Skip to content

Situs Tanjungkalang, Lingga Yoni di Area Persawahan Ngronggot Nganjuk

situs tanjungkalang

Situs Tanjungkalang

Di tengah area persawahan Desa Tanjungkalang, Kec. Ngronggot, Nganjuk terdapat benda peninggalan sejarah masa klasik berupa sepasang lingga yoni. Lingga yoni Tanjungkalang atau Situs Tanjungkalang ini berjarak sekitar sekitar 2 km dari sungai Brantas. Berjarak 6 km dari Candi Banjarsari yang juga terletak di Kecamatan Ngronggot.

Yoni merupakan komponen peribadatan umat Hindu yang menggambarkan perwujudan Dewi Parwati. Dewi Parwati adalah istri dari Dewa Siwa. Biasanya Yoni berbentuk persegi, bercerat, dan disertai lubang di tengah. Lubang ini merupakan tempat Lingga sebagai perwujudan Dewa Siwa. Lingga biasanya memiliki bagian atas berbentuk segi enam/ segi delapan dan bagian bawah berbentuk persegi. Lingga yang menancap pada lubang yoni melambangkan persatuan antara Dewa Siwa dan Dewi Parwati. Kondisi lingga yoni Situs Tanjungkalang mengalami kerusakan di beberapa sisi. Sebagian besar yoninya juga masih terpendam.

Situs Tanjungkalang, Lingga Yoni di Area Persawahan Ngronggot Nganjuk 2

Adanya sepasang lingga yoni di Desa Tanjungkalang ini tidak terlalu mengejutkan. Pasalnya, di desa ini pernah ditemukan prasasti Kinawe yang berangka tahun 849 Caka (927 M). Prasasti tersebut pertama kali dilaporkan oleh Hoepermans dalam Hindoe-Oudheiden van Java (1864-1867). Selanjutnya dicatat dalam Notulen tahun 1889 dan dibahas oleh Roffaer. Saat ini prasasti disimpan di Museum Nasional dengan kode D.66. Berikut alih aksara Prasasti Kinawe yang termuat dalam Oud Javaansche Oorkonden:

|| om awighnamastu namo
namah swaha || swasti cakawarsatita 849
phalgunamasa tithi paucami cuklapaksa, wu, wa, wr,
wara wuku tolu daksina deca krttikanaksatra wiska
mbha yoga, dahana dewata, irika diwasa rakegunungan dyah muata
n, ibu dyah bingah sumusuk pibang wanua i kinawe watek kadangan, kunang matangya
susuknya cima potraka kalilirana ni sanak nira jaga tanilua sawuang hanak
dyah bingah ing wasa apatan cima rakriyan lakilaki ikang sima, tlas ta ya inarpa
nakan i tanda rakryan kabaih pinawuatakan per suku muang skar masu 5 i rakryan mahapatih
pu sindok icana wikrama pinakasopananirarpanambah samgat moma-humah anggenah pu kundala …
mgat landayan pu wudya, sinantha ta pua sambah nira mangangseakan ta ya pageh pageh ri cri maharaja cri wawa
rakai sumba mas

Prasasti ini meresmikan desa (wanua) Kinawe watek Kadangan dengan hak sima sebagai desa yang dibebaskan dari pembayaran pajak kepada raja. Berdasarkan unsur penanggalannya, prasasti ini dikeluarkan bertepatan dengan hari Sadwara, Warukung (hari ketiga), wagai hari Pancawara, wrhaspati hari ke-5 Saptawara. Hal ini bertepatan dengan 28 Nopember 928 M.

Situs Tanjungkalang, Lingga Yoni di Area Persawahan Ngronggot Nganjuk 3

Prasasti ini terdiri atas 13 baris tulisan dikeluarkan oleh seorang pejabat tinggi Rake Gunungan Dyah Muatan bersama ibunya yang bernama Dyah Bingah. Prasasti ini menyebut nama Raja Wawa (Raja terakhir Kerajaan Mdang periode Jawa Tengah) serta nama pejabat tinggi Rakryan Mapatih Pu Sindok Isana Wikrama. Artinya kebudayaan Hindu Budha di Desa Tanjungkalang sudah berlangsung sangat lama bahkan sejak pusat kerajaan Mdang(Mataram kuno) masih berada di Jawa Tengah. Pu Sindok yang kelak menjadi raja dan mendirikan Candi Lor juga masih menjabat sebagai rakryan mahapatih.

Kini keberadaan Situs Tanjungkalang menjadi salah satu bukti dan saksi bahwa dahulu pernah ada kebudayaan klasik yang berkembang di sini. Semoga sepasang lingga yoni Tanjungkalang ini dapat lestari.


Writer: Galy Hardyta

Sumber:

Participants: Aima, Ardi, Galy, Rendro, Ipan, Riris

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan