Skip to content

Candi Penataran Blitar, Menapaki Kemegahan Adhiluhung Leluhur Nusantara

komplek candi palah penataran blitarKomplek Candi Penataran Blitar.

Sebagai salah satu Icon utama Pariwisata Kabupaten Blitar, Candi Penataran ternyata masih menyimpan segudang misteri yang belum terkuak. Tapi misteri itu tak sepenuhnya gelap, hanya saja masih banyak publik yang belum mengetahui keistimewaan dari Candi Penataran. Setelah mengetahuinya pasti banyak yang akan terperanjat.

Ketertarikan kami untuk mengulas ulang Candi Penataran Blitar berawal dari sebuah buku karangan Lydia Kieven. Pada buku tersebut banyak diulas mengenai candi-candi di Jawa Timur, salah satunya bahasannya adalah Candi Penataran dari sisi relief dan sedikit mengulas sisi arsitekturnya. Luar biasa, ternyata banyak makna dan fakta seputar Candi Penataran Blitar yang jauh dari pemahaman kita selama ini. Lalu fakta apakah itu? Tenang, kami akan menuangkannya dalam ulasan perjalanan kali ini beserta gambaran Candi Penataran Blitar secara umum.

dwarapala raksasa penataranCandi Penataran secara administratif terletak di Desa Penataran, Kec. Nglegok, Kab.Blitar. Candi ini terletak sekitar 12 km di utara Kota Blitar, berada di kaki Gunung Kelud. Merupakan komplek candi dengan tataruang persegi, memanjang dari barat ke timur yang dibagi menjadi tiga pelataran. Dahulu antar pelataran dipisahkan oleh dinding, namun saat ini dinding yang dimaksud telah runtuh. Komplek candi ini terdiri dari pintu masuk utama, pendopo agung, teras pendopo, Candi Angka Tahun, Candi Naga, Candi Induk, tubuh candi induk, dan Petirtaan Dalam. Candi Penataran merupakan salah satu contoh luar biasa dari ciri arsitektur Jawa Timur, di mana candinya berupa struktur berundak dengan tempat paling suci terletak pada sisi belakang candi.

Hingga kini tataruang Candi Penataran Blitar masih dipertahankan. Pengunjung memasuki area candi melalui sisi yang sama yakni dari pintu masuk utama yang ditandai dengan keberadaan arca dwarapala raksasa dengan posisi jongkok. Dari pintu masuk utama kebanyakan pengunjung langsung menuju ke arah candi Angka Tahun kemudian ke Candi Induk, dan mengabaikan keberadaan pendopo agung dan teras pendopo. Mungkin alasannya karena bangunan-bangunan besar seperti Candi Angka Tahun dan Candi Induk lebih fotogenik. Dalam perjalanan ini kami mencoba untuk menyambangi seluruh bagian candi penataran secara urut. Dimulai dari pendopo agung hingga nanti tiba di bagian paling suci dari candi ini.

Pelataran Pertama

Pendopo Agung

Pendopo agung terletak di barat laut  (kiri) pelataran pertama. Bagian ini hanya memiliki sedikit hiasan saja. Beberapa hiasan yang mecolok adalah ukiran naga dan dwarapala dengan posisi berdiri. Pendopo ini dahulu berfungsi sebagai tempat berkumpul saat berlangsung upacara di candi.

Teras Pendopo

teras pendopo penataranTeras pendopo berada pada bagian tengah pelataran pertama. Teras ini memuat angka tahun 1297 Saka (1375 M). Teras pendopo terdiri dari dua bangunan, yang pertama adalah pendopo (saat ini tersisa bagian umpak penyangga tiang saja), yang kedua adalah struktur teras yang memanjang dari utara ke selatan. Teras pendopo ini dulunya berfungsi sebagai tempat menyiapkan sesaji.

Pada dinding teras terdapat relief-relief yang terentang ke arah prasawya (berlawanan arah jarum jam). Relief-relief tersebut sangat istimewa karena digambarkan sesuai dengan penggambaran kisah-kisah Panji yang merupakan kisah asli nusantara, meski tidak semua dari relief tersebut tergolong dalam kisah Panji.

Kisah Panji baru diciptakan pada periode Jawa Timur. Kisah-kisah ini bertutur tentang pangeran Panji dari Jenggala dan Putri Candrakirana dari Daha, yang menjalin hubungan asmara namun sempat terpisah. Setelah perjalanan panjang dan menghadapi banyak rintangan akhirnya mereka bertemu kembali dan menikah.

Kisah Panji semakin populer di era Majapahit. Kekayaan ekonomi dan kekuatan politik Majapahit merangsang timbulnya harga diri yang tinggi dan diwujudkan dalam praktik keagamaan dan kreativitas seni yang labih beragam dari era sebelumnya. Figur bertopi seperti penggambaran Panji adalah kreativitas yang luar biasa dari era Majapahit tersebut. Keberanian Majapahit menampilkan tokoh-tokoh Panji berdampingan dengan tokoh-tokoh mitologi India (Rama, Krisna) merupakan wujud dari tingginya harga diri yang dimiliki Majapahit sebagai penguasa Nusantara saat itu.

Berikut beberapa relief bergenre Panji yang ada di Teras Pendopo Candi Penataran Blitar. Sebagian telah teridentifikasi dan sebagian lagi belum. Mungkin yang sebagian itu merupakan variasi kisah Panji yang telah hilang dari tradisi.

relief sang setiyawanSang Setiawan

relief sri tanjung penataranRelief Sri Tanjung – Sri Tanjung menunggang ikan menyeberang ke alam kematian, Sidapaksa meratapi kematian Sri Tanjung. (legenda Banyuwangi)

relief panji

relief panji penataranRelief-relief figure bertopi (tekes) seperti helm retro masa kini 😀

relief bubuksah gagang aking penataranRelief Bubuksah Gagang Aking – Bubuksah menuju Nirwana menunggang punggung Harimau, Gagang Aking bergelantungan pada ekornya. (berbuat baik tidak hanya untuk Tuhan tapi juga untuk sesama)

Candi Angka Tahun

candi angka tahun penataranDisebut Candi Angka Tahun karena pada bangunan ini terdapat kronogram yang cukup jelas terlihat di atas ambang pintunya. Keronogram tersebut menunjukkan tahun 1291 Saka (1369 M). Di bagian bilik candi angka tahun terdapat arca Ganesa. Sedikit bergeser ke selatan (kanan) bangunan ini terdapat struktur pintu masuk ke pelatran kedua, ditandai dengan dua arca dwarapala. Saat ini pengunjung tidak melewati struktur pintu tersebut karena sudah tidak ada diding pemisah antar pelataran. Pengunjung bebas melewat sisi manapun dan menghindari struktur pintu yang rapuh agar tidak rusak.

Pelataran Kedua

Candi Naga

candi nagaCandi Naga tidak memiliki angka tahun. Candi ini dihiasi beberapa relief naratif dan dekoratif. Relief pada Candi Naga menunjukkan prosesi Samudramanthana, kisah pengadukan samudra. Ada dua variasi kisah Samudramanthana ini, yakni berasal dari Kitab Adiparwa (lebih tua) dan Tantu Pagelaran (lebih muda). Kisah pertama mengisahkan Dewa dan Ashura menarik Naga yang melilit gunung untuk mencari amerta dari samudra. Kisah kedua mengisahkan para dewa menarik Naga yang melilit gunung untuk memunculkan amerta. Sedangkan pada Candi Naga ini yang tampak justru sosok pendeta. Beberapa pendapat menyatakan bahwa relief Samudramanthana pada Candi Naga merupakan variasi lain dari kisah Samudramanthana yang ada.

Seperti halnya pada Candi Angka Tahun, pintu masuk ke pelataran selanjutnya juga terletak di selatan (kanan) bangunan Candi Naga. Kondisi pintu masuk menuju pelataran ketiga kurang lebih sama dengan pintu pelataran kedua.

Pelataran Ketiga

Candi Induk

candi induk penataranMerupakan bangunan utama dan terbesar dari Kompek candi Penataran. Bangunan Candi Induk ini mendominasi pelataran ketiga. Sejauh ini kita mengetahui wujud dari Candi Induk Penataran ya seperti itu. Mirip punden berundak dan tidak seperti candi-candi Jawa Timur pada umumnya yang berbentuk ramping dan tinggi, namun ternyata ada fakta menarik terkait bangunan Candi Induk tersebut. Fakta tersebut adalah, bahwa bangunan yang kita lihat selama ini adalah bagian kakinya saja. Jika mencermati papan keterangan Candi Penataran di dekat pos juru pelihara candi, terdapat keterangan bertuliskan “susunan percobaan”. Letak struktur tersebut berada di utara (kiri) Candi Induk. Lalu apakah sebenarnya struktur yang disebut “susunan percobaan” tersebut? Deg deg.. Deg deg.. Itulah tubuh asli Candi Induk Penataran (bilik candi). Kami sudah menduganya sejak lama, namun baru mendapat kepastian setelah memperoleh keterangan dari buku karya Lydia Kieven yang telah kami singgung di atas. Kaki candi (yang saat ini kita sebut Candi Induk) masih berada pada posisi sebenarnya, sedangkan “susunan percobaan” atau badan candi semestinya terletak menumpang diatas kaki candi. Fakta ini telah membuka wawasan bahwa bangunan yang selama ini kita saksikan sebagai Candi Induk, bukan lah wujud utuhnya, namun harusnya lebih besar lagi. Sayangnya belum ada keterangan apakan candi induk ini juga memiliki atap.

tubuh candi penataranTubuh Candi Induk Penataran

Kaki Candi terdiri dari tiga teras. Dua teras bawah dihiasi relief-relief naratif. Relief teras pertama menggambarkan adegan Ramayana dengan arah prasawaya. Relief teras kedua mengisahkan adegan Kresnayana dengan arah pradaksina. Teras ketiga dihiasi relief singa bersayap dan naga. “Susunan percobaan” atau tubuh candi induk dihiasai pahatan ornamental dan figural.

relief ramayana penataranRelief Ramayana – Hanuman membakar Alengka

relief kresnayanaRelief Kresnayana

Kakawin Ramayana dan Kresnayana berasal dari abad ke 9 dan abad ke 12, tercakup dalam kisah mitologi yang berasal dari India. Rama dan Krisna merupakan avatar Dewa sehingga cocok digambarkan pada Candi Induk. Dua kakawin ini mengedepankan tema percintaan dan penyatuan akhir antara laki-laki dan perempuan (Rama dan Sinta; Krisna dan Rukmini). Namun Relief Ramayana Candi Penataran lebih menggambarkan suasana perang, dimulai dari persiapan Hanuman ke Alengka hingga terbunuhnya Kumbakarna. Relief Kresnayana melanjutkan tema pertempuran dan berakhir pada tema percintaan Kresna dan Rukmini (Happy Ending). Meski Kresna sendiri merupakan titisan Wisnu, namun beberapa pendapat menyatakan bahwa penyatuan Krisna dan Rukmini ini melambangkan penyatuan Siwa dan Sakti sebagai tujuan akhir ritus Tantra. Penyatuan Siwa dan Sakti membuahkan kebahagiaan agung berupa Amerta.

Struktur Bangunan Lainnya

Selain struktur-sturktur bangunan yang telah dibahas, ada pula struktur-struktur bangunan di luar bagian pokok dari Kompek Candi Penataran Blitar. Kuduanya merupakan patirtaan, yakni Candi Pemandian Penataran dan Patirtaan Penataran Dalam.

Candi Pemandian Penataran

candi pemandian penataran blitar

patritaan ngetosStruktur bangunan ini terletak sedikit jauh di luar Komplek Candi Penataran. Saat ini letaknya di tikungan depan Kantor Desa Penataran, sebelum loket masuk Kawasan Wisata Candi Penataran Blitar. Sesuai namanya bangunan ini merupakan pemandian. Ada dua bilik pemandian pada candi ini, masing masing dilengkapi dengan pancuran (jaladwara). Bangunan ini berfungsi sebagai tempat bersuci sebelum memasuki komplek candi.

Patirtaan Penataran Dalam

patirtaan penataran dalamPatirtaan ini berada di belakang Candi Induk dengan posisi yang lebih rendah. Jadi di masa lampau peziarah turun ke tingkat yang lebih bawah, yang berupa kolam, setelah sebelumnya mencapai Candi Induk yang merupakan tempat tertinggi komplek candi. Keberadaan patirtaan ini dikaitkan dengan tujuan akhir dari konsep ritual yang ada di masa itu, yakni amerta yang merupakan buah dari laku agung sekaligus tempat penyatuan jiwa peziarah dengan Dewa.

Sejarah Candi Penataran

Candi Penataran dibangun selama kurang lebih 250 tahun. Penanggalan tertua berasal dari prasasti berangka tahun 1197 M, yang dikeluarkan Raja Srengga dari Kadhiri. Dalam prasasti tersbut diutarakan bahwa Raja Srengga mempersembahkan candi bernama “Palah” untuk Bhatara. Inskripsi-inskripsi selanjutnya justru banyak berasal dari tahun 1318 M hingga 1415 M, pertepatan dengan era Majapahit awal (Jayanegara 1309 – 1328 M; Tribhuwana 1328 – 1350 M), melewati masa kejayaan Majapahit (Hayam Wuruk 1350 – 1389 M), hingga awal kemerosotan Majapahit. Bagian inti pembangunan berlangsung antara 1369 – 1379 M, era pemerintahan Hayam Wuruk.

Berikut daftar inskripsi yang terdapat pada Komplek Candi Penataran:

Prasasti Palah 1119 S (1197 M)

Abang Pintu dekat gerbang pelataran ketiga 1240 S (1318 M)

Dwarapala gerbang pelataran ketiga 1241 S (1319 M)

Dwarapala raksasa di pintu utama 1242 S (1320 M)

Dwarapala Candi Induk 1269 S (1347 M)

Candi Angka Tahun 1291 S (1369)

Teras Pendopo 1297 S (1375 M)

Patirtaan Dalam 1337 S (1415 M)

Batu berangka tahun 1376 S (1454 M)

prasasti palah penataranPrasasti Palah keluaran Raja Srengga dari Kadhiri

Bangunan yang dibangun Raja Srengga dari Kadhiri (1197 M) sudah tidak tampak lagi karena telah diperluas pada era-era selanjutnya. Perluasan yang dimaksud adalah pada Candi Induk yang diselesaikan pada tahun 1347 M.

Dalam catatan sejarah Raja Hayam Wuruk pernah beberapa kali mengunjungi Candi Penataran (Palah). Berikut uraian Kakawin Desa Warnnana/ Negara Krtagama yang mengisahkan perjalanan Hayam Wuruk ke Blitar:

Yan tan mangka mareng phalah mareki jong hyang acala pati bhakti sadara, pantes yan panulus dhateng ri balitar mwang-I jimur-I silahritalenggong,

Bila tidak demikian Baginda pergi ke Palah memuja Hyang Acala Pati dengan bersujud, bisa juga terus ke Balitar dan jimur mengunjungi bukit-bukit yang permai,

Ndan ring saka tri tanu rawi ring wesaka, sri na-/-tha muja mara ri palah sabrtya, jambat sing ramya pinaraniran langlitya, ri lwang wentar manguri balitar mwang jimbe

Lalu pada tahun saka Tritanurawi-1283 (1361 Masehi) bulan Wesaka-April-Mei, Baginda Raja memuja (nyekar) ke Palah dengan pengiringnya, berlarut-larut setiap yang indah dikunjungi untuk menghibur hati, di Lawang Wentar Manguri Balitar dan Jimbe

Penyebutan terakhir Candi Penataran dengan nama Palah dapat dijumpai pada catatan Bujangga Manik sekitar tahun 1500 M. Sumber pertama yang menyebut nama Panataran adalah Serat Centhini dari abad ke 19 M. Dokumentasi modern pertama mengenai Candi Penataran Blitar terdapat dalam karya Raffles (1817) dan Hoepermans (1913). Investigasi dan restorasi dilakukan oleh otoritas Belanda pada tahun 1901.

Fungsi Candi Penataran

Seperti telah dibahas sebelumnya bahwa dalam Kakawin Desa Warnnana/ Negara Krtagama, Hayam Wuruk berziarah ke Candi Penataran dalam rangka memuja Hyang Acala Pati (Bathara Penguasa Gunung). Maka fungsi Candi Penataran adalah sebagai candi gunung. Sedangkan dalam catatan Bujangga Manik abad ke 15, Candi Penataran adalah tempat ibadah sekaligus tempat menuntut ilmu. Selama Bujangga Manik tinggal di Palah, dia mempelajari Darmaweya dan Pandawa Jaya.

Penataran Masa Kini

Penataran masa kini adalah sebuah kawasan wisata yang menonjolkan nilai-nilai luhur Candi Penataran sebagai daya tarik utamanya. Selain komplek percandian, kawasan wisata ini juga dilengkapi berbagi fasilitas wisata seperti : Area Parkir, Toko Sovenir, Water Boom, Amphitheater, dan Museum Penataran.

amphitheater penataranAmphitheater

museum penataranMuseum Penataran

Selain itu, di Kawasan Wisata Candi Penataran juga sering diselenggarakan berbagai atraksi wisata menarik.

tumpeng agung nusantara kabupaten blitarTumpeng Agung Nusantara di selenggarakan setiap 27 Juni, bertepatan dengan berdirinya Candi Penataran pada 27 Juni 1197. Tumpeng Agung Nusantara dikirab dari Situs Umpak Balekambang menuju Komplek Candi Penataran Blitar

purnama seruling penataran kabupaten blitarPurnama Seruling Penataran

Sekian ulasan dari perjalanan kami menapaki kemegahan adhiluhung leluhur Nusantara ini. Jika pada isi tulisan kami terdahulu ada sedikit perbedaan, maka tulisan ini hadir sembagai pembaharu.


Writer: Galy Hardyta

Photographer: Riezta A. Herlambang

Sumber:

  • Kieven L., 2014. Menelusuri Figur Bertopi dalam Relief Candi Zaman Majapahit. Kepustakaan Populer Gramedia. Jakarta
  • Kakawin Desa Warnnana uthawi Negara Krtagama

Participant: Galy, Kcing

3 Comments

  1. edelweiss_stories edelweiss_stories

    wah keren, masih pnasaran dg bagian kaki candi yg di kaitkan pd candi induk, hehe
    apakah sisa batu candi yg terletak di di selatan candi induk itu apa mungkin masih bagian dari atap candi ya min?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *