Penemuan Situs Sumbercangkring sempat viral pada masanya. Kini setelah sekian waktu berlalu bagaimanakah keadaan situs ini? Simak ulasan DTrav berikut. š
Table of Contents
Lokasi dan Rute
Situs Sumbercangkring secara administratif terletak di Dusun Babadan, Desa Sumbercangkring, Kec. Gurah, Kab. Kediri. Untuk membedakan dengan Situs Babadan di Ngancar, DTrav lebih memilih menyebut situs ini dengan nama Situs Sumbercangkring. Situs Sumbercangkring terletak di utara lapangan sepak bola Dusun Babadan.
Untuk menuju situs ini, travelers sekalian dapat berpatokan dari Simpang Lima Gumul (SLG). Dari SLG silakan ikuti papan petunjuk arah menuju Pare/ Malang, Jombang, Surabaya atau Jl. Erlangga. Ikuti Jl. Erlangga hingga menjumpai papan petunjuk arah menuju Plosoklaten, Wates. Selanjutnya silakan belok ke kanan untuk menuju arah Plosoklaten, Wates atau Jl. Joyoboyo Timur. Ikuti Jl. Joyoboyo Timur hingga menjumpai Kantor Kepala Desa Sumbercangkring di kiri jalan. Di samping kantor desa terdapat gang kecil menuju lapangan Dusun Babadan. Situs Sumbercangkring terletak di belakang lapangan.
Riwayat Pelestarian
Situs Sumbercangkring ditemukan kembali pada akhir Agustus 2008. Penemuan situs ini diawali dengan penemuan sejumlah komponen candi seperti fragmen kala, fragmen arca dwarapala, fragmen kepala arca dan arca ganesha. Selanjutnya pada bulan Oktober di tahun yang sama dilakukan eskavasi oleh BP3 Jawa Timur sekarang BPCB Jawa Timur. Dalam eskavasi tersebut berhasil ditampakkan struktur bata kuna setebal tujuh lapis pada kedalaman 1 m. Ukuran bata yang masih utuh adalah panjang 40 cm, lebar 29 cm dan tebal 8 cm. Struktur bata yang tampak berdenah menyerupai huruf L. Secara umum struktur ini masih belum jelas karena belum tampak keseluruhan sehingga belum dapat diketahui bentuk denah yang sebenarnya dan arah hadapnya. Selanjutnya hasil penelitian mengenai situs ini diterbitkan dalam āLaporan Eskavasi Penyelamatan Situs Babadan Di Desa Sumbercangkring, Kec Gurah, Kab Kediriā tahun 2008.
Deskripsi Situs
Saat ini struktur bata Situs Sumbercangkring tidak terlihat dengan jelas. Di pematang sawah menuju lokasi situs memang terdapat tumpukan bata kuna, namun tidak begitu jelas apakah tumpukan tersebut merupakan struktur yang masih intact ataukah struktur baru yang disusun dari bata kuna yang ditemukan di sekitar situs. Sebelum ini DTrav memang pernah mendokumentasikan Situs Sumbercangkring di tahun 2010. Saat itu galian bekas eskavasi tahun 2008 memang masih terlihat, namun struktur bata yang ditemukan pada eskavasi tahun 2008 sudah tidak terlihat.
Situs Sumber Cangkring dokumentasi DTrav tahun 2010
Situs Sumbercangkring dokumentasi DTrav tahun 2021
Bata Kuno
Saat ini yang masih dapat dilihat dengan jelas dari Situs Sumbercangkring adalah fragmen arca dwarapalanya. Arca Dwarapala di Situs Sumbercangkring merupakan arca yang belum selesai pembuatannya atau unfinished statue. Fragmen dwarapala ini memiliki ukuran tinggi 65 cm, tebal 40 cm dan lebar 100 cm. Artefak lain yang pernah ditemukan di situs ini telah disimpan di Museum Bagawanta Bhari Kab. Kediri.
Arca Dwarapala Sumber Cangkring
Sejarah
Corak fragmen kala yang ditemukan pada Situs Sumbercangkring memiliki kemiripan dengan kala-kala yang berlanggam Jawa Tengahan. Kala berlanggam Jawa tengah memiliki ciri yang spesifik di mana umumnya hanya memiliki rahang atas tanpa rahang bawah. Kala Sumber Cangkring memiliki ciri demikian. Berdasarkan temuan kala tersebut, diduga Situs Sumber Cangkring berasal dari periode Kerajaan Mataram Kuno (Medang) hingga Kerajaan Kadhiri di mana corak Jawa Tengahan masih umum digunakan. Letak Situs Sumber Cangkring juga berada tak jauh dari situs-situs berlanggam Jawa Tengahan di Kediri seperti Situs Tondowongso dan Situs Adan-adan.
Writer: Galy Hardyta
Sumber:
- Riyanto, S., H. Priswanto, dan T.M.R. Istari. 2015. Berita Penelitian Arkeologi Situs Tondowongso. Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan. Balai Arkeologi Yogyakarta.
Participant: Galy, Hafid, Arif PASAK



