Di tengah hamparan sawah hijau yang mengelilingi Desa Wajak Kidul berdiri sebuah pura megah yang menjadi pusat spiritual bagi masyarakat Hindu di wilayah tersebut. Pura Penataran Luhur namanya. Pura ini bukan sekedar tempat ibadah, tetapi juga menyimpan sebaran obyek cagar budaya yang erat kaitannya dengan sejarah masa lalu. Menelusuri tempat ini ibarat menjelajah ke masa lalu, dengan sebaran situs sucinya yang menyimpan misteri.
Table of Contents
Lokasi dan Rute
Obyek yang DTrav kunjungi kali ini terletak di Desa Wajak Kidul, Kec. Boyolangu, Tulungagung. Dari pusat Tulungagung, obyek ini dapat dituju dengan menyusuri jalan raya Boyolangu ke arah Popoh. Sesampai di perempatan pasar Boyolangu silakan belok ke kiri (ke arah timur)
Dari perempatan SDN Sanggrahan atau Balai Desa Sanggrahan lama, lurus saja sekitar 1 km hingga menemukan pertigaan yang di salah satu percabangannya terdapat Gapura Dusun Tenggong, Desa Wajak Kidul. Silakan belok ke arah gapura tersebut. Ikuti jalan sampai tiba di Wisata Gunung Cilik Park (GCP).
Setelah sampai di GCP, teruskan perjalanan. Ikuti jalan yang berkelok hingga tiba di Masjid Nurul Huda. Beberapa meter di barat masjid (beberapa meter sebelum sampai masjid jika mengikuti rute ini) terdapat jalan paving block yang mengarah ke selatan (ke arah gunung). Ikuti ke jalan tersebut dan travelers sekalian akan tiba di lokasi pura.
Deskripsi Situs
Memasuki kawasan pura, travelers sekalian akan disambut suasana yang tenang dan damai. Daya tarik utama di kawasan ini bukan hanya keindahan arsitektur puranya, namun juga keberadaan sebaran obyek cagar budaya di sekitarnya.
Gua Katak
Pada salah satu sudut di kawasan ini terdapat sebuah gua kecil yang dikenal masyarakat dengan nama Gua Katak. Nama ini diberikan karena bentuknya menyerupai mulut katak yang terbuka lebar. Gua ini sejatinya adalah ceruk yang dipahat pada monolit. Bentuknya seperti Gua Selomangleng, namun bagian dalamnya tidak terdapat relief.
Altar Batu
Tak jauh dari Gua Katak, terdapat altar kuno yang masih berdiri kokoh hingga kini. Altar ini juga dipahat pada monolit. Memiliki arsitektur yang berundak sederhana.
Mata Air
Spot yang tak kalah menarik adalah mata air suci yang letaknya berada di atas bukit. Mata air ini oleh masyarakat setempat disebut dengan nama Sendang Banyu Urip.
Nama Sendang Banyu Urip memiliki makna yang mendalam. “Banyu” berarti air, sementara “Urip” berarti kehidupan. Secara harfiah, Banyu Urip dapat diartikan sebagai “Air Kehidupan”. Nama ini disematkan bukan tanpa alasan. Menurut mitos setempat, air dari sendang ini dipercaya memiliki kekuatan magis yang bisa membawa kehidupan, kesembuhan, serta berkah.
Sejak lama Sendang Banyu Urip telah dianggap tempat suci oleh masyarakat setempat baik yang beragama Hindu maupun bukan. Mereka yakin bahwa mata air ini tidak pernah kering meskipun kemarau panjang. Fenomena tersebut dimaknai sebagai simbol kehidupan yang terus mengalir, tak pernah berhenti. Bagi masyarakat setempat, sendang ini adalah anugerah alam yang harus dijaga dengan baik karena dianggap sebagai sumber energi positif yang memberikan vitalitas bagi komunitas mereka.
Di dekat sendang terdapat relung kecil yang dipahat pada dinding tebing gunung.
…
Sebaran obyek cagar budaya yang beragam ini tidak terlalu mengherankan. Kawasan Wajak Kidul dan sekitarnya memang memiliki sebaran situs sejarah yang kaya. Sebut satus-situs besar bercorak Hindu-Buddha seperti Gua Pasir, Candi Dadi, Gua Selomangleng, Candi Sanggrahan dan beberapa situs lainnya, meraka berada pada lokasi yang saling berdekatan dan mengelilingi situs-situs di Desa Wajak Kidul ini. Entah apakah situs-situs di dekat pura ini terkait dengan situs-situs besar tersebut atau mungkin berdiri sendiri-sendiri. Atau mungkin berkitan dengan situs besar terdekat yakni Candi Dadi.
Sekali lagi kawasan Wajak Kidul ini adalah bagian mosaik sejarah dan spiritualitas yang masih hidup serta terjaga hingga saat ini. Bertandang ke kawasan ini bukanlah sekadar aktivitas healing biasa, melainkan sebuah perjalanan penuh makna untuk mengenali sebaran cagar budaya yang tak ternilai harganya.
Writer: Deiki
Participants: Deiki, Dewi, Tata






