Skip to content

Pesanggrahan Djojodigdan dan Makam Gantung Kota Blitar

pesanggrahan djojodigdanPesanggrahan Djojodigdan dulunya merupakan kediaman dari R. Ng. Djojodigdo (Joyodigdo) salah satu Patih Blitar. Saat ini rumah beserta pekarangan yang berada di pesanggahan tersebut adalah mlik Yayasan Djojodigdan. Pesanggrahan yang terletak di Jl. Melati No 43 ini sebenarnya merupakan salah satu destinasi wisata ziarah, akan tetapi pagarnya jarang terbuka lebar, karena faktor keamanan. Bagi para traveler yang penasaran, silahan saja berkunjung ke sini. Kalian akan mendapatkan sambutan ramah dari juru pelihara pesanggrahan.

Sebelum lebih lanjut menjelajahi Pesanggrahan Djojodigdan, silakan kalian meminta izin berziarah terlebih dahulu kepada juru pelihara. Beliau akan dengan senang hati mengantarkan dan menjelaskan sudut demi sudut dari area pesanggrahan. Bahkan hingga ke bagian teruniknya, yakni Makam Gantung. Makam Gantung ini sudah sangat populer di antero Blitar. Bisa di bilang ketenarannya berada tipis di bawah ketenaran Makam Bung Karno. Meski populer, tidak banyak yang mengetahui perihal seluk beluk dari makam ini. Kasak-kusuk yang beredar di masyarakat hanya menyatakan bahwa makam tersebut merupakan makam orang sakti dengan ilmu pancasona, apa bila jasadnya menyentuh tanah beliau akan hidup kembali. Benarkah demikian?

Makam gantung

nisan makam gantung blitarNisan Makam Gantung

Makam Gantung yang berada di area Pesanggrahan Djojodigdan ini sebenarnya merupakan makam dari R. Ng. Djojodigdo atau Eyang Djojodigdo. Makam ini memiliki bentuk yang unik, dengan nisan yang terbuat dari batu marmer. Nisan? Katanya Makam Gantung? Iya, memang inilah Makam Gantung. Makamnya sama persis dengan makam-makam Islam pada umumnya, membujur ke utara menghadap ke barat. Eits.. coba perhatikan cungkup unik yang terletak di atas makam. Keberadaan cungkup inilah yang membuat makam ini disebut sebagai Makam Gantung. Menurut penuturan juru pelihara, pada bagian dalam cungkup itulah tersimpan busana kebesaran, pusaka, dan ilmu pancasona dari Eyang Djojodigdo. Jadi, yang digantung adalah kesaktian beliau, sementara jasad beliau tetap disemayamkan secara Islam. Siapakan sebenarnya Eyang Djojodigdo ini?

lukisan eyang djojodigdolukisan Eyang Djojodigdo

Eyang Djojodigdo lahir di Yogyakarta pada 29 Juli 1827,dengan kelar kebangsawanan R. Ng. (Raden Ngabehi). Pada usia 12 tahun beliau meninggalkan Yogyakarta menyusul paman beliau yang menjabat sebagai Bupati Ngrowo bernama RMT. Notowidjojo III. R. Ng. Djojodigdo diangkat oleh pemerintah Hindia Belanda sebagai Patih Blitar pada 8 September 1877 mendampingi Bupati Blitar, Raden Adipati Warso Koesoemo. Selama melaksanakan tugas, beliau dinyatakan cakap dan profesonal, sehingga memperoleh dua lencana GM dan ZM dari pemerintah Hindia Belanda. Pada 11 Maret 1909 beliau tutup usia dan dimakamkan pada area pemakaman keluarga di belakang dalem kepatihan.

Dalem Kepatihan/ Rumah Pesanggrahan hingga kini masih berdiri dengan kokoh, sejak bangunan tersebut selesai didirikan pada tahun 1892. Pengunjung dapat memasuki bagian dalam dari dalem kepatihan melalui pintu belakang, dengan didampingi oleh juru pelihara. Pada dalem kepatihan ini tersimpan berbagai perabot rumah tangga dari keluarga Eyang Djojodigdo, seperti meja kursi, payung pusaka, ranjang, gentong penyimpan beras, genealogi, dan koleksi foto keluarga Eyang Djojodigdo. Di antara foto-foto tersebut terdapat foto salah satu tokoh nasional R. A. Kartini. Eyang Djojodigdo merupakan mertua dari R. A. Kartini.

pesanggrahan djojodigdan blitarDalem kepatihan

dalem kepatihan djojodigdan

Pesanggrahan Djojodigdan ternyata menyimpan begitu banyak kazanah sejarahyang mengesankan. Selama ini hanya kasak-kusuknya saja yang begitu riuh di tengah masyarakat, tanpa banyak yang mengetahui fakta sejarah dari pesanggrahan ini. Apabila kalian masih penasaran dengan Pesanggrahan Djojodigdan, jangan cuma baca postingan ini! Ayo kunjungi langsung, dan dapatkan fakta-fakta menarik yang akan menambah pengetahuan kalian. Have a nice trip… 😀

travellers di pesanggrahan djojodigdan

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *