Skip to content

Candi Sawentar, Wisata Sejarah yang Membuatmu Lebih Memaknai Blitar

Candi Sawentar, Wisata Sejarah yang Membuatmu Lebih Memaknai Blitar 2

Candi Sawentar merupakan salah satu tujuan wisata sejarah di Blitar yang dikelola dengan cukup baik. Kebersihan dan kerapian candi selalu terjaga. Area di sekitar candi juga dihiasi dengan taman yang indah, sehingga membuat suasana candi menjadi asri. Berbagai fasilitas penunjang wisata terus ditambahkan dari tahun ke tahun, salah satunya adalah keberadaan bangku dan meja taman di barat candi. Kini travelers sekalian bisa mengamati karya agung leluhur Nusantara ini dengan lebih nyaman.

Obyek wisata Candi Sawentar secara administratif terletak di Desa Sawentar, Kec. Kanigoro, Kab. Blitar. Meski terletak di Kec. Kanigoro, namun candi ini lebih mudah diakses dari Kec. Garum.

Lokasi dan Rute

Candi Sawentar secara administratif terletak di Desa Sawentar, Kec. Kanigoro, Kab. Blitar. Meski terletak di Kec. Kanigoro, namun candi ini lebih mudah dijangkau dari Kec. Garum. Berpatokan dari SMAN Garum, kalian dapat mengarahkan perjalanan sedikit ke timur hingga menjumpai papan petunjuk arah menuju Candi Sawentar (SPBU belok ke kanan). Selanjutnya tinggal mengikuti arah yang ditunjukkan hingga tiba di tugu kawasan wisata Candi Sawentar. Candi Sawentar terletak tidak jauh dari tugu tersebut.

Candi Sawentar, Wisata Sejarah yang Membuatmu Lebih Memaknai Blitar 3

Dalam perjalanan DTrav pada tahun 2010, tugu ini belum ada. Saat itu pada lokasi ini hanya terdapat pohon besar.

Riwayat Pelestarian

Keberadaan Candi Sawentar pertama kali dilaporkan oleh Hoepermans pada tahun 1864 dalam Hindoe-oudheden van Java (1864 -1867) dalam ROD 1913. Dalam laporannya tersebut candi ini disebut sebagai Candi Tjentong (Centong). Saat dilaporkan Hoepermans, candi dalam keadaan terpendam sebagian dan tidak ditemukan arca satupun. Penelitian mengenai Candi Sawentar kemudian dilanjutkan oleh Verbeek lalu Knebel.

candi sawentar

Candi Sawentar tampak samping

Pada tahun 1915 Dinas Purbakala (Oudheidkundige Dienst) di bawah pimpinan Perquin dan De Haan mengadakan penggalian dan pembersihan bangunan Candi Sawentar dari timbunan pasir letusan Gunung Kelud yang menutupi bagian kaki candi. Kemudian pada tahun 1920 -1921 diadakan pemugaran.

Pada tahun 1992 – 1993 kembali dilakukan pemugaran, kali ini pemugaran dilakukan oleh SPSP (sekarang BPCB) Jawa Timur. Pada tahun 1995 dilakukan kegiatan registrasi dan inventarisasi oleh BP3 (sekarang BPCB) Jawa Timur dengan nomer inventaris 358/BLT/1995.

Pada tahun 1999 secara tidak sengaja ditemukan kembali struktur bangunan lain di sekitar Candi Sawentar, tepatnya di belakang Pasar Desa Sawentar. Struktur bangunan yang berhasil ditemukan berupa gugusan miniatur candi lengkap dengan pagar keliling. Temuan baru ini disebut dengan nama Candi Sawentar II atau Candi Sawentar Kidul.

Deskripsi Candi

Candi Sawentar I

Candi Sawentar, Wisata Sejarah yang Membuatmu Lebih Memaknai Blitar 4

Candi Sawentar tampak depan

Candi Sawentar I memiliki bentuk tinggi ramping sebagaimana bentuk khas candi periode Jawa Timur. Bangunan candi terdiri dari kaki, tubuh, dan atap. Candi ini memiliki ukuran 9.55 x 7.10 m. Tinggi candi sebenarnya adalah 15 m namun kini hanya tersisa 10.65 m. Bagian atap candi yang tidak dapat dikembalikan ke posisi asalnya, kini disusun di utara pos jaga. Candi Sawentar tersusun dari batu andesit. Pintu candi menghadap ke barat. Di kanan kiri tangga masuk dihiasi dengan kepala naga yang belum selesai dikerjakan. Masih pada bagian tangga, dinding luarnya terdapat pahatan menyerupai sayap burung. Pada dinding kaki candi terdapat ornamen tapak dara atau disebut juga Salib Portugis (kedua istilah ini dapat dijumpai dalam buku “Candi Indonesia Seri Jawa”).

Candi Sawentar, Wisata Sejarah yang Membuatmu Lebih Memaknai Blitar 5

Ornamen tapak dara atau Salib Portugis

Di dalam bilik candi terdapat yoni yang memiliki relief garuda pada bagian bawahnya. Sedangkan pada langit-langit bilik candi terdapat relief dewa yang sedang menunggang kuda dikelilingi oleh sinar melingkar menyerupai matahari. Krom berpendapat bahwa tokoh penunggang kuda tersebut adalah Kalki. Kalki adalah avatar ke sepuluh dari Dewa Wisnu yang digambarkan mengendarai seekor kuda putih dengan pedang terhunus dan bercahaya seperti binatang bersayap. Wisnu dikatakan mempunyai sifat sebagai matahari. Pemujaan pada Wisnu dalam bentuk matahari sering disebut dengan nama surya narayana (Basori, 1992). Keberadaan relief avatar Wisnu dan relief garuda (kendaraan Wisnu) pada yoni, memunculkan dugaan bahwa candi ini bersifat Hindu Wisnuistis.

Candi Sawentar, Wisata Sejarah yang Membuatmu Lebih Memaknai Blitar 6

Relief Kalki pada cungkup candi

yoni candi sawentar

Relief Garuda pada Yoni

Candi Sawentar II (Candi Sawentar Kidul)

Candi Sawentar II atau Candi Sawentar Kidul terdiri dari gugusan miniatur candi yang tersusun dari batu andesit. Gugusan candi tersebut dikelilingi oleh pagar bata dan dibagi menjadi dua halaman yakni halaman utara dan selatan. Masing-masing halaman memiliki pintu yang menghadap ke arah barat. Halaman utara lebih tinggi dari pada halaman selatan, sehingga disimpulkan bahwa halaman utara lebih utama dari pada halaman selatan.

Candi Sawentar, Wisata Sejarah yang Membuatmu Lebih Memaknai Blitar 7

Candi Sawentar Kidul sebelah utara

Candi Sawentar, Wisata Sejarah yang Membuatmu Lebih Memaknai Blitar 8

Candi Sawentar Kidul sebelah selatan

Halaman utara terdiri dari dua buah batur (timur dan barat) keduanya berdenah persegi panjang melintang utara selatan. Pada batur sebelah timur di atasnya terdapat dua struktur fondasi. Pada halaman selatan juga terdapat struktur serupa dengan kondisi yang lebih utuh. Saat ini tidak semua bagian Candi Sawentar Kidul ditampakkan. Sebagian besar pagar candi masih terpendam di dalam tanah dan hanya gugusan miniatur candi yang ditampakkan.

Pada masing-masing miniatur candi baik pada halaman utara dan halaman selatan memiliki panil relief bergambar binatang. Pada halaman utara ditemukan relief naga bermahkota mencabik matahari, relief seekor kuda, relief ganesa mencabik matahari yang diapit dua harimau, relief dua kuda berebut kepeng dan relief dua kuda sedang berkejaran.

Relief-relief pada gugusan miniatur candi halaman utara ini melambangkan peristiwa yang melatarbelakangi pendirian candi. Saat ini relief-relief tersebut disimpan di museum. Relief naga bermahkota mencabik matahari, relief ganesa mencabik matahari yang diapit dua harimau dan relief dua kuda berebut kepeng disimpan di Museum Majapahit, Mojokerto. Relief dua kuda sedang berkejaran disimpan di Museum Penataran, Blitar. Sementara itu miniatur candi halaman selatan masih relatif utuh sehingga panil reliefnya masih menempel pada dinding. Relief miniatur candi halaman selatan menggambarkan seekor kuda dengan berbagai posisi.

Sejarah

Candi Sawentar I

Candi Sawentar, Wisata Sejarah yang Membuatmu Lebih Memaknai Blitar 9

Inskripsi 1274 Saka

Belum ditemukan sumber sejarah tertulis baik angka tahun maupun prasasti yang berasal dari Candi Sawentar I. Di belakang pos jaga candi terdapat inskripsi yang menunjukkan angka tahun 1274 Saka (1352 M). Kurun waktu tersebut masuk dalam periode Kerajaan Majapahit. Sayangnya inskripsi ini tidak berasal dari Candi Sawentar, sehingga tidak dapat dijadikan sumber sejarah bagi Candi Sawentar. Kempers berpendapat bahwa Candi Sawentar memperlihatkan persamaan arsitektur serta ornamen dengan bangunan candi periode Singhasari yaitu Candi Kidal. Sementara itu Krom dan Stuterheim berpendapat bahwa candi ini berasal dari periode awal Majapahit.

Toponim yang mirip dengan nama Sawentar termuat dalam Kitab Nagarakrtagama atau Kakawin Desawarnana pupuh 61. Dalam pupuh tersebut disebutkan sebuah tempat bernama Lwang Wentar yang berada tak jauh dari Blitar dan Jimbe. Lwang Wentar masuk dalam daftar yang dikunjungi Hayam Wuruk (Raja terbesar Majapahit) saat melakukan perjalanan ke Blitar. Berikut kutipannya:

Ndan ring saka tri tanu rawi ring wesaka, sri na-/-tha muja mara ri palah sabrtya, jambat sing ramya pinaraniran langlitya, ri lwang wentar manguri balitar mwang jimbe

Artinya:

Lalu pada tahun saka Tritanurawi-1283 (1361 Masehi) bulan Wesaka-April-Mei, Baginda Raja memuja (nyekar) ke Palah dengan pengiringnya, berlarut-larut setiap yang indah dikunjungi untuk menghibur hati, di Lwang Wentar Manguri Balitar dan Jimbe

Candi Sawentar II (Candi Sawentar Kidul)

Pada relung miniatur Candi Sawentar II atau Candi Sawentar Kidul terdapat inskripsi yang menunjukkan tahun 1358 Saka (1436 M). Tahun tersebut berada dalam era Kerajaan Majapahit periode pemerintahan Ratu Suhita (Prabu Stri).

Peristiwa yang melatar belakangi pendirian Candi Sawentar Kidul berhasil diketahui dari pembacaan reliefnya. Ada empat panil relief yang menunjukkan sebuah peristiwa yakni relief naga bermahkota mencabik matahari, relief ganesa mencabik matahari yang diapit dua harimau, relief dua kuda berebut kepeng dan relief dua kuda sedang berkejaran. Di antara empat relief tersebut, ada dua relief menunjukkan sengkalan (angka tahun yang tersirat dalam sejumlah perlambang) yakni relief naga bermahkota mencabik matahari yang ditafsirkan sebagai sengkalan Naga Raja Anahut Surya dan relief ganesa mencabik matahari yang diapit dua harimau yang ditafsirkan sebagai sengkalan Ganesa Inapit Mong Anahut Surya.

Candi Sawentar, Wisata Sejarah yang Membuatmu Lebih Memaknai Blitar 10

Naga Raja Anahut Surya

Candi Sawentar, Wisata Sejarah yang Membuatmu Lebih Memaknai Blitar 11

Ganesa Inapit Mong Anahut Surya

Naga Raja Anahut Surya: Naga bernilai delapan, raja bernilai satu, anahut bernilai tiga dan surya bernilai satu. Ketika angka-angka yang diperoleh dalam sengkalan ini dibaca terbalik maka akan menunjukkan angka tahun 1318 Saka (1396 M). Demikian pula pada sengkalan Ganesa Inapit Mong Anahut Surya, bila dibaca dengan cara yang sama sengkalan ini menunjukkan angka tahun 1328 Saka (1406 M). Kurun waktu yang ditunjukkan kedua relief ini cukup dekat dengan peristiwa paregreg (perang paregreg) yang termuat dalam Kitab Pararaton. Berikut Kutipan Pararaton mengenai peristiwa paregreg:

Bhra Hyang wiçesa apupurikan lawan bhra Wirabhumi. Dadi denira dampul, abelah mati siradampul i çaka 1323. Helet tigang tahun tumuli dadi manih kang paregreg. Sama apangarah, bhre Tumapel, bhra Hyang Parameçwara, sami ingaturan. “Sapa kang sun-ilonana”. Dadi kang yuddha, kalah kadaton kulon, kapesan bhra Hyang wiçesa. Runtik sira ayun lungaha. Ingaturan bhre Tumapel, bhra Parameçwara: “Sampun age lungha, isun-lawanane”.

Suka bhra Hyang wiçesa, apangarah ingadegan denira bhre Tumapel, denira bhre Parameçwara. Kalah kadaton wetan. Bhre Daha ingemban denira bhra Hyang wiçesa, bhinakta mangilen. Bhra Wirabhumi lungha ring wengi, tumulumpak ing parahu, tinut denira raden Gajah bhiseka ratu angabhaya, bhra Narapati. Katututan ing parahu, minoktan tur pinök bhinakta dateng ing Majapahit, dhinarma ta sira ring Lung, dharmabhiseka ring Goriçapura, i çaka duk paregreg agung naga-laranahut-wulan, 1328.

Sengkalan Ganesa Inapit Mong Anahut Surya sama persis dengan tahun berakhirnya peristiwa paregreg yang dalam Kitab Pararaton dilambangkan dengan sengkalan Naga Laranahut Wulan. Sedangkan sengkalan Naga Raja Anahut Surya menunjukkan tahun yang lebih awal dibandingkan dengan tahun dimulainya peristiwa paregreg yang diberitakan dalam Pararaton. Dalam hal ini Tjahjono berpendapat bahwa mungkin saja berita yang disampaikan Pararaton kurang tepat karena kitab tersebut baru digubah tahun 1535 Saka (1613 M) yang artinya sudah berselang ratusan tahun setelah peristiwa paregreg terjadi.

Peristiwa paregreg merupakan perang saudara antara Wikramawardhana (Bhra Hyang Wisesa) penguasa Majapahit Barat dengan Bhra Wirabhumi penguasa Majapahit Timur. Peristiwa ini berakhir dengan tewasnya Bhra Wirabhumi di tangan Raden Gajah. Selain dengan kedua sengkalan yang telah diulas di atas, Candi Sawentar Kidul menggambarkan persaingan antara kedua penguasa Majapahit ini dengan relief dua kuda berebut kepeng dan dua kuda sedang berkejaran.

Candi Sawentar, Wisata Sejarah yang Membuatmu Lebih Memaknai Blitar 12

Dua kuda berebut kepeng

Candi Sawentar, Wisata Sejarah yang Membuatmu Lebih Memaknai Blitar 13

Dua kuda sedang berkejaran

Berdasarkan inskripsi dan sengkalan pada Candi Sawentar Kidul dapat disimpulkan bahwa candi ini didirikan pada tahun 1358 Saka (1436 M), untuk memperingati peristiwa paregreg yang terjadi sekitar 40 tahun sebelum candi didirikan.

. . .

Komplek percandian di Desa Sawentar ini ternyata memiliki arti penting pada masanya. Ratusan tahun yang lalu bangunan-bangunan ini pernah menjadi saksi kejayaan Majapahit di masa Hayam Wuruk, hingga menjadi menjadi penanda sendyakalaning Majapahit. Bukan suatu kebetulan Lwang Wentar dimasukkan dalam list perjalanan Hayam Wuruk di Blitar, dan pastinya bukan tanpa alasan pula monumen perang paregreg juga disematkan di Sawentar Blitar. Ini adalah salah satu bukti sejarah, bahwa di masa silam Sawentar (khususnya) dan Blitar (umumnya) memegang peranan penting bagi pemerintahan yang berdaulat. Hingga memasuki era kekinian ini, arti penting itu tetap tak berubah.


Writer : Zid

Editor: Galy Hardyta

Sumber :

  • Kitab Nagarakrtagama atau Kakawin Desawarnana
  • Kitab Pararaton
  • Rapporten van den Oudheidkundigen Dienst in Nederlandsch-Indie (ROD)
  • Basori, M. 1992. Laporan Hasil Studi Kelayakan Candi Sawentar. Trowulan: Suaka Peninggalan Sejarah Purbakala Jawa Timur.
  • Bernet Kempers. 1959. Ancient Indonesian Art. Harvard University Press
  • Tjahjono, B.D. 2009. Relief Pada Candi Sawentar Kudul Karya Seni Kriya Abad Ke-15 yang Sarat Makna. http://www.purbakala.jawatengah.go.id/detail_berita.php?act=view&idku=35

Self travelling

One Comment

Tinggalkan Balasan

error: Content is protected !!