Skip to content

Candi Simping Blitar, Makam Sang Proklamator Majapahit

candi simping blitarCandi Simping ditemukan kembali oleh J.E. Teijsmann pada tahun 1866. Candi ini disebut pula dengan nama Candi Sumberjati, sesuai dengan nama desa tempatnya berada.

Selama ini Blitar memang dikenal sebagai bumi Proklamator, sebab di kota ini lah jasad Ir. Soekarno disemayamkan. Tapi, taukah kalian jika bukan hanya makam Proklamator RI saja yang ada di Blitar? Makam Proklamator Majapahit juga ada di Blitar lho. 😀 Tentunya makam di sini bukan makam tempat jasad disemayamkan. Makam di sini hanyalah etimologi umum untuk menyebut tempat pendharmaan/ perabuan. Sebagaimana kita ketahui, dahulu raja-raja Singhasari dan Majapahit setelah meninggal akan dicandikan dan diwujudkan sebagai dewa-dewa yang mereka puja semasa hidup. Dalam beberapa pemahaman, raja memang dianggap sebagai perwujudan dewa di dunia, sehingga setelah meninggal raja dicandikan agar suci kembali menjadi dewa.

Yup, Reden Wijaya (Krtarajasa Jayawardhana) sang pendiri Majapait memang dicandikan di Blitar, tepatnya berada di Candi Simping, Desa Sumberjati, Kec. Kademangan, Kab. Blitar. Uraian dalam Nagarakretagama menyinggung Simping sebagai berikut:

Ring saka matryaruna lina nirang narendra, drak pinratista jina wimbha sire puri jro, hantahpura ywa panelah sikana sudharmma, saiwa pratista cari teki muwah ri simping.

Artinya:

Pada tahun saka Matryaruna (1231 Saka/ 1309 M) Baginda Raja wafat, segera diwujudkan dengan arca Budha di dalam istana (puri jro), Antah Pura demikian nama Candi Baginda, tersebut pula dengan perwujudan Siwa di Simping.

candi simpingBangunan Candi Simping mengadap ke barat.

Keberadaan Candi Simping di masa kuno cukup memperoleh perhatian besar dari Kerajaan Majapahit. Terbukti, dari sekian banyak tempat di Blitar, hanya Candi Penataran dan Candi Simping saja yang dikunjungi Raja Hayam Wuruk sebanyak dua kali. Berikut penjabaran perjalanan Hayam Wuruk (Rajasanagara) ke  Candi Simping yang terhimpun dalam Kitab Nagarakrtagama:

Sah sangke lodhaya sira manganti simping, sweccha nambya mahajenga ri sang hyang dharma,

Artinya:

Baginda Raja meninggalkan Lodoyo menuju desa Simping, dengan rela seraya memperbaiki candi tempat memuja leluhur,

Perjalanan pertama terjadi pada tahun 1283 (1361 Masehi) bulan Wesaka (April-Mei). Perjalanan selanjutnya sebagai berikut:

Irikanganilastanah saka nrepeswara Warnnana, mahasahasi simping sang hyang dharma rakwa siralihen,

Artinya:

Pada tahun saka Anilastanah-1285 (1363 Masehi) Baginda Raja dikisahkan, Baginda Raja pergi ke Simping konon akan memindahkan candi

Wow.. Berdasarkan uraian di atas, ternyata candi Simping Pernah dipugar pada masa Hayam Wuruk. Sayangnnya saat ini candi Simping sudah dalam keadaan runtuh. Yang tersisa dari Candi Simping hanyalah bagian kaki saja. Untung sekali batu-batu candi yang tak terpasang kini tertata rapi disekitar kaki candi, sehingga dari reruntuhan tersebut kita masih bisa menikmati keindahan ragam hias Candi Simping.

candi sumberjati blitarIndahnya ukiran sulur pada susunan reruntuhan Candi Simping.

antefik simpingBerbagai motif kala dan kalamakara Candi Simping.

kala candi simpingKala, seharusnya ada di atas pintu dan relung candi

relief candi simpingRelier pada kaki candi

Selain ornamen-ormamen dekorarif ada pula ornamen yang bersifat naratif, salah satunya adalah relief Samodramanthana pada lapik arca(?) Candi Simping. Pada relief itu digambarkan  seekor kura kura dililit naga. Kuma (kura-kura) tersebut adalah avatar Wisnu yang dikisahkan menyangga gunung yang dililit Naga Basuki. Mereka bersama para Dewa dan Ashura melakukan pengadukan samudra untuk mencari Tirta Amerta. Jika relief naratif tersebut memang lapik arca, sayang sekali arcanya sudah tidak ditemukan. Sebenarnya pada Candi Simping memang pernah ditemukan arca Harihara (gabungan Wisnu-Siwa), yang dipecaya sebagai perwujudan dari Raden Wijaya. Saat ini arca tersebut tersimpan di Museum Nasional, Jakarta. Mingkin kedua benda ini berkaitan. Kisah naratif samodramantana dan arca Harihara tergolong dalam mitologi agama Hindu. Maka benar adanya jika dalam Nagarakrtagama disebutkan bahwa Krtarajasa Jayawardhana dicandikan di Simping sebagai Siwa (Hindu).

Arca Hari Hara, perwujudan Sangrama Wijaya dari Candi Simping yang disimpan di Museum Nasional

candi sumberjati

Batu candi bergambar kura-kura yang dililit naga

Wah.. Gimana gak makin cinta nih sama Blitar. Ternyata bukan hanya Proklamator RI saja yang disemayamkan di Blitar, Raden Wijaya sang pendiri Majapahit pun juga dicandikan di Blitar. Simping seolah menjadi salah satu bukti, bahwa Blitar memanglah bumi pusara para Raja.

Bagi yang tertarik dan ingin bersua langsung ke Candi Simping, berikut rutenya: Blitar – Jembatan Kademangan ke kiri arah Pantai Tambakrejo – Ikuti jalan sampai bertemu petunjuk arah ke Candi Simping didekat SPBU – Ikuti arah yang ditunjukkan, Candi Simping terletak di kiri jalan. Have a nice trip 😀


Writer: Galy Hardyta

Sumber:

  • Sedyawati E., Hariani S., Hasan D., Ratnaesih M., Wiwin D. Sudjana R., dan Chaidir A. 2013. Candi Indonesia: Seri Jawa. Direktorat Pelestarian Cagar Budaya dan Permuseuman, Direktorat Jendral Kebudayaan, Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan

Participant: Galy, Lia

4 Comments

  1. ardi bumi ardi bumi

    min boleh koreksi. ralat yg bagian atas ( Paragraf pertama baris terakhir – ” ….sehingga setelah meninggal raja dicandian agar suci kembali menjadi dewa..” ) itu yang benar “dicadian” apa “dicandikan”. mohon koreksinya dan semoga terus lebih baik lagi 🙂

  2. Oh makasih koreksinya. Typo itu. Sip hehehe 😀

  3. ardi bumi ardi bumi

    fast respon langsung dikoreksi, terima kasih min 🙂

  4. Saya penyusun Silsilah leluhur dari garis Ayah dan garis Ibu atau menyusun secara Bilateral. Saya Dinasti ke 26 dari Nararya Sanggrama Wijaya Sri Kertarajasa Jayawardhana,Pendiri Majapahit, dan Dinasti ke 20 dari Prabhu Kertabumi/ Brawijaya V Majapahit, dan sekarang masih berkelanjutan.
    Rahayu…Sagung Dumadi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *