Skip to content

Prasasti Siman (Prasasti Paradah), Catatan Tua Pra Kediri

Prasasti Siman terletak di Desa Siman, Kecamatan Kepung Kabupaten Kediri, jaraknya sekitar 38 km ke arah timur Kota Kediri. Letak Prasasti Siman tak terlalu jauh dari Waduk Siman. Prasasti Siman dapat dituju melalui beberapa rute antara lain: dari arah Kasembon Malang; dari jalan raya Pare – Kasembon; dan dari arah Plosoklaten Kediri. Berikut detail rute dari arah jalan raya Pare – Kasembon: memasuki Desa Damarwulan perhatikan gapura bertuliskan PLTA Siman dan Mendalan disebelah kanan jalan  – ikuti ruas jalan yang menuju kedua PLTA tersebut – dengan melalui rute ini pengunjung akan melalui Desa Brumbung kemudian tiba di Desa Siman. Berikut detail rute dari arah Plosoklaten Kediri: ikuti ruas jalan Plosoklaten – Pare sampai memasuki Desa Gedang Sewu – sesampai di pertigaan perhutani di Gedang Sewu silahkan berbelok ke kanan (jalan raya Puncu – Kepung) – susuri jalan raya yang menghubungkan Kec Puncu dengan Kec Kepung sampai menjumpai monumen Bhagawanta Bari – dari monumen tersebut silahkan berbelok ke kanan. Selanjutnya travelers sekalian dapat bertanya pada warga sekitar, mereka sudah familiar dengan keberadaan Prasasti Siman.

Nama lain dari Prasasti Siman adalah Prasasti Paradah. Di Desa Siman ini terdapat dua Prasasti, yakni Prasasti Paradah I dan Prasasti Paradah II. Sebenarnya terdapat Prasasti lain yakni Prasasti Harinjing namun kini prasasti tersebut telah disimpan di Museum Naional Jakarta. Kondisi Prasasti Paradah I dan Prasasti Paradah II tergolong utuh dan terawat. Karena aksaranya masih jelas, maka alih aksara dari prasasti ini juga tergolong lengkap. Alih aksara Prasasti Paradah II termuat di OJO XLVIII. Berikut alih aksara delapan baris awal Prasasti Paradah II:

  1. swasti cakawarsatïta 865 crawana masa tithi pancami cuklapaksa, pa, ka

  2. so wara ksatra

  3. raja rake hino pu sindok crï ïcanawikrama dharmmottunggadewa tinadah rakryan mapinghai i halu pu sahasra umingso

  4. r i rakai kanuruhan pu kumonakan ikanang lmah sawah i paradah i tutuganing tanda i paradah

  5. hyang dharmma kamulan winli deng sang slak mas ka 2 rikanang rama i paradah sapasuk wanua kabeh muang ikanang lmah gaga warukwaruk i tagi watak para

  6. wan lmah kanayakan tan kakatihan halu para ko ka nan tan palu angi drabyahaji panggu han i tagi ukurnya tampah 6 winli de

  7. mas ka 1 su 10 i tagi sapasuk wanua kabeh siman susukan de sang slük nya ikanang sawah winli sinduk i paradah

  8. ka arpanakna i sang hyang dhar(mma) kamulan i punya sang sluk i paradah lor ning luah paknanya punpunana sang hyang dharmma kamulan umyarpaga a

Berdasarkan alih aksara tersebut diketahui bahwa Prasasti Paradah II berasal dari tahun 865 Saka/ 943 Masehi. Prasasti ini berisi tentang perintah Sri Maharaja Rake Hino Pu Sindok Sri Isanawikrama Dharmottunggadewa yang diterima oleh Rakyan Mapinghe i Halu Pu Saharsa, kemudian diturunkan kepada Rakai Kanuruhan Pu Da. Maharaja Pu Sindok memerintahkan agar tanah sawah yang terletak di sebelah utara sungai di Desa Paradah, yang telah dibeli oleh Sang Sluk dari rama di Paradah, dijadikan sima sebagai bagunan suci untuk hyang dharmakamulan.

Hiasan Padma pada salah satu prasasti

Pu Sendok adalah tokoh yang memindahkan pusat pemerintahan Kerajaan Medang (Mataram Kuno) di Jawa Tengah ke Jawa Timur. Ia juga mendirikan wangsa baru yakni wangsa Isyana yang memegang tampuk pemerintahan di Kerajaan Medang Periode Jawa Timur. Masa pemerintahan Pu Sindok masih terpaut jarak yang cukup jauh dengan masa berdirinya Kerajaan Kadiri, sehingga Prasati Siman atau Paradah ini merupakan catatan sejarah pra Kediri. Meskipun demikian nama Kediri telah lebih dahulu dikenal pada Prasasti Harinjing tahun 843 Saka/ 921 Masehi yang berasal dari masa pemerintahan Maharaja Tulodong, Raja Medang periode Jawa Tengah.


Writer: Zid

Editor: Galy Hardyta

Sumber:

  • Oud Javaansche Oorkonden (OJO)

Participant: Galy, Zid

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *