
Pernahkah kalian membayangkan sebuah tempat yang dulu ditakuti karena angin kencang dan air yang meluap mistis, kini justru menjadi tempat paling damai untuk menikmati es krim di siang bolong? Itulah Sumber Jiput, sebuah oase tersembunyi di Kota Kediri.
Siang ini kami menepi sejenak dari hiruk-pikuk kota untuk membuktikan sendiri pesona Sumber Jiput yang legendaris. Setelah menginjakkan kaki di sini, kami menemukan lebih dari sekadar keindahan mata air. Berikut ulasannya.
Table of Contents
Legenda
Pernah dengar istilah kalau tiap tempat punya “nyawa”? Nah, Sumber Jiput bukan sekadar kumpulan air yang keluar dari tanah lalu jadi kolam ikan yang estetik. Di balik riaknya yang tenang, ada memori kolektif warga yang tersimpan rapi dalam bentuk legenda yang dicerita secara tutur turun-temurun. Cerita tutur semacam ini merupakan cara masyarakat zaman dulu untuk menjelaskan fenomena alam yang saat itu sulit dijelaskan.
Legenda Masa Penjajahan Belanda
Pada mulanya di masa penjajahan Belanda, kawasan mata air ini dikenal angker karena sering menghembuskan angin kencang dan air bah tak terduga. Seringkali kejadian tersebut menghanyutkan manusia hingga hewan ternak. Dilakukanlah penyelidikan untuk mencari penyebab kejadian tersebut.
Setelah ditelusuri, ditemukanlah lubang besar yang ternyata mampu menarik serta mengeluarkan air dan angin dalam jumlah besar. Untuk menjinakkan kekuatan alam itu, dilakukan upaya untuk menutup lubang raksasa dengan menyumbatnya menggunakan lidi kelapa dan aren dalam jumlah banyak. Upaya tersebut berhasil, kini hembusan angin yang keluar menjadi lebih bersahabat. Semenjak itulah kawasan mata air ini dinamai Sumber Jiput.[1]
Legenda Sungging Prabangkara
Ada versi cerita tutur lain yang juga dipercaya berkaitan dengan Sumber Jiput, yakni kisah Sungging Prabangkoro. Alkisah pada masa kerajaan, ada tokoh seniman yang sangat piawai dalam melukis, ia adalah Sungging Prabangkara. Kepiawaian Sungging Prabangkara terdengar hingga istana, sehingga raja memintanya untuk melukis permaisuri. Hasil lukisannya sangat memuaskan dan sangat mendetail bahkan dalam menggambar area pribadi permaisuri. Mengetahui hasil lukisan yang sangat mendetail pada bagian pribadi permaisuri, Raja sangat murka dan menduga Jaka Prabangkara telah melakukan hal yang tidak pantas. Raja yang murka menghukum Sungging Prabangkara untuk melukis di angkasa.
Dalam melaksanakan titah raja melukis di angkasa, Sungging Prabangkara dibantu oleh dua saudaranya yakni Sungging Ngadiluwih dan Sungging Tilasan. Sungging Prabangkoro diterbangkan ke angkasa menggunakan layang-layang. Kendali layangan dipegang (dipanjer) oleh Sungging Ngadiluwih di wilayah Ngadiluwih. Sementara itu angin yang digunakan untuk menerbangkan layang-layang dihasilkan dari laku tapa Sungging Tilasan. Saat Sungging Prabangkara di angkasa, raja memotong benang layang-layang sehingga ia terbang terbawa angin. Tempat pertapaan Sungging Tilasan adalah sumber air yang kelak disebut sebagai Sumber Jiput.[2]
Legenda Sumber Jiput dan Sungging Prabangkar ini sayangnya sulit dilacak sumber serat atau babadnya. Bahkan di Babad Kadhiri yang menjadi salah satu rujukan mitos-mitos di seputar Kediri tidak ditemukan. Barangkali versi ini hanya eksis di cerita tutur, namun tidak terdokumentasikan secara tertulis. Jika travelers sekalian memiliki referensi lebih mengenai legenda Sungging Prabangkara, jangan sungkan-sungkan menambahkan di kolom komentar ya. 😀
Sejauh penelusuran kami, mitos tentang Sungging Prabangkara termuat dalam Babad Jaka Tinggkir atau Babad Pajang. Kisah ini juga menjadi cerita tutur legenda di wilayah Jawa Tengah seperti daerah Jepara. Berikut beberapa kutipan kisah Sungging Prabangkara dalam Babad Jaka Tingkir berbentuk tembang Dandanggula bait 13 – 14:
Wus. bubaran kyana patih mijil, nulya sang nata aken akarya, layangan ingkang agedhe, pitung dhepa gengipun, mawi kurung panggenaneki, ki Jaka Prabangkara, sapirantenipun, pinanci sasangunira, kuneng laminira samana wus dadi, layangan langkung pelak.
Sinung pindha layar sampar angin, olan-olan lan sangga akasa, sesinthing tadhah angine, ing tengah nggening kurung. kadi wisma samakta sami, sinamaptan sangunya, sapirantenipun, sadandaning mawarna, srinarendra nulya nimbali pepatih, lawan sagung punggawa.
Terjemah bebas Sastronaryatmo (1981):
Pasewakan hari itu segera bubaran, Raja Brawijaya segera memerintahkan pada kawula praja untuk membuat sebuah layang-layang dengan ukuran 7 depa (1 depa 1,70 m). Selain itu di-perintahkan juga untuk membuat “kurungan” di mana nanti-nya menjadi tempat tinggal Raden Jaka Sungging Prabangkara menjalankan tugasnya menggambar di akasa. Segala peralatan untuk keperluan Raden Jaka Sungging Prabangkara telah di-persiapkan, laporan telah masuk ke Prabu Brawijaya bahwasa-nya pembikinan layang-layang sebesar 7 depa dan kurungan tempat tinggal Raden Jaka Sungging Prabangkara telah selesai.
Layang-layang segera dihaturkan kepada Prabu Brawijaya, disaksikan oleh segenap para mantri negara. Tali-temali yang dibutuhkan untuk menaikkan layang-layang telah siap, demikian pula benang pengulur bagi layang-layang beserta gulungannya.[3]
…
Kutipan ini mengisahkan adegan saat Sungging Prabangkara bersiap melukis di angkasa menggunakan layang-layang. Terdapat detail yang berbeda antara kisah Sungging Prabangkara versi Babad Jaka Tingkir dan Sumber Jiput. Dalam versi babad dijelaskan secara tegas bahwa latar kejadian berada pada masa Majapahit namun dan tidak dijelaskan secara spesifik lokasi tempatnya. Dalam versi babad juga tidak disebutkan tokoh-tokoh seperti Sungging Ngadiluwih dan Sungging Tilsan yang berkaitan dengan Sumber Jiput.
Keindahan Sumber Jiput
Dari angker ke “Instagrammable“. Sudah kita singgung di atas mengenai keangkeran Sumber Jiput di masa penjajahan Belanda. Kini wajah seram itu sudah sirna dan telah disulam habis-habisan oleh Pemerintah Kota Kediri.

Begitu masuk ke area wisata kalian akan disambut oleh papan kayu estetik bertuliskan “Wisata Sumber Jiput“. Tak ada lagi kesan mistis, yang ada hanyalah suasana teduh dari pohon-pohon raksasa yang usianya mungkin sudah ratusan tahun.


Sumber Jiput memiliki beberapa mata air. Air yang mucul ditampung di empat kolam dengan kedalaman rata-rata sekitar 2 m. Kalian tidak diperkanankan berenang di sini. Sebagai gantinya, kalian dapat bercengkrama dengan ikan-ikan penghuni Sumber Jiput yang ramah.
Di dalam beningnya air Sumber Jiput kalian dapat menyaksikan pesta ikan koi dan nila yang berebut perhatian pengunjung. Kilatan ikan berwarna oranye, putih, dan hitam tampak berkelindan membentu riak air. Susananya tampak riuh namun tetap jernih menenteramkan hati.

Bagi anak-anak, Sumber Jiput adalah surga kecil. Di sini, mereka bisa berlarian di jalan setapak yang tertata rapi, bermain jungkat-jungkit, atau duduk santai menikmati es krim sambil menunjuk-nunjuk ikan yang melintas.
Di salah satu sudut, terdapat papan peringatan yang sangat menyentuh: “Tanam dan Rawat Mata Air Demi Anak Cucu Kita di Masa Depan.” Ini adalah pengingat bahwa Sumber Jiput bukan hanya tempat rekreasi, tapi sebuah benteng pertahanan alam di tengah kota.

Sumber Jiput adalah bukti bahwa ketika kita melestarikan legenda dan alam dengan baik, mereka akan membalasnya dengan ketenangan. Jadi, jika kalian mencari tempat untuk “healing” tipis-tipis tanpa harus keluar kota, Sumber Jiput adalah jawabannya.
Tiket
Tiket masuk Wisata Sumber Jiput gratis. Bagi travelers sekalian yang ingin memberi makan ikan, tersedia pakan ikan dengan harga Rp. 1.000,-. Harga dapat berubah menyesuaikan kebijakan pengelola. Wisata Sumber Jiput buka mulai Pukul 05:00 – 18:00 WIB.
Lokasi dan Rute
Sumber Jiput secara adminstratif masuk dalam wilsayah Kelurahan Rejomulyo, Kec. Kota, Kota Kediri. Agar tidak salah arah, berikut adalah rute menuju lokasi Sumber Jiput jika kalian berpatokan dari pusat Kota Kediri: Dari Alun-alun Kota Kediri silakan ke selatan ke arah Tulungagung-Blitar. Ikuti jalan raya hingga pertigaan Masjid Nurul Huda Ngronggo kemudian belok kiri. Lanjutkan menyusuri jalan raya kemudian ikuti papan petunjuk arah ke Ngasinan (ditandai pula dengan perempatan berlampu lalu lintas). Setelah berbelok ke kanan pada perempatan berlampu lalu lintas, ikuti jalan raya dan kalian akan menjumpai pertigaan. Dari pertigaan tersebut belok kiri, kemudian menikung. Setelah tikungan, kalian akan sampai di Wisata Sumber Jimput yang terletak di kanan jalan.
Writer: Deiki
Sumber:
