Skip to content

Candi Sanggrahan, Candi Siwa-Budha di Tulungagung

Bagi kalian para traveler yang hobi wisata watu, Candi Sanggrahan menanti untuk disambangi. Candi Sanggrahan secara administratif terletak di Desa Sanggrahan, Kec. Boyolangu, Tulungagung. Untuk sampai ke Candi Sanggrahan, bisa melalui jalur lintas Tulungagung – Popoh. Pada perempatan Pasar Boyolangu belok ke kiri (timur). Tidak sulit menemukan candi ini karena terdapat papan penunjuk yang jelas.

Menurut N.J. Krom (1923) dalam tulisannya, disebutkan bahwa Candi Sanggrahan untuk pertama kali dilaporkan oleh J. Knebel (1908) terutama mengenai penemuan arca Dyani Budha, kemudian bangunannya diselidiki dalam Oudheikundige Dienst pada 1917, dan menyusul kemudian oleh N.W. Hoepermans. Candi Sanggrahan masa kini tampak rapi dan tertata karena telah selesai dipugar sejak 2015 hingga 2016. Ada beberapa batu baru yang di tambahkan untuk melengkapi struktur candi ini agar tampak rapi.
candi sanggrahan paca pemugaran

Candi Sangrahan pasca pemugaran

Candi Sanggrahan sebelum pemugaran, dokumentasi perjalanan D’Trav tahun 2010

Bangunan Candi Sanggrahan berada di atas pelataran yang lebih tinggi dari permukaan tanah di sekitarnya. Tinggi pelataran kurang lebih 2,25 m. Seluruh tepi pelataran candi diperkuat dengan struktur bata sehingga tanah pelataran tidak mudah longsor. Ukuran pelataran cukup luas yakni 51 x 42,75 m. Di barat pelataran, agak ke selatan sekitar 1,60 m dari bagian tangga candi, terdapat sisa gapura masuk yang tersusun dari bata. Bagian sisa gapura tersebut hanya berupa bagian kakinya, dengan pintu yang relatif sempit, dan lebarnya hanya berukuran 1,40 m dengan lantai dari susunan bata.

Candi Sanggrahan menghadap ke barat dengan denah bujur sangkar. Bangunan candi tersusun dari kombinasi bata dan batu andesit. Batu bata sebagai isian candi, sementara batu andesit digunakan sebagai penyusun dinding luar candi. Bangunan candi yang masih bisa kita lihat ini sebenarnya adalah bagian kaki candi saja.

Candi Sanggrahan tidak kaya akan relief. Pada dinding kaki candi memang terdapat panil panil berukuran 78 x 60 cm namun kosong tanpa relief. Pada dinding yang lebih bawah terdapat relief yang menggambarkan hewan serupa kancil dan singa. Masing-masing dari relief hewan tersebut dipahat berselang-seling pada panil yang terpisah. Tidak jelas apakah antar relief tersebut menunjukkan narasi, atau mungkin relief tersebut hanya bersifat dekoratif. Relief hewan ini diduga berasal dari cerita Tantri Kamandaka yang bernafaskan Hindu Siwaisme.

Relief singa

Relief serupa kancil

Berdasarkan temuan arcanya yang bersifat Budha dan reliefnya yang bersifat Hindu, diduga Candi Sanggrahan merupakan candi yang bernafaskan Siwa-Budha. Sinkretisme Siwa-Budha di Jawa mulai berkembang pada masa Singhasari hingga Majapahit.


Writer: Zid

Photographer: Nikaliana

Sumber:

  • Sedyawati E., Hariani S., Hasan D., Ratnaesih M., Wiwin D. Sudjana R., dan Chaidir A. 2013. Candi Indonesia: Seri Jawa. Direktorat Pelestarian Cagar Budaya dan Permuseuman, Direktorat Jendral Kebudayaan, Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan

Participant: Zid, Amalia, Nikaliana, dalam event Kemah Budaya Festival Gunung Budheg 2017

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *