Skip to content

Situs Gandusari, Sebuah Yoni di Halaman Kantor Camat Gandusari Trenggalek

yoni gandusari trenggalekYoni Situs Gandusari.

Di pelataran Kantor Kecamatan Gandusari, Kab. Trenggalek terdapat benda peninggalan sejarah yang berasal dari masa klasik. Untuk mudahnya peninggalan tersebut disebut Situs Gandusari. Situs ini terdiri dari sebuah yoni. Letak Kantor Kecamatan Gandusari dalam map dapat diakses di sini.

Table of Contents

Deskrip Situs

Yoni merupakan komponen peribadatan umat Hindu yang menggambarkan perwujudan Dewi Parwati. Dewi Parwati adalah istri dari Dewa Siwa (Mahadewa). Biasanya Yoni berbentuk persegi, bercerat, dan disertai lubang persegi di tengahnya. Lubang ini merupakan tempat Lingga sebagai perwujudan Dewa Siwa. Keberadaan yoni ini sekaligus menunjukkan bahwa corak keagamaan dari Situs Gandusari Trenggalek merupakan agama Hindu.

situs gandusari trenggalek

Keadaan Yoni.

Yoni Situs Gandusari Trenggalek ini terpendam di halaman kantor kecamatan dekat dengan tiang bendera. Bagian atas dan cerat yoni masih dapat dilihat dengan jelas. Yoni ini cukup unik karena ceratnya dihiasi pahatan yang indah berupa ornamen tanaman yang distilir.

Situs Gandusari, Sebuah Yoni di Halaman Kantor Camat Gandusari Trenggalek 3

Ornamen hias pada cerat yoni.

Sejarah

Keberadaan Yoni Gandusari ini menjadi petunjuk bahwa dulu di masa klasik sudah ada kebudayaan yang mendiami kawasan ini. Hal ini tak mengejutkan, mengingat tak jauh dari yoni ini memang terdapat bukti sejarah tertulis berupa Prasasti Kampak. Letak prasasti tersebut lebih menjorok ke pedalaman Trenggalek yakni sekitar 10 km di selatan Yoni Gandusari.

Prasasti Kampak saat ini disimpan di Museum Nasional Jakarta. Prasasti ini sudah tidak utuh, angka tahun dan nama rajanya sudah tidak diketahui. Untungnya beberapa nama pejabat kerajaan masih dapat diketahui seperti nama tokoh Pu Balyang dan Dyah Amarendra.

Tokoh Pu Balyang dapat ditemukan dalam prasasti Gulung-Gulung (851 Saka), Saranggan (851 Saka), Linggasutan (851 Saka), Turyyan (851 Saka), Jeru-jeru (852 Saka), Hering (859 Saka) dan Alasanta (861 Saka). Sementara Dyah Amarendra dapat dijumpai dalam prasasti Gulung-Gulung (851 Saka), Linggasutan (851 Saka), Turyyan (851 Saka) dan Jeru-jeru (852 Saka). Prasasti-prasasti tersebut merupakan peninggalan dari masa Pu Sindok. Artinya Prasasti Kampak diduga kuat merupakan peninggalan dari Pu Sindok, raja Kerajaan Medang atau lebih populer disebut Kerajaan Mataram Kuno. Hal ini diperkuat dengan adanya kalimat “cri maharaja i mdang i bumi mataram” yang termuat dalam Prasasti Kampak.

Berdasarkan fakta bahwa wilayah selatan Trenggalek telah menerima anugerah raja Jawa Kuno sejak abad ke 10 M, maka tidak mengherankan apa bila di Gandusari terdapat jejak-jejak peninggalan kebudayaan masa klasik.


Writer: Galy Hardyta

Selftraveling

Tinggalkan Balasan

error: Content is protected !!