Skip to content

Situs Setono Gedong Kediri, Peninggalan Sejarah yang Penuh Teka Teki

Setono Gedong bukanlah tempat yang asing lagi bagi para travelers yang sering melakukan perjalanan wisata ziarah. Situs Setono Gedong ini terletak di Jl. Doho, Kota Kediri, tepatnya berada di seberang Stasiun Kediri.

Situs Setono Gedong Kediri, Peninggalan Sejarah yang Penuh Teka Teki 2

Gapura paduraksa

Setono Gedong sangat erat kaitannya dengan legenda Mbah Wasil atau Syeh Wasil Syamsudin, seorang tokoh pangeran Mekah yang menyebarkan Islam di Kediri. Jadi situs ini sangat kental dengan unsur Islam. Eits, tapi jika travelers sekalian menyimak kisah perjalanan Thomas Staford Raffles, kalian akan menemukan fakta yang mencengangkan. Kisah tersebut dimuat dalam History of Java yang diterbitkan pada tahun 1817. Kutipannya adalah sebagai berikut:

The environs of the capital of Kediri abound with antiquities of every kind; but it is evident that here, more than at other places, great expense and labour has been bastowed to demolish the building and to mutilate the images. In all parts of the site of the present capital I noticed fragments covered with sclupture in relief, broken rechas, and regularly chiselled oblong stones, of that kind which was employed in the construction of the chandis, besides very extensive foundation, in brick, of walls, building, &c. I am further led to suppose, from the regurality and elegence of the materials employed, that a Mahomedan temple and grave have been constructed almost enterely fro an ancient building demolished for the purpose, at the period of the introduction of the Mahomedan religion. This temple is called Astana Gedong, but none of the present inhabitants can give any information as to the period of its construction. As it is of Mohamedan origin I took only a very slight view of it, to avoid the disagreeable gesticulations which the natives always exhibited on the approach of one of their sanctuaries; and it is very comfortable circumstance that a traveller is freely permitted to examine undisturbed, all those antiquites which are unequivocally derived from a period preceding the introduction of Mohamedanism, or from what the natives call “wong kuna, kapir, or buda.”

Dari laporan perjalanan tersebut Raffles menyatakan bahwa Setono Gedong sebelum dijadikan situs Islam sebenarnya adalah sebuah bangunan Hindu Budha. Dalam laporan tersebut disampaikan pula bahwa pada Setono Gedong dapat ditemukan fragmen-fragmen berelief dan sejumlah arca yang terpotong. Saat ini beberapa komponen bangunan candi memang masih dapat kita jumpai seperti batu berelief, potongan arca, dan lapik arca. Lapik arca pada Situs Setono Gedong cukup unik karena selain memiliki hiasan padma, pada beberapa sisinya juga terdapat relief garuda.

Situs Setono Gedong Kediri, Peninggalan Sejarah yang Penuh Teka Teki 3

Fragmen berelief dan potongan arca

Situs Setono Gedong Kediri, Peninggalan Sejarah yang Penuh Teka Teki 4

Lapik arca

Narasi awal dalam laporan Raffles mengenai pengerahan pekerja untuk membongkar candi yang kemudian dijadikan situs Islam kami rasa bukan terjadi pada masa perjalanan Raffles. Sebab penduduk yang kala itu dijumpai Raffles menyatakan bahwa tidak mengetahui kapan bangunan Setono Gedong didirikan. Informasi pengerahan pekerja mungkin hanya diperoleh Raffles tanpa melihat kejadiannya. Hal ini ditegaskan oleh pernyataan Raffles yang menduga bahwa pengubahan bangunan candi menjadi bangunan Islam terjadi pada periode pengenalan ajaran Islam.

Untuk mengulik lebih dalam mengenai teka-teki pendirian Setono Gedong, travelers sekalian dapat membaca karya ilmiah dari Guillot dan Kalus mengenai Inskripsi Setono Gedong. Perlu kalian ketahui bahwa pada dinding pagar makam Mbah Wasil terdapat sebuah inskripsi beraksara dan berbahasa Arab yang dapat dijadikan acuan mengenai kesejarahan Setono Gedong. Sayang sekali DTrav belum sempat mendokumentasikan inskripsi tersebut karena berkunjung pada waktu istirahat sehingga pagar makam dikunci. Untungnya karya ilmiah Guillot dan Kalus mencantumkan salinan dari inskripsi tersebut. Berikut DTrav cantumkan alih aksara dari inskripsi Setono Gedong yang kami baca dari karya ilmiah Guillot dan Kalus:

Hadza Maqom Al Imam Al Kamil Wal Alim Al Fadhil Wa Syaikh
Al Wasil Al Hafidzul Kitabillahi Ta’ala Al Mustakmil Lisyari’atinnabiyyi
llahi Shollallohu Alaihi Wasallam Assyafi’i Madzhabil Abroquu (Hiya) (?) ….
Al Bahroini (?) Nasaban wa huwa taajun (?) (Sirojun?) Al Qodho (?) (Al qodhotun?) Wa Syamsun ….
…. Isyrina (?) (Wa) Tis’umi’atin (?) Min Al Hijriyyatin Annabawiyyah….

Artinya:

Ini maqam Imam yang sempurna, seorang alim mulia, dan syekh
yang saleh, yang menghafal Kitab Allah yang Maha Tinggi, yang paling menyempurnakan Syariat Nabi
Allah semoga Allah memberikan rahmat dan keselamatan kepadanya-Al Syafi’i Mazhabnya, Al-Abarkuhi(?)….
Al-Baharaini(?) nisbahnya. Dialah Mahkota(?) (Pelita?) putusan(para Hakim)(?), dan Matahari….
Sembilan ratus(?)dua puluh(?)….hijrah nabi….

Inskripsi Setono Gedong tidak begitu saja bisa dipahami, sebab sebagian tulisan pada inskripsi telah rusak. Anehnya kerusakan tersebut seperti disengaja olah orang yang memahami agama Islam, sebab kerusakan tidak terjadi pada bagian-bagian yang merujuk pada Tuhan dan nabi. Tanggal pada inskripsi juga tak luput dari perusakan, untungnya bilangan ratuan dan puluhan pada tahunnya masih terbaca yaitu 92? H (sembilan ratus dua puluh [tak terbaca] Hijriah). Jika di masehikan, kira-kira inskripsi Setono Gedong berasal dari kurun waktu 1514 sampai 1523 Masehi.

Inskripsi Setono Gedong sangat menarik. Dari isinya inskripsi ini mirip sebuah epitaf (teks pendek untuk menghormati orang yang dimakamkan). Dalam inskripsi tersebut disebutkan mahzab dan nisbah dari tokoh yang tidak diketahui namanya (bagian namanya rusak). Epitaf biasanya terletak pada nisan, tapi inskripsi Setono Gedong menempel pada dinding pagar, sehingga Guillot dan Kalus berpendapat bahwa inskripsi tesebut bukanlah epitaf. Meski di dekat inskripsi tersebut terdapat makam, mereka berpendapat bahwa kata “makam” yang disebut dalam inskripsi bukanlah menunjukkan sebuah kuburan melainkan sebuah petilasan (Maqam).

Lalu siapakah tokoh Islam yang telah berjasa pada kurun waktu 1514 sampai 1523, sehingga namanya dimuat dalam sebuah  monumen di Kediri? Kurun waktu 1514 sampai 1523 tidak pernah dicatat dalam sumber-sumber sejarah sebagai peristiwa penting. Peristiwa terdekat yang mungkin berkaitan dengan kurun waktu inskripsi Setono Gedong adalah peristiwa penaklukan Kediri oleh Demak melalui Sunan Kudus pada tahun 1527. Sebelumnya Demak memang pernah beberapa kali menggempur Majapahit yang beribukota di Kediri namun gagal. Kala itu serbuan Demak dipimpin oleh ayah Sunan Kudus dan beliau gugur dalam pertempuran. Secara kebetulan gaya dari inskripsi Setono Gedong mirip dengan inskripsi Masjid Kudus. Berdasarkan hal tersebut, Guillot dan Kalus menduga bahwa tokoh yang monumenkan dalam inskripsi Setono Gedong adalah ayah dari Sunan Kudus.

Di kemudian hari Sunan Kudus berseberang paham dengan Sultan Demak dan memilih mendirikan pemerintahan teokrasi sendiri di Kudus. Mungkin hal ini lah yang mendasari perusakan inskripsi Setono Gedong. Perusakan dilakukan oleh lawan-lawan politik Sunan Kudus yang tidak bisa terima atas keputusan yang diambil oleh sang sunan.

Di kemudian hari Setonogedong benar-benar dijadikan area makam, hal ini dapat dibuktikan dengan dijumpai sejumlah makam Islam kuno maupun baru yang berada di area situs. Pada tahun 1897 di halaman situs dijadikan tempat ibadah oleh penduduk muslim setempat, bangunan tersebut dikenal dengan sebutan Masjid Tiban. Pada tahun 1967 dibangun masjid baru di sebelah timur Masjid Tiban.

Situs Setono Gedong Kediri, Peninggalan Sejarah yang Penuh Teka Teki 5

Makam kuno

Situs Setono Gedong Kediri, Peninggalan Sejarah yang Penuh Teka Teki 6

Masjid tiban

Tak disangka bukan? Ternyata sebuah situs bersejarah yang berada di pusat Kota Kediri ini menyimpan teka-teki yang rumit.


Writer: Galy Hardyta

Sumber:

  • Guillot, C. and L. Kalus. 2003. L’énigmatique inscription musulmane du maqâm de Kediri (Xe s. H./XVI s. E.C). Archipel. 65: 25-42.
  • Raffles, T.S. 1817. The History of Java. London

Alih aksara: Zid & Eny

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan