Skip to content

Candi Ampel, Peninggalan Masa Majapahit Di Desa Joho Tulungagung

Candi Ampel Tulungagung

Kerusakan Candi Ampel memang sudah sangat massive, namun bukan berarti candi ini tak berarti sama sekali. Dari sisa-sisa reruntuhannya dan berbekal laporan serta dokumentasi para peneliti/ akademisi/ penjelajah di masa silam, arti penting candi ini dapat kita pahami.

Lokasi dan Rute

Yang jelas candi Ini bukan peninggalan Sunan Ampel ya hehehe 😀 . Dalam kaidah penamaan situs bersejarah, jika nama asli suatu situs tidak diketahui, umumnya situs tersebut akan diberi nama sesuai dengan nama lokasi tempatnya berada. Nah, Candi Ampel atau terkadang disebut juga Candi Ngampel dinamai sesuai dengan lokasinya berada, yaitu di Dusun Ngampel, Desa Joho, Kalidawir, Tulungagung.

Untuk menuju Candi Ampel dari arah barat (Tulungagung dan wilayah lain di sebelah barat), travelers sekalian dapat berpatokan dari perempatan Gragalan di timur UIN. Dari perempatan Gragalan silakan ke selatan menyusuri Jl. Doroampel sampai mentok di Desa Junjung. Sesampai perempatan yang mengarah ke Gua Pasir silakan belok kiri. SDN 3 Junjung masih lurus hingga bertemu perempatan dengan plang petunjuk arah ke SMPN 2 Sumbergempol. Dari perempatan tersebut silakan belok kanan mengikuti jalan beraspal. Jalanannya sedikit memutar mengikuti bentuk kaki Pegunungan Wajak di sisi timur. Jalan tersebut akan melintasi Dusun Ngampel. Sesampai di Ngampel silakan mencari plang petunjuk ke Candi Ampel atau bisa bertanya pada masyarakat setempat.

Sementara itu dari arah timur (Ngunut, Blitar, Malang), Candi Ampel dapat dituju dengan berpatokan pada Pertigaan Pasar Ngunut. Silakan belok ke arah selatan menyusuri Jl. Demuk. Di Pasar Panjerejo silakan belok kanan. Perempatan SPBU Selorejo belok kiri ke arah Kalidawir. Selanjutnya ikuti jalan beraspal hingga masuk Desa Joho. Di Dusun Ngampel silakan mencari plang petunjuk ke Candi Ampel atau bisa bertanya pada masyarakat setempat.

Deskripsi Candi

Candi Ampel terusun dari material bata dan sebagian kecil batu andesit. Candi ini dalam kondisi runtuh rusak parah, hanya terlihat sebagai gundukan bata kuno dengan beberapa umpak batu andesit. Batanya banyak yang terfragmentasi terkena akar-akar pohon yang tumbuh di atas candi. Ada tujuh pohon besar yang tumbuh di atas struktur Candi Ampel yakni Pohon Joho, Winong, Aren, Kendal, Serut, Ingas, dan Leran.

Candi ampel

Bentuk keseluruhan, denah candi, dan arah hadap Candi Ampel sejauh ini belum diketahui. Pendapat yang paling umum menduga bahwa candi ini menghadap ke barat sebagaimana umumnya candi-candi di Jawa Timur. Keberadaan umpak batu memunculkan dugaan bahwa, kemungkinan dahulu candi ini memiliki tiang dan atap seperti bangunan-bangunan candi terbuka yang lazim ditemui dari periode Jawa Timur (seperti dugaan bentuk asli Candi Boyolangu). Saat ini tiang dan atap yang dimaksud sudah tidak ditemukan lagi, mungkin berasal dari bahan yang mudah rusak.

Patut disyukuri, pada Candi Ampel masih terdapat sisa-sisa dinding yang memiliki ragam hias. Ragam hias tersebut saat ini sulit diamati, hanya terlihat seperti dinding bata yang digurat-gurat saja. Dalam catatan peneliti terdahulu diinformasikan bahwa relief yang terdapat pada Candi Ngampel adalah relief fabel, burung dan kepiting. Relief yang masih dapat terlihat dengan jelas adalah pahatan membentuk tubuh manusia pada dinding batu andesit. Ada pula ragam hias lain yakni pelipit dan sisa bagian pembingkai sisi genta.

Candi Ngampel

Riwayat Pelestarian

Keberadaan Candi Ampel telah dilaporkan oleh peneliti-peneliti terdahulu. Pelaporan awal mengenai candi ini dilakukan oleh Hoepermans. Laporan tersebut dikutip ulang oleh N.J. Krom dalam “Inleiding tot de Hindoe-Javaansche Kunst” pada tahun 1923. Dalam laporan tersebut dijelaskan bahwa di Ngampel terdapat struktur bata kuno dengan sedikit material dari batu andesit. Pada struktur tersebut masih tersisa ragam hias baik berupa pahatan manusia, fabel, burung, dan kepiting. Informasi yang menarik adalah mengenai keberadaan arca-arca yang saat ini sudah tidak dapat dijumpai lagi. Pada candi ini pernah ditemukan arca dwarapala (reco pentung) dan dua arca dewi dimana salah satunya memiliki inskripsi angka tahun 1329 Saka (1407 M). Di sekeliling inskripsi tersebut terdapat ragam hias surya. Arca yang dimaksud, selain dilaporkan dalam bentuk laporan tertulis, gambarnya juga pernah didokumentasikan pada tahun 1890. Saat ini dokumen gambarnya masih dapat diakses pada web Leiden University Libraries Digital Collections di sini. Masih dalam laporan Hopermans dan Krom, dijelaskan bahwa terdapat dua arca lain tak jauh dari Ngampel yang salah satunya juga memiliki inskripsi angka tahun 1331 Saka. Keterangan ini sering dikutip untuk dasar penentuan latar sejarah Candi Ampel.

Peneliti lain yang menyusun laporan terkait Candi Ampel adalah Knebel. Laporan beliau sedikit lebih rinci. Dalam laporan tersebut dijelaskan keberadaan artifak-artifak berupa arca tokoh wanita (diidentidikasi sebagai Sri). Dalam cerita setempat di masa itu, arca ini disebut juga sebagai Dewi Warsini dari lakon “Rama duta”. Artifak lain adalah sepasang arca dwarapala, arca parwati berinskripsi (tidak dijelaskan lebih lanjut), dan fragmen yoni yang telah rusak.

Berdasarkan rincian artifak yang dijelaskan dalam laporan-laporan di atas, corak keagamaan Candi Ampel adalah agama Hindu.

Seluruh laporan di atas masih mengidentifikasi wilayah Ngampel, Joho masuk dalam distrik Ngunut. Saat ini Ngampel, Joho masuk dalam wilayah Kecamatan Kalidawir.

Candi Ampel telah diregistrasi dan diinventarisasi oleh SPSP Jawa Timur pada tahun 1996 dengan nomor inventaris 227/TLA/1996. Pencatatan/penelitian selanjutnya dilakukan oleh Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Tulungagung pada tahun 2007.

Sejarah

Saat ini tak banyak artifak yang dapat diindentifikasi untuk menelusuri latar sejarah Candi Ampel. Latar sejarah candi ini diperoleh dengan merujuk laporan-laporan terdahulu. Berdasarkan laporan Hoepermans dan Krom diketahui bahwa pada candi ini pernah ditemukan arca berkronogram 1329 Saka (1407 M). Keberadaan arca tersebut terkonfirmasi dalam dokumen gambar yang hingga kini masih dapat kita akses pada web Leiden University Libraries Digital Collections. Dalam dokumen gambar tersebut terdapat dua arca. Kedua arca tersebut memiliki inskripsi. Salah satu inskripsinya terkonfirmasi menunjukkan kronogram 1329, dan inskirpsi lainnya menunjukkan kata “ka – sa da” atau mungkin “ka – sa ṅa” /kasanga/. Pembacaan inskripsi dalam gambar oleh tim DTrav Agung Sasono P.

Tahun 1329 Saka atau 1407 M masuk dalam masa Kerjaan Majapahit di bawah pemerintahan Raja Wikramawardhana.


Writer: Galy Hardyta & Agung Sasono P.

Sumber:

  • Rapporten van de Commissie in Nederlandsch Indie voor Oudheidkundig Onderzoek op Java en Madoera (ROC) 1908
  • Inleiding tot de Hindoe-Javaansche Kunst 1923
  • Sedyawati E., Hariani S., Hasan D., Ratnaesih M., Wiwin D. Sudjana R., dan Chaidir A. 2013. Candi Indonesia: Seri Jawa. Direktorat Pelestarian Cagar Budaya dan Permuseuman, Direktorat Jendral Kebudayaan, Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan
  • https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/bpkw11/candi-ampel/

Tinggalkan Balasan

error: Content is protected !!

Eksplorasi konten lain dari D'Travellers

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca