Skip to content

Situs Candi Gedog Kota Blitar

Situs Candi Gedog merupakan reruntuhan candi yang terletak di Kelurahan Gedog, Kecamatan Sananwetan, Kota Blitar. Keberadaan reruntuhan candi tersebut berkaitan erat dengan asal muasal Desa Gedog dan legenda-legenda yang melingkupinya.

Berdasarkan cerita rakyat yang berkembang, keberadaan Situs Candi Gedog ini tak lepas dari tokoh Joko Pangon. Dahulu saat kawasan Gedog masih berupa hutan, Joko Pangon yang tengah mengembara mencari ilmu dan beternak kerbau tiba di sekitar hutan. Joko Pagon bertemu dengan Janda dari Swangsan, kemudian diangkat sebagai anak. Suatu hari Joko Pangon mencari kayu di hutan kemudian mendengar suara “Dag Dog” seperti bunyi orang memukul-mukul sesuatu. Suara tersebut berasal dari seorang pandai besi. Sejurus kemudian Joko Pangon berguru kepada sang pandai besi/ empu. Suatu malam saat tidur di kediaman empu, Joko Pangon bermimpi bertemu dengan seekor anjing. Saat terbagun ia terkejut karena di dekatnya ada seekor anjing dan sang empu sudah tidak ada. Yang ada hanya sebongkah batu yang diduga perwujudan dari sang empu. Selanjutnya Joko Pangon berujar jika besok hutan ini menjadi desa, desa tersebut akan dinamai Desa Gedog sesuai dengan suara “Dag Dog”. Joko Pangon pun mulai membabat hutan, lama-kelamaan hutan menjadi ramai dan berdirilah Desa Gedog. Sedangkan bongkahan batu dibuatnya sebuah candi.

Cerita rakyat mengenai Joko Pangon dan Candi Gedog tidak hanya berkatian dengan latar belakang Desa Gedog, tapi juga berkaitan dengan adat yang ada di Desa Gedog dan Bendogerit. Alkisah Kepala Desa Gedog memiliki kerbau jantan dan betina, ia meminta Joko Pangon untuk memeliharanya dengan perjanjian jika beranak betina menjadi milik Kepala Desa, jika beranak jantan menjadi milik Joko Pangon. Ternyata anak kerbau yang terlahir kebanyakan jantan. Kepala Desa murka dan menyuruh orang kepercayaanya untuk menghabisi Joko Pangon di sedang barat candi. Kabar kematian Joko Pangon diketahui oleh Janda Swangsan. Dalam emosinya Janda Swangsan bersumpah dan melarang anak cucunya dari Swangsan (sekarang Bendogerit) untuk tidak menikah dengan orang orang Gedog. Demikian lah mitos yang berkembang seputar Candi Gedog. Hingga kini keberadaan Candi Gedog dan Situs Swangsan masih dapat ditelusuri.

Candi Gedog berada di bawah pohon raksasa yang terlihat dari jalan raya Blitar – Garum. Bagian candi yang bisa dijumpai adalah dua buah kala dan sebuah yoni yang patah bagian ceratnya. Kala biasanya terletak di atas pintu atau relung candi, sedangkan yoni biasanya terletak di bilik candi bersama dengan lingga. Yoni merupakan simbol Dewi Parwati, istri Dewa Siwa dalam Agama Hindu. Meski ceratnya telah patah, samar-samar masih dapat terlihat bagian leher ular yang menyangga cerat. Selain Kala dan yoni, dijumpai pula pecahan bata kuno yang berukuran relatif besar.

Kala

Yoni

Sementara itu Situs Swangsan terletak di Makam Swangsan Bendogerit tak jauh dari Makam Bung Karno. Tak banyak yang tersisa dari Situs Swangsan. Bata kuno yang dulu disusun membentuk makam keramat kini telah dirapikan dengan semen, hanya tersisa dua batu candi di atas makam. Sejumlah benda cagar budaya seperti yoni dari situs Swangsang diamankan di rumah warga

Situs Swangsan


Writer: Galy Hardyta
Sumber:
  • https://gedogblitar.wordpress.com/selayan-pandang/sejarah/

Participant: Galy, Kcing

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *