Idul Adha, atau yang dikenal sebagai hari raya kurban, selalu dirayakan dengan penuh kebahagiaan oleh kaum muslim di seluruh dunia. Di berbagai penjuru tanah air tradisi unik turut memperkaya perayaan ini, memadukan nilai-nilai keagamaan dengan kearifan lokal menjadi satu harmoni yang indah. Salah satu contoh menarik dapat ditemukan di Desa Demuk, khususnya Dusun Kasrepan, Pucanglaban, Tulungagung. Di sini, tradisi takbir keliling dalam menyambut Idul Adha tidak hanya merupakan lantunan syair religi, tetapi juga menjadi bentuk nyata dari upaya masyarakat dan lembaga pendidikan Islam setempat yaitu Lembaga Pendidikan Ma’arif NU RA-MI Al-Hidayah untuk menyatukan nilai-nilai Islam dengan budaya lokal, sekaligus memperkuat keharmonisan dalam kehidupan bermasyarakat.
Deskripsi Event
Takbir keliling di Desa Demuk bukan hanya diwarnai dengan lantunan kalimat tauhid “Allahu Akbar, Allahu Akbar, Laa Ilaaha Illallah Wallahu Akbar, Allahu Akbar Walillahil Hamd” yang menggema ke setiap sudut desa. Acara ini juga diramaikan dengan berbagai kegiatan.
Sepanjang jalan utama desa, tampak rapi barisan orang-orang yang berjualan, terutama di jalur yang dilewati rute takbir keliling. Tak hanya pedagang, peserta takbir keliling pun tampak bersiap sejak awal. Hal ini terlihat dari banyaknya peserta anak-anak yang sudah berkumpul sebelum pukul 18.00 (waktu pemberangkatan yang dijadwalkan), dengan membawa lampion-lampion indah di tangan mereka. Semua momen tersebut berpadu seperti mutiara keindahan yang saling melengkapi, menggambarkan betapa antusiasnya umat Islam di wilayah ini menyambut Hari Raya Idul Adha dengan penuh semangat.
Lembaga pendidikan Islam setempat yaitu LPMNU RA-MI Al-Hidayah berhasil menghadirkan nuansa yang menarik dan kekinian dalam kegiatan takbir keliling. Anak-anak, sebagai peserta utama, menggantikan oncor/ obor tradisional dengan lampion berwarna-warni. Paduan warna-warni lampion tersebut menciptakan harmoni unik, di mana kesakralan syair agama bertemu dengan pesona visual lampion dan antusiasme anak-anak.
Kemeriahan semakin terasa dengan kehadiran komunitas penggiat sound system yang turut memeriahkan acara. Iringan dentuman bass dan gema takbir yang menggelegar dari peralatan modern ini menambah semarak serta menarik perhatian seluruh peserta dan masyarakat yang hadir.
Kolaborasi antara lampion dan sound system dalam tradisi takbir keliling ini memiliki makna mendalam. Sebuah langkah kreatif untuk menjadikan syiar Islam lebih dekat, relevan, dan menarik bagi kehidupan sehari-hari, khususnya di kalangan generasi muda.
Dengan pendekatan ini, kegiatan takbir keliling di Desa Demuk tidak hanya mensyiarkan nilai-nilai Islam, tetapi juga menunjukkan kemampuan untuk beradaptasi dengan perkembangan zaman dan selera masyarakat masa kini.
Writer: Deiki

