Skip to content

Ngudek Jenang: Simbol Gotong Royong dan “Pemanasan” Bahagia di Desa Demuk Tulungagung

Di Desa Demuk, Kecamatan Pucanglaban, Tulungagung, sebuah hajatan pernikahan tidak pernah dimulai dari akad nikah atau resepsi semata. Jauh sebelum pelaminan berdiri megah, aroma manis gula jawa dan gurihnya santan sudah lebih dulu menyeruak ke udara. Itulah pertanda tradisi Ngudek Jenang sedang berlangsung.

Table of Contents

Deskripsi

Ngudek Jenang atau kadang disebut Njenang adalah aktivitas memasak makanan tradisional Jenang (dodol khas Jawa) dalam porsi raksasa menggunakan kawah atau wajan besi yang sangat besar. ​Dibutuhkan tenaga ekstra untuk mengaduk adonan yang semakin lama semakin kental dan mengeras. Karena membutuhkan tenaga ekstra, aktivitas ini sepenuhnya dilakukan oleh kaum pria, di sinilah letak keunikan tradisi Ngudek Jenang.

Proses memasak jenang bisa memakan waktu 4 hingga 6 jam. Api dari kayu bakar harus dijaga agar tetap stabil. Jika adonan sudah mulai kalis (tidak lengket dan mengkilap), tandanya jenang sudah matang. Hasilnya kemudian akan dibagi-bagikan kepada para tamu dan warga sekitar sebagai simbol rasa syukur.

Tradisi Ngudek Jenang tidak hanya bisa dijumpai di Desa Demuk melainkan juga umum dijumpai di berbagai wilayah di Jawa Timur, Jawa Tengah dan DIY. ​Bagi masyarakat yang masih menjaga tradisi, Ngudek Jenang bukan sekadar memasak bubur manis, melainkan tradisi yang menjadi fondasi sebuah perhelatan besar upacara pernikahan.

​Tradisi Ngudek Jenang memiliki nilai-nilai luruh yang terkandung di dalamnya. Nilai gotong royong muncul sajara alami. Mengaduk jenang memerlukan waktu berjam-jam sehingga tidak mungkin dilakukan sendirian. Aktivitas ini dijalankan oleh tetangga dan kerabat datang silih berganti, di Tulungagung dan sekitarnya kegiatan ini disebut dengan istilah “rewang”. Aktivitas ini adalah bentuk solidaritas tanpa bayaran, tenaga disumbangkan sukarela demi kelancaran acara.

Ngudeg jenang juga menjadi forum silaturahmi informal. Sambil memegang pengaduk kayu yang panjang, para pria biasanya bersenda gurau, berbagi cerita, hingga membahas isu-isu desa. Inilah momen “pemanasan” yang mengakrabkan antar warga sebelum puncak acara di hari pernikahan.

Pada akhirnya, jenang menjadi simbol keuletan. Tekstur jenang yang liat dan lengket melambangkan harapan agar ikatan pernikahan kedua mempelai kuat, awet, dan sulit dipisahkan oleh rintangan apa pun.

Galeri

Ngudek Jenang
Proses Ngudek Jenang
Ngudek Jenang: Simbol Gotong Royong dan "Pemanasan" Bahagia di Desa Demuk Tulungagung 2
Para rewang siap bergantian ngudek jenang

​…

Di tengah gempuran catering modern yang serba praktis, warga Desa Demuk, Pucanglaban seolah sepakat bahwa “tidak ada jenang, tidak ada hajatan.” Tradisi ini membuktikan bahwa di wilayah ini, nilai kebersamaan masih jauh lebih manis daripada gula jawa itu sendiri.

Bagi travelers sekalian yang kebetulan melintasi Demuk dan melihat kepulan asap dari kawah besar dengan kerumunan bapak-bapak yang bersemangat, singgahlah sejenak. Di sana, kalian tidak hanya akan melihat orang memasak, melainkan sedang melihat denyut jantung persaudaraan masyarakat Jawa yang sesungguhnya.


Writer: Deiki

Tinggalkan Balasan

error: Content is protected !!

Eksplorasi konten lain dari D'Travellers

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca