Skip to content

Nada Perjuangan di Tengah Kehidupan: Kisah Inspiratif Seniman Dadang Kurniawan dari Tulungagung

Sebagai seorang penulis, saya merasa sangat bersyukur dapat Kembali menghadirkan kisah yang menginspirasi dari tokoh-tokoh lokal di Tulungagung. Setelah sebelumnya DTrav mengangkat cerita perjuangan Wahyu Fajar Giri, seorang penyanyi lokal yang sukses menorehkan namanya di tingkat nasional berkat tekad dan usaha yang luar biasa, kali ini kaami hadir dengan kisah inspiratif lainnya.

Kali kami memperkenalkan sosok inspiratif lain, seorang pejuang seni yang telah memberi kehidupan pada budaya lokal, yakni Mas Dadang Kurniawan. Bagimana perjalanan Mas Dadang melintasi berbagai tantangan hingga menjadi simbol keberhasilan dalam dunia seni? Mari kita salami kisahnya yang penuh dengan pelajaran berharga.

Biografi

Nada Perjuangan di Tengah Kehidupan: Kisah Inspiratif Seniman Dadang Kurniawan dari Tulungagung 4

Dadang Kurniawan lahir di Tanah Laut, Kalimatan Selatan, pada 5 Februari 1995, dari keluarga transmigran asal Jawa. Ketika usianya baru dua tahun, ayahnya meninggal dunia. Kehilangan tersebut membuat sang ibu membawa Dadang kecil ke Pulau Jawa, tepatnya ke Tulungagung, dan menitipkannya kepada kakek serta neneknya. Sementara itu, sang ibu bertolak ke Malang untuk bekerja demi membiayai kehidupan dan pendidikan anaknya.

Sejak kecil, Dadang tumbuh dalam lingkungan yang penuh kesederhanaan dan tantangan. Kondisi tersebut justru menempanya menjadi sosok tangguh, mandiri, dan berbakti kepada orang tua. Dukungan kakek, nenek, serta keluarga besar menjadi pilar yang menguatkan Dadang untuk tetap melanjutkan pendidikan meski berbagai keterbatasan mengiringi hari-harinya.

Dadang Kurniawan menempuh Pendidikan dasar di SD Negeri 2 Kedungcangkring, melanjutkan ke SMP Negeri 2 Gondang, lalu menyelesaikan Pendidikan terakhirnya di SMA Negeri 1 Kauman. Selama masa sekolah, Dadang membiyai kebutuhan hidupnya sendiri dengan bekerja, mulai dari membantu berjualan ayam goreng hingga tampil di berbagai acara seni daerah. Ia memanfaatkan bakat seninya sebagai modal untuk bertahan sekaligus bentuk rasa syukurnya kepada Tuhan. Melalui prestasi seninya Dadang juga pernah memperoleh beasiswa KIP.

Semasa ia duduk di bangku SMP, Dadang remaja menggunakan sepeda ontel sebagai alat transpotasi menuju sekolahnya setiap hari. Beratnya perjuangan ini tidak pernah mematahkan semangatnya. Sebaliknya, kesulitan itulah yang membuat tekad Dadang muda semakin kuat dan tertanam dalam diri.

Kecintaan terhadap dunia kesenian tradisional mulai tumbuh sejak usia remaja. Dadang dikenal sebagai sosok dengan bakat alami di bidang musik tradisional, seperti slompret, karawitan, serta seni rupa. Berkat kecintaannya pada seni inilah, ia tidak hanya dapat melanjutkan pendidikan, tetapi juga mampu bertahan hidup saat kakek dan neneknya telah tiada.

Sejak duduk di bangku SMP hingga SMA, Dadang aktif mengikuti kegiatan dan pelombaan seni pelajar. Beberapa pencapaiannya antara lain adalah mengikuti lomba reog Tingkat SMP, meraih juara 1 lomba seni rupa Tingkat SMP, serta menjadi anggota Group Seni Pelajar yang saat itu berpusat di SMA Negeri 1 Kedungwaru, kelompok seni ini bahkan mewakili Kabupaten Tulungagung dalam berbagai ajang besar yang digelar di Surabaya, Malang dan Trenggalek. Dadang juga pernah tampil bersama Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Tulungagung bersama seniman-seniman lokal seperti Mas Bimo dan Mas Tri.

Melalui berbagai aktivitas seni tersebut, Dadang tidak hanya menyumbangkan sertifikat serta penghargaan untuk daerahnya, tetapi juga memperluas jejaringnya di kalangan seniman Tulungagung. Dalam perjalanannya berkesenian, ia mendapat banyak dukungan moral dari tokoh-tokoh seniman senior, salah satunya almarhum Mbah Yari  yang bukan hanya memberi semangat tetapi juga memberikan peralatan musik peninggalannya untuk pentas.

Setelah menyelesaikan pendidikan SMA, Dadang sempat merantau dan bekerja di beberapa daerah. Ia pernah bekerja di Bali dengan tetap berkecimpung di bidang kesenian. Kemudian, ia melanjutkan perjalanan ke Nusa Tenggara Timur (NTT) untuk berprofesi sebagai pembuat tahu tempe sebelum akhirnya kembali ke Bali dengan bidang kerja yang sama. Namun, pandemi Covid-19 mengubah jalan hidupnya. Ia memutuskan kembali ke Jawa dan beralih menjadi pedagang angkringan sekaligus membantu keluarga berjualan gas LPG.

Kini, pada tahun 2025, Dadang bekerja sebagai tenaga umum di RSUD dr. Iskak Tulungagung. Meski pekerjaan utamanya di rumah sakit tidak terkait seni, ia tetap meluangkan waktu untuk berkesenian di sela-sela kesibukannya. Namun, ia selalu berpegang pada prinsipnya:

“Jika waktu berkesenian mengganggu pekerjaan utama, saya tidak akan berangkat. Tanggung jawab kerja tetap yang utama.”

Bagi Dadang, seni kini bukan sekadar mencari penghasilan, tetapi lebih kepada perjuangan melestarikan budaya. Baginya, ia bukan sekadar seniman biasa, melainkan pejuang kebudayaan.

Seni bagi Dadang Kurniawan merupakan wujud pengabdian. Ia meyakini bahwa setiap orang memiliki tanggung jawab untuk berbakti kepada bangsa melalui bidangnya masing-masing. Filosofi hidup yang menjadi pegangan utamanya adalah:

“Saya tidak ingin muluk-muluk. Bidang saya adalah kesenian, maka saya berbakti dan mengharumkan nama bangsa lewat kebudayaan.”

Menurutnya, melestarikan budaya Tulungagung adalah bentuk nyata cinta tanah air, penghormatan kepada leluhur, dan ungkapan syukur kepada Allah atas anugerah yang telah diberikan kepadanya.


Writer: Deiki

Narasumber: Dadang Kurniawan

Tinggalkan Balasan

error: Content is protected !!

Eksplorasi konten lain dari D'Travellers

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca