Skip to content

Candi Dadi di Tulungagung, Ternyata Bukan Stupa?

Candi Dadi terletak di Kab. Tulungagung, tepatnya berada disalah satu puncak tertinggi di deretan utara pegunungan Walikukun. Dalam laporan tahun 1920an, dulu di sekitar Candi Dadi masih dijumpai beberapa banguan lainnya yang oleh penduduk disebut Candi Urung, Buto, Gemali, dan sebuah reruntuhan bangunan lainnya. Saat ini hanya tersisa Candi Dadi saja.

Menurut J. E. Van Lohuizen-de Leeuw (1980) Candi Dadi yang tersisa sekarang adalah dasar dari stupa yang “anda”nya telah hancur. Memang candi ini memiliki dasar bangunan berdenah persegi panjang, di atasnya terdapat batur berdenah segi delapan, tanpa tangga naik, dan di tengahnya terdapat sebuah lubang, sehingga beberapa ahli terdahulu menyimpulkan bahwa Candi Dadi merupakan sebuah stupa. Menurut Prof. Dr. Agus Aris Munandar M.Hum dan Dr. Wanny Rahardjo Wahyudi M.Hum (1995) apabila Candi Dadi adalah stupa, secara arsitektur akan sulit untuk merekronstruksi bentuk “anda”nya. Jika saja benar candi ini adalah stupa, tentunya akan ditemukan batu-batu penyusun “anda” dalam jumlah besar, ada yang berupa batu balok, batu lengkung, dan batu isian. Nyatanya hingga kini batu-batu tersebut belum ditemukan di sekitar Candi Dadi. Sebenarnya bisa saja bagian “anda”nya dibuat tidak terlalu besar, namun secara konstruksi akan sulit karena sumurannya berdenah lingkaran. Sehingga apabila di bangun “anda” kecil akan mudah runtuh karena tidak ada kekuatan penahannya.

Sumuran di puncak Candi

Mengulas Candi Dadi memang tidak bisa dilepaskan dengan bangunan-bangunan di sekitarya baik yang berupa candi maupun Gua-gua pertapaan. Berdasarkan catatan N. J. Krom dalam bukunya Inleiding tot de Hindoe-Javansche Kunst Jilid II (1923) didiskripsikan bahwa candi-candi di sekitar Candi Dadi seperti Candi Urung, Buto, Gemali memiliki bentuk candi-candi karsian seperti yang bisa dijumpain di Gunung Penanggungan atau seperti Candi Kotes di Blitar. Bangunan kelompok batur seperti ini (batur dengan altar persajian dan miniatur candi) merupakan ciri khas bangunan kaum Rsi. Sayangnya sekali lagi candi-candi tersebut kini telah lenyap.

Di sisi lain kita ketahui bersama bahwa di lereng-lereng sekitar Candi Dadi dijumpai gua-gua karsian seperti Gua Pasir dan Gua Selomangleng. Sejumlah ahli berpendapat bahwa gua-gua tersebut berkaitan dengan keberadaan Candi Dadi. Rsi-rsi dari gua-gua pertapaan dipercaya pada waktu-waktu tertentu datang ke Candi Dadi yang berada di puncak tertinggi Pegunungan Walikukun utara, lalu mempersembahkan korban dengan membakar benda-benda sajian bagi Dewa dalam sumuran di puncak candi. Dalam rekontruksi fungsi ini Candi Dadi digambarkan sebagai Mahadevi jenis Garhapatya.

Akhirnya berdasarkan penelitian yang di lakukan oleh Prof. Dr. Agus Aris Munandar M.Hum bersama Dr. Wanny Rahardjo Wahyudi M.Hum disimpulkan bahwa Candi Dadi bukan lah stupa melainkan merupakan bagian dari kompleks bangunan suci kaum Rsi yang secara periodisasi masuk dalam masa Majapahit.


Writer: Galy Hardyta

Sumber:

  • Munandar A. A., W. R. Wahyudi. 1995. Candi Dadi Sebagai Bangunan Karsyan: Re-Interpretasi Fungsional. Fakultas Sastra. Universitas Indonesia. Jakarta.

Participant: Galy, Kcing

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *