Skip to content

Inskripsi Tuliskriyo, Peninggalan Karajaan Kadiri di sekitar Kali Brantas Blitar

Desa Tuliskriyo ternyata tak hanya menyimpan Arca Ganesa Boro dari masa Kerajaan Singhasari. Sedikit ke utara, tepatnya di Kantor Desa Tuliskriyo tersimpan sebuah batu tulis yang terbuat dari batu andesit. Pada batu tulis ini terpahat inskripsi yang ditulis dengan angka Jawa kuno. Inskripsi tersebut menunjukkan angka tahun 1124 Saka (1202 M). Kurun waktu ini berada pada masa pemerintahan Raja Kertajaya, raja terakhir Kerajaan Kadiri.

Desa Tuliskriyo masuk dalam wilayah Kec. Sanankulon, Kab. Blitar. Sisi selatan desa ini berbatasan langsung dengan Sungai Brantas. Keberadaan batu tulis di desa ini tak begitu mengherankan karena berdekatan dengan sungai Brantas yang merupakan jalur transportasi kuno. Tuliskriyo di masa modern ini juga memegang peranan penting, karena di sini terdapat Jembatan Kademangan yang melintang di atas sungai Brantas untuk menghubungkan Blitar utara dengan Blitar selatan.

Keberadaa batu tulis ini juga terkait dengan asal usul Desa Tuliskriyo. Dahulu pada akhir Perang Diponegoro, banyak pengikut Diponegoro yang mengungsi ke Jawa Timur dan membabat (mendirikan desa desa). Salah satu tokoh Perang Diponegoro bernama Mbah Pari mengungsi hingga ke Desa Tuliskriyo saat ini. Saat rombongan bermaksud mendirikan desa, mereka menemukan batu tulis ini. Akhirnya keberadaan batu tulis ini diabadikan menjadi nama Desa Tuliskriyo.

Dahulu Batu Tulis / Inskripsi Tuliskriyo ini berada di bawah pohon raksasa di belakang Kantor Desa, namun karena sempat mengalami perusakan, kini inskripsi ini disimpan di halaman Kantor Desa Tuliskriyo.


Writer: Galy Hardyta

Participant: Galy, Lia

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *