Skip to content

Candi Surowono, Peninggalan Majapahit di Kediri dengan Relief yang Unik

Secara administratif Candi Surowono terletak di Dusun Surowono, Desa Canggu, Pare, Kab. Kediri. Candi ini dapat dituju dari beberapa arah. Dari Blitar, Kediri dan Malang, traveler sekalian dapat melewati rute: Alun alun Pare ke utara lurus saja sekitar 2,8 km hingga rambu petunjuk arah ke Surowono; silahkan berbelok ke kanan mentok kemudian belok kiri; selanjutnya dijumpai pertigaan silahkan berbelok ke kanan; Candi Surowono terletak di kiri jalan.

Candi Surowono menghadap ke barat, tersusun dari batu andesit. Keadaan candi ini telah runtuh dan hanya menyisakan bagian kaki candi saja. Batu-batu penyusun tubuh candi ditata di sekeliling bangunan candi.

Candi Surowono pertama kali diinventarisasi oleh N.W. Hoepermans, kemudian D.M. Verbeek, J. Knebel (1908), dan P.J. Perquin (1915). Bangunan yang bisa kalian lihat saat ini merupakan hasil pemugaran pada tahun 1908 sampai 1915. Meski telah runtuh, sisa kemegahan candi ini masih dapat dinikmati dari reliefnya. Ada beberapa lakon cerita yang terpahatkan pada dinding kaki Candi Surowono. Ada cerita Tantri, Bubuksah Gagang Aking, Sri Tanjung, dan Arjunawiwaha,.

Tantri menggambarkan cerita tentang binatang seperti kerbau dan buaya. Bubuksah Gagang Aking menceritakan tentang dua petapa yang diuji dewa. Kedua petapa didatangi harimau perwujudan dewa untuk dimangsa. Ternyata hanya satu petapa yang bersedia merelakan diri, dan dialah yang pertapaanya berhasil. Carita Sri Tanjung jalan ceritanya seperti legenda Banyuwangi. Cerita Arjunawiwaha mengisahkan tentang tentang Arjuna yang mengasingkan diri dengan bertapa di gunung. Hal ini ia lakukan karena merasa prihatin atas terjadinya perselisihan antara Pandawa dengan Kurawa. Kisah Arjunawiwaha dibagi menjadi tiga bagian yakni pertapaan Arjuna dan ujian dari dewa; pertarungan Arjuna melawan raksasa Niwatakawaca; dan diangkatnya Arjuna ke kahyangan untuk menerima hadiah atas kemenangannya melawan Niwatakawaca. Pada Candi Surowono cerita Arjunawiwaha hanya sampai pada adegan kekalahan Niwatakawaca.

Yang unik dari relief Candi Surowono adalah alur ceritanya yang tidak runut. Relief Arjunawiwaha dimulai justru dari bagian belakang candi dan dipahatkan secara Prasawya (berlawanan arah jarum jam). Kelanjutan ceritanya dimulai dari bagian depan sisi utara candi dan dipahatkan secara Pradakshina (searah jarum jam) hingga ceritanya berakhir di bagian depan sisi selatan. Cerita Bubuksah Gagang Aking dan Sri Tanjung dipahatkan pada sudut-sudut candi. Bubuksah dipahatkan secara Pradakshina dan Sri Tanjung dipahatkan secara Prasawya. Unik bukan? 😀

Surowono disebut beberapa kali dalam  Nagarakrtagama, yakni kitab yang digubah pada masa kejayaan Kerajaan Majapahit untuk memuja kebesaran raja Hayam Wuruk. Berikut kutipan nya:

cri nathe sinhasaryyanaruka ri sagada darmma parimita, cri nathen wenker i curabhana pasuruhan lawan tan i pajan, buddadistana tekan rawa ri kapulunan/ mwan locanapura, cri nathe watsarikan tigawani magawe tusten para jana.

Alih bahasa:

Sri Nata Singasari membuka ladang luas di daerah Sagala. Sri Nata Wengker membuka hutan Surabana, Pasuruan, Pajang. Mendirikan perdikan Buda di Rawi, Locanapura, Kapulungan Sri Paduka sendiri membuka ladang Watsari di Tigawangi.

Rayuntuk sri narapatya margga ri jukung joyana bajran pamurwwa, prapta raryyani bajra laksmi namegil ring surabhana sudharmma, enjing ryangkatiran pararyyani bekel sonten dhateng ring swarajya, sakweh sang mangiring muwah te-/- lasumantuk ring swawesmanya sowing

Alih bahasa:

Baginda pulang melalui Jukung, Joyana, Bajran terus ke timur, berhenti di Brajalaksmi bermalam di Surawana, paginya berangkat pula berhenti di Bekel sore hari tiba di istana, semua pengiring telah pulang ke rumahnya masing masing.

Kutipan pertama mengisahkan tentang para pembesar Majapahit yang membuka beberapa wilayah. Salah satu yang disebutkan adalah Curabhana yang dibuka oleh Bhre Wengker. Kutipan kedua mengisahkan tentang persinggahan di Surowono setelah perjalanan Hayam Wuruk di Blitar. Secara geografis Candi Surowono memang berada di antara Blitar dan Trowulan (Kuta Raja Majapahit).


Writer: Galy Hardyta

Selftraveling

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *