Skip to content

Situs Candi Gedog, Wisata Candi di Kota Blitar

Situs Candi Gedog merupakan destinasi wisata candi yang terletak di Kota Blitar. Tinggalan masa klasik Hindu Budha di Kota Blitar memang bukan hanya Situs Gedog semata, namun sejauh ini situs ini merupakan yang terbesar di Kota Blitar.

Lokasi dan Rute

Situs Candi Gedog secara administratif terletak di Kelurahan Gedog, Kecamatan Sananwetan, Kota Blitar. Letak situs ini berada tak jauh dari Wisata Kolam Renang dan Hotel Herlingga Jaya.

Untuk menuju situs ini dari Herlingga silakan ke timur hingga pertigaan SPBU Gedog, kemudian belok ke kiri ke Jl. Brigjen Katamso. Pos Kamling RW 08 Kel. Gedog silakan belok ke kiri ke Jl. Cokrodipo, Situs Gedog terletak di ujung jalan.

Riwayat Pelestarian

Keberadaan Situs Candi Gedog pertama kali dilaporkan oleh Thomas Staford Raffles dalam karya monumentalnya yang berjudul The History of Java diterbitkan pada tahun 1817. Selanjutnya keberadaan situs ini juga dimuat dalam laporan laporan peneliti lain seperti: V. Meeteren Brouwer (1828), Hoepermans (1864 – 1867) Verbeek (1887), Knebel (1908).

Pada bulan Oktober 2019 pada situs ini dilakukan ekskavasi oleh BPCB Jawa Timur. Pasca ekskavasi dilakukan pengelolaan terhadap Situs Candi Gedog oleh Pemkot Blitar dengan memberikan paving pada lingkungan situs, pagar pelindung situs dan pembuatan etalase display untuk memamerkan hasil temuan di Candi Gedog. Ekskavasi dilanjutkan pada bulan Oktober 2020.

Deskripsi Candi

Travelers sekalian dapat memperoleh gambaran mengenai deskripsi Candi Gedog saat bangunannya masih berdiri dalam The History of Java karya Raffles. Berikut kutipannya:

… I discovered (or rather was led to them by the natives) the chandi of Gedog, the antiquities at Penataran, and various monuments covered with inscriptions, which I shall separately enumerate below.

The chandi of Gedog is a structure in the usual style of brick, but executed with superior excellence, while much of the ornamental work is supplied of stone. Several of the sides are still entire, but the base of the entrance or steps has gradually separated. Gedog is situated near Blitar, formerly a capital, but now reduced to a simple village. Here, also, interesting antiquities are found, among which the site of a deserted capital, with its walls and many stone pedestals, attract the notice of the traveller.

Berdasarkan kutipan tersebut diketahui bahwa dahulu candi ini masih lumayan utuh. Bangunan candi tersusun dari bata dan ornamen hiasnya diukir pada batu. Beberapa sisi masih utuh namun pangkal pintu atau tangga sudah mulai terputus.

Berdasarkan laporan Knebel, selain Raffles, V. Meeteren Brouwer di tahun 1828 juga masih menjumpai bangunan Candi Gedok, sedangkan Verbeek pada tahun 1887 hanya menjumpai gundukan bata, yoni dengan ornamen naga yang patah bagian ceratnya, arca ganesa yang rusak, dua buah batu kapur salah satunya berukir. Knebel sendiri hanya melaporkan adanya gundukan bata merah, yoni dan antefik yang sudah rusak. Kondisi lingkungan Candi Gedog dalam laporan Knebel masih berupa semak semak di tengah sawah.

Dalam kunjungan tim DTrav pertama pada tahun 2009, situs ini hanya menyisakan sebuah yoni dan dua buah kala. Benda benda ini berada di bawah pohon raksasa. Yoni biasanya terletak di dalam bilik candi bersama dengan lingga. Yoni merupakan simbol Dewi Parwati, istri Dewa Siwa dalam Agama Hindu. Berdasarkan adanya yoni, diduga corak keagamaan Candi Gedog adalah Hindu. Sementara itu, kala biasanya terletak di atas pintu atau relung candi. Kondisi Candi Gedog belum berubah hingga kunjungan DTrav pada pertengahan tahun 2019.

Situs Candi Gedog, Wisata Candi di Kota Blitar 2

Kondisi Candi Gedog sebelum dikelola. Dokumentasi DTrav 2017.

Ekskavasi Candi Gedog tahun 2019

Pada akhir Agustus 2019 ditemukan sebuah kala lain di area persawahan tak jauh dari Candi Gedog. Penemuan ini disusul dengan penyerahan sejumlah benda cagar budaya yang selama ini disimpan masyarakat sekitar Candi Gedog. Benda benda tersebut diantaranya adalah batu candi, fragmen miniatur candi, dan potongan relief. Benda-benda tersebut dikumpulkan di lokasi candi. Temuan baru ini ditindak lanjuti dengan ekskavasi yang dilakukan oleh BPCB Jawa Timur pada Oktober 2019. Ekskavasi tersebut berhasil menampakkan sejumlah struktur bangunan termasuk pagar candi. Pasca eskavasi, Pemkot Blitar melakukan pengelolaan terhadap Situs Candi Gedog sehingga lebih rapi dan terawat.

ekskavasi candi gedog

Ekskavasi 2019 menampakkan struktur pagar Candi Gedog. Dokumentasi DTrav 2019. Update by Rendro

Situs Candi Gedog, Wisata Candi di Kota Blitar 3

Benda-benda cagar budaya yang selama ini disimpan masyarakat. Dokumentasi DTrav 2019. Update by Hadi

situs candi gedog

Kondisi Candi Gedog setelah dikelola. Dokumentasi DTrav 2020

Situs Candi Gedog, Wisata Candi di Kota Blitar 4

Yoni Candi Gedog.

Situs Candi Gedog, Wisata Candi di Kota Blitar 5

Miniatur candi dan potongan relief yang saat ini sudah diamankan di dalam etalase display.

Ekskavasi Candi Gedog tahun 2020

Pada Oktober 2020 dilakukan ekskavasi lanjutan yang menemukan struktur candi berbahan bata dan sejumlah fragmen arca. Salah satu fragmen arca yang ditemukan menunjukkan seni pahat yang sangat halus sehingga memunculkan dugaan bahwa situs ini berasal dari era Singhasari.

Situs Candi Gedog, Wisata Candi di Kota Blitar 6

Ekskavasi 2020 menampakkan struktur bangunan Candi Gedog.

Situs Candi Gedog, Wisata Candi di Kota Blitar 7

Kanan bawah, fragmen arca yang ditemukan pada ekskavasi 2020.

Sejarah

Belum ditemukan sumber sejarah tertulis baik angka tahun maupun prasasti yang ditemukan pada Candi Gedog. Berdasarkan temuan fragmen arca dengan seni pahat yang sangat halus pada ekskavasi tahun 2020, peneliti menduga bahwa Candi Gedog berasal dari era Kerajaan Singosari yang dikenal sebagai puncak seni pahat di Nusantara. Sementara itu, apabila dilihat dari temuan fragmen relief-relief yang lain, situs ini diduga berasal dari periode yang lebih muda, yaitu era Majapahit. Hal ini menunjukkan bahwa ada keberlangsungan atau kontinuitas kebudayaan yang berlangsung antara era Singasari hingga Majapahit.

Cerita Rakyat

Berdasarkan cerita rakyat yang berkembang, keberadaan Situs Candi Gedog ini tak lepas dari tokoh Joko Pangon. Dahulu saat kawasan Gedog masih berupa hutan, Joko Pangon yang tengah mengembara mencari ilmu dan beternak kerbau tiba di sekitar hutan. Joko Pagon bertemu dengan Janda dari Swangsan, kemudian diangkat sebagai anak. Suatu hari Joko Pangon mencari kayu di hutan kemudian mendengar suara “Dag Dog” seperti bunyi orang memukul-mukul sesuatu. Suara tersebut berasal dari seorang pandai besi. Sejurus kemudian Joko Pangon berguru kepada sang pandai besi/ empu.

Cerita rakyat mengenai Joko Pangon dan Candi Gedog tidak hanya berkatian dengan latar belakang Desa Gedog, tapi juga berkaitan dengan adat yang ada di Desa Gedog dan Bendogerit. Alkisah Kepala Desa Gedog memiliki kerbau jantan dan betina, ia meminta Joko Pangon untuk memeliharanya dengan perjanjian jika beranak betina menjadi milik Kepala Desa, jika beranak jantan menjadi milik Joko Pangon. Ternyata anak kerbau yang terlahir kebanyakan jantan. Kepala Desa murka dan menyuruh orang kepercayaannya untuk menghabisi Joko Pangon di sendang barat candi.

Kabar kematian Joko Pangon diketahui oleh Janda Swangsan. Dalam amarahnya Janda Swangsan bersumpah dan melarang anak cucunya dari Swangsan (sekarang Bendogerit) untuk menikah dengan orang orang Gedog. Demikian lah mitos yang berkembang seputar Candi Gedog. Hingga kini keberadaan Candi Gedog dan Situs Swangsan masih dapat ditelusuri.

Situs Swangsan terletak di Makam Swangsan Bendogerit tak jauh dari Makam Bung Karno. Tak banyak yang tersisa dari Situs Swangsan. Bata kuno yang dulu disusun membentuk makam keramat kini telah dirapikan dengan semen, hanya tersisa dua batu candi di atas makam. Sejumlah benda cagar budaya seperti yoni dari Situs Swangsan diamankan di rumah warga.

Situs Candi Gedog, Wisata Candi di Kota Blitar 8Situs Swangsan


Writer: Galy Hardyta

Sumber:

Participant: Galy, Kcing

Tinggalkan Balasan

error: Content is protected !!