Tradisi menyambut kepulangan jemaah haji merupakan aktivitas budaya yang lumrah dijumpai di dunia Islam termasuk di Indonesia. Di salah satu sudut Kabupaten Tulungagung, tepatnya di Dusun Kasrepan, Desa Demuk, Kecamatan Pucanglaban, tradisi tersebut juga terus terselenggara secara turun temurun. Tradisi ini bukan rutinitas semata, melainkan sebuah perayaan kebahagiaan, ikatan doa, dan harapan yang tulus.
Table of Contents
Deskripsi Event
Persiapan Pra Acara
Momen sakral ini dirayakan dengan penuh semangat. Semaraknya menandakan kuatnya ikatan sosial dan kedalaman spiritual masyarakat setempat. Begitu kabar tentang kepulangan seorang haji dari Tanah Suci terdengar, kebahagian pun seolah merebak merata ke seluruh penjuru dusun. Jalan-jalan di Desa Demuk, khususnya di sekitar rumah si haji, akan berubah menjadi lautan manusia. Baik tua maupun muda, laki-laki maupun perempuan, semua hadir untuk turut serta dalam momen budaya yang sarat dengan makna.
Persiapa pun dilakukan bersama-sama oleh masyarakat. Ada yang memasang umbul-umbul, membersihkan jalanan, hingga menyiapkan hidangan khas. Nuansa gotong royong begitu terasa dalam setiap langkah mereka. Aktivitas tersebut bukan sekedar sambutan untuk haji yang pulang, melainkan wujud rasa syukur dan pengikat kebersamaan yang erat. Masyarakat tak hanya menyambut individu si haji, melainkan juga menyambut keberkahan yang turut tersebar selepas kembalinya si haji dari Tanah Suci.
Pelaksanaan Acara
Puncak dari tradisi ini terjadi saat rombongan haji tiba kembali di desa. Suara sorak sorai penuh kegembiraan, lantunan shalawat yang dibalut dengan tabuhan merdu rebana, serta semangat masyarakat memberikan sambutan istimewa bak “karpet merah” kepada si haji yang telan menjalankan rukun Islam kelima. Di balik segala kemeriahan tersebut, ada satu momen yang paling dinanti oleh masyarakat, yakni doa tulus dari si haji/hajah.
Bagi masyarakat Kasrepan, seorang haji yang baru saja kembali diyakini membawa aura kesucian dan keberkahan. Mereka percaya bahwa doa dari si haji yang baru bersujud di Tanah Suci memiliki kekuatan tersendiri. Dengan harapan besar, mereka mendekati si haji/hajah untuk memohon agar didoakan supaya mereka pun suatu hari mendapat kesempatan yang sama menginjakkan kaki di Tanah Haram. Momentum ini bukan sakadar ajang meminta doa, melainkan ikatan spiritual yang menguatkan tekat dalam hati setiap individu untuk terus berusaha mengejar impian tersebut. Keramahan setiap individu tergambar jelas melalui senyum lebar mereka, jabatan tangan hangat, dan pandangan mata yang serat kekaguman.
Merawat tradisi menyambut kepulangan jemaah haji di Dusun Kasrepan jauh melampaui sekedar perayaan biasa. Tradisi ini adalah cerminan betapa kokohnya nilai-nilai keagamaan dalam kehidupan masyarakat. Anak-anak yang menyaksikan semangat para dewasa akan tumbuh dengan mimpi mereka yang sama melihat ibadah haji sebagai puncak spiritualitas yang layak diperjuangkan.
Kearifan lokal ini memberikan pelajaran berharga tentang pentingnya persaudaraan, nilai kebersamaan, dan kekuatan doa. Di tengah perkembangan zaman dan derasnya modernisasi, tradisi ini menjadi pengingat bahwa nilai-nilai luhur masih bisa terjaga dengan kuat sebagai fondasi harmoni kehidupan di tengah masyarakat.
Writer: Deiki

