Skip to content

Prasasti Maguhan Blitar, Inskripsi dengan Sengkalan Jawa Kuno Tertua?

Prasasti Maguhan memiliki beberapa nama alias, di antaranya disebut dengan nama keramat Mbah Bodo dan Makam Mbah Magutho. Prasasti ini tergolong prasasti pendek karena hanya berisi tiga baris aksara. Meskipun demikian, prasasti ini memiliki daya tarik tersendiri karena memuat sengkalan yang berasal dari era yang cukup tua. Sengkalan adalah sandi penulisan tahun dengan kalimat yang tiap kata atau bendanya merupakan perlambangan dari suatu angka[1]. Bagaimana kesejarahan dari Prasasti Maguhan ini? Simak ulasan DTrav berikut.

Lokasi dan Rute

Prasasti Maguhan terletak di Desa Satriyan, Kec. Kanigoro, Kab. Blitar. Untuk mencapai lokasi prasasti ini cukup mudah. Berpatokan dari bundaran simpang empat Kanigoro, silahkan menuju ke selatan (Jl.Manukwari) ke arah Lodoyo/ Sutojayan. Setelah melewati papan reklame di selatan jembatan Lodagung, ada jalan ke kiri bergapura, silakan belok ke kiri. Ikuti saja jalan tersebut hingga menemukan cungkup makam Mbah Maguto yang berada di kiri jalan.

Deskripsi Prasasti

Prasasti Maguhan Blitar, Inskripsi dengan Sengkalan Jawa Kuno Tertua? 6

Prasasti Maguhan atau Inskripsi Mbah Bodo

Prasasti Maguhan terbuat dari batu. Memiliki tinggi 65.5 cm, lebar 43 cm dan tebal 16 cm. Berisi tiga baris aksara Jawa Kuno.

Prasasti ini telah bertansformasi menjadi maesan (nisan) makam Mbah Maguto. Namun justru karena itu kondisi prasasti ini jadi terawat. Di sekeliling prasasti telah didirikan bangunan pelindung yang juga berfungsi untuk palenggahan bagi para peziarah.

Sejarah

prasasti maguhan

Tiga baris aksara Jawa Kuno Prasasti Maguhan

Prasasti Maguhan berisi tiga baris aksara berbahasa Jawa Kuno yang ditulis degan aksara Jawa Kuno (Kawi). Pembacaan prasasti ini oleh peneliti Arlo Griffiths sebagai berikut:

bañu gunuṃśūnyaṃ

vvaṃ

(manra)ho

Baris pertama dan kedua merupakan sebuah sengkalan. “bañu gunuṃśūnyaṃ vvaṃ” dapat ditafsirkan menjadi angka tahun dengan dibaca dari belakang. “bañu” bernilai 4 ; “gunum” bernilai 7; “śūnyaṃ” bernilai 0 dan “vvaṃ” bernilai 1. 4701 dibaca dari belakang menjadi angka tahun 1074 Saka. Angka tahun tersebut setara dengan tahun 1152 Masehi yang masuk dalam era berkuasanya Kerajaan Kadhiri periode pemerintahan Raja Jayabaya. Baris ketiga “(manra)ho” belum dapat dipahami maknanya.

Sengkalan selain sebagai sandi yang menyatakan angka tahun biasanya juga membentuk sebuah kalimat bermakna. Misalnya saja sengkalan dhībhūta bhava pada prasasti Sentono Dhowo Penataran, selain menunjukkan angka tahun 1157 Saka, sengkalan ini juga memiliki makna “keberadaan (hanya di dalam) pikiran”. Contoh lain adalah relief yang ditafsirkan sebagai sengkalan “Ganesa Inapit Mong Anahut Surya” dari Candi Sawentar Kidul, selain menunjukkan angka tahun 1328 Saka, sengkalan ini juga dapat ditafsirkan sebagai gambaran perang saudara yang terjadi di Majapahit.

Sengkalan dari Prasasti Maguhan “bañu gunuṃśūnyaṃ vvaṃ” (air gunung kosong manusia) tidak membentuk sebuah kalimat yang bermakna. Oleh karena itu dalam laporannya, peneliti Arlo Griffiths berpendapat bahwa sengkalan pada Inskripsi Mbah Bodo (Prasasti Maguhan -red) merupakan bentuk awal penggunaan sengkalan pada prasasti Jawa Kuno. Terlebih lagi kronogram ini merupakan salah satu kronogram berbahasa Jawa Kuno yang paling awal, yang berasal dari kurun waktu sebelum abad ke 12 Masehi.

Riwayat Pelestarian

Laporan awal mengenai Prasasti Maguhan tercatat dalam OV 1914 dan ROD 1915. Dalam laporan tersebut diberitakan bahwa prasasti ini berada di bawah pohon beringin di tepi Sungai Glondong. Masih dalam laporan yang sama, disebutkan bahwa prasasti ini memuat angka tahun 1034 Saka. Selanjutnya laporan mengenai prasasti ini dimuat dalam OV 1920 dengan pembacaan angka tahun 1014 Saka. Baru dalam laporan OV 1923 diperoleh pembacaan angka tahun yang tepat yakni 1074 Saka. Prasasti ini termuat pada laporan penelitan Nakada tahun 1982. Pada 24 November 2012 peneliti Arlo Griffiths melakukan penelitian pada prasasti ini.

Prasasti Maguhan Blitar, Inskripsi dengan Sengkalan Jawa Kuno Tertua? 7

DTrav di cungkup Punden Mbah Magutho


Writer: Zidny

Sumber:

Participant: Zid, Cicil, Hesti, Mila, Nika, Pita, Puji, Rita, Shara, Vendy.

Tinggalkan Balasan

error: Content is protected !!