Skip to content

Situs Astono Gedong, Napak Tilas Lintas Kerajaan

situs astono gedong

Makam Kuno Situs Astono Gedong.

Situs Astono Gedong merupakan kompleks pemakaman Islam kuno yang sangat istimewa. Sebab, selain kuburan-kuburan Islam periode awal, travelers sekalian juga dapat menyaksikan tinggalan-tinggalan masa klasik era Hindu Budha. Dengan keanekaragaman tinggalannya, Astono Gedong merupakan tempat yang cocok untuk dijadikan spot napak tilas lintas kerajaan.

Lokasi dan Rute

Secara administratif Situs Astono Gedong terletak di Desa Sukodono, Kecamatan Karangrejo, Tulungagung. Situs ini dapat dituju dengan berpatokan dari Ngujang. Pertigaan Lampu Merah Ngujang belok ke kiri menuju ke arah Karangrejo. Perempatan lampu merah Karangrejo belok ke kanan ke arah Kediri (Ploso/Mojo) sejauh 300 meter hingga menjumpai perempatan. Dari perempatan tersebut silakan belok kiri melintasi area persawahan. Selepas area persawahan kalian akan menjumpai papan petunjuk menuju Situs Astono Gedong pada pertigaan. Ikuti arah yang ditunjukkan.

Deskripsi Situs

Situs Astono Gedong dibagi ke dalam tiga halaman. Halaman paling luar disebut Pendopo, halaman tengah disebut dengan Kampung, dan halaman belakang disebut Dalem. Belum jelas apakah pengistilahan pembagian halaman semacam ini memang berasal dari aslinya, ataukah terbentuk akibat perkembangan kebudayaan masyarakat di sekitar makam. Perubahan istilah dalam tata ruang makam cukup wajar terjadi, mengingat makam ini berasal dari masa masa awal persebaran Islam di Jawa yang kurun waktunya sudah sangat jauh dari masa kini.

Situs Astono Gedong, Napak Tilas Lintas Kerajaan 2

Pagar keliling yang tersusun dari bata.

Halaman Dalem merupakan halaman utama dengan makam-makam utama di dalamnya. Halaman ini dinaungi pohon Nogosaren. Keberadaan pohon nogosari merupakan salah satu ciri dari area makam pembesar-pembesar Islam di Jawa.

Makam utama di Situs Astono Gedong oleh masyarakat saat ini dikenal sebagai makam Raden Lemboeroe atau Raden Ketawengan, yang dipercaya merupakan keturunan raja Majapahit. Cerita tutur ini perlu dikaji lebih dalam mengingat pada nisan makam tidak dijumpai inskripsi atau pun epitaf yang menerangkan perihal tokoh yang dimakamkan. Inskripsi yang dijumpai pada salah satu nisan kuno hanya menunjukkan angka tahun 1470 Saka yang dituliskan dengan aksara Jawa kuno. Uniknya angka tahun tersebut tidak ditulis dari kiri ke kanan sebagaimana umumnya angka tahun Jawa kuno, melainkan ditulis dari kanan ke kiri seperti layaknya menulis sengkalan.

Situs Astono Gedong, Napak Tilas Lintas Kerajaan 3

Nisan berangka tahun 1470 Saka ditulis dengan aksara Jawa Kuno, ditulis dari sebelah kanan seperti menuliskan sengkalan.

Nisan Makam Raden Ketawengan beserta para pengiringnya menunjukkan ciri Demak-Troloyo yang identik dengan makam-makam Islam periode awal. Nisan tersebut dihiasi dengan ornamen tumpal pada bagian tengahnya. Nisan semacam ini dianggap lebih muda dibandingkan dengan nisan-nisan di Troloyo yang dominan berbentuk makara. Selain hiasan tumpal ada pula nisan makam dengan ornamen medalion.

Situs Astono Gedong, Napak Tilas Lintas Kerajaan 4

Nisan dengan ornamen medalion.

Di halaman Dalem, selain makam-makam kuno abad 15, juga terdapat makam kuno Mangkunegaran dari akhir abad 18. Makam Mangkunegaran ditandai dengan adanya inskripsi yang ditulis dengan aksara Arab.

Situs Astono Gedong, Napak Tilas Lintas Kerajaan 5

Nisan berangka tahun 1892 ditulis dengan aksara Arab.

Selain makam-makam Islam kuno, pada Situs Astono Gedong ini juga terdapat tinggalan-tinggalan masa klasik era Hindu Budha. Yang masih bisa travelers sekalian saksikan hingga saat ini adalah keberadaan dua buah lingga pada pintu pagar keliling. Selain lingga yang bercorak Hindu, pada situs ini juga pernah ditemukan tinggalan bercorak Budha berupa Arca Budha Aksobya. Saat ini Arca Budha Aksobya dari Astono Gedong di simpan di Museum Wajakensis Tulungagung.

Situs Astono Gedong, Napak Tilas Lintas Kerajaan 6

Dua buah lingga di area Situs Astono Gedong.

Situs Astono Gedong, Napak Tilas Lintas Kerajaan 7

Arca Budha Aksobya dari Situs Astono Gedong yang kini disimpan di Museum Wajakensis Tulungagung.

Sejarah

Berdasarkan inskripsi pada nisan yang menunjukkan tahun 1470 Saka (1548 M), Kompleks Makam Astono Gedong berasal dari era Demak periode pemerintahan Arya Penangsang. Namun jika ditilik dari adanya tinggalan bercorak Hindu Budha, bisa jadi situs ini telah lebih dahulu dimanfaatkan oleh kebudayaan-kebudayaan pra Islam. Pemanfaatan situs ini merentang melintasi waktu dan rezim. Dari era kerajaan Hindu Budha, melewati era awal perkembangan kerajaan Islam, kemudian dimanfaatkan pada abad ke 18 dengan adanya nisan berinskripsi 1892 dan terus dimanfaatkan hingga masa kini.

Riwayat Pelestarian

Keberadaan Situs Astono Gedong disinggung dalam laporan-laporan peneliti era kolonial. Stutterheim pernah membaca inskripsi nisan Astono Gedong namun ragu ragu dalam pembacaannya apakah terbaca 1570 Saka atau 1470 Saka. Damais memastikan bahwa inskripsi nisan tersebut terbaca sebagai 1470 Saka. Dalam laporannya, Knebel pada tahun 1908 juga menyinggung mengenai Astono Gendong, namun berfokus pada Arca Budha. Dalam laporan-laporan tersebut, satuan administratif tempat Astono Gedong berada masih dikenal sebagai Desa Gondang Lor, Distrik Kalangbret.

. . .

Situs Astono Gedong ini benar-benar sarat dengan makna. Terdapat makna pelestarian yang tersirat pada situs ini, yakni upaya mempertahankan keberadaan tinggalan dari kerajaan-kerajaan terdahulu yang dilakukan oleh pembesar-pembesar yang berkuasa pada periode kemudian.  Terlepas dari unsur legitimasi, tapi upaya pelestarian ini patut kita teladani.


Writer: Galy Hardyta

Narasumber:

  • Juru pelihara Situs Astono Gedong

Sumber:

  • Rapporten van de Commissie in Nederlandsch Indie voor Oudheidkundig Onderzoek op Java en Madoera (ROC)
  • Damais, L.C. 1995. Epigrafi dan Sejarah Nusantara Pilihan Karangan Louis-Charles Damais. Pusat Penelitian Arkeologi Nasional. Jakarta
  • Ohorella, G.A. 1997. Kongres Nasional Sejarah 1996 Sub Tema Studi Komparatif dan Dinamika Regional II. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI. Jakarta

Participant: Galy, Kcing

21 Comments

  1. Hari budi harto Hari budi harto

    Nek gak salah kuwi nggone nang duwur gunung tp jarene kuwi makame joko tingkir

    • yang ini di kaki Gunung Wilis pak, di desa sukodono, karangrejo, tulungagung.. yang ada malah makamnya joko tarub (ngutip keterangan juru kunci).. 😀

  2. Iki wingi seng ta lewati karo si mbah Deni,
    Goro2 nyang omben jago, baktung tembus’e nyang Kediri =))

    Ternyata arca Budha yg aduhai di museum dari sini ya asalnya 🙂

    hayo,
    mana ulasan aer terjun kucur watunya 🙂

    • wah sampean kudu mampir kesini mas.. situs e luas banget.. aku yakin sik akeh tinggalan sing durung sempat diabadikan.. 😀

      kucur watunya masih lama mas pein.. mungkin pertengahan juni hehehe..

      • Kalo mau ke Kucur watu harus ngajak si mbah 🙂
        Lewat Kediri paling enak, tapi ga bakal ketemu si omben jagonya 🙂

        Kalo saya kesini mah ga ada yg boncengin -__-

        • lah.. lek g ketemu omben jagonya trus nemu apa??
          😀
          jalannya enak kog ke kucur watu..

  3. candra candra

    dari astana gedong apa ada peninggalan lain seperti barang barang keramat?

    • waduh kami ndak paham mas kalo masalah barang keramat.. hehehe… 😀

  4. mohon bantuannya apakah di astono gedong ada makam kanjeng bupati pangeran tepasana,bupati kediri

    • kalau namanya kami ndak hafal.. tapi sepertinya memang ada makam pembesar kediri di area ini.. 🙂 untuk lebih jelasnya monggo langsung ke TKP bertemu dengan bapak jurukuncinya..

  5. Beberapa kali saya ke situs ini. Saya pernah ngobrol dengan seorang camat (alm. Bpk Suharto, mantan camat Boyolangu). Beliau mengaku sebagai keturunan bangsawan yang dimakamkan di sini. Tetapi menurut beliau, makam utama di halaman paling dalam (Dalem) adalah makam R. Soerohadidjojo, yang merupakan pengikut Diponegoro. Dalam sejarah, Diponegoro mau menyerah asalkan anak buah dan keluarganya dilepaskan. Tetapi ternyata setelah menyerah, justru semua anak buah dan keluarganya ditumpas habis sampai ke cucu-cicitnya. Sebagian melarikan diri ke timur, termasuk Mbah Djoego di gunung Kawi, Raden Kertojoedo (Tg. Surontani) di Boyolangu, dan Raden Soerohadidjojo (Tg. Tawengan) di Karangrejo. Nama Surontani dan Tawengan adalah nama samaran untuk menghindari kejaran Belanda. Urut-urutan halaman adalah: Halaman 1 (paling luar) adalah makam masyarakat umum yang ikut mengungsi, termasuk keturunannya, halaman 2 (tengah) adalah makam keluarga abdi dalem, halaman 3 (dalam) adalah makam kalangan golongan bangsawan dan prajurit. Kira-kira mana yang benar, versi juru kunci ataukah versi Pak Camat yang sudah almarhum?

    • wah terimakasih mas, tambahannya lengkap sekali 😀
      kalau ditanya mana yang bener lebih baik kita baca jurnal penelitian ilmiah saja mas. InsyaAllah sampean cari di google sudah ada

      • Sudah lama saya berusaha mencari jurnal ilmiah mengenai makam ini, tapi tidak pernah menemukan yang “menurut saya” benar-benar valid dari segi arkeologi. Semua mendasarkan tulisannya dari wawancara dengan juru kunci dan artikel di internet. Contohnya, ada yang menuliskan mengenai makam Sultan Hadiwijaya. Juga dituliskan bahwa Lemboroe adalah anak dari Brawijaya V. Jurnal ilmiah tidak bisa didasarkan dari asumsi semacam ini. Saya sendiri tidak memiliki asumsi apapun mengenai makam ini. Apa yang disampaikan Pak Camat, yang pernah saya ajak ngobrol, hanya sebagai informasi pembanding. Alangkah luar biasa kalau D’Travellers menyusun informasi-informasi yang diperoleh dari perjalanan menjadi sebuah buku. Mungkin temanya bisa per kota: Blitar, Tulungagung, dsb. Buku ini tidak perlu dicetak banyak. Cukup dibuat e-booknya dan satu bundel untuk arsip kelompok. Tapi satu catatan penting: Jangan membuat asumsi apapun dari informasi yang masih diragukan validitasnya. Terus maju D’Travellers. Aku sering membaca jurnal-jurnalmu lho.

        • sip mas.. maksih masukannya 😀
          hehehe ini cuma artikel kok mas, bukan jurnal

  6. sebenarnya ada situs di daerah desa tulungrejo,kecamatan karangrejo,kabupaten tulungagung,biasa masyarakat menyebutnya reco guru dan reco manten,jarak reco manten dan reco guru skitar 700 meter,di situs itu terdapat yoni yang berukuran lumayan besar dan masih utuh dan terawat,terdapat jg batu bata kuno yg berserakan,8 buah umpak,namun masyarakat luar desa tulungrejo blm banyak yg th,tranking ke situs ini tidak terlalu sulit,tanya ke penduduk desa tulungrejo nanti langsung di tunjukkan arahnya

Tinggalkan Balasan

error: Content is protected !!