi DTrav tahun 2009.

Candi Boyolangu A.K.A Candi Gayatri, Makam Nenek Hayam Wuruk 20

Ragam hias elips menonjol.

Arca tokoh yang terdapat pada Candi Boyolangu dalam kondisi rusak. Bagian kepala dan lengan kirinya telah hilang. Meski telah patah, sikap tangan pada arca tersebut masih dapat dikenali sebagai dharmacakra muda. Sementara itu sikap kakinya menunjukkan duduk vajraparyangka. Melalui ciri-cirinya yang masih dapat diamati, beberapa ahli mengidentifikasikan arca tokoh tersebut sebagai arca Prajñāpāramitā. Hal tersebut berdasarkan pada keserupaanya dengan arca-arca Prajñāpāramitā lain yang pernah ditemukan (arca dari Candi Singhasari, Candi Gumpung, dan beberapa lainnya). Prajñāpāramitā adalah salah satu bodhisattva dalam ajaran Budha.

arca candi boyolangu

Arca Candi Boyolangu.

Sejarah

Sejarah Candi Boyolangu atau Candi Gayatri dapat ditelurusi dari berita dalam karya sastra dan tinggalan artefaktualnya.

Sejarah berdasarkan sumber karya sastra

Karya sastra yang dapat dirujuk untuk menelusuri sejarah Candi Boyolangu adalah Kitab Nāgarakṛtāgama atau Kakawin Desawarnana yang digubah oleh Prapañca pada masa keemasan Majapahit di bawah Raja Hayam Wuruk. Dalam karya sastra tersebut disinggung mengenai pembangunan candi pendharmaan (candi makam) di Bhayālangö. Toponimi Bhayālangö sangat dekat dengan Boyolangu di Tulungagung, terlebih lagi di sini memang terdapat struktur candi. Berdasarkan berita ini, banyak peneliti yang merekonstruksi latar sejarah Candi Boyolangu sebagai candi di Bhayālangö yang didirikan di masa Majapahit. Candi tersebut berkaitan dengan tokoh Gayatri bergelar Rajapatni nenek Raja Hayam Wuruk. Hal ini lah yang melatarbelakangi mengapa Candi Boyolangu disebut juga dengan nama Candi Gayatri. Berita-berita mengenai tokoh Gayatri Rajapatni dan candi pendharmaannya termuat dalam Nāgarakṛtāgama pada pupuh 45 – 46, 2, 63 – 69, dan 74. Berikut kami tampilkan beberapa kutipan (tidak seluruhnya, ada yang hanya dikutip beberapa bait saja):

Satewek nrpa krtarajasa jayawarddana siniwi, sayawaksithi maluy atutur atisadaran umark, pada harsajan umulat/ ri payugala nrpati catur, duhita krtanagara surawadu. pada nrpa tulya.

Artinya:

Selama Kretarajasa Jayawardana duduk di takhta, Seluruh tanah Jawa bersatu padu, tunduk menengadah, Girang memandang pasangan Baginda empat jumlahnya, Puteri Kertanagara cantik- cantik bagai bidadari.

Ndan san çri parameçwari tribhuwana namagrajanindita, tansah dyah duhita prakaçita mahadewyanulus/ rin hajön, prajña paramitakya san makajayendra dewyanindyen raras, dyah gayatry anuraga wunsu pinakadin/ rajapatnin puri.

Artinya:

Sang Parameswari Tribuwana yang sulung, luput dari cela, Lalu Parameswari Mahadewi, rupawan tidak bertara, Prajnyaparamita Jayendradewi, cantik manis menawan hati, Gayatri, yang bungsu, paling terkasih, digelarai Rajapatni.

Pupuh 45 – 46 memberitakan tentang posisi Gayatri sebagai putri bungsu Raja Krtanegara (Raja terakhir Singhasari) dan istri Krtarajasa/ Raden Wijaya (Pendiri Majapahit).

Ndan / san çri rajapatni prakaçita sira matamaha çri narendra, san lwir pawak / bhatari paramabhagawati catranin rat / wiçesa, utsahen yoga buddasmarana gineniran / ciwari wrddamundi, rin çaka drsti saptaruna kalahaniran / mokta munsir kkabuddan.

Artinya:

Sang Sri Rajapatni yang ternama adalah nenekanda Sri Baginda. Seperti titisan Parama Bagawati memayungi jagat raya. Selaku Wikuni tua tekun berlatih yoga menyembah Budha. Tahun Saka dresti saptaruna (1272) kembali beliau ke Budhaloka.

Pupuh 2 memberitakan mangkatnya Gayatri Rajapatni nenek Raja Hayam Wuruk pada tahun 1272 Saka.

Enjin çri natha warnnan/ mijil apupul aweh sewa rin bhrtya mantri, aryyadinyan markh/ mwan para patih atatha rin witanan palingih, nka san mantryapatih wira gajamada mark sapranamyadarojar, an wanten/ rajakaryyalihulihn daryya haywa pramada. ikanan

Ajña çri natha san çri tribhuwana wijayottungadewi…. çradda çri rajapatni wkasana gawayen/ çri narendren kadatwan, siddanin karyya rin çaka diwaça maçirah warnna rin bhadramasa, sakweh çri natha rakwawwata tadah irinen de para wrddamantri.

Nahan lin san sumantri tka subhaya maweh tusta ri çri narendra, sonten praptomark tan para dapur aputih sujyanadinya wijña, mantry asin wineh mwan thanya suruhana makadyaryya ramadiraja, tan len gön nin byayanu sinadasada ginosti harp/çri narendra.

Artinya:

Tersebut paginya Sri Naranata dihadap para menteri semua, Di muka para arya, lalu pepatih, duduk teratur di manguntur, Patih Amangkubumi Gajah Mada tampil ke muka sambil berkata: “Baginda akan melakukan kewajiban yang tak boleh diabaikan.

Atas perintah sang rani Sri Tribuwana Wijayatunggadewi, Supaya pesta serada Sri Rajapatni dilangsungkan Sri Baginda, Di istana pada tahun Saka bersirah empat (1284) bulan Badrapada, Semua pembesar dan Wreda menteri diharap memberi sumbangan”.

Begitu kata sang patih dengan ramah, membuat gembira Baginda, Sorenya datang para pendeta, para budiman, sarjana dan menteri, Yang dapat pinjaman tanah dengan Ranadiraja sebagai kepala, Bersama-sama membicarakan biaya di hadapan Sri Baginda.

Lila çudda manah narendra ri huwusni karyya noran wikhalpa, anhin darmmanireki pinrih i kamal pandak/ ri dadyanya purnna, tkwan/ sampun abhumiçudda rikanan çakagni spatarkka nunten, san çri jñanawidin lumakwani t-her/ mabrahmayajñan pamuja.

Artinya:

Lodang lega rasa Baginda melihat perayaan langsung lancar, Karya yang masih menunggu, menyempurnakan candi di Kamal Pandak, Tanahnya telah disucikan tahun dahana tujuh surya (1274), Dengan persajian dan puja kepada Brahma oleh Jnyanawidi.

Prajñaparimitapuri ywa panlahnin rat/ ri sanhyan sudarmma, prajñaparamitakriyenulahaken/ çri jñanawidyapratista, sotan/ pandita wrdda tantragata labdaweça sarwwagamajña, saksat/ hyan mpu bharada mawak i sirande trpti ki twas narendra.

Mwan taiki ri bhayalanö ngwanira san çri rajapatnin dinarmma, rahyan jñanawidinutus/ muwah amuja bhumi çudda pratista, etunyan manaran/ wiçesapura kharambhanya pinrih ginön twas, mantryagön winkas/ wruherikha dmun bhoja nwam utsaha wijna.

Artinya:

Prajnyaparamitapuri itulah nama candi makam yang dibangun, Arca Sri Rajapatni diberkahi oleh Sang pendeta Jnyanawidi, Telah lanjut usia, paham akan tantra, menghimpun ilmu agama, Laksana titisan Mpu Barada, Baginda menggembirakan hati

Di Bayalangu akan dibangun pula candi makam Sri Rajapatni, Pendeta Jnyanawidi lagi yang ditugaskan memberkahi tanahnya, Rencananya telah disetujui oleh sang menteri demung Boja, Wisesapura namanya, jika candi sudah sempurna dibangun.

Pupuh 63 – 69 memberitakan mengenai upacara sraddha yang diadakan 12 tahun setelah meninggalnya Rajapatni tepatnya pada tahun 1284 Saka. Upacara sraddha dilaksanakan di istana. Pada pupuh 65 disinggung mengenai upaya penyempurnaan candi di Kamal Pandak sebagai tepat pendharmaan Rajapatni yang sudah dimulai sejak 1274 Saka. Pada pupuh 69 diberitakan bahwa tambahan candi baru di Kamal Pandak bernama Prajñāpāramitāpuri, dan akan dibangun candi lagi untuk Rajapatni di Bhayālangö bernama Wiśeṣapura.

Mukyantahpura sagalathawa ri simpin, mwan cri rangapura muwah rin buddi kuncir, prajnaparamita puri hanar panambeh, mwan tekan ri bhayalano duweg kinaryya.

Artinya:

Bangunan-bangunan suci penting (antara lain) Sagala, Simping Juga Sri Ranggapura dan (bangunan yang terletak) di Buddi Kuncir, Prajnaparamitapuri (adalah) penambahan yang baru, Adapun (bangunan suci) di Bayalangu adalah dicari waktu yang tepat untuk mengerjakannya.

Pupuh 74 menegaskan bahwa Prajñāpāramitāpuri dan candi di Bhayālangö masuk dalam 27 darmma haji (candi raja).

Sejarah berdasarkan sumber artifak

Pada salah dua di antara umpak-umpak Candi Boyolangu termuat angka tahun 1291 Saka (1369 M) dan 1311 Saka(1389 M). Angka tahun yang tertera pada umpak batu tersebut dapat dirujuk sebagai tahun pendirian Candi Boyolangu. Kedua angka tahun tersebut masuk dalam masa Kerajaan Majapahit di bawah pemerintahan Raja Hayam Wuruk/ Rajasanagara.

Candi Boyolangu A.K.A Candi Gayatri, Makam Nenek Hayam Wuruk 21Inskripsi tahun 1291 Saka dokumentasi DTrav tahun 2017.

Candi Boyolangu A.K.A Candi Gayatri, Makam Nenek Hayam Wuruk 22Inskripsi tahun 1311 Saka dokumentasi DTrav tahun 2017.

Angka tahun di Candi Boyolangu memang menunjukkan kurun waktu yang lebih belakangan dari pada seharusnya upacara sraddha untuk Gayatri diselenggarakan. Namun hal tersebut telah dijelaskan dalam Kitab Nāgarakṛtāgama bahwa pada tahun 1284 saat diselenggarakan sraddha, candi di Boyolangu masih akan dibangun (pupuh 69); dan akan dicari waktu yang tepat untuk mengerjakannya (pupuh 74).

Riwayat Pelesterian

Banyak peneliti dan akademisi yang telah melaporkan dan mengkaji mengenai Candi Boyolangu atau Candi Gayatri. Penemuan kembali candi ini oleh masyarakat, umumnya disepakati terjadi pada tahun 1914, kemudian penelitian pertama terhadap candi ini dilakukan oleh P.V. Stein Callenfels pada tahun 1916. Akan tetapi, keberadaan tinggalan-tinggalan arkeologi di wilayah Desa Boyolangu sebenarnya telah dilaporkan oleh Knebel pada tahun 1908.

Dalam laporan Knebel dijelaskan bahwa di Boyolangu terdapat sejumlah artifak yang tersebar di beberapa lokasi. Artifak-artifak tersebut di antaranya adalah arca tokoh laki-laki; kemudian di lain tempat ditemukan dua buah yoni; di lain tempat lagi terdapat Punden Gilang (padmasana arca di Candi Boyolangu?), Bodhisattva-çakti (arca di Candi Boyolangu?), sejumlah umpak yang dua di antaranya mengandung inskripsi 1291 dan 1311 Saka, arca parwati dan arca tokoh wanita berlengan empat. Knebel melaporkan pula aktivitas masyarakat (utamanya petani) yang mengeramatkan Punden Gilang. Biasanya di tempat ini dilakukan kurban di Jum’at legi, dan dilakukan pula festival tahunan berupa bersih dusun.

Laporan Knebel ditutup dengan mengutip berita lebih lampau mengenai pelaporan artifak di Tulungagung oleh Haase pada tahun 1899. Haase mengirimkan dokumentasi gambar mengenai beberapa artifak di Tulungagung. Laporan Haase ditindaklanjuti oleh Brandes kemudian diberi keterangan. Di antara dokumentasi artifak-artifak tersebut menunjukkan artifak dari Boyolangu (Punden Gilang). Yang menarik, Brandes memberi keterangan bahwa terdapat artifak perunggu yang berasal dari Punden Gilang.

Kembali ke P.V. Stein Callenfels 1916, dalam laporannya yang diterbitkan dalam Oudheidkundige Verslag beliau menyatakan bahwa Punden Gilang merupakan candi pendharmaan Rajapatni berdasarkan uraian Kitab Nāgarakṛtāgama. Alasannya karena dalam kitab tersebut terdapat keterangan bahwa Rajapatni dicandikan di Bhayālangö yang secara toponimi sangat dekat dengan Desa dan Kecamatan Boyolangu. Beliau  menyatakan nama candi pemdharmaan di Boyolangu tersebut adalah Prajñāpāramitāpuri.

Pendapat P.V. Stein Callenfel ini disetujui dan disempurnakan dalam laporan penelitian selanjutnya oleh N.J. Krom tahun 1923 (Inleiding tot de HindoeJavaansche Kunst). Menurut Krom, candi pendharmaan Rajapatni di Bhayālangö bernama Wiśeṣapura. Baik Prajñāpāramitāpuri maupun Wiśeṣapura keduanya terkonfirmasi dalam Nāgarakṛtāgama sebagai candi pendharmaan Rajapatni. Prajñāpāramitāpuri di Kamal Pandak, sedangkan Wiśeṣapura di Boyolangu. Berdasarkan hal tersebut, pendapat Krom lebih bisa diterima. Kembali ke laporan Krom, beliau menyatakan bahwa Candi Boyolangu dibangun sebanyak dua kali berdasarkan adanya dua angka tahun yakni 1291 dan 1311 Saka.

W.F. Stutterheim melakukan penelitian pada Candi Boyolangu dilaporkan dalam Oudheidkundige Aantekeningen pada tahun 1932. Beliau sepakat dengan hasil penelitian sebelumnya, namun menambahkan beberapa pandangan baru. Beliau berpendapat bahwa baik Prajñāpāramitāpuri dan Wiśeṣapura terletak di Boyolangu. Prajñāpāramitāpuri dianggap sebagai tempat pendharmaan Jayendradewi (kakak Rajapatni), sedangkan Wiśeṣapura yang dibangun kemudian diperuntukkan untuk Rajapatni.

Pada tahun 2003 Agus Aris Munandar melakukan kajian terhadap beberapa arca Prajñāpāramitā termasuk arca di Candi Boyolangu. Dalam kajian tersebut beliau menyatakan bahwa arca Prajñāpāramitā di Candi Boyolangu dan Candi Putri di kawasan Candi Singosari merupakan perwujudan tokoh Gayatri atau Rajapatni.

Pada tahun 2009 B.L.A. Wasisto dalam skripsinya berjudul Candi Boyolangu: Tinjauan Arsitektur dan Arkeologi melakukan upaya rekonstruksi Candi Boyolangu yang dianggap pendharmaan Rajapatni. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa candi tersebut berbentuk balai terbuka, dengan lantai bertingkat tiga, beratap meru tumpang.

Pandangan yang cukup menarik dinyatakan oleh Hadi Sidomulyo pada tahun 2010 dalam bukunya berjudul Napak Tilas Perjalanan Mpu Prapañca. Beliau menyatakan bahwa candi pendharmaan Rajapatni seharusnya dicari di daerah Pasuruan. Hal ini didasarkan pada interpretasi bahwa Raja Hayam Wuruk saat melakukan perjalanan ke Lumajang pada tahun 1281 S (1359 M) sempat menginap tiga malam di daerah Bhayālangö yang disebutkan dalam Kitab Nāgarakṛtāgama pupuh 19 berada di dekat Pasuruan. Mengenai lokasi pendharmaan Rajapatni di Pasuruan sebenarnya telah dikemukakan P.V. Stein Callenfels 1916 namun beliau mengabaikannya.

Pada tahun 2024 M. Satok Yusuf melakukan telaah ulang menganai Candi Boyolangu. Dalam kajian tersebut Satok Yusuf dapat menengahi silang pendapat antara para peneliti terdahulu mengenai keletakan pendharmaan Rajapatni. Beliau meneguhkan pendapat bahwa Candi Boyolangu di Tulungagung adalah Wiśeṣapura. Adapun wilayah bernama Bhayālangö dalam Nāgarakṛtāgama yang terindikasi sebagai dua tempat yang berbeda, menurut beliau hanyalah fenomena kesamaan toponimi.

Terdapat beberapa toponimi kembar pada masa Jawa Kuno misalnya: Panumbangan yang dapat dijumpai di Blitar (Plumbangan) dan Sidoarjo (Penambangan); Pakaṇḍangan yang dapat dijumpai di Blitar (Kandangan) dan Surabaya (Kandangan); Padlĕgan yang termuat dalam prasasti-prasasti di sekitar Blitar-Tulungagung namun kini namanya tidak lestari, toponimi tersebut justru lestari di Pasuruhan sebagai Dusun Pandelegan di Desa Raci, Bangil. Dengan demikian, Satok Yusuf menyimpulkan bahwa toponimi Bhayālangö di Pasuruan yang dikunjungi Hayam Wuruk bukan lokasi pendharmaan Rajapatni, melainkan hanya nama desa yang berdekatan dengan Kamal Pandak dan menjadi kembaran toponimi dari Bhayālangö di Tulungagung.

Masih dalam karya ilmiah yang sama, Satok Yusuf selanjutnya melakukan analisis kritis mengenai arca Prajñāpāramitā di Candi Boyolangu. Menurut beliau, agak mengherankan bila di Candi Boyolangu yang dibangun pada masa Majapahit justru memiliki arca utama berlanggam Singhasari. Arca Prajñāpāramitā di Candi Boyolangu memang menunjukkan langgam Singhasari karena memiliki ragam hias berupa tanaman teratai yang muncul dari bonggol, bukan dari vas seperti umumnya arca langgam Majapahit. Satok Yusuf berpendapat bahwa kemungkinan dulunya di Boyolangu telah ada candi dengan arca Prajñāpāramitā dari masa Singhasari yang pada masa Majapahit ditransformasikan menjadi candi pendharmaan Rajapatni.

Candi Boyolangu A.K.A Candi Gayatri, Makam Nenek Hayam Wuruk 23

Ragam hias vas muncul dari bonggol, ciri arca tokoh wangsa Singhasari.

Analisis kritis Satok Yusuf sebenarnya dapat ditengahi melalui pendapat W.F. Stutterheim dalam De dateering van eenige Oostjavaansche beeldengroepen 1936. Menurut Stutterheim, ciri teratai yang muncul dari bonggol atau pun yang keluar dari vas bukan menunjukkan masa, melainkan menunjukkan wangsa. Oleh karena itu meski dibangun pada masa Majapahit, namun karena secara wangsa Rajapatni adalah keturunan dari Krtanegara (Raja Singhasari terakhir), maka arca Candi Boyolangu tetap dihiasi dengan ragam hias teratai muncul dari bonggol sebagai penanda wangsa Singhasari. Apabila ditelaah lebih mendetail, teks Nāgarakṛtāgama juga menegaskan bahwa candi di Bhayālangö merupakan candi baru yang dibangun kemudian.

Candi Boyolangu telah diinventarisasi dan diregistrasi pada tahun 1996. Pada tahun 2001 dilakukan pemetaan dan penggambaran. Pada tahun 2019 candi ini ditetapkan sebagai cagar budaya oleh Bupati Tulungagung dengan Nomor SK 188.45/96/013/201. Pada tahun 2021 dilakukan studi kelayakan pemugaran yang dilanjutkan dengan studi teknis pemugaran di tahun 2024 oleh BPK Wilayah XI.

Candi Boyolangu A.K.A Candi Gayatri, Makam Nenek Hayam Wuruk 24

DTrav di Candi Gayatri.


Writer: Galy Hardyta

Photographer:

  • Dokumentasi tahun 2009 Pristiko Gunawan
  • Dokumentasi tahun 2017 Nikaliana
  • Dokumentasi tahun 2023 Galy Hardyta

Sumber:

  • Rapporten van de Commissie in Nederlandsch Indie voor Oudheidkundig Onderzoek op Java en Madoera (ROC) 1908
  • Oudheidkundige Verslag 1916
  • Inleiding tot de Hindoe-Javaansche Kunst 1923
  • De dateering van eenige Oostjavaansche beeldengroepen 1936
  • Wasisto, B.L.A. 2009. Candi Boyolangu: Tinjauan Arsitektur dan Arkeologis. Skripsi. Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya. Universitas Indonesia. Depok
  • Yusuf, M.S. 2024. Meninjau Ulang Candi Boyolangu Sebagai Pendharmaan Gayatri Rajapatni. AMERTA: Jurnal Penelitian dan Pengembangan Arkeologi. 42 (1): 1 – 18
  • https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/bpkw11/candi-boyolangu/

Participant:

  • Trip tahun 2009: Galy, Tiko
  • Trip tahun 2017: Zid, Amalia, Nikaliana, dalam event Kemah Budaya Festival Gunung Budheg 2017
  • Trip tahun 2023: Deiki, Gading, Galy, Habib

Tinggalkan Balasan

error: Content is protected !!

Eksplorasi konten lain dari D'Travellers

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca