Skip to content

Arca Totok Kerot, Dwarapala Raksasa di Kabupaten Kediri

Dwarapala sendiri sebenarnya adalah figur raksasa. Nah di Kab. Kediri ada Dwarapala yang ukurannya benar-benar raksasa. Ini lah Arca Totok Kerot, arca dwarapala yang memiliki tinggi sekitar tiga meter.

Arca Totok Kerot secara administratif terletak di Desa Bulupasar, Kec. Pagu, Kab. Kediri. Letaknya tak seberapa jauh dari Simpang Lima Gumul (SLG). Dari SLG silahkan ambil arah ke Pamenang/ Jombang/ Surabaya. Arca Totok Kerot terletak di kanan jalan.

Seperti pada umumnya arca dwarapala, Totok Kerot digambarkan dengan posisi duduk jongkok. Matanya melotot dan senyumnya menyeringai. Tubuhnya dililit upavita dengan ujung kepala ular yang terletak pada kaki kanan. Arca tampak mengenakan berbagai atribut yang didominasi ornamen tengkorak. Namun sayang sekali tangan kanan dari arca ini telah patah dan beberapa bagian tubuhnya seperti dahi mengalami kerusakan.

Arca Totok Kerot ditemukan pada tahun 1981 dalam kondisi tertimbun. Pada tahun 2003 arca digali sepenuhnya kemudian diangkat ke permukaan dan dibuatkan landasan arca dari semen.

Selain bentuknya yang unik, Arca Totok Kerot juga memiliki keunikan dari sisi cerita rakyat. Berikut cerita rakyat terkait arca ini yang menarik untuk diketahuai. Cerita yang pertama berkaitan dengan Raksasa Wanita bernama Nyai dari Lodoyo yang menggegerkan Kerajaan Kadiri yang diperintah Raja Jayabhaya. Tentunya ibu kota kerajaan menjadi gempar karena kedatangan raksasa tersebut. Warga beramai-ramai mengeroyok raksasa yang datang ke ibu kota untuk meminta diperistri raja. Raksasa pun sekarat dan tewas. Raja Jayabhaya terharu mendengar maksud kedatangan Rraksasa Nyai. Sang Raja lalu memerintahkan kepada rakyatnya untuk membuat arca raksasa yang ditempatkan di desa tempat terjadinya peristiwa tersebut.

Cerita kedua mengaitkan Arca Totok Kerot dengan Cerita Panji. Dikisahkan bahwa Dewi Surengrana selalu bersungut-sungut (methothok) dan membunyikan giginya (bahasa Jawa: kerot-kerot) sebagai tanda kebencian dan permusuhannya terhadap Dewi Sekartaji. Baik Surengrana maupun Sekartaji keduanya merupakan istri Panji. Karena tabiat buruknya tersebut, maka Dewi Surengrana dijuluki Thothokkerot. Setelah meninggal, Dewi Surengrana diwujudkan sebagai Arca Totok Kerot.

Masih ada cerita rakyat lainnya yang berhubungan dengan Totok Kerot, seperti: Cerita Totok Kerot dengan Kudanarawangsa. Ada pula sarjana yang mencoba menghubungkan Arca Totokkerot dengan tokoh Calon Arang, atau juga ada tafsiran bahwa arca Totok Kerot tersebut menggambarkan penguasa perempuan yang selalu memberontak selama Raja Airlangga memerintah.

Ternyata bukan cuma ukuran arcanya saja yang raksasa, namun cerita rakyat yang mengiringi Arca Totok Kerot ini juga beragam. Menarik 😀


Writer: Galy Hardyta

Sumber:

  • Munandar, A.A. Kisah-kisah dan Kepercayaan Rakyat di Seputar Kepurbakalaan.

Participant: Anggun, Galy

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *