Skip to content

Tradisi Tedhak Siten versi Desa Demuk Tulungagung

Tedhak Siten adalah sebuah tradisi yang berasal dari Jawa, terlebih khusus di daerah Yogyakarta dan Jawa Tengah [1]. Tradisi ini dilakukan sebagai ucapan rasa syukur orang tua atas kelahiran anaknya. Secara harafiah kata “Tedhak” berarti menapakkan kaki, sedangkan “Siten” atau “Siti” berarti tanah. Oleh karenanya tradisi ini merupakan simbol bahwa anak mulai berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya. Kali ini, travelers semua akan saya ajak mengenal Tradisi Tedhak Siten di Desa Demuk, desa kecil di Kec. Pucanglaban Tulungagung yang masih setia mempertahankan adat dan tradisi luhur dengan istiqomah.

Deskripsi

Sebelum membahas mengenai Tradisi Tedhak Siten khas Desa Demuk, alangkah baiknya kita mengenal terlebih dahulu Tradisi Tedhak Siten secara umum. Tradisi Tedak Siten merupakan sebuah tradisi dari Jawa yang sudah ada sejak zaman dahulu. Tradisi ini dilakukan masyarakat, terlebih khusus oleh orang tua atas kelahiran buah hatinya yang telah menginjak usia tujuh bulan kalender Jawa atau setara delapan bulan kalender Masehi. Anak pada umur tersebut akan menjalani tradisi ini sebagai simbol pengenalan terhadap lingkungan sekitarnya.

Rangkaian prosesi Tedak Siten antara lain adalah membasuh kaki, melewati jadah (makanan tradisional), menaiki tangga, memasukkan anak ke dalam sangkar (kurungan dalam bahasa Jawa) yang di dalamnya terdapat beberapa mainan, memandikan anak dan menyebar udhik-udhik (uang logam dan bermacam bunga) [2].

Tradisi ini banyak menyimpan nilai-nilai penting, di antaranya adalah rasa syukur dan harapan baik dari orang tua kepada sang anak. Selain nilai-nilai tersebut Tedhak Siten juga menjadi jembatan bagi keluarga, terlebih khusus orang tua sang anak, untuk memperkuat ikatan sosial dengan masyarakat.

Tedhak Siten versi Desa Demuk

Hujan rintik pagi hari tengah membasahi lingkungan Desa Demuk. Kondisi tersebut tidak menyurutkan langkah kaki para warga laki-laki untuk hadir di kediaman tuan rumah yang menyelenggarkan tradisi Tedak Siten. Warga laki-laki diundang untuk menghadiri selametan/ selamatan yang menjadi rankaian tak terpisahkan dari tradisi Tedak Siten. Tradisi Tedak Siten di Desa Demuk dan sekitarnya dikenal pula dengan istilah Pitonan.

Tamu undangan yang telah hadir duduk bersila di tempat yang sudah disediakan. Sembari menunggu proses selamatan dimulai, telah tersedia hidangan yang dapat disantap oleh para tamu undangan. Seusai proses santap hidangan, seluruh ambeng dikumpulkan di hadapan para undangan. Tukang kajat/ tokoh yang dituakan memimpin acara selamatan dengan membaca dan menuntun doa Jawa di depan hadirin dan ambeng.

Dilain sisi, dukun bayi tengah bersiap-siap memulai prosesi Tedak Siten. Kemeyan mulai dibakar beberengan dengan selesainya prosesi selamatan dan dimulainya prosesi Tedak Siten. Anak tuan rumah yang akan menjalani prosesi dihadirkan menuju sasana prosesi.

Prosesi pertama, si anak dikurungi (dimasukkan ke dalam sangkar) ditemani oleh sanak saudara dan satu ekor ayam. Prosesi kurungan ini memiliki makna harapan agar si anak cepat tumbuh besar, pintar jika nanti bersekolah dan mengaji, serta sehat lahir maupun batin. Seperti yang telah disinggung di atas, prosesi kurungan di lain daerah biasanya dilengkapi dengan benda-benda lain seperti manian, buku, pensil, penggaris dan lain-lain. Benda-benda yang diambil si anak merupakan harapan profesi yang kelak akan dilakoni si anak. Oleh karenanya prosesi kurungan ini juga dapat dimaknai sebagai harapan kehidupan nyata yang akan dimasuki si anak kelak.

Setelah prosesi kurungan selesai, dukun bayi akan mengarahkan ke prosesi selanjutnya, yaitu memandikan anak. Prosesi ini biasanya dilakukan langsung oleh dukun, namun dapat pula dilakukan oleh orang tua atau sanak-saudara seperti kakek dan nenek. Si anak dimandikan dengan air kembang. Mandi air kembang memiliki makna harapan agar kelak si anak dapat mengharumkan dirinya maupun keluarga. Selanjutnya anak diberi bedak boreh. Boreh melambangkan tolak sawan/ bala dari segala hal negatif yang datang, baik dalam wujud nyata maupun gaib.

Setelah prosesi memandikan anak selesai, si anak dipakaikan pakaian terbaik. Prosesi ini memiliki makna dan tujuan untuk membahagiakan sang anak serta harapan akan kesuksessan di masa depan. Setelah selesai dirias anak akan diarahkan untuk digendong sang ayah. Prosesi ini memiliki makna dan tujuan agar sang ayah sebagai kepala keluarga selalu membimbing si anak ke jalan yang baik.

Setelah digendong, dukun bayi akan mengarahkan sang ayah untuk menuntun si anak melewati makanan tradisional “jadah” berwarna-warni sejumlah tujuh buah. Jadah berjumlah tujuh tersebut merupakan perlambang agar si anak selalu mendapatkan pertolongan (pitulungan) dari Tuhan Yang Maha Kuasa atas segala kesulitan. “Pitulungan” disimbolkan dengan tujuh yang dalam bahasa Jawa disebut “pitu”.

Warna-warna jadah di antaranya adalah merah, putih, hijau, kuning, biru, merah muda, dan ungu. Warna-warna tersebut dipilih bukan tanpa alasan, melainkan memiliki beberapa makna mendalam sebagai berikut:

  1. Merah melambangkan keberanian
  2. Kuning melambangkan kekuatan lahir maupun batin
  3. Putih melambangkan kesucian
  4. Merah muda melambangkan kasih sayang baik kepada orang tua maupun keluarga
  5. Biru melambangkan ketenangan jiwa seseorang
  6. Hijau melambangkan kesuburan
  7. Ungu melambangkan kesempurnaan

Setelah prosesi melewati tujuh jadah selesai, dukun bayi akan mengarahkan ke prosesi selanjutnya yakni menaiki tangga yang terbuat dari batang tebu. Batang tebu melambangkan tekad dan rasa percaya diri. Tebu dijadikan simbol dari ungkapan “antepe kalbu” yang kurang lebih memiliki makna tekad dan rasa percaya diri. Dalam prosesi ini ketika anak menaiki tangga, dukun bayi akan merapal mantra. Mantra ini dapat berbeda di setiap daerah. Di Desa Demuk format mantranya sebagai berikut:

Bismillahirrahmanirrahim, niat ingsun munggah ondo (menyebutkan nama sang anak) diparingi kuat, slamet, sehat, ojo diemong neng pinggir sumur, neng pinggir lurung, emongen neng griyo iki lan diparingi kuat slamet.

Prosesi menaiki tangga ini juga melambangkan harapan agar si anak dalam menghadapi perjalanan hidupnya hari demi hari dapat menggapai puncak kejayaannya. Dalam prosesi ini orang tua si anak juga ikut mendampingi. Pendampingan orang tua ini melambangkan dukungan agar kelak si anak tidak mudah menyerah dalam menggapai cita-citanya.

Rangkaian prosesi Tedhak Siten ditutup dengan udhik-udhik yaitu melemparkan beberapa uang logam yang dicampur dengan beberapa beras kuning. Si anak dibantu oleh orang tuanya melemparkan uang logam tersebut ke beberapa anak kecil maupun orang dewasa. Prosesi ini memiliki makna harapan agar kelak orang tua si anak selalu dikaruniai rejeki yang cukup dan dapat mendermakan sebagian rejekinya kepada yang membutuhkan. Prosesi ini dilengkapi dengan andum puring yaitu meminum air yang telah diberi doa kekuatan dan keselamatan.

Setelah rangkaian prosesi Tedak Siten selesai tuan rumah akan membagikan berkat (sepaket makanan) untuk dibawa pulang para tamu undangan.

Galeri

Tradisi Tedhak Siten versi Desa Demuk Tulungagung 6

Slametan.

tedhak siten

Kurungan.

tedak siten

Persiapan melewati jadah tujuh rupa.

Tradisi Tedhak Siten versi Desa Demuk Tulungagung 7

Andum puring.

…

Tedhak Siten merupakan tradisi yang kaya makna dan nilai harapan. Tradisi ini juga menjadi sarana memperkuat ikatan keluarga dan interaksi sosial di masyarakat. Sudah selayaknya tradisi ini kita kenali dan kita lestarikan. Oiya kalau di daerah travelers masing-masing rangkaian prosesinya bagaimana? Ada kah yang berbeda? Jangan sungkan untuk menyampaikannya pada kolom komentar di bawah ya 😉


Writer: Deiki

Photographer: Intan Rahayuningtyas

Narasumber: Mbah Tumi, Sesepuh Pelestari Tradisi Desa Demuk

Sumber:

Tinggalkan Balasan

error: Content is protected !!

Eksplorasi konten lain dari D'Travellers

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca