Skip to content

Upacara Adat Siraman Gong Kyai Pradah Blitar

siraman gong kyai pradah

Upacara adat Siraman Gong Kyai Pradah.

Di Blitar terdapat tradisi turun-temurun yang sudah sangat dikenal dan menjadi daya tarik wisata event budaya. Tradisi tersebut disengkuyung khususnya oleh masayarakat di Blitar Selatan (Kec. Sutojayan dan sekitarnya). DTrav yakin bahwa travelers sekalian sudah sangat mengenalnya. Yup, inilah tradisi Siraman Gong Kyai Pradah/ Jamasan Gong Kyai Pradah/ Siraman Mbah Pradah.

Deskripsi Event

Siraman Gong Kyai Pradah atau Jamasan Gong Kyai Pradah adalah serangkaian ritual memandikan benda pusaka berupa gong atau bendhe bernama Kyai Pradah. Event ini rutin diselenggarakan dua kali dalam setahun, yakni setiap 1 Syawal dan Rabiul Awal bertepatan dengan Maulid Nabi Muhamad Shalallahu Alaihi Wassalam. Kegiatan inti Siraman Gong Kyai Pradah difokuskan di alun alun Lodoyo, Pendopo Kecamatan Sutojayan. Biasanya di sekeliling alun alun diselenggarakan pasar rakyat untuk meramaikan event.

Event ini biasanya dimulai sejak pukul 08.00 pagi hingga 11.00 siang. Event dimulai dengan penyambutan Bupati Blitar beserta rombongan oleh iring-iringan cucuk laku, paceti, dan prajurit. Sesampai di Pendopo Kec. Sutojayan rombongan Bupati disambut dengan gending Jawa.

Prosesi dilanjutkan dengan kirab Pusaka Gong Kyai Pradah dari Sanggar (tempat penyimpanan) menuju Padusan Pusaka (tempat memandikan pusaka). Sebelum pemandian pusaka, dilakukan pembacaan naskah sejarah Pusaka Gong Kyai Pradah, Do’a dan  Ujub.

jamasan gong kyai pradah

Siraman Gong Kyai Pradah.

Prosesi inti adalah Jamasan/ Siraman Pusaka Gong Kyai Pradah dengan air kembang setaman. Sisa air jamasan yang memancar kemudian diperebutkan masyarakat yang menyaksikan. Setelah dimandikan, gong dipukul sebanyak 7 (tujuh) kali untuk diperdengarkan suaranya.

Upacara Adat Siraman Gong Kyai Pradah Blitar 1

Masyarakat berebut air jamasan dokumentasi DTrav tahun 2024.

Upacara Adat Siraman Gong Kyai Pradah Blitar 2

Masyarakat berebut air jamasan dokumentasi DTrav tahun 2013.

Pusaka Gong Kyai Pradah dikirab kembali ke sanggar untuk disimpan. Bersamaan dengan itu dilaksanakan selamatan di pendopo. Setelah prosesi di sanggar usai, dilakukan pembacaan Ujub dan Do’a secara Agama Islam. Kegiatan di akhiri dengan penyerahan Selendang Bekso Langen Tayub kepada salah seorang penari oleh Bupati Blitar.

Rangkaian upacara adat Siraman Gong Kyai Pradah tidak hanya terfokus pada prosesi inti saja, banyak acara-acara penyerta mulai dari H-1 hingga malam setelah prosesi jamasan usai. Di malam hari biasanya diselenggarakan pagelaran wayang kulit untuk melengkapi event ini.

Upacara Adat Siraman Gong Kyai Pradah Blitar 3

Pagelaran wayang kulit dalam rangka Siraman Gong Kyai Pradah.

Legenda

Prosesi Siraman Gong Kyai Pradah sangat erat kaitannya dengan legenda yang mengakar kuat di Lodoyo. Legenda ini memiliki berbagai versi namun garis besarnya sama.

Versi buku Cerita Rakyat dari Blitar (Jawa Timur)

Alkisah Sunan Pakubuwana I penguasa Kerajaan Mataram, mempunyai menantu bergelar Pangeran Prabu. Pengeran Prabu merencanakan makar sehingga diusir Pakubuwono I dari keraton. Dengan berbekal bendhe pusaka Kiai Bicak, Pangeran Prabu bersama sang istri bernama Gusti Wandansari  dan abdinya Ki Amat Tariman melakukan perjalanan ke arah timur berbelok ke selatan. Setiba di pinggir hutan mereka bertiga beristirahat di bawah pohon Lo (Elo). Tiba-tiba pohon miring (dhoyong) ketika Pangeran Prabu bersandar. Maka daerah tersebut diberi nama Lodhoyong (Lodoyo).

Rombongan melanjutkan perjalanan memasuki hutan dan berakhir menginap di rumah Nyai Patrasuta. Semenjak betah dan kerasan tinggal di daerah Lodhoyong, Pangeran Prabu berkeliling di sekitar hutan bersama Ki Amat Tariman. Dalam perjalanan mengelilingi hutan, Pengeran Prabu tersesat dan terpisah dari abdinya. Karena kebingungan, Pangeran Prabu menabuh bendhe Kiai Bicak. Suara bendhe Kiai Bicak justru mengundang kehadiran sekelompok macan (harimau). Tanpa diduga sekelompok binatang buas tersebut mengantarkan Pangeran Prabu kembali ke rumah Nyai Patrasuta. Semenjak kejadian tersebut, bendhe Kiai Bicak dijuluki sebagai bendhe Kiai Macan.

Di kemudian hari bendhe Kiai Macan diserahkan kepada Nyai Patrasuta, tidak lupa Pengeran Prabu berpesan agar bendhe tersebut dirawat dan dicuci menggunakan bunga setaman. Pengeran Prabu dan rombongan berpamitan untuk melanjutkan perjalanan. Suatu hari warga Lodhoyong digegerkan dengan hilangnya bendhe Kiai Macan. Berbagai upaya pencarian dilakukan namun tidak membuahkan hasil. Datang lah tokoh Kiai Pradah, beliau membantu mencari pusaka tersebut dengan menancap-nancapkan tombaknya ke dalam tanah. Upaya tersebut berhasil menemukan bendhe Kiai Macan. Untuk menghargai jasa Kiai Pradah maka bendhe Kiai Macan diganti nama menjadi Kiai Pradah.

Versi pelacakan Bupati Blitar dan Asisten Kediri tahun 1927

Versi lain berasal dari pelacakan informasi oleh Bupati Blitar dan Asisten Kediri pada tahun 1927. Alkisah sewaktu prajurit Demak menggempur Majapahit, Sunan Kudus mengikuti dari belakang sambil membawa bendhe Kyai Macan. Ketika Kyai Macan dipukul, suaranya yang menyerupai harimau menggaum memantul ke segala penjuru. Mendengar suara itu, prajurit Majapahit mengira prajurit Demak mengerahkan harimau siluman. Banyak di antara prajurit Majapahit ketakutan dan meninggalkan pos penjagaan. Hal tersebut memudahkan prajurit Demak menduduki Majapahit.

Bendhe Kyai Macan menjadi pusaka keraton meski penguasanya silih berganti dari Demak, Pajang, hingga Mataram. Di masa Mataram, Sunan Pakubuwono I mempunyai seorang putra dari garwo ampeyan bernama Pangeran Prabu. Sewaktu garwo padmi belum berputra, Pangeran Prabu dijanjikan akan diangkat menjadi raja sebagai pengganti dirinya, namun ternyata garwo padmi melahirkan seorang putra laki-laki. Agar tidak menimbulkan perang saudara, Pangeran Prabu diminta pergi ke hutan Lodoyo untuk mendirikan kerajaan. Saat itu, hutan Lodoyo terkenal wingit (menyeramkan), maka Pangeran Prabu diberi gong Kyai Macan sebagai tumbal.

Jalan cerita selanjutnya kurang labih sama, namun terdapat penjelasan yang lebih detail pada versi ini. Setelah Nyi Partosoeto meninggal dunia, bendhe Kyai Pradah disimpan oleh Ki Rediboyo, lalu diturunkan ke Kyai Rediguno, dan diturunkan lagi ke Ki Imam Setjo, yang bertempat tinggal di Dukuh Kepek, Ngeni. Ketika disimpan oleh Ki Imam Setjo, terjadi kejadian yang agak ganjil dimana setiap ada anak lahir pasti ada orang yang meninggal dunia.

Untuk menghentikan kejadian ganjil tersebut kemudian dilaksanakan upacara siraman Kyai Pradah yang dimaksudkan sebagai sarana memohon berkah kepada kekuatan gaib atau roh leluhur yang ada di dalam Kyai Pradah.

Sejarah

Ferry Ryandika dalam bukunya berjudul Cerita dari Lodaya menyodorkan pandangan yang menarik terkait latar sejarah bendhe atau gong Kyai Pradah. Beliau menyejajarkan berita dalam legenda dengan informasi sejarah yang tercatat dalam Babad Tanah Jawi. Beliau menyejajarkan peristiwa yang terjadi di sekitar tokoh legenda Pangeran Prabu dengan tokoh sejarah Sunan Mangkurat Mas/ Amangkurat III/ Sunan Kendang.

Mari travelers sekalian DTrav ajak untuk menelurusi kutipan-kutipan naskah Babad Tanah Jawi.

Berita bahwa pangeran Prabu adalah menantu Pakubuwana I memiliki kesamaan dengan realita bahwa Sunan Mangkurat Mas/ Amangkurat III/ Sunan Kendhang adalah menantu Pakubuawana I (bergelar Pangeran Puger sebelum naik tahta menjadi raja).

…Sang Nata sareng mireng aturipun Ki Sumabrata, dilalah lajeng kasupen ing wawelingipun ingkang rama swargi, anggega aturipun Ki Sumabrata. Kala samanten pinuju sideekah pitung dintenipun ingkang rama, garwanipun Sang Prabu putri ing Kapugeran lajeng kaantukaken dhateng ingkang rama Pangeran Puger, dene ingkang kainggahaken dados garwa, selir saking Onje, kaparingan nama Ratu Kancana…

Kutipan di atas menjelaskan status Amangkurat III (disebut Sang Nata) masih menjadi raja Mataram. Amangkurat III beristri putri dari Pangeran Puger (nantinya berbalik menjadi raja Mataram dengan gelar Pakubuwono I). Amangkurat III mengembalikan putri Pangeran Puger dan mengangkat permaisuri baru dari selirnya. Peristiwa ini nantinya menjadi salah satu sebab perseteruan Amangkurat III dengan Pangeran Puger yang masih pamannya sendiri.

Kisahnya teramat panjang untuk dijabarkan sehingga DTrav persingkat ke peristiwa terusirnya Amangkurat III oleh Pangeran Puger yang telah bergelar Pakubuwono. Peristiwa sejarah ini sejajar dengan legenda diusirnya Pangeran Prabu oleh Pakubuwono I.

...Bala ing Pakubuwanan sarta Kumpeni sampun sami wangsul dhateng ing Samawis. Palajengipun ingkang sami kawon prang sampun sami dumugi ing Kartasura, matur ing Sang Prabu yen kawon perangipun…

…Susuhunan Mangkurat Mas sareng mireng atur makaten sanget kagegeran galihipun. Lajeng parentah dhateng para garwa tuwin para putra kinen sami pradandosan. Oter tiyang sakadhaton sami nangis pating jalerit. Sunan Mangkurat Mas inggih tansah anenggak waspa, nunten medal saking kadhaton sagarwaputranipun. Para bupati mantri inggih sami andherek ingkang sami tresna. Kala jangkaripun Sunan Mangkurat Mas, ing dinten Kemis tanggal ping 7 wulan Jumadilakir, taun Jimawal Ongka 1629. Lampahipun Sunan Mangkurat Mas ngetan leres medal ing Lawiyan, sumeja anjog ing Kaduwang…

Kutipan di atas memberikan informasi bahwa Pakubuwono dan aliansinya beribu kota di Semarang, sedangkan Amangkurat III di Kartasura. Amangkurat III yang kalah terusir melarikan diri ke timur. Dalam versi legenda Pangeran Prabu diusir ke Lodoyo Blitar.

Pelarian Amangkurat III ke timur sebenarnya mencari perlindungan Untung Surapati di Pasuruan. Amangkurat III bergerak perlahan dan berpindah-pindah. Dalam Babad Tanah Jawi, Amangkurat III kemudian disebut Sunan Kendhang. Sunan Kendhang sebenarnya sudah sempat bermukim di Malang, namun karena Pasuruan berhasil ditundukkan Pakubuwono. Akhirnya Sunan Kendhang menjadikan Blitar sebagai basis pertahanan terakhir.

…Sang Nata lajeng parentah dhateng ingkang putra kang nama Pangeran Dipati Balitar, kinen gantos anglurug sarta binektanan bala ing Kartasura sapalih. Pangeran Balitar nunten bidhal dhateng Pasuruan, sampun kumpul kalihan para bupati kang sami bebarisan wonten ing ngriku. Pangeran Balitar sarta bupati sabalanipun nunten bidhal saking Pasedhahan, sumgja ambedhah ing Malang. Saklangkung ageng gegamanipun. Wondene kang wonten ing Malang wau Sunan Kendhang kalihan Dipati Wiranagara, tiga Surapati, sakawan Suradilaga, sampun sami sumerep yen dipun lurugi, lajeng sami mapan sajawining kitha lan sabalanipun…

…Sunan Kendhang lumajeng dhateng ing redi Dhungkul. Pangeran Balitar sabalanipun kathah enggenipun angsal jarahan utawi beboyongan, lajeng masanggrahan wonten ing ngriku.

Wondene palajengipun Sunan Kendhang sareng dumugi ing Dhungkul, lajeng kenging ing pagering, balanipun kathah kang pejah, lajeng ngalih dhateng ing Balitar. Wonten ing Balitar Sunan Kendhang nuntrn utusan dhateng Surapringga, sumeja nungkul dhateng tiyang Kumpeni, sarta mawi serat. Utusan inggih enggal lumampah…

Sang Nata dalam kutipan di atas adalah Pakubowono I. Baginda memerintahkan putranya Pangeran Blitar untuk menyerbu Pasuruan menumpas pemberontakan termasuk menangkap Sunan Kendhang. Pengeran Blitar menyerbu Malang. Setelah terkepung Sunan Kendhang dan aliansinya melarikan diri ke pedalaman hingga akhirnya ke Blitar.

Di Blitar Sunan Kendhang berkirim surat ke Kompeni di Surabaya untuk bersuaka politik. Kompeni seakan akan membantu namun hal tersebut hanya tipu daya. Akhirnya Sunan Kendhang atau Amangkurat III di asingkan ke Sri Langka hingga akhir hayat. Pertolongan semu Belanda tersebut oleh Ferry Ryandika disejajarkan dengan legenda macan yang menolong Pangeran Prabu.

Baik versi Amangkurat III atau pun Pangeran Prabu, keduanya terusir dari istana dengan membawa pusaka bendhe Kyai Bicak.

…Saungkuring utusan, Sunan Kendhang tampi utusan saking Pangeran Balitar anyuwun wasiyat karaton, kang warni bendhe Bicak, dhuwung Kyai Balabar, waos Kyai Baru, rasukan Kyai Gundhil. Wangsulanipun Sunan Kendhang sumaos benjing yen sampun wonten ing Surabaya, wasiyat karaton badhe kasukakaken dhateng Pangeran Balitar…

Pengeran Blitar selain diminta untuk memandamkan pemberontakan Sunan Kendhang alias Amangkurat III, juga diperintahkan untuk meminta kembali pusaka-pusaka istana termasuk di dalamnya bendhe Bicak. Amangkurat III berjanji akan menyerahkannya saat nanti sudah di Surabaya. Namun faktanya sesampai di Surabaya pusaka tetap tidak diserahkan.

…Anunten wonten utusanipun Pangeran Balitar malih anyuwun wasiyat karaton. Sunan Kendhang sumaur cugal.

“Tutura marang Sudama, besuk yen aku wis ngadhaton ing Kartasura takwehake dhewe.”…

Meski gagal membawa kembali benda-benda pusaka ke keraton, namun Pangeran Blitar tetap diberi hadiah atas jasa-jasanya. Terkonfirmasi dalam Babad Tanah Jawi Bahwa pusaka-pusaka termasuk bendhe Bicak tidak kembali ke keraton. Sehingga keberadaan Gong Kyai Pradah di Blitar yang dulu disebut Kyai Bicak diyakini sebagai benda pusaka yang diberitakan dalam Babad Tanah Jawi.

Asal-usul bendhe Bicak dijabarkan dalam Babad Tanah Jawi berasal dari masa yang jauh sebelum Mataram. Bendhe sudah menjadi pusaka keraton sejak Demak, bergulir ke Pajang, hingga akhirnya ke Mataram.

…Kacariyos ing Demak wonten dhalang ringgit purwa, anama Ki Bicak, bojonipun sakalangkung ayu, punika dipun tanggap dhateng Ki Ageng Sela, Kyai Ageng sarng aningali semahing dhalang sanget enggenipun remen. Dhalang Ki Bicak lajeng pingjahan. Ringgit sarta bendhe tuwin semahipun sami kapendhet dhateng Kyi Ageng Sela, Ki Ageng sareng sampun angsal bendhe boten siyos remen dhateng semahipun dhalang Ki Bicak. Sanget kasengsemipun dhateng bendhe, bndhe wau kanamakaken Kyai Bicak. Sarta lajeng kaiden ing Kangjeng Sunan Kalijaga, yen bendhe wau badhe dados wasiyat karaton, sarta badhe dados tengeraning prang…

Riwayat Pelestarian

Tradisi Siraman Gong Kyai Pradah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) pada tahun 2016 dan 2017.


Writer: Galy Hardyta & Adon

Photographer:

  • Dokumentasi DTrav tahun 2013: Galy Hardyta
  • Dokumentasi DTrav tahun 2024: Adon, Agung Sasono P.

Sumber:

Tinggalkan Balasan

error: Content is protected !!

Eksplorasi konten lain dari D'Travellers

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca