Skip to content

Candi Sawentar, Wisata Sejarah yang Membuatmu Lebih Memaknai Blitar

Candi Sawentar ditemukan kembali oleh P.J. Perquin pada tahun 1915. Saat ditemukan bangunan candi dalam keadaan rusak dan tertimbun. Selanjutnya Candi Sawentar digali hingga tahun 1920, dan berhasil menampakkan kaki candi yang sebelumnya tak tampak. Pada tahun 1999 secara tidak sengaja ditemukan kembali struktur bangunan lain di sekitar Candi Sawentar, tepatnya di belakang Pasar Desa Sawentar. Struktur bangunan yang berhasil ditemukan berupa miniatur candi. Temuan baru ini lebih akrab disebut dengan nama Candi Sawentar II atau Candi Sawentar Kidul. Saat ini baik Candi Sawentar maupun Candi Sawentar Kidul menjadi bagian dari Kawasan Wisata Candi Sawentar.

Obyek wisata Candi Sawentar secara administratif terletak di Desa Sawentar, Kec. Kanigoro, Kab. Blitar. Meski terletak di Kanigoro, namun candi ini lebih mudah diakses dari Garum. Berpatokan dari SMAN Garum, lanjutkan perjalanan sedikit ke timur hingga menjumpai petunjuk arah menuju Candi Sawentar. Ikuti arah yang ditunjukkan hingga tiba di tugu kawasan Wisata Candi Sawentar. Candi Sawentar terletak tidak jauh dari tugu ini.

Dalam perjalanan DTrav pada tahun 2010, tugu ini belum ada. Saat itu pada lokasi ini hanya terdapat pohon besar.

Kawasan Wisata Candi Sawentar dikelola dengan cukup baik, kebersihan dan kerapiannya selalu terjaga. Area di sekitar candi juga dihiasi dengan taman yang indah, sehingga membuat suasana candi menjadi asri. Berbagai fasilitas penunjang wisata terus ditambahkan dari tahun ke tahun, salah satunya adalah keberadaan bangku dan meja taman di barat candi. Kini kita bisa mengamati karya agung leluhur Nusantara ini dengan lebih nyaman.

Secara utuh Candi Sawentar memiliki bentuk tinggi ramping, sebagaimana bentuk khas candi-candi langgam Jawa Timur. Bangunan candi menghadap ke barat dengan ukuran 9.55 x 7.10 m. Tinggi sebenarnya adalah 15 m namun kini hanya tersisa 10.65 m.

Kempers berpendapat bahwa Candi Sawentar berkaitan dengan Candi Kidal di Malang, karena arsitektur kedua candi ini memiliki kemiripan. Selain bentuk candi, ragam hias kedua candi memang setema. Jika di Sawentar terdapat relief garuda pada Yoni dan motif sayap burung pada pipi tangga, di Kidal juga ditemuka ragam hias yang serupa yakni relief Garudeya.

yoni candi sawentarRelief garuda pada Yoni

Salah satu sumber sejarah yang ditemukan di sekitar Candi Sawentar adalah inskripsi yang menunjukkan angka tahun 1273 Saka. Jika dikonversi dalam Masehi angka tersebut menunjukkan tahun 1351. Kurun waktu tersebut masuk dalam periode Kerajaan Majapahit.

Sumber sejarah lain mengenai Candi Sawentar adalah Kitab Nagarakrtagama. Dalam kitab ini termuat sebuah toponim yang mirip dengan nama Sawentar. Berikut kuitipannya:

Ndan ring saka tri tanu rawi ring wesaka, sri na-/-tha muja mara ri palah sabrtya, jambat sing ramya pinaraniran langlitya, ri lwang wentar manguri balitar mwang jimbe

Artinya:

Lalu pada tahun saka Tritanurawi-1283 (1361 Masehi) bulan Wesaka-April-Mei, Baginda Raja memuja (nyekar) ke Palah dengan pengiringnya, berlarut-larut setiap yang indah dikunjungi untuk menghibur hati, di Lwang Wentar Manguri Balitar dan Jimbe

Lwang Wentar yang termaktub dalam bait tersebut dipercaya sebagai Sawentar saat ini. Lwang wentar beserta tempat-tempat lain yang disebut dalam kutipan tersebut merupakan daftar persinggahan Raja Hayam Wuruk saat plesiran ke Blitar. Setidaknya dari keterangan Nagarakrtagama inilah kita bisa mengetahui sepenggal kisah dari Sawentar.

Didasari oleh penggalan kisah dalam Nagarakrtagama tersebut, pada bulan Mei tahun 2016 diselengarakanlah Festival Lwang Wentar. Festival yang digagas oleh Pokdarwis Lwang Wentar dan karang taruna Cipta Mandiri itu bertujuan untuk menarik minat wisatawan mengunjungi Candi Sawentar, dengan mengangkat tema perjalanan Hayam Wuruk ke Candi Sawentar. Festival Lwang Wentar dimulai dengan Kirab Budaya dari Kantor Desa Sawentar menuju candi, kemudian dilanjutkan dengan Bazar Rakyat. Festival Lwang Wentar berhasil memikat animo wisatwan, sekaligus menghidupkan kembali suasana berbudaya di Candi Sawentar.

festival budaya candi sawentarFestival Budaya Lwang Wentar

Berbeda halnya dengan Candi Sawentar, Candi Sawentar Kidul atau Sawentar II memilki kisahnya sendiri. Sawentar Kidul merupakan kumpulan monumen perang paregreg yang terjadi pada masa Majapahit dalam kurun waktu pemerintahan Wikramawardhana. Perang Paregreg adalah perang saudara yang menyebabkan kemunduran Kerajaan Majapahit. Penanda perang paregreg yang ditemukan pada candi ini adalah relief  Nagaraja Anahut Surya dan Ganesa Inapit Mong Anahut Surya. Kedua relief tersebut ditafsirkan sebagain sengkalan yang menyatakan tahun 1318 Saka dan 1328 Saka. Tahun-tahun tersebut berada pada rentang waktu terjadinya perang paregreg. Relief  Nagaraja Anahut Surya dan Ganesa Inapit Mong Anahut Surya saat ini disimpan di Museum Majapahit, Mojokerto.

Berdasarkan angka tahun yang terpahat pada relung miniatur candi, Komplek Sawentar Kidul dibangun pada tahun 1358 Saka (1436 M), sekitar 30 tahun setelah Perang Paregreg berlalu. Pendirian Sawentar Kidul masuk dalam kurun waktu Kerajaan Majapahit masa pemerintahan Ratu Suhita.

Komplek percandian di Desa Sawentar ini ternyata memiliki arti penting pada masanya. Ratusan tahun yang lalu bangunan-bangunan ini pernah menjadi saksi kejayaan Majapahit di masa Hayam Wuruk, hingga menjadi menjadi penanda sendyakalaning Majapahit. Bukan suatu kebetulan Lwang Wentar dimasukkan dalam list perjalanan Hayam Wuruk ke Blitar, dan pastinya bukan tanpa alasan pula manumen perang paregreg ini disematkan di Sawentar Blitar. Ini adalah salah satu bukti sejarah, bahwa di masa silam Sawentar (khususnya) dan Blitar (umumnya) memegang peranan penting bagi pemerintahan yang berdaulat. Hingga memasuki era kekinian ini, arti penting itu tetap tak berubah.


Writer : Zid

Sumber :

Self travelling

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *