Suatu pagi saat bercengkrama bersama sahabat, tiba tiba ketertarikan akan kisah cinta mulai menggerakan saya untuk menyusuri Bukit Bolo. Bukit tersebut merupakan salah satu tempat yang kental dengan legenda tutur di wilayah Tulungagung. Kisah legendanya berfokus pada pusaran cinta yang mengelilingi tokoh Roro Kembang Sore.
Table of Contents
Lokasi dan Rute
Gunung Bolo.
Bukit/ Gunung Bolo terletak di perbatasan Kec. Kauman dan Kec. Gondang, Kab. Tulungagung. Di puncak bukit ini terdapat makam Nyai Roro Kembang Sore, yakni tokoh sentral dalam legenda tutur yang kami telusuri pada perjalanan kali ini. Secara administratif, Makam Roro Kembang Sore terletak di Desa Bolorejo yang masuk wilayah Kecamatan Kauman.
Kami memulai perjalanan dengan berpatokan dari Terminal Gayatri. Dari terminal, perjalanan diarahkan ke barat kurang lebih 5 km menuju simpang tiga Jetak’an Kauman (masyarakat setempat lebih mengenalnya dengan sebutan perempatan Pukesmas Kalangbret). Dari simpang tiga tersebut kami melanjutkan perjalanan ke arah barat sampai menemukan bukit di utara (kanan) jalan yang dipenuhi dengan makam Tionghoa (Bong Cino). Itu lah Bukit/ Gunung Bolo.
Perjalanan kami lanjutkan dengan menyusuri jalan beraspal yang mengarah ke area pemakaman tersebut. Kami terus melintas hingga percabangan yang terdapat bangunan kremasi. Selanjutnya kami mengambil percabangan sebelah kiri. Tak lama kemudian kami pun tiba pada susunan anak tangga yang mengarah ke area Makam Roro Kembang Sore.
Deskripsi Makam
Masyarakat setempat mengenal Makam Nyai Roro Kembang Sore sebagai tempat keramat. Oleh karenanya, untuk memasuki makam harus dengan izin kuncen (juru pelihara) makam. Makam ini juga dijadikan tempat untuk mensotrenkan (melakukan perjanjian gaib) kelompok kesenian jaranan yang berada di sekitar lokasi makam. Masyarakat percaya bahwa keberadaan makam tersebut membawakan berkah. Banyak peziarah yang datang ke lokasi makam sehingga secara tidak langsung meramaikan desa dan menggerakkan roda ekonomi.
Tangga menuju Makam Roro Kembang Sore.
Kembali ke cerita perjalanan. Mendekati area makam kami disambut oleh puluhan anak tangga. Di bagian muka susunan anak tangga tersebut terdapat sepasang tugu penanda masuk. Kalau dalam imajinasi saya, dua tugu tersebut bak sepasang arca dwarapala 😀 hehehe. Dengan penuh semangat kami meniti anak tangga tersebut hingga akhirnya tiba di puncak bukit.
Lingkungan Makam Rara Kembang Sore.
Hari itu lokasi makam terlihat sangat sepi dan sunyi. Tak ada seorang pun yang terlihat. Hanya semilir angin yang seakan-akan menyambut kedatangan kami. Dengan leluasa kami pun dapat mengamati area makam ini secara seksama. Menurut kami, pelestarian lokasi Makam Nyai Roro Kembang Sore sudah sangat memadai. Kebersihan areanya sangat terjaga, tidak ada satu pun sampah yang menodai lokasi ini. Saat berada dilokasi, bukan kesan mistik yang kami dapati. Justru tempat ini terasa begitu nyaman. Benar-benar tempat yang cocok bagi para perindu ketenanang dan kesejukan hati.
Dari lokasinya yang berada di atas bukit, peziarah juga dapat menyaksikan pemandangan Tulungagung dari ketinggian. Selain legendanya, tempat ini dibalut dengan ketenangan dan keindahan. Benar-benar paket langkap. Benar-benar tempat yang layak untuk dilestatikan keberadaannya hingga anak cucu kelak.
Legenda
Seperti yang telah disinggung pada mukadimah di atas, legenda yang berkembang seputar Bukit Bolo dan Nyai Roro Kembang Sore masih terpelihara dengan baik dan dituturkan secara turun-temurun. Izinkan saya menyajikan kisah legenda tersebut dalam bentuk cerpen. Semoga travelers sekalian bisa menikmati dan memetik hikmahnya.
Alkisah. Di Kadipaten Betak, Pangeran Bedalem memiliki dua orang putri bernama Rara Ringgit dan Roro Kembang Sore. Roro Kembang Sore melarikan diri dari kadipaten karena dikejar-kejar oleh Adipati Kalang. Untuk menghindari kejaran sang adipati, Roro Kembang Sore harus pontang-panting mencari tempat persembunyian. Suatu hari sampailah Rara Kembang Sore di tenggah hutan.
“Berada dimanakah aku ini? Tolong-tolong!,” teriak ketakutan Rara Kembang Sore. Beruntunglah teriakan tersebut didengar oleh seorang janda pencari kayu. Mbok Rondo Dadapan namanya.
Mbok Rondo: Seperti ada teriakan meminta tolong?
Roro Kembang Sore: Mbok, tolong aku.
Mbok Rondo: Oh ternyata kamu nduk. Siapa namamu? Kenapa bisa berada di tempat ini sendirian?
Roro Kembang Sore: Aku Roro Kembang Sore. Aku menghindari kejaran Adipati Kalang yang dibutakan cinta. Aku berlari sekencang-kencangnya tanpa tau arah hingga akhirnya tersesat mbok.
Mbok Rondo: Kasihan sekali kau putri cantik, ayo ikut simbok ke rumah. Di sana kamu akan aman.
Roro Kembang Sore: Terimakasih mbok.
Roro Kembang Sore bersama Mbok Rondo pun berjalan beriringan menuju rumah Mbok Rondo di lereng gunung.
Mbok Rondo: Keadaan rumah simbok hanya seperti ini.
Roro Kembang Sore: Tidak apa-apa mbok rumah ini terlihat nyaman.
Waktu sudah menunjukan siang hari, tak lama lagi anak laki-laki Mbok Rondo akan pulang dari ladang untuk makan siang. Saat pertama kali melihat Roro Kembang Sore, anak laki-laki Mbok Rondo langsung terperangah.
Mbok Rondo: Le, ayo masuk sini! Makan siangnya sudah simbok siapkan.
Joko: Iya mbok. Itu siapa mbok?
Mbok Rondo: Kenalkan, dia Roro Kembang Sore. Tadi dia tersesat di tengah hutan. Jadi simbok ajak dia pulang ke rumah. Oiya Roro, perkenalkan ini Joko, anak simbok.
Roro Kembang Sore: Iya mbok, salam kenal juga Kang Joko.
Semenjak kedatangan Roro Kembang Sore, hari-hari di rumah Mbok Rondo menjadi berbeda. Joko menjadi lebih riang dan terbuka. Diam-diam Joko menyimpan rasa cinta pada Roro Kembang Sore. Hingga akhirnya ia pun mengungkapkannya pada Roro Kembang Sore.
Joko: Roro, kemarilah.
Roro Kembang Sore: Iya, ada apa kang?
Joko: Semenjak kau tinggal di rumah ini dan kita saling bertergur sapa, aku mulai menyimpan rasa cinta padamu. Mau kah kau menerima cintaku?
Roro Kembang Sore begitu terkejut mendengarkan pernyataan tersebut. Ia bingung harus menjawab apa. Ia sejenak mematung sembari mencari cara untuk menolak ungkapan cinta dari Joko secara halus. Akhirnya ia pun memperoleh siasat.
Roro Kembang Sore: Baiklah kakang. Jika kau benar benar mencintaiku, aku memiliki sebuah syarat.
Joko: Katakanlah Roro. Demi membuktikan tulusnya cintaku kepadamu, akan ku penuhi syarat tersebut.
Roro Kembang Sore: Baiklah. Sanggupkah kakang bertapa bisu di atas gunung di belakang rumah ini selama 40 hari 40 malam sembari mengenakan cikrak di kepala? Dan jika bukan aku yang membangunkan kakang jangan sampai kau terbangun dari tapamu. Apakah kakang sanggup?
Tanpa menjawab satu patah kata pun Joko langsung menuju gunung untuk melaksanakan syarat yang diberikan Roro Kembang Sore.
Setelah beberapa hari Joko tidak pulang, Mbok Rondo mulai gelisah. Ia melakukan pencarian ke segala penjuru hingga akhirnya berhasil menemukan Joko. Sepontan Mbok Rondo segera menegur Joko.
Mbok Rondo: Joko, kenapa kamu berdiam di sini sambil mengenakan cikrak di kepala?! Ayo segera pulang le!
Tak ada sepatah kata pun yang terlontar dari bibir Joko. Dalam hati ia ingin menjawab panggilan dari ibunya, tapi dia sudah terikat dengan syarat yang diberikan Roro Kembang Sore. Setelah berulangkali ditegur namun Joko tetap diam, Mbok Rondo Dadapan akhirnya marah.
Mbok Rondo: Anak ditanya ibunya kok diam saja! Persis seperti BATU!!
Setelah sabda tersebut, keanehan mulai muncul. Langit berubah menjadi gelap gulita dan guntur menyambar tubuh Joko. Seketika tubuh Joko berubah menjadi batu. Mbok Rondo sangat terkejut, kemudian menyadari bahwa yang terjadi pada Joko adalah tuah dari sabdanya. Ia begitu menyesal.
Mbok Rondo: Joko!! Kenapa nasib mu menjadi seperti ini le? Apa yang sudah simbok katakan ini? Jagad Dewa Bathara, tolong kembalikan anakku seperti sedia kala.
Nasi sudah menjadi bubur, yang sudah terjadi tidak bisa kembali.
Mbok Rondo: Duh Dewa. Le sabar, ini semua sudah takdir hyang maha kuasa. Sebagai penghargaan untuk mu yang selama ini sudah menjadi anak berbakti, maka gunung ini aku beri nama Gunung Budeg.
Batu Joko Budeg di Gunung Budeg, Campur Darat Tulungagung.
Sejurus kemudian, Roro Kembang Sore begitu kebingungan melihat Mbok Rondo pulang ke rumah dengan berurai air mata.
Roro Kembang Sore: Mbok, apa yang terjadi?
Mbok Rondo: Nduk, anak semata wayang ku sudah berubah menjadi batu di atas gunung karena ucapanku.
Mendengar ucapan Mbok Rondo, Roro Kembang Sore begitu terkejut. Ia menyadari bahwasannya Joko pergi ke atas gunung untuk menjalankan syarat darinya. Singkat cerita, Rara Kembang Sore memutuskan berpamitan kepada Mbok Rondo untuk melanjutkan pelarian. Dengan perasan bersalah yang mendalam, ia bersumpah untuk tidak menikah. Roro Kembang Sore mengasingkan diri ke Bukit/ Gunung Bolo.
Suasana puncak Gunung Bolo yang rindang menenangkan.
…
Legenda ini mengajarkan pada kita untuk berbakti kepada orang tua terutama ibu, melebihi bakti kepada manusia lainnya. Jika kau mencintai seorang kekasih, maka lebih sayanglah engkau pada ibumu. Bagitu pula jika kau tidak berkenan dengan perasaan cinta orang lain, maka jangan kau susahkan orang tersebut. Berilah jawaban yang jujur dan lugas.
Writer: Deiki
Participants: Deiki, Feri




