Skip to content

Situs Calon Arang Kediri dan Legenda Janda Girah

Situs Calon Arang Kediri dan Legenda Janda Girah 11

Situs Calon Arang.

Situs Calon Arang atau dikenal juga sebagai Situs Sukorejo merupakan situs yang berasal dari masa klasik, keberadaan situs ini sangat melekat erat dengan legenda/ kepercayaan masyarakat tentang tokoh Calon Arang atau Nyi Girah.

Lokasi dan Rute

Situs Calonarang terletak di area persawahan yang secara administratif berada dalam wilayah Desa Sukorejo, Kec. Gurah, Kab. Kediri. Rute menuju situs ini cukup mudah untuk diikuti. Dari Simpang Lima Gumul silakan ikuti petunjuk arah menuju “Pare, Malang, Jombang, Surabaya”. Selanjutnya ikuti Jalan Raya Kediri – Pare sejauh ± 5 km hingga menjumpai papan petunjuk arah menuju Situs Calonarang. Ikuti arah yang ditunjukkan.

Deskripsi Situs

Pada Situs Calon Arang terdapat beberapa artefak lepas berupa balok-balok batu, bata kuno, doorpel (ambang pintu), fragmen arca, fragmen terakota, keramik, umpak batu (landasan tiang penyangga), unfinished statue (arca yang belum selesai) dan beberapa artefak lainnya. Artefak-artefak tersebut diletakkan pada bangunan berpeneduh sehingga terhindar dari terik matahari dan hujan. Beberapa balok batu berukir, fragmen terakota berukir dan keramik disimpan dalam lemari kaca. Lokasi situs juga telah dilengkapi dengan pagar pengaman dan dijaga oleh juru pelihara.

situs calon arang

Artefak lepas.

Situs Calon Arang Kediri dan Legenda Janda Girah 12

Bata kuno.

Situs Calon Arang Kediri dan Legenda Janda Girah 13

Balok batu berukir, fragmen terakota dan keramik.

Situs Calon Arang Kediri dan Legenda Janda Girah 14Dorpel, Lumpang dan Umpak.

Riwayat Pelestarian

Pada tahun 2012 di situs ini pernah dilakukan kegiatan penggalian arkeologis bersama antara Balai Arkeologi (Balar) Yogyakarta, BPCB Jawa Timur dan Disbudpar Kabupaten Kediri. Dalam kegiatan tersebut ditemukannya struktur bata di sisi timur dan utara situs. Struktur ini diperkirakan dibangun pada periode Majapahit.

Situs Calon Arang Kediri dan Legenda Janda Girah 15

Situs Calonarang sebelum diekskavasi, dokumentasi DTrav tahun 2010.

Sejarah

Dalam kajian ilmu arkeologi, situs ini belum dapat disebutkan sebagai situs/ petilasan dari Calon Arang karena belum ada data arkeologi pada situs yang merujuk pada tokoh Calonarang. Namun demikian, masyarakat masih meyakini mengenai keterkaitan situs ini dengan Legenda Calonarang.

Cerita Calon Arang sangat populer dan melegenda. Cerita tersebut bersumber dari Lontar Calon Arang. Sebenarnya lontar tersebut tidak hanya menceritakan tentang Calonarang. Cerita tentang Calon Arang berada di bagian tengah, sedangkan lontar dibuka dengan cerita Mpu Baradah bersama keluarga kemudian ditutup dengan cerita mengenai jasa-jasa beliau dalam membagi kerajaan di tanah Jawa menjadi Jenggala dan Kadiri. Berikut ringkasan cerita Calon Arang:

Alkisah ada seorang janda (randa) tinggal di Girah, Calonarang namanya. Dia memiliki anak perempuan bernama Ratna Manggali, parasnya sangat cantik, bagaikan permata istana. Sayangnya, tidak ada orang yang berani melamarnya, baik orang dari Girah maupun orang dari Kerajaan Daha, atau pun daerah pinggiran, karena terdengar kabar bahwa randa di Girah berbuat jahat.

Sang randa Girah alias Calon Arang merasa sakit hati. Dengan buku sucinya ia berusaha menemui Sri Bagawati (Dewi Durga) untuk memohon anugerah agar dapat membinasakan orang-orang di seluruh Kerajaan Daha.

Pergilah Calon Arang ke kuburan. Ia mohon anugerah kepada Batari Bagawati, diikuti oleh muridnya yang bernama Si Weksirsa, Mahisawadana, Si Lendya, Si Lende, Si Lendi, Si Guyang, Si Larung, dan Si Gandi. Mereka menari di kuburan sehingga muncullah Batari Durga bersama pengikutnya yang turut menari bersama. Calon Arang memuja kepada Batari Durga, kemudian sang Batari menanyakan maksud Calon Arang memanggilnya. Calon Arang  memohon untuk membinasakan orang-orang di seluruh kerajaan. Batari menyetujuinya dengan sarat agar membunuh tidak sampai pusat kerajaan dan berpesan agar jangan membunuh terlalu dendam. Calon Arang menyetujuinya.

Mereka menari di pekuburan di tengah malam sambil membunyikan alat musik. Setelah selesai menari, kembalilah mereka ke Girah. Mereka bersenang hati pulang ke rumahnya. Tidak lama setelah itu sakitlah orang-orang di desa-desa. Banyak yang mati bertumpuk-tumpuk.

Sementara itu sang raja di kerajaan, Sri Maharaja Erlangga mengetahui kondisi rakyatnya dari Rakryan Apatih. Oleh sang Ken Apatih di ceritakan bahwa banyak rakyat yang mati, sakit panas dingin sehari dua hari lalu meninggal. Adapun yang kelihatan menjalankan (těluh) adalah janda Girah, bernama Calon Arang. Karena banyak yang melihat dia menari di pekuburan bersama muridnya.

Dengan sedih dan marah Sang Raja memerintahkan prajuritnya untuk membunuh Calon Arang. Singkat cerita tibalah para prajurit di tempat tinggal Calon Arang. Mereka hendak membunuh selagi orang-orang sudah tidur. Para prajurit segera mengikat erat rambut Sang Randa, kemudian menghunus kerisnya. Ketika mereka hendak menusuk randa, tangan prajurit itu terasa berat dan gemetar. Tiba-tiba Calon Arang terkejut bangun. Keluarlah api dari mata, hidung, mulut dan telinga. Api menyala berkobar-kobar membakar prajurit itu. Dua orang prajurit mati terbakar. Yang lain menjauh, cepat-cepat lari.

Prajurit yang selamat menceritakan kegagalan dan peristiwa yang mereka alami kepada Raja. Sang Raja berdiam tertegun mendengar laporan prajuritnya. Sementara itu kemarahan Calon Arang semakin menjadi-jadi dengan kedatangan prajurit kerajaan. Calon Arang bersama muridnya pergi ke kuburan sambil membawa buku sucinya. Sampailah mereka di pinggiran kuburan, tempat di bawah naungan pohon kepuh, Di sanalah janda Girah duduk dikelilingi oleh semua muridnya. Si Lendya menyarankan agar Calon Arang bertaubat, namun sebaliknya Si Larung mendukung keinginan gurunya. Akhirnya mereka semua mendukung ucapan Si Larung.

Satu persatu dari merek mulai menari. Setelah mereka menari bersama, Calon Arang membagi tugas masing-masing, menjadi lima arah. Calon Arang menemukan mayat kemudian mendirikannya dan mengikat mayat tersebut di pohon kepuh. Mayat itu dihidupkan, diberi nafas. Si Weksirsa dan Mahisawadana membukakan matanya. Ketika mayat itu hidup kembali, ia berterimakasih karena telah dihidupkan. Lalu Si Weksirsa berkata, “Engkau kira engkau akan hidup lama? Sekarang engkau akan kupenggal lehermu dengan golok.” Segera lehernya dipenggal dengan golok. Darah menyembur menggenang dipakai mencuci rambut oleh Sang Calon Arang. Kusutlah rambutnya oleh darah, ususnya menjadi kalung dan dikalungkannya, dengan secepatnya diolah dipanggang semua, digunakan untuk korban untuk buta dan segala yang tinggal di kuburan itu, terutama Batari Bagawati.

Muncullah Batari dari kahyangannya, lalu Calon Arang menyampaikan keinginannya untuk membinasakan orang di seluruh kerajaan. Batari mengabulkan permintaan Calon Arang. Mereka bersama-sama menari di perempatan jalan. Seluruh kerajaan terserang penyakit. Sakit semalam dua malam lalu meninggal. Pagi hari menguburkan temannya, sore hari ia dikuburkan.

Mayat bertumpuk-tumpuk tindih-menindih di kuburan. Tidak ada selanya di kuburan dengan batas lubang pembuangan air karena banyaknya mayat. Ada yang di ladang atau pun di jalan, ada pula membusuk di rumahnya. Anjing melolong makan mayat. Burung gagak terbang berkeliaran, ikut bersama-sama mematuk-matuk bangkai. Lalat berdengung bergemuruh di dalam rumah. Banyak rumah dan tempat tinggal yang kosong. Ada juga orangnya yang pergi jauh, mencari tempat tinggal yang bebas penyakit. Tujuannya mengungsi agar tetap hidup. Yang sedang sakit dipikulnya.

Para buta menyaksikan sambil meneriaki orang orang untuk tidak pergi. Setelah diteriaki ternyata justru banyak orang mati di jalan. Orang-orang itu pergi cepat membawa yang lain. Buta yang ada di rumah kosong bersenang-senang, ada yang jungkir balik, riang gembira. Si Mahisawadana masuk ke dalam rumah. Dia berjalan di antara batas. Sakitlah orang-orang serumah. Si Weksirsa masuk di tempat tidur orang, berjalan di samping tembok, minta korban.

Sang Raja di kerajaan bersedih dan bingung karena orang-orang di kerajaan banyak yang mati. Raja segera bersabda kepada Apatih dan para Mentri Utama, mengutus agar mengundang Sang Pendeta, Sang Resi, Sang Bujangga, dan para Guru. Diperintahkan mencari upaya masing-masing, serta memuja Dewa, karena orang-orang di seluruh kerajaan merana. Para Guru mengadakan pemujaan dan Sang Pendeta memohon kepada Sang Hyang Agni. Pada tengah malam muncullah Sang Hyang Caturbuja (Batara Guru/ Dewa Siwa) dari Sang Hyang Agni. Beliau bersabda bahwa yang dapat meruwat kerajaan adalah Sri Munindra Baradah, Pendeta sempurna yang tinggal di pertapaan Semasana di Lemah Tulis. Para Maharsi yang mengadakan pemujaan itu senang mendengarkan semua sabda Sang Caturbuja.

Setelah mendengar berita tersebut dari para Maharsi, segeralah Sang Raja memerintahkan Ken Kanuruhan untuk menghadap Sang Pendeta Sri Yogiswara Mpu Baradah di pertapaan Semasana Wihcitra.

Saat bertemu Mpu Baradah, Ken Kanuruhan menceritakan situasi yang sedang dialami Kerajaan Kadiri. Setelah mendengar cerita tersebut, Mpu Baradah bersedia untuk menuju kerajaan. Namun beliau terlebih dahulu memerintahkan ke pada muridnya yang bernama Mpu Kebo Bahula untuk  menyertai Kanuruhan kembali ke kerajaan. Mpu Baradah berpesan pada Mpu Bahula untuk melamar Sang Manggali, putri dari Calon Arang. Mpu Baradah juga berpesan kepada Kanuruhan supaya memberitahukan kepada Sang Penguasa dunia, apabila Mpu Bahula akan melamar Manggali. Berapa saja mahar yang diminta hendaklah dipenuhi oleh raja. Jika Mpu Bahula dengan Ratna Manggali telah sehati, pada waktu itulah Sang Pendeta hendak mengunjungi Mpu Bahula. Keesokan harinya Kanuruhan dan Mpu Bahula berangkat ke Istana.

Setelah memperoleh penjelasan dari Ken Kaniruhan Sang Raja lantas menyetujui peryaratan dari Mpu Baradah. Sang raja memerintahkan Kanuruhan untuk mengantarkan Mpu Bahula ke Girah. Setiba di Girah dan bertemu Calon Arang, Mpu Bahula menyampaikan maksudnya untuk melamar Ratna Manggali atas perintah dari gurunya, Pendeta di Lemah Tulis. Calon Arang merasa senang bermenantukan Mpu Bahula,, lebih lagi mempunyai besan Sang Pendeta. Akhirnya menikahlah Mpu Bahula dengan Ratna Manggali. Bahagia perkawinannya saling mencintai, mesra bagaikan dewa dan dewi siang dan malam.

Mengetahui setiap malam sang mertua selalu membaca buku suci dan pergi ke kuburan, Mpu Bahula bertanya kepada Sang Manggali. Ditanyakannya apakah yang dilakukan Calon Arang setiap malam. Lalu Ratna Manggali menceritakan bahwa ibunya menjalankan sihir, yang menyebabkan kerajaan hancur. Itulah yang menyebabkan banyak orang mati. Selanjutnya Mpu Bahula meminta kepada Manggali untuk mengambilkan buku suci milik Calon Arang. Setelah membacanya, Mpu Bahula meminta izin kepada Manggali untuk menemui Sang Pendeta Baradah guna meminta nasehat atas buku suci tersebut. Mpu Bahula segera pergi menuju Buh Citra.

Mpu Baradah terkejut melihat Mpu Bahula datang membawa lipyakara. Beliau menanyai Mpu Bahula apakah pustaka tersebut milik Calon Arang. Mpu Bahula mengiakan hal tersebut. Lalu pustaka itu dipegang oleh Sang Pendeta. Sastra itu berisi hal yang sangat utama untuk jalan kebaikan, menuju kesempurnaan, puncak rahasia pengetahuan. Namun pustaka tersebut diarahkan menuju jalan yang salah oleh Sang Calon Arang, yaitu menjalankan ilmu sihir. Sang Pendeta meminta Mpu Bahula untuk segera kembali ke Girah dan mengembalikan pustaka tersebut kepada Manggali. Sementara itu di Girah, Calon Arang yang sangat senang dan mencintai anak dan menantunya tidak menaruh curiga sama sekali.

Diceritakan selanjutnya, Mpu Baradah berangkat dari asrama diikuti oleh tiga orang muridnya. Perjalanan Pendeta Baradah sangat cepat. Beliau segera datang di desa yang menderita wabah penyakit. Beliau bertemu dengan orang yang akan menyalakan api hendak membakar mayat. Mayat itu didapatkan oleh Sang Pendeta dalam keadaan dipeluk oleh istrinya yang menangis. Sang Pendeta menghidupkan kembali mayat tersebut.

Mpu Baradah meneruskan perjalanan. Bertemulah beliau dengan tiga mayat. Dua mayat masih utuh satu lagi telah rusak. Mayat itu diperciki air gangga yang suci. Yang masih utuh, berhasil hidup seperti semula. Beliau segera pergi dari tempat itu, menuju rumah kosong yang halamannya sepi, rumputnya tumbuh subur. Beliau masuk ke dalam rumah menemukan orang sakit. Dua orang sudah meninggal. Adapun tetangganya yang lain semuanya sakit. Yang seorang lagi merintih kesakitan. Yang seorang lagi tinggal denyutnya saja. Semua diperciki air suci oleh Sang Pendeta. Keduanya berhasil hidup kembali.

Sang Pendeta Baradah menyuruh kedua orang muridnya kembali ke pertapaan karena di sana sepi. Sang Pendeta melanjutkan perjalanan ke arah barat daya, beliau melewati tepi kuburan perbatasan tegalan. Serigala meraung memakan bangkai di antara rerumputan pakis. Burung gagak berbunyi keras berkepanjangan di pohon. Sang Pendeta Baradah datang ke tempat itu. Anjing diam tidak menggonggong lagi, juga bunyi burung gagak berhenti. Segala tempat yang dilewati oleh Sang Jiwatma, yang sedang sakit menjadi segar kembali seperti semula, yang mati kembali hidup.

Sang Pendeta lalu pergi ke tengah kuburan. Dijumpailah si Weksirsa, dan Mahisawadana, murid Calon Arang. Ketika melihat Sang Pendeta datang, keduanya mendekat menghormat di kakinya.

Si Weksirsa dan Si Mahisawadana memperkenalkan diri bahwa mereka adalah murid Sang Randeng Girah. Mereka menghormat ke hadapan Pendeta mohon belas kasihan agar dibebaskan dari perbuatan yang tidak baik. Sang Yogiswara tidak dapat menyanggupi permohonan tersebut sebelum meruwat Calon Arang terlebih dahulu. Mpu Baradah meminta mereka berdua untuk menghadap Calon Arang dan memberitahukan bahwa besannya datang untuk berbicara. Si Weksirsa dan Mahisawadana mohon diri dan menghormat, berlutut lalu pergi

Si Weksirsa dan Mahisawadana segera datang bersama. Mereka memberitahukan kepada Calon Arang perihal kedatangan Sang Yogiswara Baradah. Calon Arang segera pergi. Ia sampai di hadapan Sang Mpu Baradah. Sang Randa di Girah menyapa Sang Pendeta. Calon Arang begitu gembira dan memohon agar diberikan nasihat utama. Mpu Baradah bersedia memberitahukan tuntunan kemuliaan, tetapi berpesan agar Calon Arang tidak marah saat mendengar nasihat.

Dalam nasihatnya Mpu Baradah mengingatkan mengenai perbuatan jahat Calon Arang yang menyebabkan kekotoran dunia. Betapa besar malapetaka yang dia sebabkan di dunia, begitu kotor menyebabkan orang sakit, terlalu besar malapetaka yang di perbuat dengan membunuh orang di seluruh kerajaan. Mpu Baradah menegaskan bahwa Calon Arang tidak dapat dibebaskan dari dosa apabila tidak melalui jalan mati.

Sang Calon Arang menyadari begitu besar dosanya di dunia, sehingga meminta untuk diruwat oleh Sang Pendeta. Mpu Baradah tidak dapat meruwat sebelum Randa Girah mati. Lalu Sang Calon Arang marah, mukanya merah karena geramnya akibat ditolak Sang Pendeta. Calon Arang berupaya menyihir Resi Baradah. Kemudian Calon Arang menari. Pohon beringin besar hancur sampai akar-akarnya, akibat tatapan mata sakti Calon Arang. Keluar api menyala berkobar-kobar, bagaikan bunyi guntur membakar semua tumbuhan, keluar dari mata, hidung, telinga dan mulut. Api menyala berkobar membakar badan Sang Pendeta. Tidak terganggulah Sang Pendeta. Sang Pendeta mengenakan astacapala, Sang Calon Arang mati seketika.

Mpu Baradah menghidupkan kembali Calon Arang untuk  memberitahukan jalan kebebasan. Calon Arang berterimakasih menyembah kepada kaki Sang Pendeta. Maka ditunjukkan kelepasannya, dan akan ditunjukkan jalan ke surga serta seluk beluk kehidupan. Setelah diberitahukan seluk beluk kematian oleh Sang Sri Yogiswara Baradah, akhirnya Calon Arang mati, berhasil diruwat. Lalu mayat Calon Arang dibakar oleh Sang Pendeta, telah lebur menjadi abu tidak tersisa. Kini Si Weksirsa dan Mahisawadana mendapatkan didikan brahmana dan dijadikan wiku oleh Sang Pendeta.

Setelah berhasil meruwat Calon Arang, Sang Pendeta pergi ke Girah mengunjungi Mpu Bahula untuk memberitahukan bahwa Calon Arang telah mati. Sang Pendeta segera datang ke Girah, masuk ke kabuyutan orang Girah. Orang-orang memberitahu Mpu Bahula, bahwa Sang Pendeta datang. Mpu Bahula segera menyongsong Sang Pendeta, menghormat dan menyembah di telapak kaki Sang Pendeta. Sang Pendeta memberitahukan bahwa Calon Arang telah mati. Sempurna lenyap teruwat dari mala. Mpu Baradah memerintahkan Mpu Bahula pergi ke kerajaan untuk memberitahukan kepada Sang Raja.

Pergilah Mpu Bahula ke kerajaan. Dijumpainya Sang Raja sedang di penghadapan yang dihadiri Para Adipati, Patih Amangkubumi, Resi, Bujangga Siwa, dan Brahmana. Mpu Bahula menceritakan perihal keberhasilan Mpu Baradah meruwat Calon Arang dan memberi tahu bahwa Sang Pendeta sekarang ada di Girah. Sang Raja senang kemudian bersiap-siap mendatangi Sang Pendeta di Girah. Sang Raja segera tiba di Girah. Setelah datang Maharaja Erlangga ke sana, Sang Pendeta menyambut hormat kepada Sang Raja dan menceritakan keberhasilannya. Sang Raja sangat senang. Telah hilanglah sekarang noda dunia, yang membuat kekotoran seluruh dunia dan ketakutan dunia.

Setelah kematian Calon Arang, Mpu Baradah ingin membuat upacara pembersihan lagi. “Setan Banaspati” kotor Calon Arang, akan dicandikan di Girah dan disucikan, supaya dipuja orang-orang Girah, disebutlah Rabut Girah.

Sang Pendeta mempersilakan Sang Raja untuk pulang terlebih dahulu ke kerajaan. Sementara itu beliau membersihkan mala yang dibuat Calon Arang. Setelah selesai membersihkan Rabut Girah, beliau datang ke pusat kerajaan, mengikuti Sang Raja.

Demikianlah cerita tentang Calon Arang yang bersumber dari lontar. Lontar ini digubah pada tahun 1462 Saka (1540 Masehi) di Semadri Camara, sebagaimana keterangan yang terdapat pada penutup lontar. Lontar ini digubah pada periode pergeseran politik dari Majapahit ke Demak. Ada kemungkinan bahwa cerita ini berasal dari periode yang lebih tua, mengingat cerita mengenai pembelahan tanah Jawa oleh Mpu Baradah sudah dimuat dalam Nagarakrtagama/ Kakawin Desawarnana yang digubah pada tahun 1287 Saka (1365 Masehi), meski tanpa menyinggung perihal tokoh Calon Arang.

Terdapat informasi menarik dari Lontar Calonarang mengenai bangunan candi bernama Rabut Girah yang digunakan Mpu Baradah untuk meruwat Janda Girah. Dalam lontar diberitakan bahwa Rabut Girah setidaknya masih dapat dijumpai pada periode di mana lontar tersebut ditulis.

Ry uwusira amrascita, sida ingaranan Rabut Girah, pinaka kabuyutan ing wang Girah, katekan ing mangke.

Artinya:

Setelah selesai membersihkan mala, jadilah dinamai Rabut Girah, menjadi tempa suci orang-orang Girah sampai sekarang.

Perlu dilakukan kajian apakah Rabut Girah yang disebutkan dalam lontar merupakan Situs Calon Arang yang dikenal masyarakat pada saat ini, atau mungkin malah situs-situs lain seperti Candi Gurah, misalnya.


Writer: Galy Hardyta

Photographer:

  • Dokumentasi tahun 2010 Riezta A.H. (Kcing)
  • Dokumenasi tahun 2021 Galy Hardyta

Sumber:

  • Kakawin Desawarnana
  • Lontar Calonarang
  • Papan keterangan situs

Selftraveling

Tinggalkan Balasan

error: Content is protected !!

Eksplorasi konten lain dari D'Travellers

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca