Skip to content

Aksara Jawa Kuna atau Aksara Kawi Part 1

Aksara Jawa Kuna atau aksara Kawi adalah aksara yang berkembang pada masa klasik abad ke-8 hingga abad ke-16 Masehi di wilayah Indonesia, terutama di Jawa dan Bali. Aksara ini digunakan untuk menulis bahasa Sansekerta dan Jawa Kuno. Menurut de Casparis, dalam perkembangannya aksara Jawa Kuno alias aksara Kawi dapat diklasifikasikan ke dalam dua fase besar: Kawi Awal (sekitar tahun 750-925 Masehi) dan Kawi Akhir (sekitar tahun 925-1250 Masehi). Aksara ini adalah nenek moyang sistem penulisan Indonesia modern, seperti aksara Jawa dan Bali, serta Batak, Bugis, Rejang, Sunda, dan aksara terkait. Persebaran aksara ini tidak hanya di Indonesia, bahkan ditemukan pula di provinsi Laguna, Filipina dalam lempeng tembaga yang berasal dari sekitar tahun 900an Masehi.

Sejarah

Catatan tertua dalam aksara Jawa Kuna/ aksara Kawi terdapat pada prasasti Plumpungan di Salatiga, Jawa Tengah, yang berasal dari tahun 750 Masehi.

Bentuk standar aksara Kawi Awal dicontohkan dalam prasasti batu dan lempeng tembaga dari para penguasa Rakai Kayuwangi (856-882) dan Dyah Balitung (899-910). Aksara Kawi Akhir muncul di Jawa Timur dan dapat dikategorikan ke dalam empat gaya aksara: 1. Kawi Jawa Timur yang ditemukan pada prasasti Daksa dan lainnya (sekitar 910-950), 2. Airlangga (sekitar 1019-1042), 3. Kadhiri (sekitar 1100-1220); dan 4. Aksara Kuadrat yang digunakan pada masa Kadhiri (sekitar 1050-1220).

Riwayat Penelitian

N. J. Krom adalah seorang orientalis, epigrafis, arkeolog, peneliti sejarah awal dan budaya tradisional Indonesia asal Belanda. Beliau berpendapat bahwa aksara Jawa Kuna merupakan hasil perkembangan dari aksara Pallawa yang berasal dari India Selatan.

Pendapat tersebut berbeda dengan H. Kern seorang orientalis dan ahli bahasa Sanskerta berkebangsaan Belanda. Beliau adalah profesor di Benares, dan di Leiden antara tahun 1865–1903. Beliau berpendapat bahwa aksara Jawa Kuna bukan hasil perkembangan langsung dari aksara Pallawa. Pendapat ini didasarkan pada perhitungan selisih waktu antara prasasti beraksara Pallawa termuda (Prasasti Canggal 732 M) dan prasasti beraksara Jawa Kuna tertua (Prasasti Plumpungan 750 M) yang hanya terpaut selisih 18 tahun. Apabila aksara Jawa Kuna dianggap perkembangan langsung dari Pallawa, maka hal tersebut akan membutuhkan waktu yang relatif lebih lama.

Berkenaan dengan nama, aksara ini dikenal mempunyai 2 sebutan:

  • J. L. A. Brandes, H. Kern, J. G. de Casparis dan Cohen Stuart menyebutnya ”Kawi”
  • N. J. Krom dan umumnya epigraf masa kini kebanyakan menyebutnya ”Jawa Kuna”

Deskripsi Aksara

Aksara Jawa Kuna/ aksara Kawi merupakan aksara segmental yang didasarkan pada konsonan dengan notasi vokal yang diwajibkan tetapi bersifat sekunder. Tiap hurufnya merepresentasikan sebuah suku kata dengan vokal “a” yang dapat diubah dengan penggunaan tanda baca. Penulisan aksari ini ditulis dan dibaca dari kiri ke kanan. Aksara ini tidak mengenal spasi dalam penulisannya. Terdapat tanda baca sebagai awalan dan akhiran, baik paragraf maupun kalimat namun tidak mutlak/selalu. Aksara ini tidak mempunyai huruf F Q V X Z. Tidak ada permasalahan terkait penyebutan dengan istilah Jawa Kuna maupun Kawi, karena kedua sebutan tersebut sama-sama memiliki dasar.

Aksara Jawa Kuna/ aksara Kawi dapat dijumpai pada artifak-artifak masa klasik berupa inskripsi-inskripsi pendek di struktur bangunan, penulisan karya sastra dan keperluan penulisan lainnya serta utamanya pada prasasti. Pemanfaatan aksara ini dapat dijumpai pada semua jenis prasasti baik upala (batu), tamra (Logam), maupun ripta (Lontar).

tabel aksara jawa kuna

Tabel aksara Jawa Kuna/ aksara Kawi susunan Heri Purwanto.

…

Aksara Jawa Kuna atau Aksara Kawi Part 1 3

Terimakasih kepada guru-guru kami di AKWW (Ajar Kawi Wetan Wilis).


Writer: Agung Sasono Putro

Narasumber:

  • Para Guru AKWW (Ajar Kawi Wetan Wilis)

Sumber:

  • Pandey A. 2012. Preliminary Proposal to Encode the Kawi Script.

Tinggalkan Balasan

error: Content is protected !!

Eksplorasi konten lain dari D'Travellers

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca