Swangsan sebagai salah satu lingkungan di Kelurahan Bendogerit, Kota Blitar memang cukup tenar. Ketenarannya tak lepas dari mitos-motos horor yang menyelimuti Kuburan Swangsan. Tapi bukan itu yang akan DTrav ulas dalam artikel ini. Ada hal menarik yang patut dikulik bersama, yakni mengenai jejak-jejak peninggalan sejarah masa klasik di lingkungan tersebut. Sebut saja Situs Swangsan.
Table of Contents
Riwayat Pelestarian
Keberadaan artifak masa klasik di Swangsan sudah dimuat dalam laporan Hoepermans pada tahun 1864 dan Knebel tahun 1908. Dalam laporan Hoeperman, Swangsan disebut sebagai Dessa Soewangsan (Desa Suwangsan), wilayah administratif yang berbeda dari Bendogerit. Kedua wilayah administratif ini sama sama tercatat memiliki artifak kuno. Pada Desa Suwangsan dilaporkan adanya makam kuno yang tersusun dari batu trasit dan sebuah arca nandi. Sementar itu, di Bendogerit dilaporkan adanya dua arca wanita berdiri di atas kerbau, salah satunya berlengan delapan; arca dwarapala kecil; dan arca Siwa di halaman seorang warga. Arca-arca di Bendogerit dilaporkan berasal dari Situs Gedog. Apakah ini ada kaitannya dengan cerita rakyat tentang Joko Pangon dan Candi Gedog?
Laporan Knebel yang terbit lebih belakangan menjelaskan bahwa Pemakaman Suwangsan masuk dalam wilayah Bendogerit. Pada pemakaman ini terdapat cungkup makam keramat yang oleh masyarakat setempat dikenal sebagai makam Kjahi-Ageng Soewångså. Pada cungkup ini tersimpan arca Durga dan arca nandi. Arca Durga dalam catatan Knebel digambarkan berlengan delapan. Apakah arca ini sama dengan salah satu arca yang disebutkan dalam laporan Hoepermans?
Hingga dekade 2000an (DTrav lupa tepatnya) susunan batu trasit di Makam Swangsan masih dapat diamati. Kini makam tersebut telah direnovasi diplaster sehingga sebagian besar batu kuno penyusunnya tidak nampak lagi.
Deskripsi Situs
Sejauh penelusuran DTrav saat melancong watu ke Situs Swangsan, arca-arca yang disebutkan dalam laporan terdahulu tidak atau belum ditemukan kembali. Mungkin raib, diamankan ditempat tersembunyi, atau kami yang kurang jeli dan getol mencari. 😀
Jejak-jejak masa klasik yang masih dapat dijumpai di Situs Swangsan adalah dua buah yoni, sebaran bata kuno di rumah warga dan Makam Swangsan, dan batu candi di Makam Swangsan. Cukup menarik bahwa keberadaan dua buah yoni ini belum tercatat dalam laporan-laporan terdahulu.
Ditilik dari adanya yoni, diduga Situs Swangsan ini bercorak Hindu. Yoni merupakan penggambaran Dewi Parwati, salah satu dewi dalam Agama Hindu. Arca-arca yang pernah ditemukan di Swangsan juga bercorak Hindu. Durga merupakan perwujudan lain dari Parwati, sedangkan Nandi adalah kendaraan Dewa Siwa.
Cerita Rakyat
Dalam cerita rakyat setempat, Lingkungan Swangsan di Bendogerit bertalian dengan keberadaan Candi Gedog di Kelurahan Gedog. Pertalian tersebut dapat kita simak dalam cerita rakyat Joko Pangon.
Writer: Galy Hardyta
Sumber:
- Hindoe-oudheden van Java 1864
- Rapporten van de Commissie in Nederlandsch Indie voor Oudheidkundig Onderzoek op Java en Madoera (ROC) 1908
Participant: Galy, Rendro



