Liburan, adalah sebuah kata yang paling dinanti. Setelah berhari-hari, atau mungkin berbulan-bulan bekerja tanpa henti, berlibur adalah moment paling dinanti oleh banyak orang. Liburan memiliki manfaat yang sangat besar, baik untuk kesehatan fisik maupun mental.
Ketika membahas destinasi wisata yang cocok untuk dikunjungi saat liburan di Tulungagung, Desa Ngrendeng di Kecamatan Gondang bisa menjadi pilihan. Terdapat sebuah obyek wisata sederhana yang mampu memberikan ketenangan bagi jiwa dan pikiran. Destinasi tersebut adalah Taman Widawati.
Table of Contents
Lokasi dan Rute
Akses menuju taman ini sangat mudah dijangkau. Jika travelers sekalian memulai perjalanan dari pusat kota Tulungagung, cukup arahkan kendaraan ke barat melintasi Jembatan Lembu Peteng. Setelah melalui jembatan tersebut, lanjutkan perjalanan lurus ke barat hingga sekitar Polsek Kalangbret. Tepatnya di sisi timur Polsek Kalangbret, terdapat jalan beraspal yang mengarah ke selatan (kiri jalan). Ikuti jalan tersebut sejauh kurang lebih 1 kilometer hingga menemukan papan petunjuk menuju Taman Widawati di sisi barat (kanan) jalan. Papan tersebut akan mengarahkan kalian ke jalur dengan akses beton yang membelah area persawahan. Dengan mengikuti jalur tersebut, kalian akan tiba langsung di lokasi wisata.
Sebelum mengenal lebih jauh mengenai Taman Widawati, penting untuk terlebih dahulu menjelajahi sejarah Desa Ngrendeng. Mengunjungi suatu tempat rasanya kurang lengkap tanpa memahami cerita atau latar belakang yang membentuk keberadaan wilayah tersebut. Mari simak kisah berikut ini, semoga dapat menambah wawasan dan menjadi dorongan untuk memajukan potensi Desa Ngrendeng di masa depan sekaligus memperkaya pengetahuan generasi muda.
Sejarah Desa
Sejarah berdirinya Desa Ngrendeng tercatat dengan baik pada buku “Sejarah Desa/Kelurahan Se Kabupaten Tulungagung” terbitan Badan Perpustakaan, Dokumentasi, dan Kearsipan Kabupaten Tulungagung Hal. 437-438.
Konon pendiri Desa Ngrendeng bernama Sentono Sari, keyakinan tersebut berdasarkan dengan adanya punden petilasan yang berupa kompleks pemakaman kuno yang berada di area persawahan yang masuk wilayah Dusun Krajan, Desa Ngrendeng. Menurut masyarakat Desa Ngrendeng makam tersebut adalah pusara Mbah Sentono Sari sekeluarga. Keberadaan makam tersebut oleh masyarakat sekitar dianggap sebagai tempat keramat. Tempat tersebut selalu dijaga dan dirawat dengan baik oleh warga desa, sehingga sampai sekarang kondisi punden tersebut masih baik dan bersih.
Pada musim hajatan, para warga Desa Ngrendeng yang memiliki hajat selalu datang ke punden atau makam Mbah Sentono Sari dan mengadakan ritual keselamatan untuk mendapatkan berkah. Kebiasaan tersebut menjadi adat dan berlangsung turun temurun sampai sekarang.
Konon masyarakat Ngrendeng terkenal memiliki dan pandai memainkan sebuah alat musik tradisional yang khas. Alat musik itu bentuknya seperti sisir rambut dan diamainkan dengan cara ditiup. Semua warga desa suka sekali memaikan alat musik tersebut. Biasanya memainkannya pada saat istirahat sehabis kerja di sawah ataupun setelah penat seharian membatik. Masyarakat Desa Ngrendeng dulu mayoritas bermata pencaharian bercocok tanam di sawah, selain itu juga ada pula yang menjadi pengrajin batik.
Bila ada salah satu yang memainkan alat itu, maka yang lain akan mengikutinya, dan akhirnya bunyi alunan musik ini saling bersahut-sahutan dengan merduanya. Suaranya membana ke seluruh wilayah desa, sampai akhirnya kampung ini sangat populer dengan alat musik tersebut. Nama alat musik tersebut dinamakan Rending. Karena kebiasaan warga yang sering memainkan alat musik rending ini, maka masyarakat luas menyebut kampung ini dengan sebutan Ngrending dan akhirnya berubah penyebutannya menjadi Ngrendeng seperti sekarang ini.
Versi lain dari sejarah nama Desa Ngrendeng adalah konon di wilayah desa sering terjadi kekeringan yang sangat panjang, sehingga lahan pertanian tidak bisa ditanami padi. Masyarakat setempat kemudian memilih menanami lahan sawah mereka dengan tanaman kacang tanah. Seperti yang kita ketahui bahwa Pohon Kacang Tanah di dalam bahasa Jawa dikenal dengan nama rendeng. Karena kerap ditanami rendeng beruang-ulang setiap musim kemarau, akhirnya wilayah ini dikenal dengan sebutan Ngrendeng.
Kedua versi cerita ini sama-sama diyakini dan diterima oleh masyarakat setempat tanpa menimbulkan perdebatan. Semoga sikap positif dari masyarakat Desa Ngrendeng ini dapat menjadi teladan bagi kita semua. Baik mari berlanjut untuk mengenal lebih dekat destinasi wisata Taman Widawati.
Deskripsi Taman Widawati
Taman Widawati merupakan destinasi wisata yang memukau dan menawarkan suasana sejuk. Taman ini menghadirkan pengalaman unik dengan nuansa pedesaan yang khas dan menenangkan. Nama Widawati dipilih karena memiliki makna filosofis yang mendalam, merujuk pada istri Dewa Wisnu. Widawati, yang juga dikenal sebagai Dewi Sri, merupakan sosok dewi kesuburan pertanian yang dipercaya membawa kemakmuran.
Taman Widawati menawarkan keindahan alam yang memukau, salah satunya terlihat dari hamparan sawah yang terbentang luas di setiap sudut taman ini. Ketika mata memandang jauh ke arah horison, kita akan dimanjakan oleh panorama pegunungan yang berbaris rapi, seolah menyapa hangat dengan pesona alami mereka. Di area taman ini, tersedia juga beberapa gazebo sebagai tempat bersantai sambil menikmati suasana yang menenangkan.
Bagi travelers yang datang menggunakan kendaraan roda empat, tak perlu khawatir karena pengelola telah menyediakan area parkir yang luas dan nyaman. Untuk para pecinta kuliner, kawasan Taman Widawati ini juga menghadirkan berbagai kedai makanan dengan pilihan hidangan khas desa yang menggugah selera. Wisatawan bisa menikmati sajian autentik seperti masakan tradisional hingga aneka camilan yang menggugah selera.
Writer: Deiki
Sumber:
- Sejarah Desa/Kelurahan Se Kabupaten Tulungagung, terbitan Badan Perpustakaan, Dokumentasi, dan Kearsipan Kabupaten Tulungagung
Participantas: Deiki, Khalisa, Intan



