Skip to content

Situs Dayu Blitar, yang Tersisa dari Kisah Dewi Ronce

Pramila kanamekaken Déwi Rontje, wonten tiang ingkang sampoen kasoeroepan taken ingkang njoeroepi nami Déwi Rontjé, gria wetan mergi, inggih poeniká panggénan rejta. Oegi wonten tiang doesoen Dajoe sampoen kapripèni retja nami Déwi Rontjé, pramilá kalestantoenaken poeniká retjä nami Déwi Rontjé,” (Rapporten Oudheidkundig Onderzoek, 1908).

Begitulah kisah sebuah arca di Desa Dayu, Kec. Nglegok, Kab. Blitar sehingga disebut dengan nama Dewi Ronce (Rontje). Tak peduli apakah itu arca Siwa atau Wisnu, masyarakat Dayu tetap menyebutnya Dewi. Ciri-ciri arca tersebut bermahkota, berlengan empat, tidak terlalu jelas memegang camara atau cakra? (sehingga belum jelas arca ini penggambaran Siwa atau Wisnu). Pada arca ini terdapat pahatan dua pot yang memunculkan batang dan tunas. Berdasarkan ciri tersebut diduga bahwa arca ini berasal dari era Majapahit. Sayang sekali arca ini telah hilang.

Bagian miniatur candi.

Dalam Rapporten Oudheidkundigen Dienst 1913, di Situs Dayu juga dilaporkan adanya arca ganesa berlengan empat, nandi, tiang, dua buah artefak yang sudah tidak dapat dikenali, dan ganesa. Benda-benda cagar budaya ini juga sudah tidak dapat ditemukan. Namun, bukan berarti sudah tak ada yang tersisa dari Situs Dayu. Di sudut-sudut desa masih dapat dijumpai beberapa benda cagar budaya. Ada bagian dari miniatur candi, sejumlah yoni, dan relief arca.

Relief arca, dokumentasi DTrav tahun 2010.

Semoga benda-benda cagar budaya yang tersisa dari Situs Dayu dapat lestari, sehingga keberadaannya dapat dijadikan sebagai penanda sejarah yang dapat diwariskan hingga masa mendatang. 😀


Writer: Galy Hardyta

Sumber:

  • Rapporten Oudheidkundig Onderzoek 1908
  • Rapporten Oudheidkundigen Dienst 1913

Participant: Anggun, Galy, Zid

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *