Skip to content

Gowes Jelajah, Menelusuri Peningalan Sejarah di Dusun Mojo, Plosoarang, Blitar (Situs Mojo)

makam sonojoyo

Gowes atau sepedahan adalah rutinitas yang sudah lama tidak DTrav lakukan. Maklum sesudah kuliah kami jadi jarang bangun pagi. Kalau sudah siang mau sepedahan ya males, udara sudah kotor. Syukurlah setelah sekian lama akhirnya kami berkesempatan untuk bergowes lagi. Untuk mengisi sela-sela liburan, kami sepakat untuk bergowes menyusuri pelosok-pelosok desa di Blitar, dan tanpa direncanakan perjalanan kami sampai di Dusun Mojo, Desa Plosoarang, Kecamatan Sanankulon, Kabupaten Blitar.

nandi situs mojo

Jika diamati dan diblusuki dengan seksama, ternyata di Dusun Mojo banyak tersebar benda cagar budaya masa klasik. Awalnya kami menjumpai arca nandi di halaman salah seorang warga, karena terdorong rasa penasaran kami pun mblusuk-mblusuk hingga ke makam keramat dan kolam gurami. Hasilnya kami menjumpai arca nandi lainnya dan sebuah sandung. Masih banyak lagi benda cagar budaya lainnya seperti yoni, lumpang, dan lapik arca. Melihat adanya yoni dan arca nandi, dapat diketahui bahwa corak keagamaan dari Situs Mojo adalah Hindu. Yoni adalah perlambang Dewi Parwati dan nandi merupakan kendaraan Dewa Siwa a.k.a Mahadewa.

situs mojo plosoarang blitarNandi di Makam Sonojoyo (Leluhur Dusun Mojo)

Yang menarik dari sebaran benda cagar budaya di Situs Mojo Plosoarang ini dalah keberadaan sandung (miniatur rumah). Ada yang berpendapat bahwa sandung berkaitan dengan ritus pemujaan Dewi Sri (Dewi Padi). Dewi Sri adalah dewa lokal yang keberadaanya tetap dipertahankan meskipun pengaruh Hindu Budha telah berkembang di Nusantara. Bahkan ritus terhadap Dewi Sri masih terus berlangsung hingga era modern ini, meski akhir-akhir ini sudah jarang. Kalau di era sekarang miniatur rumahnya tidak terbuat dari batu melainkan kayu dan sejenisnya. Udah langka banget yang melakukan ritus ini, tapi kalau mau liat gambarnya bisa googling.

sandung situs mojo plosoarangSandung (Miniatur Rumah)

Mempertimbangkan adanya sandung, dan lokasinya yang terletak di pinggir Sungai Brantas, kemungkinan dulu Dusun Mojo merupakan lumbung pertanian di tepi Brantas. Hasil pertanian bisa saja langsung diangkut ke sebelah selatan sungai melalui dermaga-dermaga, salah satu dermaga kuno ada di Situs Besole yang terletak agak ke timur dari Dusun Mojo.

Wow, dari gowes saja bisa panjang ceritanya. Malah berkhayal sampai masa silam. Yang jelas yang kami paparkan di atas hanya sekedar pendapat orang awam, jadi untuk mengungkap misteri situs ini masih perlu dilakukan penelitian yang lebih mendalam. Akhir kata dari kami, “sampai jumpa di perjalanan selanjutnya.”


Writer : Galy Hardyta

Photographer : Galy Hardyta

Participant: Galy, Koje

5 Comments

  1. di jadiin agenda ne kyknya asik mas walaupun g rutin……………

  2. Zawie Zawie

    Makame Mbahku itu Mas…

  3. ming ming

    Menurut cerita, Mbah/Eyang Sonojoyo itu keluarga Kesultanan Mataram, beliau memilih berada di desa Mojo Plosoarang untuk menghindari penjajah Belanda yang ketika itu Pangeran Diponegoro berhasil ditangkap oleh penjajah Belanda.

    Ada ciri khas untuk mengenali orang-orang (pasukan) Diponegoro, di halaman rumah ditanami pohon sawo.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *