Skip to content

Situs Sanggrahan Blitar, Terpinggirkan oleh Ketenaran Eyang Jugo

Eyang Jugo, wafat hari Selasa bulan Selo (Kalender Jawa) tahun 1871, dimakamkan di Gunung Kawi. Menurut cerita yang berkembang Eyang Jugo memiliki nama asli Zakaria, beliau adalah panglima pada masa Perang Diponegoro. Setelah Diponegoro kalah, Zakaria melarikan diri kemudian tinggal di Desa Jugo, sekarang terletak di Kec. Kesamben, Kab. Blitar. Oleh karena itu Legenda Eyang Jugo cukup melekat di Desa Jugo, bahkan di Dusun Sanggrahan bisa dijumpai Pesanggrahan Eyang Jugo.

situs mejomiring sanggrahanMasih di Dusun Sanggrahan tapi di belahan yang berbeda, sebenarnya terdapat peninggalan sejarah dari masa klasik Hindu Budha (Situs Sanggrahan Blitar). Akan tetapi keberadaan situs ini cukup sulit ditemukan bagi orang yang awam dengan lingkungan dusun. Sepertinya ketokohan Eyang Jugo benar-benar tak terpisahkan dari dusun ini. Sehingga setiap kami menanyakan keberadaan Situs Sanggrahan Blitar, warga setempat selalu mengarahkan kami ke Pesanggrahan Eyang Jugo.

Bahkan hingga menyeberang ke dusun sebelah kami juga tak kunjung menemukan keberadaan Situs Sanggrahan Blitar. Jawaban warga masih sama, kami diarahkan ke Pesanggrahan Eyang Jugo. Sempat berfikir sejenak, kemudian kami mengganti model pertanyaanya. Kami menanyakan mengenai keberadaan sebuah Pura di perbatasan Dusun Sanggrahan. Filing kami mengatakan kalau mungkin situsnya terletak tidak jauh dari Pura.

Setelah mendapat arahan dari warga kami pun menuju Pura. Memang benar letaknya juga di Dusun Sanggrahan, tapi jalurnya benar-benar berbeda. Kami harus memutar arah keluar dari Desa Jugo menuju Desa Kauman, kemudian ambil arah kiri untuk menuju sisi terluar dari Dusun Sanggrahan. Pencarian kami pun mebuahkan hasil, akhirnya kami menemukan Pura yang dimaksud. Dari sekitar pura kami segera bertanya pada warga. Alhamdulillah ada warga yang mengetahui keberadaan Situs Sanggrahan. Selanjutnya kami mengikuti arahan yang warga berikan, dan sampailah di Situs Sanggrahan.

travellers di situs sanggrahanSitus Sanggrahan secara administratif terletak di Dusun Sanggrahan, Desa Jugo, Kec. Kesamben, Blitar. Bagian situs yang tampak jelas adalah sepasang lingga yoni. Lingga yoni tersebut agak miring sehingga ada pula yang menyebutnya mejo miring. Selain Lingga yoni, di sekitar area tersebut juga bisa dijumpai batu-bata kuno. Ada batu bata yang tertanam ada pula yang berserakan hingga ke rumah warga.

situs yoni sanggrahanLingga simbol Dewa Siwa, Yoni simbol Dewi Parwati. Lingga dan Yoni membentuk kesatuan menjadi Lingga Yoni, melambangkan penciptaan dalam agama Hindu.

Sebaran benda cagar budaya di sekitar Situs Sanggrahan cukup luas. Di belakang Pura bisa dijumpai Lingga Yoni lainnya. Namun karena hingga kini Lingga Yoni itu masih digunakan untuk peribadatan, kami tidak mengulasnya demi menghormati umat Hindu. Agak ke utara dari Pura, juga bisa dijumpai rumah warga yang pagarnya disusun dari bata kuno. Melihat sebaran yang cukup luas, mungkin dulu ada bangunan yang cukup besar di lingkungan ini.

travellers di situs sanggrahanJika tertarik mengunjungi situs ini berikut rute nya dari Blitar: Blitar – Wlingi – Kesamben. Pertigaan Pasar Kesamben ke kanan. Setelah melewati rel kereta di kanan jalan bisa dijumpai Gapura Desa Kauman. Gapura Kauman ke kanan, kemudian setiap menemukan percabangan belok kiri. Situs Sanggrahan terletak di kiri jalan.

Ayo kita angkat peninggalan-peninggalan sejarah di Blitar. Ayo wujudkan semboyan pariwisata Blitar 😀 The Regency of Thousand Temples.


Writer : Galy Hardyta

Participant : Galy, Veri, Zid, Ali Moes

7 Comments

  1. Mungkin situs itu lebih terkenal dengan nama Mejo Miring.
    Kalau nanya Sanggrahan, ya pasti diarahkan ke Eyang Jugo.

    Saya saja yang orang Kesamben belum pernah lihat situs Mejo Miring ini 🙁
    Kapan-kapan tak sambangane lek pulkam.

  2. Coba nanya mejo miring mallaah diarahkan ke brongkos. Akhirnya inisiatif cari puranya.

  3. Oo iyo, di Brongkos juga ada mejo miring. Banyak situs ya di daerah situ?

    Di hutan, dekat stasiun samben, ada batu yang berlubang-lubang (seperti mejo dakon). katanya gak bisa dipindahkan.

    Aku sering main ke situ waktu masih kecil.

  4. Banyak om. Wah.. 😀 Makasih infonya

  5. Bachrul Ulum Zuhri Bachrul Ulum Zuhri

    Situs candi atau ornamen candi banyak bertebaran di daerah ini. Ada dusun namanya Cobanteng. Sebelah barat dusun kauman. Masjid Kauman terus ke barat, tepatnya sebelah selatan desa Kunden dan sebelah utara dusun Sanan. Peninggalan arca juga ditemukan, kira-kira 300 meter ke arah barat dari Je,batan Kali Sebeng (di muara parit sebelah utara sungai Sebeng).

    Tentang sanggrahan memang terkait erat dengan Eyang Jugo. Sebelah utara “padepokan” eyang jugo. Beliau tidak sendirian datang ke kawasan ini. sebelum membangun padepokan beliau tinggal sementara (mesanggrah: jw). Karena itu disebut dengan sanggrahan, 54 tahun lalu dikenal juga dengan nama Pesanggrahan, akhirnya kebiasaan orang menyebutnya sanggrahan. Tepatnya dimana beliau tinggal/ mesanggrah. Kira-kira antara SD Jugo keselatan selokan irigasi (kalau masih ada) terus sampai ke padepokan. Padepokan dikenal juga dengan nama “ndepok” lagi-lagi singkatan warga terhadap padepokan.
    Beliau pindah ke Padepokan yang sekarang menjadi petilasan dan menjadi tempat ziarah itu. Namun Sanggrahan tempat tinggal sementara (mesanggrah) tetap abadi hingga lestari sampai saat ini. Karena itu, jika yang dicari adalah situs yang berupa peninggalan tempat peribadatan berupa Lingga dan Yoni akan salah arah. Justru karena masyarakat saat itu telah meninggalkan agama hindu (walau sebagian masih) maka eyang Jugo mendirikan/ mesanggrah di tempat yang kita kenal sekarang.
    Belum banyak yang mengenal, bahwa bedug Masjid Kauman Kesamben dibuat juga karena andil eyang jugo. Beliau menunjukkan bahan kayu/ pohon yang cukup baik. Pohon gebang (untuk sendaren) juga ditanam beliau di selatan masjid.
    Cerita tambahan, Konon beliau pernah menanam kotak di perempatan selatan padepokan, yang dipercaya jika kuda/ dokar lewat dekat itu akan tersungkur. Setelah digali, konon terdapat cemeti seorang pimpinan (panglima) perang (pecut) yang setelah itu tidak diketahui tempatnya.
    Kembali ke persoalan situs sanggrahan. Radius sanggrahan 54 tahun yang lalu, kira-kira 4 rumah dari SD Jugo hingga jalan sebelah utara ndepok. kemudian sebelah barat jalan sebagian juga disebut sanggrahan. Namun dalam radius tidak lebih 4 rumah (yang halamannya bisa 1000 m2), sedangkan ke timur ancer-ancer tembok SD ke timur ada 4 rumah terus lurus ke selatan hingga sampai ke utara jalan ndepok. Namun deretan rumah di utara jalan ndepok itu sudah disebut ndepok, termasuk rumah juru kunci.
    Demikian Tambahan info tentang ndepok.

  6. Ziedney aje Ziedney aje

    Masih ada sebaran benda cagar budayakah selain lingga yoni ? Di lingkungam Jugo?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *