Skip to content

Mengenal Tradisi Temu Temanten Adat Jawa

Dalam artikel kali ini travellers semua tidak akan saya ajak jalan-jalan ke suatu tempat, melainkan akan saya ajak berkenalan dengan tradisi adat temanten Jawa (pernikahan adat Jawa). Kebanyakan di antara kita memahami prosesi pernikahan hanya sekedar resepsi, makan-makan, terus pulang. Padahal, dalam adat Jawa prosesinya tidak sesederhana itu lho. Yuk berkenalan dengan pernikahan adat Jawa dalam ulasan berikut ini.

Table of Contents

Deskripsi

Ulasan ini saya batasi spesifik mengulas prosesi dalam temu menten saja ya. Temu manten adalah tradisi adat Jawa yang dilakukan setelah akad nikah atau ijab kabul. Tradisi ini bertujuan untuk mempertemukan sepasang pengantin yang sudah sah beserta keluarganya. Di dalam temu manten terdapat banyak simbol-simbol yang mengandung pesan luhur untuk mengarungi kehidupan rumah tangga. Oke. Check it out.

Alunan tembang Jawa sayup-sayup terdengar mengiringi hadirnya pengantin pria. Di sisi lain, pengantin putri telah bersiap menyambut kekasihnya dengan senyum yang indah. Kedua pengantin kemudian berjalan sangat pelan menuju pelaminan. Langkah pengantin yang sangat pelan ini diibaratkan seperti harimau yang kelaparan (macan lue). Langkah yang sangat pelan ini bermakna bahwa dalam mengarungi bahtera kehidupan, kedua mempelai hendaknya penuh kehati-hatian dan kewaspadaan. Sebelum tiba di pelaminan, kedua pengantin harus menjalani serangkaian prosesi selanjutnya.

Prosesi selanjutnya adalah lempar sirih. Kedua pengantin saling berhadapan satu-sama lain. Dukun manten kemudian mengarahkan kedua mempelai untuk saling lempar sirih. Prosesi ini merupakan simbol yang bermakna bahwa kedua mempelai telah saling memiliki hati kekasihnya. Setelah lempar sirih, prosesi dilanjutkan dengan memecahkan telur (mempelai pria menginjak telur hingga pecah) dan membasuh kaki (mempelai wanita membasuh kaki mempelai pria). Memecahkan telur melambangkan kesuburuan mempelai pria yang mampu memberikan keturunan kepada mempelai wanita. Sementara itu, membasuh kaki dengan air kembang memiliki arti kesetian mempelai wanitia kepada pasangan hidupnya.

Setelah prosesi di atas selesai, kedua mempelai akan diarak ke pelaminan dengan dituntun oleh ayah dari mempelai wanita. Prosesi ini disebut sinduran, memiliki makna bahwa, meski sepasang mempelai sudah sah, keduanya tidak boleh melupakan jasa orang tua. Sesampai di pelaminan, kedua mempelai melakukan prosesi timbangan bobot. Dalam prosesi timbangan bobot, ayah mempelai wanita akan memangku kedua mempelai, kemudian ibu dari mempelai wanita akan bertanya kepada sang ayah perihal bagaimana bobot kedua mempelai. Kemudian sang ayah akan menjawab bobot kedua mempelai sama beratnya. Prosesi ini memiliki makna bahwa kedua orang tua telah menerima anak mantu dan tidak akan membeda-bedakan dalam hal kasih sayang sebab sudah dianggap seperti anak sendiri.

Prosesi dilanjutkan dengan kucar-kucur. Dalam prosesi ini mempelai pria mengucurkan biji-bijian seperti kedelai, kacang tanah, gabah, padi, beras kuning, dan beberapa bumbu dapur kepada mempelai wanita. Kucar-kucur memiliki makna bahwa suami harus mampu memberikan nafkah lahir maupun batin kepada sang istri tercinta. Prosesi dilanjutkan dengan dulangan (saling menyuapi) baik berupa makanan maupun minuman. Dulangan memiliki arti bahwa kedua mempelai saling menyayangi dan menghargai satu sama lain.

Prosesi ditutup dengan sungkeman kepada kedua orang tua, baik dari mempelai pria maupun wanita. Prosesi ini melambangkan bakti mempelai kepada kedua orang tua yang telah membesarkan mereka dengan penuh kasih sayang. Setelah semua prosesi selesai, acara pernikahan dilanjutkan dengan sesi hiburan. Biasanya momen ini dibarengi dengan pendokumentasian kebersamaan antara keluarga mempelai, tetangga, hingga rekan sejawat.

Galeri

Mengenal Tradisi Temu Temanten Adat Jawa 5

Lempar sirih.

Mengenal Tradisi Temu Temanten Adat Jawa 6

Mempelai wanita membasuh kaki mempelai pria.

sinduran

Sinduran.

timbang bobot

Timbang bobot.

temu manten

Kacar kucur.

. . .

Ternyata pernikahan adat Jawa merupakan serangkaian prosesi yang sarat makna dengan simbol-simbol mendalam yang mencerminkan nilai-nilai luhur. Setiap langkah dalam pernikahan adat Jawa dirancang untuk menyatukan dua individu bukan hanya sekedar fisik, melainkan juga secara spiritual. Semoga travelers dan pembaca sekalian dapat memetik manfaat dari artikel ini. Sampai jumpa di artikel atau perjalanan berikutnya.


Writer : Deiki

Photographer: Deiki dalam praktik mata pelajaran Bahasa Jawa SMA Katolik St Thomas Aquino Tulungagung, tema Temanten Jawa. Senin 12 Desember 2024.

Narasumber : Bapak Inggirnawan Yoga, Guru pengampu mata pelajaran Bahasa Jawa, SMA Katolik St Thomas Aquino Tulungagung.

Tinggalkan Balasan

error: Content is protected !!

Eksplorasi konten lain dari D'Travellers

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca