Skip to content

Situs Makam Ki Ageng Sengguruh Tulungagung, antara Pusaran Legenda dan Sejarah

Situs Makam Ki Ageng Sengguruh secara administratif masuk dalam wilayah Desa Rejotangan, Kecamatan Rejotangan, Tulungagung. Letaknya berada di selatan Sungai Brantas. Komplek makam kuno ini mudah dijumpai karena berada tidak jauh dari jalan raya Blitar – Tulungagung. Komplek makam tersebut terletak di utara jalan raya di seberang rel kereta api. Keberadaannya ditandai dengan adanya gapura makam bertuliskan Pesarean Ki Ageng Sengguruh.

Seperti halnya Situs Astono Gedong di Karangrejo, Situs Makam Ki Ageng Sengguruh juga merupakan kompleks makam Islam Kuno. Pagar makam dan bangunan makamnya tersusun dari batu. Secara umum kondisi makam di sini sudah tidak utuh. Ada nisan makam yang disusun tidak semestinya, ada pula nisan makam yang telah patah. Pada salah satu nisan yang masih utuh menunjukkan ciri khas nisan Demak Troloyo. Ciri khas tersebut memunculkan dugaan bahwa makam ini berasal dari periode awal penyebaran Islam di Jawa.

Ki Ageng Sengguruh dikenal sebagai tokoh antagonis dalam Legenda Kadipaten Aryo Blitar. Beliau adalah kakak dari Adipati Aryo Blitar yang bernama Nila Suwarno. Ki Ageng Sengguruh menjebak Nila Suwarno hingga tewas, selanjutnya merebut tampuk kekuasaan di kadipaten. Nantinya, anak Nila Suwarno yang bernama Joko Kandung berhasil menuntut balas dan menewaskan Ki Ageng Sengguruh. Setelah Sengguruh tewas, Joko Kandung menghilang di perbukitan di selatan kadipaten. Bukit tersebut saat ini dipercaya berada di sekitar Desa Tanen, Tulungagung dan dikenal dengan nama Bukit Kandung. Di Bukit tersebut terdapat sebuah air terjun yang juga disebut dengan nama Air Terjun Kandung. Sayang sekali Legenda Kadipten Aryo Blitar ini tidak banyak termuat dalam catatan sejarah, sehingga kebenarannya masih perlu dikaji.

Nama Sengguruh sebenarnya tercatat dalam sejumlah catatan sejarah seperti Serat Kandha dan Babad Giri Kedaton. Dalam Serat Kandha, Sengguruh disebut sebagai salah satu tempat pelarian raja Majapahit saat terjadi invasi Demak ke Majapahit. Dalam Babad Giri Kedaton disebutkan bahwa Kadipaten Sengguruh awalnya belum memeluk Islam dan dianggap sebagai salah satu kawasan pertahanan Hindu Budha terakhir di pedalaman Jawa. Setelah Majapahit runtuh, Kadipaten otonom atau Kerajaan Sengguruh tercatat pernah menginvasi Giri Kedaton. Kadipaten Sengguruh berhasil menduduki Giri Kedaton namun tak berlangsung lama. Dalam Babad Giri Kedaton diceritakan bahwa Ki Adipati Sengguruh terpaksa mundur karena mengalami serangan ajaib dari Makam Sunan Giri. Setelah kekalahan tersebut Ki Adipati Sengguruh bertaubat dan membantu penyebaran Islam di pedalaman Jawa. Dalam Babad Demak disebutkan bahwa Sunan Giri II (Sunan Dalem) bersama kekuatan Demak berhasil merebut Pasuruan. Hal ini memaksa Sengguruh melepas kembali Giri Kedaton. Pada tahun 1545 Sengguruh telah takluk di bawah Demak.

Sengguruh terletak di hulu Sungai Brantas di Malang Selatan[1]. Hingga kini masih dapat dijumpai Desa Sengguruh di Malang selatan. Apakah makam Ki Ageng Sengguruh di Tulungagung memiliki kaitan dengan Kadipaten Sengguruh di Malang? Mengingat bahwa Balitar (Blitar) dan Ngrawa (Tulungagung) juga termasuk wilayah pedalaman Jawa yang baru tunduk di bawah Demak hampir bersamaan dengan tunduknya Kadipaten Sengguruh.

Secara kedekatan legenda, Makam Ki Ageng Sengguruh memang bertalian erat dengan Legenda Kadipaten Aryo Blitar dan Joko Kandung. Namun secara catatan sejarah, agaknya Keberadaan Kadipaten Sengguruh lebih mendekati fakta dari pada sekedar fiksi. Bagaimana menurut kalian? Jangan sungkan-sungkan sampaikan pendapat kalian di kolom komentar 😀


Writer: Galy Hardyta

Sumber:

  1. de Graaf, H.J. dan T.G.T. Pigeaud. Kerajaan Islam Pertama di Jawa.

Participant: Ali, Chusna, Galy, Nika

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *