Skip to content

Kisah Tragis Pangeran Lembu Peteng, Legenda Tutur Asal-Usul Tempat-tempat di Tulungagung Part #2

Tulungagung merupakan salah satu wilayah yang sangat menjunjung tinggi kearifan lokalnya. Kisah-kisah legenda mengenai asal-usul nama tempat di wilayah ini masih terpelihara dengan baik. Salah satu kisah yang begitu melekat dalam cerita tutur masyarakat Tulungagung adalah legenda Sungai Lembu Peteng.

Legenda

Kisah ini merupakan prekuel artikel saya yang berjudul “Balada Cinta Roro Kembang Sore”. Time Iine cerita ini terjadi beberapa saat sebelum kisah pelarian Roro Kembang Sore di mulai.

Alkisah. Dalam pelariannya menghindari kejaran pasukan Majapahit, Adipati Kalang harus terpisah dengan Kyai Kasan Besari. Sang adipati berupaya mencari perlindungan ke Kadipaten Betak, daerah lungguh yang berada di bawah kekuasaan kerabatnya. Ia bersiasat untuk bersembunyi di taman sari karena tidak sembarang orang diperkenankan memasuki area tersebut. Roro Kembang Sore yang tengah berada di taman sari kaget dengan kedatangan pamannya yang mendadak.

Roro Kembang Sore: Paman, ada apa gerangan berlari terburu-buru seperti ini?

Adipati Kalang: Kau tidak perlu tau kenapa paman seperti ini. Jangan kau katakan kepada siapa pun jika aku berada di sini!

Roro Kembang Sore: Baik paman.

Roro Kembang Sore tidak sepenuhnya mengetahui situasi yang terjadi, namun ia menuruti begitu saja permintaan pamannya. Tidak lama berselang, datanglah seorang kesatria dengan atribut kebesaran ke taman sari. Kesatria tersebut adalah Pangeran Lembu Peteng. Roro Kembang Sore dengan sigap menanyakan apa tujuan kedatangan kesatria tersebut ke wilayah taman sari.

Roro Kembang Sore: Mohon maaf, ada keperluan apa pangeran datang kemari?

Pangeran Lembu Peteng: Mohon maaf nimas saya telah lancang memasuki taman sari tanpa izin. Maksud kedatangan saya di sini adalah untuk mencari keberadaan Adipati Kalang. Telik sandi Majapahit memberi tahu saya bahwa Adipati Kalang lari ke arah sini. Apakah nimas mengetahuinya?

Roro Kembang Sore: Mohon maaf pangeran, saya tidak mengetahui keberadaan Adipati Kalang. Siapakah pangeran ini?

Pangeran Lembu Peteng: Perkenalkan nimas, saya Pangeran Lembu Peteng dari Majapahit. Saya murid Kyai Pacet dari Padepokan Bonorowo yang ditugaskan menangkap Adipati Kalang dan Kyai Kasan Besari yang berkhianat. Sekali lagi saya mohon maaf karena telah lancang memasuki taman sari.

Roro Kembang Sore: Jadi pengeran adalah murid Romo Kyai Pacet? Mohon maaf saya tidak mengetahuinya. Silakan pangeran beristirahat dahulu di taman sari.

Pangeran Lembu Peteng seketika terlena karena terpikat oleh kecantikan dan keramahan Roro Kembang Sore. Niat awal sang pangeran untuk mengejar Adipati Kalang telah luntur, dan justru sekarang ia melakukan kesalahan dengan merayu Roro Kembang Sore. Sebenarnya Roro Kembang Sore juga terpana dengan Pangeran Lembu Peteng sejak pandangan pertama. Kedua sejoli itu asyik bercengkerama di taman sari.

Kesempatan ini tidak disia-siakan Adipati Kalang untuk mencemarkan nama baik Pangeran Lembu Petang dan mengadu dombanya dengan Pangeran Bedalem selaku Adipati Betak sekaligus ayah Roro Kembang Sore. Tanpa sepengetahuan Roro Kembang Sore dan Pangeran Lembu Peteng, Adipati Kalang menyelinap dan menceritakan kejadian di taman sari kepada Pangeran Bedalem.

Pangeran Bedalem murka mendengar cerita tersebut kemudian bergegas menuju taman sari. Sang Adipati Betak segara menghampiri kedua sejoli tersebut dan sekonyong-konyong menampar Pangeran Lembu Peteng. Terjadi keributan yang berubah menjadi perang tanding. Peristiwa itu membawa mereka hingga ke pinggir sungai.

Pangeran Lembu Peteng: Adipati, beri aku kesempatan untuk menjelaskan kesalahpahaman ini!

Pangeran Bedalem: Untuk apa aku mendengarkan omong kosong mu?! Seperti ini kah tata krama seorang pembesar dari Majapahit?! Perilakumu seperti pemuda berandalan! Memalukan!

Dalam perang tanding, Pangeran Lembu Peteng kesulitan untuk menjelaskan secara runut tujuannya datang ke Kadipaten Betak. Ia hanya secara singkat menyampaikan ke Adipati Betak bahwa telah jatuh cinta pada Roro Kembang Sore. Pernyataan tersebut membuat Pangeran Bedalem semakin murka. Pangeran Bedalem yang merupakan kakak seperguruan dari Pangeran Lembu Peteng jauh lebih unggul dalam perang tanding. Dengan ajian pamungkasnya ia berhasil menewaskan Pangeran Lembu Peteng.

Pangeran Bedalam tepak sedikit menyesali perbuatannya karena telah membunuh salah satu pembesar Majapahit. Untuk menghilangkan jejak, Pangeran Bedalem melemparkan jasad Pangeran Lembu Peteng ke sungai.

Roro Kembang Sore yang menyaksikan peristiwa tersebut sangat sedih. Sosok pangeran yang baru saja dikaguminya telah tewas di tangan ayahnya sendiri. Sang putri menangis sejadi-jadinya di pinggir sungai. Dalam suasana sedih itu muncul lah Ki Teluk Agung, seorang bijak di Kadipaten Betak.

Ki Teluk Agung: Sabarlah engkau Kembang Sore, semua ini sudah kehendak dewata. Untuk mengenang peristiwa ini, aku namai sungai ini sebagai Sungai Lembu Peteng.

Setelah menyampaikan sabdanya, Ki Teluk Agung menghilang dari hadapan Roro Kembang Sore. Dari peristiwa itu hanya tertinggal keris milik Pangeran Lembu Peteng. Roro Kembang Sore memungut dan menyimpannya.

. . .

Kisah legenda Sungai Lembu Peteng ini masih melekat dalam ingatan masyarakat setempat. Tanpa melupakan cerita tutur tersebut, dengan berkembangnya zaman, kini Sungai Lembu Peteng telah berubah menjadi salah satu spot keramaian di Tulungagung.

Lokasi dan Rute

Sungai Lembu Peteng memiliki ikon yang sangat dikenal masyarakat Tulungagung, yakni Jembatan Lembu Peteng. Jembatan ini bertempat di sisi barat pusat Kota Tulungagung, secara administratif berada di wilayah Kelurahan Kutoanyar, Panggungrejo dan Sembung.

Kisah Tragis Pangeran Lembu Peteng, Legenda Tutur Asal-Usul Tempat-tempat di Tulungagung Part #2 15

Jembatan Lembu Peteng.

Lokasi Jembatan Lembu Peteng sangat mudah dijangkau. Jika travelers sekalian berangkat dari arah timur silakan berpatokan dari Terminal Gayatri. Lanjutkan perjalanan ke arah barat kurang lebih 10 menit, kalian akan sampai di tujuan. Jika dari arah barat (dari Trenggalek via Kec. Gondang), setelah tapal batas ikuti jalur menuju alun-alun Tulungagung. Nantinya kalian akan bertemu dengan Jembatan Lembu Peteng di pertengahan jalan.

Deskripsi Sungai Lembu Peteng

Bantaran Sungai Lembu Peteng memperoleh perhatian serius dari pemerintah daerah Tulungagung dan masyarakat setempat. Terutama setelah spot ini booming sebagai tempat nongkrong muda-mudi pada era 2010an. Area ini kemudian disulap menjadi ruang terbuka hijau yang memberikan beribu manfaat bagi masyarakat yang lebih luas.

Sungai Lembu Peteng biasanya ramai dikunjungi di sore hari dan semakian ramai pada malam minggu atau hari-hari libur. Kalau pas bulan Ramadan apa lagi, kawasan ini merupakan arena berburu takjil yang padat. 😀

Di bagian timur sungai (masuk wilayah Kutoanyar) banyak dijajakan beraneka macam kuliner baik yang bersifat tradisional maupun kekinian. Selain pusat kuliner, tersedia beberapa fasilitas umum seperti joging track,  dan gazebo. Biasanya masyarakat yang berkunjung memanfaatkan fasilitas tersebut untuk bercengkerama menikmati suasana Sungai Lembu Peteng.

Kisah Tragis Pangeran Lembu Peteng, Legenda Tutur Asal-Usul Tempat-tempat di Tulungagung Part #2 16

Ngrowo Jogging Track.
Kisah Tragis Pangeran Lembu Peteng, Legenda Tutur Asal-Usul Tempat-tempat di Tulungagung Part #2 17

Joging track.

Wilayah sebelah utara sungai tepatnya masuk Kelurahan Sembung juga tak kalah menarik untuk ditelusuri. Wilayah ini terkenal sebagai sentra penghasil kerupuk rambak. Tidak heran jika menyusuri Sungai Lembu Peteng dari sisi utara, kita akan menyaksikan aktivitas masyarakat setempat yang tengah mengeringkan kulit sapi/kerbau sebagai bahan dasar kerupuk rambak. Di sisi utara ini pula terdapat Ruang Terbuka Hijau (RTH) Reog Kendang.

Kisah Tragis Pangeran Lembu Peteng, Legenda Tutur Asal-Usul Tempat-tempat di Tulungagung Part #2 18

Pemandangan pengeringan kerupuk rambak secara tradisional tak jauh dari Sungai Lembu Peteng.

Kisah Tragis Pangeran Lembu Peteng, Legenda Tutur Asal-Usul Tempat-tempat di Tulungagung Part #2 19

RTH Reog Kendang.

Sementara itu, di sebalah barat sungai tepatnya di Kelurahan Panggungrejo “Kota” (untuk membedakan dengan Panggungrejo di Kecamatan Kauman) juga terbentang joging track yang cukup panjang. Jalur ini dilengkapi dengan sejumlah tempat duduk di berbagai sudut dan dihiasi dengan penataan tanaman hias yang cantik. Selain joging track di sisi ini juga terdapat sejumlah spot spot ikonik PINKA (Pinggir Kali), berupa kafe, distro dan arena futsal.

Kisah Tragis Pangeran Lembu Peteng, Legenda Tutur Asal-Usul Tempat-tempat di Tulungagung Part #2 20

Gapura Wisata Kuliner PINKA (Pinggir Kali) Lembu Peteng.

Kisah Tragis Pangeran Lembu Peteng, Legenda Tutur Asal-Usul Tempat-tempat di Tulungagung Part #2 21

Salah satu kafe ikonik di sekitar PINKA.

Tumbuhnya Sungai Lembu Peteng sebagai pusat keramaian telah memberi dampak positif bagi masyarakat setempat terutama yang menggeluti UMKM dan menjadi hiburan yang murah bagi masyarakat luas. Dari kisah legendanya yang gelap kini Sungai Lembu Peteng telah berubah ke era yang cerah.


Writer: Deiki

Sumber:

  • Gubahan naskah Ketoprak Siswo Budoyo lakon “Roro Kembang Sore”

Tinggalkan Balasan

error: Content is protected !!

Eksplorasi konten lain dari D'Travellers

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca