Skip to content

Selamatan Bulan Suro di Desa Demuk Tulungagung, Tradisi Luhur yang Masih Terjaga Kelestariannya

Suatu komunitas masyarakat biasanya tumbuh dan berkembang sesuai dengan adat tradisinya masing-masing. Begitu pula komunitas masyarakat yang ada di Desa Demuk, Pucanglaban, Tulungagung, Jawa Timur. Kali ini travelers sekalian akan saya ajak berkenalan dengan salah satu tradisi yang masih dipertahankan masyarakat di Desa Demuk, yaitu tradisi selamatan bulan Suro. Tidak lengkap rasanya mengulas tradisi tersebut sebelum kita berkenalan dengan bulan Suro. Bulan Suro adalah bulan yang menandakan awal tahun menurut kalender Jawa. Istilah ini diambil dari bahasa Arab Asyuro (bulan Muharram) bulan pertama dalam kalender Hijriah/ Islam.

Lokasi dan Rute

Berita terkait selamatan bulan Suro di Desa Demuk pada tanggal 7 Juli 2024 sudah menggema di telinga saya. Saya sangat antusias dan tidak ingin ketinggalan momen istimewa tersebut, karena saya memang punya kerabat di sana. Seusai bekerja, saya beserta keluarga langsung memacu kuda besi ke arah Kecamatan Pucanglaban untuk turut hadir dalam selamatan bulan Suro di Desa Demuk. Dari pusat kota Tulungagung, perjalanan ke Pucanglaban dapat ditempuh kurang lebih selama 45 menit (tergantung kecepatannya ya, kalau saya hanya 60 kph, maklum saya bukan pembalap hehehe) 😀 .

Kecamatan Pucanglaban dapat ditempuh dari berbagai arah. Dari arah Tulungagung saya menuju Ngunut kemudian ambil arah ke selatan lurus sampai pertigaan Pasar Kalangan. Dari pertigaan Pasar Kalangan saya ambil arah ke timur lalu belok ke selatan sampai bertemu pertigaan dengan papan petunjuk arah ke Kalidawir. Setelah ambil arah ke Kalidawir tinggal lurus ke barat mengikuti jalan sampai bertemu papan petunjuk ke Pucanglaban. Kondisi jalan yang saya lalui kemudian menanjak dengan kelok-kelok yang sangat tajam, ini lah jalur lok songo. Setelah melewati lok songgo akhirnya tabal batas Desa Demuk sudah terlihat.

Pada sore hari saya sudah tiba di kediaman kerabat di Desa Demuk. Selepas salat Magrib, saya dan istri bersiap-siap untuk berangkat menuju lokasi selamatan yang diselenggarakan di jalan desa. Dari kediaman keluarga menuju lokasi selamatan tidak terlalu jauh, kurang dari 5 menit perjalanan saya sudah sampai di lokasi selamatan.

Deskripsi Event

Sesampai di lokasi selamatan, saya sangat kagum dengan kerukunan dan gotong royong yang ditampilkan warga setempat. Mereka saling bahu membahu mempersiapkan tempat selamatan, ada yang menggelar tikar dan ada pula yang mengkoordinir persiapan lainnya. Setelah siap, mereka semua duduk dengan rapi. Sembari menunggu dimulainya acara, mereka tampak bercengkerama dengan hangat. Pemandangan semacam ini terkadang mulai langka dijumpai di tempat lainnya. Saya sangat terharu sembari tersenyum bahagia menyaksikan pemandangan tersebut.

Nah.. Mari beranjak ke hidangan selamatan. Hidangan atau makanan merupakan unsur yang tak terpisahkan dari tradisi selamatan. Dalam tradisi selamatan, setiap keluarga yang hadir akan membawa makanan. Makanan tersebut dikumpulkan dan didoakan bersama-sama seluruh warga dengan dipimpin tokoh agama/ tokoh masyarakat/ sesepuh desa, kemudian nantinya disantap bersama-sama atau dibawa pulang. Umumnya hidangan yang dibawa adalah makanan-makanan tradisional seperti ingkung (ayam utuh), urap-urap, sambal goreng dan lain sebagainya. Hidangan selamatan dikemas dengan cara tradisional memanfaatkan daun dan pelepah pisang. Benar-benar konsep yang unik. Mungkin di daerah lain di luar Demuk masih ada yang melestarikannya, namun sepertinya sudah banyak juga yang beralih menggunakan wadah-wadah yang lebih praktis.

Selamatan Bulan Suro di Desa Demuk Tulungagung, Tradisi Luhur yang Masih Terjaga Kelestariannya 8

Acara inti selamatan bulan Suro di Desa Demuk dibagi menjadi dua sesi. Pertama, acara dipimpin oleh tokoh agama. Beliau menjelaskan urgensi dan keberkahan tahun baru Islam serta proyeksi hal-hal positif yang dapat dikerjakan di tahun baru. Kemudian tokoh agama bersama seluruh warga memanjatkan doa amalan-amalan tahun baru. Seluruh warga kompak menghadap ke arah barat dibarengi lantunan doa yang khusyuk.

Sesi kedua dilanjutkan dengan selamatan Suro secara adat Jawa. Sesi ini dipimpin oleh sesepuh desa (tukang kajat: seorang yang bertugas memimpin doa dengan adat Jawa). Di hadapan beliau tertata rapi ubo rampe sesaji. Dengan khusyuk beliau membacakan doanya secara adat Jawa.

Selamatan Bulan Suro di Desa Demuk Tulungagung, Tradisi Luhur yang Masih Terjaga Kelestariannya 9

Pada sesi ini sempat tersirat di benak saya, “Apakah di masa depan posisi tukang kajat semacam ini masih lestari?” Saya berusaha berfikiran positif, berharap agar adat-adat luhur seperti ini terus lestari dan berharap kelak tetap ada penerus posisi tukang kajat tersebut. Dengan mengikuti secara langsung kemudian mengisahkannya dalam artikel ini, saya berharap informasi mengenai adat tradisi luhur seperti ini bisa sampai pada travelers sekalian.

Selamatan Bulan Suro di Desa Demuk Tulungagung, Tradisi Luhur yang Masih Terjaga Kelestariannya 10

Setelah acara inti, kegiatan dilanjutkan dengan kenduri (makan bersama). Hidangan yang telah dikumpulkan sebelum doa bersama kini dibagikan merata. Setelah terbagi rata kami semua menyantap hidangan bersama-sama dengan riang gembira.

. . .

Sungguh indah tradisi selamatan Suro yang masih dipertahankan oleh masyarakat Desa Demuk. Selain pesan-pesan pribadi yang dirasakan oleh tiap-tiap pelakunya, prosesi ini juga merupakan sarana pelestarian kerukunan dan gotong royong masyarakat yang nyata. Semoga jati diri kita dapat terus terjaga melalui lestarinya adat tradisi semacam ini.


Writer: Deiki

Tinggalkan Balasan

error: Content is protected !!

Eksplorasi konten lain dari D'Travellers

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca