Dalam rangka peringatan hari jadi desa ke 131, Pemerintah Desa Demuk menggelar kesenian Ketoprak dengan lakon Djajeng Koesoemo Krido. Pagelaran seni ini bertujuan untuk menuturkan kembali kisah kepahlawanan tokoh RM. Djajeng Koesoemo (Jayeng Kusumo) kepada generasi muda.
Table of Contents
Sejarah
Biografi RM. Djajeng Koesoemo tercatat dengan baik dalam buku sejarah Desa/Kelurahan, terbitan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Tulungagung halaman 290 – 293. RM. Djajeng Koesoemo lahir pada tahun 1825 di Desa Jajaran, Pleret, Bantul, Yogyakarta. Beliau masih keturunan Raja Yogyakarta yaitu Hamengkubuwono II. Beliau putra dari RMT. Djajaningrat, Bupati Ngrowo (Tulungagung) ke lima. Nama kecil beliau adalah RM. Moidjan.
Sejak kecil RM. Moidjan sudah menunjukkan ketidak senangan terhadap penjajahan Belanda. Seringkali beliau bersinggungan dengan sinyo-sinyo hingga berujung keributan. RMT. Djajaningrat kerap kali merasa jengkel terhadap RM. Moidjan. Sebagai hukuman karena ulahnya, RM. Moidjan pernah direndam di dalam air yang diberi cabe rawit oleh sang ayah. Beliau sama sekali tidak merasa wedangen (panas terbakar pedas). Ada yang menyatakan bahwa kekuatan RM. Moidjan tersebut tidak mengherankan karena ciri-ciri kedigdayaan memang ada di tubuh beliau. Beliau tergolong sebagai anak kendit yang mempunyai jalur putih melingkar di atas pingganya.
Setelah dewasa RM. Moidjan bergelar RM. Djajeng Koesoemo. Pada tahun 1844 beliau menjabat Wedono di Tulungagung. Lalu tahun 1849 beliau menjabat Wedono di Srengat. Pada tahun 1851 beliau menjabat Wedono di Nganjuk. Tiga tahun kemudian menjabat Collector Brebek lalu dipindah menjadi Wedono di Gemenggeng.
RM. Djajeng Koesoemo sangat memperhatikan kepentingan masyarakat. Pada saat menjabat Wedono Srengat beliau membangun bendungan Pakel untuk kepentingan masyarakat Desa Pakel, Pucung dan Majangan (Kecamatan Ngantru). Beliau juga merogoh dana pribadi untuk membangun rumah kawedanan. Di Nganjuk beliau juga membangun rumah kawedanan dengan dana pribadi, dan membangun bendungan Kali Lo untuk kepentingan irigasi masyarakat. Di Gemenggeng beliau memperbaiki bendungan Kedung Gupit Paron.
Kisah heroik RM. Djajeng Koesoemo mencapai puncaknya dalam peristiwa Treteg Ngujang. Kecintaan terhadap masyarakat, membuat beliau tidak bisa menerima perilaku sewenang-wenang dari penjajah Belanda. Alkisah saat pembangunan Jembatan Ngujang, sejumlah pekerja tengah beristirahat dan menyantap bekal dari rumah. Pihak pengawas Belanda merasa tidak senang dengan pemandangan tersebut. Pengawas Belanda itu marah dan membentak para pekerja untuk segera kembali bekerja. Tak cukup dengan itu, pengawas Belanda dengan sengaja menaburkan pasir pada bekal pekerja pribumi. RM. Djajeng Koesoemo yang mengetahui kejadian tersebut tidak bisa menahan amarahnya. Tanpa pikir panjang beliau menghunuskan pusakanya ke arah pengawas tersebut. Konon karena kesaktian pusaka Keris Kiai Semar Mesem milik RM. Djajeng Koesoemo, pengawas belanda tersebut seketika mati berdiri.
Peristiwa Treteg Ngujang ini berbuntut panjang. RM. Djajeng Koesoemo diberhentikan dari jabatannya dan diselong atau dihukum buang oleh pemerintah kolonial Belanda. Beliau dibuang di hutan belantara yang masih angker yang terletak di sebelah tenggara Kabupatun Ngrowo/Tulungagung.
Beliau diberhentikan dari jabatannya mulai tanggal 23 Maret 1880. Kemudian beliau menjalani hukum buang. Saat menjalani hukum buang beliau hanya membawa sedikit bekal uang dan diikuti oleh empat puluh abdi atau penderek yang membantu babat hutan. Izin babat hutan terbit dengan No. 755 pada tanggal 10 Oktober 1893.
Saat membabat hutan, banyak halangan terutama mahluk halus yang menghalangi. Mahluk halus dalam istilah Jawa disebut demit. Para dedemit tersebut mengamuk sejadinya karena tempatnya dibabat.
Dengan kegigihan, kesabaran dan kesaktiaan RM. Djajeng Koesoemo, semua penghalang itu bisa disingkirkan. Babat hutan pun dapat terselesaikan. Luas tanah yang dibabat kesemuanya ada 35 bau (satuan luas lahan), terdiri dari 9,75 bau untuk pekarangan, dan 25,25 bau untuk pengangan. Tanah ini menjadi milik RM. Djajeng Koesoemo sampai turun temurun.
Peristiwa ganguan demit ngamuk selama babat alas telah menginspirasi RM. Djajeng Koesoemo untuk menamai tanah babatannya tersebut menjadi Demuk. Demuk kemudian menjadi desa yang ramai dan dibagi menjadi beberapa padukuhan, yaitu Dukuh Kasrepan, Dukuh Puser, dan Dukuh Boto. Tanggal izin babat hutan dijadikan sebagai hari jadi Desa Demuk yang diperingati setiap tahun.
RM. Djajeng Koesoemo meninggal pada tanggal 9 Desember 1903, dimakamkan di Pesarean Astono Puroloyo Desa Demuk.
Deskripsi Event
Pementasan ketoprak dengan lakon Djajeng Koesoemo Krido disambut baik oleh masyarakat Desa Demuk. Pementasan ini juga mendapat atensi dari masyarakat luar desa.
Malam pementasan benar benar meriah. Pentas seni dalam rangka memperingati dan meneladani kepahlawanan RM. Djajeng Koesoemo ini secara tidak langsung membawa berkah bagi banyak pihak. Tukang tukang pakir, penjaja makanan, hingga tukang sound semua mendapatkan cipratan rejeki. Malam itu jalan-jalan di Demuk benar-benar meriah.

Di ujung jajaran kedai-kedai pedangang, telah berdiri sebuah panggung. Di atas panggung ini lah ketoprak dengan lakon Djajeng Koesoemo Krido dipentaskan.
Pementas ketoprak ini berasal dari kelompok seni Ketoprak Puspa Barunusa dengan bintang-bintang andalannya seperti Bapak Maryadi, Ibu Shanti Suprobo, dan kawan-kawan. Bukan hanya itu ternyata para perangkat Desa Demuk juga ikut andil dalam pementasan ini. Terlihat Bapak Suwari, Kepala desa Demuk memerankan RMT. Djajaningrat.

Set latar panggung yang berganti-ganti menyeeuaikan jalannya cerita (misalnya di Sungai Barantas, di hutan belantara, dll) membuat pembawaan lakon menjadi lebih hidup. Alur cerita ketoprak tidak jauh berbeda dengan informasi yang termuat dalam buku sejarah Desa/Kelurahan, terbitan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Tulungagung. Ketoprak diakhiri pada adegan RM. Djajeng Koesoemo mendirikan wilayah Demuk.
Pesan moral yang dapat dipetik dari muatan cerita ketoprak ini adalah apabila kita berada dalam posisi benar jangan merasa ragu untuk bertindak. Memang membela kebenaran tidaklah mudah, namun dengan kegigihan dan kesabaran maka kemudahan akan didapatkan.
…
Semoga ulasan sederhana mengenai event budaya lokal ini menjadi salah satu pemantik untuk generasi muda agar peduli terhadap sejarah lokal. Sampai jumpa pada kisah atau perjalanan selanjutnya.
Writer: Deiki
Sumber:
- Buku Cerita Sejarah Desa/Kelurahan terbitan Dinas Kearsipan, dan Perpustakaan Kabupaten Tulungagung.
Participants: Deiki dan Nailul Muna Nur Intan Rahmania.
