Skip to content

Situs Makam Ki Ageng Sengguruh Tulungagung, antara Pusaran Legenda dan Sejarah

situs makam ki ageng sengguruh

Situs Makam Ki Ageng Sengguruh.

Seperti halnya Situs Astono Gedong di Karangrejo, Situs Makam Ki Ageng Sengguruh juga merupakan kompleks makam Islam kuno di Tulungagung.

Lokasi dan Rute

Situs Makam Ki Ageng Sengguruh secara administratif masuk dalam wilayah Desa Rejotangan, Kecamatan Rejotangan, Tulungagung. Letaknya berada di selatan Sungai Brantas. Komplek makam kuno ini mudah untuk dituju karena berada tidak jauh dari jalan raya Blitar – Tulungagung. Komplek makam tersebut terletak di utara jalan raya di seberang rel kereta api. Keberadaannya ditandai dengan adanya gapura makam bertuliskan Pesarean Ki Ageng Sengguruh.

Deskripsi Situs

Makam Islam kuno di Pesarean Ki Ageng Sengguruh berada di posisi paling ujung, dekat dengan Sungai Brantas. Di selatan makam kuno terdapat makam umum yang dimanfaatkan hingga saat  ini. Komplek makam kuno memiliki pagar keliling yang tersusun dari batu. Jirat dan nisan makam juga tersusun dari batu. Secara umum kondisi makam kuno sudah tidak utuh. Ada nisan makam yang disusun tidak semestinya, ada pula nisan makam yang telah patah. Pada salah satu nisan yang masih utuh menunjukkan ciri khas nisan Demak Troloyo dengan ornamen tumpal[1]. Berdasarkan ciri–ciri yang tampak, makam kuno di Pesarean Ki Ageng Sengguruh memiliki kemiripan dengan makam-makam kuno pada masa awal penyebaran Islam di Jawa.

Situs Makam Ki Ageng Sengguruh Tulungagung, antara Pusaran Legenda dan Sejarah 8

Ornamen tumpal pada nisan.

Situs Makam Ki Ageng Sengguruh Tulungagung, antara Pusaran Legenda dan Sejarah 9

Salah satu makam kuno.

Sejarah

Tidak ditemukan epitaf maupun inskripsi pada Situs Makam Ki Ageng Sengguruh sehingga kesejarahan situs ini masih menjadi misteri. Dalam cerita rakyat/ cerita tutur yang berkembang, Ki Ageng Sengguruh dikenal sebagai tokoh antagonis dalam Legenda Kadipaten Aryo Blitar. Beliau adalah kakak dari Adipati Aryo Blitar yang bernama Nila Suwarno. Ki Ageng Sengguruh menjebak Nila Suwarno hingga tewas, selanjutnya merebut tampuk kekuasaan di kadipaten. Nantinya, anak Nila Suwarno yang bernama Joko Kandung berhasil menuntut balas dan menewaskan Ki Ageng Sengguruh. Setelah Sengguruh tewas, Joko Kandung menghilang di perbukitan di selatan kadipaten. Bukit tersebut saat ini dipercaya berada di sekitar Desa Tanen, Tulungagung dan dikenal dengan nama Bukit Kandung. Di Bukit tersebut terdapat sebuah air terjun yang juga disebut dengan nama Air Terjun Kandung. Sayang sekali Legenda Kadipten Aryo Blitar ini tidak banyak termuat dalam catatan sejarah, sehingga kebenarannya masih perlu dikaji.

Mengutip artikel KH. Agus Sunyoto, M.Pd., penulis dan sejarawan Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia, cerita tutur terkadang digunakan untuk merekonstruksi peristiwa sejarah masa silam ketika catatan pendukung bersifat historis tidak ditemukan. Pada kasus semacam ini, cerita tutur bisa dipertimbangkan sebagai acuan bagi rekonstruksi sejarah. Namun demikian, jika data pendukung dari cerita tutur itu dihadapkan pada catatan sejarah, baik kronik-kronik, naskah-naskah jenis babad, catatan-catatan yang lebih tua usianya, otoritas cerita tutur akan melemah dengan sendiri. Lalu bagaimana dengan catatan sejarah mengenai Sengguruh?

Nama Sengguruh sebenarnya tercatat dalam sejumlah catatan sejarah seperti Serat Kandha, Babad Giri Kedaton dan naskah-naskah kuno lainnya. Dalam Serat Kandha, Sengguruh disebut sebagai salah satu tempat pelarian raja Majapahit saat terjadi invasi Demak ke Majapahit. Dalam Babad Giri Kedaton disebutkan bahwa Kadipaten Sengguruh awalnya belum memeluk Islam dan dianggap sebagai salah satu kawasan pertahanan Hindu Budha terakhir di pedalaman Jawa.

Setelah Majapahit runtuh, kadipaten otonom atau Kerajaan Sengguruh tercatat pernah menginvasi Giri Kedaton. Kadipaten Sengguruh berhasil menduduki Giri Kedaton namun tak berlangsung lama. Dalam Babad Giri Kedaton diceritakan bahwa Ki Adipati Sengguruh terpaksa mundur karena mengalami serangan lebah setelah merusak makam di komplek Makam Sunan Giri. Dalam Babad Demak, didapati informasi perihal dugaan penyebab dilepaskannya Giri oleh Sengguruh. Disebutkan bahwa Sunan Giri II (Sunan Dalem) bersama kekuatan Demak berhasil merebut Pasuruan. Hal ini memaksa Sengguruh melepas kembali Giri Kedaton. Pada tahun 1545 Sengguruh telah takluk di bawah Demak.

Sengguruh terletak di hulu Sungai Brantas di Malang Selatan[2]. Hingga kini masih dapat dijumpai Desa Sengguruh di Malang selatan. Agak sulit menemukan catatan sejarah untuk mengidentifikasi nama Sengguruh sebagai nama tempat di Blitar dan Tulungagung.

Di dalam naskah Tedhak Pusponegaran dan Serat Kandaning Ringgit Purwa disebutkan bahwa Adipati Sengguruh yang berkuasa di Kadipaten Sengguruh adalah putra Raden Kusen Adipati Terung. Raden Kusen adalah adik kandung Raden Patah, Maharaja Demak Bintara. Raden Kusen menikah dengan Nyai Wilis, cucu Sinuhun Ampel Denta. Dari pernikahan itu lahir Arya Terung yang menjadi Adipati Sengguruh dan Arya Balitar yang menjadi Adipati Balitar. Jadi mereka berdua adalah saudara sepupu Sultan Trenggana. Tokoh Adipati Sengguruh yang diuraikan dalam naskah ini bukanlah tokoh Adipati Sengguruh yang menginvasi Giri seperti yang diuraikan sebelumnya, melainkan tokoh lain yang diberi jabatan adipati di wilayah Sengguruh setelah kadipaten tersebut tunduk di bawah Maharaja Demak.

Tokoh Adipati Sengguruh yang mengabdi pada Demak ini lah yang diduga dimakamkan di Situs Makam Ki Ageng Sengguruh. Kronologinya dapat diketahui dari kutipan naskah berikut[3]:

Sigeg kacarios ing seratan nalika sengkalan taun Jawi Kenget Giri Tataning Tokid, Ki Dipati Sengguruh lan Ki Dipati Balitar sarta sentana katahipun tigangdasa kondur saking pasareanipun Prabu Satmata, nalika wonten ing satengahing  lepen brantas ing laladan Rawa kinepung Ki Dipati Srengat wasta Nila Suwarna sabala lan wadya saking Panjer, kathahipun sewu.

Ki  Dipati Sengguruh saha  Ki Dipati Balitar hasareng  angamuk anusup ing ayuda,  sentana Sengguruh kang mapak ayuda boten antawis lami  sami gusis. Nalika  anyumerepi  sentana Sengguruh kathah ingkang  pejah ing alaga,  Ki Dipati Sengguruh saha  Ki Dipati Balitar sami ngedalaken kasekten, tiyang sewu mengsah tiyang kalih  boten kawon ingkang kalih. Ki  Dipati Sengguruh saha Ki Dipati Balitar nora pasa ing senjata saksatnya tan ana braja kang tumama. Sasampuni  campuh prang ngantos dalu, sadaya sentana Sengguruh  sami seda kantun Pangeran Aria Talun putrani  Ki Dipati Balitar kang taksih gesang anandang tatu, saksana Ki Dipati Sengguruh saha  Ki Dipati Balitar tinungkeban kinepung musuh, lajeng sami rubuh ing bantala, mesat napas miwah   kadibyanipun. Ki  Dipati kekalih  seda ing adilaga. Kacarios Pangeran Aria Talun hangreksa layonipun Ki Dipati Sengguruh saha Ki Dipati Balitar sarta sentana Sengguruh, sedaya kasareaken ing sakidulipun lepen brantas.

Saat Ki Dipati Sengguruh beserta adik kandungnya yang bernama Ki Dipati Balitar kembali dari ziarah makam Sunan Giri dengan melewati Sungai Brantas, diseranglah rombongan peziarah itu oleh Adipati Srengat Nila Suwarna bersama bala bantuan dari Panjer. Oleh karena jumlah kekuatan yang timpang, Ki Dipati Sengguruh dan Ki Dipati Blitar tewas terbunuh dalam serangan tersebut. Jenazah Ki Dipati Sengguruh beserta rombongan kemudian dimakamkan di selatan Sungai Brantas oleh Pangeran Arya Talun yang selamat dalam serangan tersebut. Berita dari naskah ini bukan tanpa kelamahan, sengkalan Jawa dalam kutipan naskah ini kurang sesuai jika dibandingkan dengan kronologi sejarah yang termuat dalam Babad Sengkala. Dalam Babad Sengkala, penundukan Sengguruh oleh Demak terjadi tahun 1545 Masehi, sementara sengkalan peristiwa dalam naskah ini menunjukkan tahun 1570an Jawa (1650an Masehi). Rentang waktu ini teramat panjang bahkan melewati rezim penguasa Jawa yang telah berbeda.

. . .

Situs Makam Ki Ageng Sengguruh masih menjadi misteri antara pusaran legenda dan sejarah. Bagaimana menurut kalian? Jangan sungkan-sungkan sampaikan saja pendapat kalian di kolom komentar 😀

Situs Makam Ki Ageng Sengguruh Tulungagung, antara Pusaran Legenda dan Sejarah 10

DTrav di Situs Makam Ki Ageng Sengguruh.


Writer: Galy Hardyta

Sumber:

  1. Ohorella, G.A. 1997. Kongres Nasional Sejarah 1996 Sub Tema Studi Komparatif dan Dinamika Regional II. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI. Jakarta
  2. de Graaf, H.J. dan T.G.T. Pigeaud. Kerajaan Islam Pertama di Jawa.
  3. https://www.facebook.com/agussunyoto59/posts/adipati-sengguruh-antara-historiografi-dan-cerita-tuturcerita-tutur-yang-masuk-f/752847838098266/

Participant: Ali, Chusna, Galy, Nika

Tinggalkan Balasan

error: Content is protected !!