Skip to content

Menelusuri Legenda Desa Tapan, Menelusuri Identitas Prasasti Tapan Tulungagung

Desa Tapan di Kec. Kedungwaru Tulungagung memiliki legenda asal-usul yang menarik untuk ditelusuri. Induk sejarah asal-usul desa ini berpangkal dari sebuah punden berjuluk Punden Setono Gilang. Berbekal rasa penasaran yang kuat, kami melakukan penelusuran ke desa ini untuk menelisik detail-detail legenda dan identitas Punden Setono Gilang.

Penelusuran ini tak dapat kami selesaikan dalam sehari perjalanan. Kami memulai penelusuran di hari Senin 1 April 2024 dan berlanjut di keesokan harinya pada tanggal 2. Mari, ikuti cerita penelusuran kami.

Legenda

Dahulunya wilayah Desa Tapan adalah hutan belantara di tepian Sungai Brantas. Pada belantara tersebut Mbah Setono Gilang membuka(babat: istilah Jawa untuk kegiatan membuka pemukiman) tempat persinggahan. Mbah Setono Gilang mempunyai tiga pengikut yang terdiri dari Mbah Bodo, Mbah Cikal, Mbah Melik. Mbah Setono Gilang beserta pengikutnya sangat gemar bertapa, oleh karenanya wilayah persinggahan ini selanjutnya disebut dengan nama Tapan.

Mbah Bodo merupakan pengikut yang sangat lugu (bodo/ bodoh), namun sakti dan taat kepada Mbah Setono Gilang. Karena ketaatannya itulah Mbah Bodo tidak mau pergi jauh-jauh dari tempat persinggahan Mbah Setono Gilang sampai akhir hayatnya. Oleh karenanya petilasan Mbah Bodo terletak tak begitu jauh di sebelah timur Punden Mbah Sentono Gilang.

Mbah Cikal adalah pengikut Mbah Setono Gilang yang tekun. Ia berjalan ke utara dari persinggahan Mbah Setono Gilang dan menemukan buah kelapa yang kemudian digunakan untuk duduk bertapa sampai muncul tunasnya (cikal).

Sedangkan Mbah Melik, ia duduk bertapa di atas bebatuan sampai tidak kelihatan (melik-melik). Wilayah yang dijadikan tempat bertapa Mbah Melik sekarang dikenal sebagai Dusun Melikan.

Dahulu di barat daya tempat persinggahan Mbah Setono Gilang banyak ditumbuhi pohon serut. Wilayah tersebut sekarang dikenal sebagai Dusun Serut.

Sementara itu, di sebelah barat tempat persinggahan Mbah Setono Gilang ada tokoh bernama Mbah Singgung. Tokoh ini sangat dermawan sehingga ramai didatangi orang-orang untuk meminta derma. Kini wilayah tersebut dikenal sebagai Dusun Donorejo. Dono bermakna memberi, sedangkan rejo bermakna keramaian.

Kurang lebih begitulah legenda asal-usul Desa Tapan beserta wilayah-wilayah di dalamnya. Berbekal legenda-legenda ini kami pun memulai perjalanan ini.

Lokasi dan Rute

Desa Tapan sangat mudah untuk dituju, sebab desa ini dilintasi jalan raya antar kota dalam provinsi. Dari pusat Tulungagung, waktu tempuh untuk menuju Desa Tapan kurang lebih hanya sekitar 20 menit. Untuk menuju lokasi Punden Mbah Setono Gilang, kami berpatokan pada pertigaan SDN 2 Tapan. Dari pertigaan tersebut kami berbelok ke kanan (ke arah timur), menyusuri jalanan hingga jalan beraspal berubah menjadi jalan konblok. Dengan mengikuti jalan konblok tersebut sampailah kami lokasi punden yang ditandai dengan bangunan cungkup.

punden mbah setono gilang

Deskripsi Punden  Setono Gilang atau Prasasti Tapan

Punden Mbah Setono Gilang telah mendapatkan perhatian yang baik dari masyarakat setempat. Pada lokasi punden telah dibangun sebuah cungkup untuk melindungi bagian inti dari punden, yakni sebuah batu besar dengan bentuk yang umum diketahui sebagai prasasti batu. Kami belum yakin benar dengan apa yang kami saksikan, sebab kondisi batu tersebut tampak menghitam, mungkin karena terkena asap dupa orang-orang yang nyadran di lokasi punden.

prasasti tapan tulungagung

Selanjutnya kami mencoba mengulik informasi dari masyarakat setempat terkait punden ini. Berdasarkan penuturan salah seorang warga yang kami temui, dijelaskan bahwa batu tersebut bukan sebuah prasasti melainkan hanya bongkahan batu besar biasa. Beliau menyebutnya watu lempeng. Berikut penuturan warga yang kami mintai keterangan.

“Ngene lo Mas, kuwi uduk prasasti. Kuwi gur wujud watu, mungkin jaman disek pas pas nentokne punden nemokne watu gede, akhire diseleh neng kono. Disek kuwi sek urung enek semen yo gur diseleh ngadek wae.”

Untuk lebih meyakinkan, kami memutuskan untuk melanjutkan penelusuran di keesokan harinya dengan area jelajah yang lebih luas. Penelusuran hari kedua kami mulai dari Punden  Mbah Bodo.

Punden  Mbah Bodo Desa Tapan

Menelusuri Legenda Desa Tapan, Menelusuri Identitas Prasasti Tapan Tulungagung 9 Menelusuri Legenda Desa Tapan, Menelusuri Identitas Prasasti Tapan Tulungagung 10

Punden Mbah Bodo terletak agak ke tenggara dari Punden Mbah Gilang. Lebih tepatnya berada di gang menuju makam umum desa. Punden Mbah Bodo berwujud sebuah bongkahan batu yang berukuran sedang. Saat ini batu tersebut dilindungi bangunan cungkup. Berdasarkan penuturan warga yang kami jumpai, dijelaskan bahwa punden ini sering diziarahi orang-orang yang hendak menyelenggarakan hajatan. Di Punden Mbah Bodo kami tidak terlalu banyak mendapatkan informasi pendukung yang bisa menjawab rasa penasaran kami terkait Punden Gilang. Kami melanjutkan penelusuran agak jauh ke arah utara hingga di pinggir Sungai Brantas menuju Punden Mbah Cikal.

Punden Mbah Cikal Desa Tapan

Jika travelers sekalian tertarik menyambangi lokasi Punden Mbah Cikal, kami sarankan untuk sering-sering bertanya kepada masyarakat setempat. Sebenarnya lokasi tiap punden di Desa Tapan berdekatan, namun lokasinya tersembunyi.

Menelusuri Legenda Desa Tapan, Menelusuri Identitas Prasasti Tapan Tulungagung 11

Seperti inilah kondisi Punden Mbah Cikal, tak banyak informasi yang kami peroleh. Menurut penuturan warga setempat, dahulu punden ini terletak di pinggir Sungai Brantas di bawah pohon pule yang sangat besar. Konon pernah suatu ketika pohon tersebut hendak ditebang orang dari utara sungai. Namun terjadi kejadian aneh, setelah alat pemotong diarahkan ke pohon, pohon tersebut mengeluarkan darah. Kini punden tersebut dipindahkan ke sisi yang lebih aman oleh masyarakat.

Meski tak banyak detail yang dapat kami urai terkait Punden Mbah Cikal, namun kami memperoleh informasi tambahan mengenai Punden Mbah Setono Gilang. Dari sudut pandang warga yang kami jumpai di Punden Mbah Cikal, batu yang berada di Punden Gilang adalah sebuah prasasti. Argumen tersebut didasarkan oleh adanya tulisan arab gundul di tubuh batu. Term/ istilah “tulisan arab gundul” di sini kami yakini bukanlah makna sejati. Term tersebut umum digunakan oleh masyarakat untuk menjelaskan aksara yang mereka tidak ketahui.

Setelah memperoleh tambahan informasi kami melanjutkan penelusuran ke Punden Mbah Melik.

Punden Mbah Melik Desa Tapan

Untuk menuju Punden Mbah Melik travelers sekalian wajib menggunakan rumus “Gunakan Penduduk Setempat” GPS 😀 . Tidak semua warga mengetahui lokasi Punden Mbah Melik. Punden tersebut terletak di tengah ladang milik warga. Dengan dipandu pemilik ladang, akhirnya kami bisa sampai di punden.

Karena lokasi punden ini berada di tengah ladang, tidak bisa dipungkiri kalau objek utamanya tertutup semak belukar. Pemilik ladang dengan parangnya langsung menebas semak hingga objek di punden terlihat. Setelah semak disingkirkan tampak sejumlah batu dan batu bata kuno (bata dengan ukuran besar, sepintas seperti yang ada di Candi Mirigambar).

Menelusuri Legenda Desa Tapan, Menelusuri Identitas Prasasti Tapan Tulungagung 12

Bata kuno tersebut menarik perhatian kami. Menurut penuturan pemilik ladang, dahulu saat membangun belik di lokasi ladang pernah ditemukan struktur bata kuno. Batanya kemudian digunakan untuk membangun belik dan sisanya dinaikkan ke atas. Tidak berhenti disitu, pemilik ladang juga menceritakan bawah Punden Mbah Melik ini dipercaya menyimpan emas.

“Jaman disek mas okeh sing moro rene mas pengen duweni barang kuwi (emas), sampek direwangi melekkan neng lokasi iki. Namung ora gampang bongso gaib gelem menehi. Biasane bongso gaib ngono kuwi mesti wenehi syarat mulai sing biasa sampek asing ora biasa. Intine ojo sampek mas kita duwe perjanjian karo bongso gaib, mergo bongso ngono kuwi endak iso disemanyani.”

Penuturan beliau terus berlanjut. Kali ini beliau menyinggung mengenai Punden Mbah Gilang. Beliau menyakini bahwa wujud batu besar yang ada di Punden Mbah Setono Gilang adalah sebuah prasasti. Keyakinan tersebut didasarkan oleh adanya huruf pallawa di tubuh batu. Term/ istilah “huruf pallawa” di sini kami yakini bukanlah makna sejati. Term tersebut umum digunakan oleh masyarakat untuk menjelaskan aksara yang ada pada prasasti. Mungkin yang dimaksud adalah aksara Jawa kuno seperti aksara yang umum ditemukan pada prasasti-prasasti yang tersebar di Tulungagung.

. . .

Setelah melalui penelusuran ini kami mantap untuk mengidentifikasi bahwa pada Punden Mbah Setono Gilang terdapat sebuah prasasti. Ya, Prasasti Tapan di Desa Tapan.

Riwayat Pelestarian

Untuk lebih memantabkan lagi, penelusuran kami lanjutkan dengan memeriksa catatan/ laporan penelitian terdahulu. Jejak artifak di Desa Tapan Tulungaung pernah dilaporkan oleh Hoepermans pada tahun 1866, Verbeek 1891, dan Knebel 1908.

Hopermans melaporkan adanya dua batu dan sebuah arca raksasa. Salah satu batunya masih terlihat memiliki tulisan sedangkan yang lainnya tampak sudah aus. Lokasi arca raksasa agak berjauhan dari lokasi batu tulis.

Laporan Verbeek juga membahas hal yang serupa, namun lebih berfokus pada batu tulis. Secara kronologis Verbeek menyinggung laporan Hoepermans, Ven Der Chijs (1879) dan hasil pembacaan Holle (1879 dan 1882) terkait tulisan dalam batu batu di Desa Tapan. Holle membaca tulisan di batu sebagai angka tahun 1051 dan 1056 Saka, akan tetapi ada keraguan pada bilangan puluhan terbaca 4 atau 5 sehingga bisa dibaca menjadi 1051 dan 1056 atau 1041 dan 1056 Saka.

Knebel merinci lebih detail dan melengkapi laporan-laporan sebelumnya. Beliau menyinggung laporan Verbeek dan Holle. Dalam laporan ini term “watu tulis” dan “astana gilang” muncul. Watu tulis digunakan untuk menyebut batu tulis yang telah aus. Sementara itu untuk pembacaan angka tahun, Knebel menyepakati yang terbaca adalah 1041 Saka dan angka tahun satunya masih membingungkan antara 1046/ 1056 Saka.

Selain mengulas prasasti di Desa Tapan, Knebel juga melaporkan adanya artifak lain seperti Arca Raksasa, Parwati, Durga dan Kemuncak Candi. Knebel juga merinci adat istiadat setempat, di mana umumnya masyarakat melakukan ritual di punden-punden pada Bulan Rajab.

Dalam artikel ilmiahnya berjudul “Makna Eko-Kultural Prasasti Lawadan dalam Konteks Permukiman Kawasan Rawa Purba di Sub-Area Selatan Tulungagung” arkeolog M. Dwi Cahyono menyinggung angka tahun prasasti di Desa Tapan (Prasasti Tapan) adalah 1134 Masehi. Angka tahun tersebut setara dengan 1056 Saka sesuai yang termuat dalam laporan laporan sebelumnya.

Sejarah

Aksara pada Prasasti Tapan di Punden Setono Gilang memang sudah aus dan susah dibaca. Kondisi tersebut ternyata juga telah dilaporkan dalam laporan-laporan terdahulu. Untuk menelaah kesejarahan Prasasti Tapan maka kami merujuk pada angka tahun yang termuat pada batu lainnya (dalam laporan terdahulu dilaporkan adanya dua batu, namun sekarang tinggal satu batu yang ada di Punden Mbah Setono Gilang). Tahun 1041 Saka dan 1056 Saka secara timeline sejarah masuk dalam periode Kerajaan Kadhiri masa pemerintaahan Raja Sri Bameswara.


Writer: Deiki

Narasumber:

  • Masyarakat Desa Tapan

Sumber:

  • Hindoe-oudheden van Java 1866
  • Oudheden van Java: lijst der voornaamste overblijfselen uit den Hindoetijd op Java, met eene oudheidkundige kaart 1891
  • Rapporten van de Commissie in Nederlandsch Indie voor Oudheidkundig Onderzoek op Java en Madoera (ROC) 1908
  • Cahyono M. D. 2016. Makna Eko-Kultural Prasasti Lawadan dalam Konteks Permukiman Kawasan Rawa Purba di Sub-Area Selatan Tulungagung. https://patembayancitraleka.wordpress.com/2016/11/17/prasasti-lawadan/

Participants: Deiki, Feri, Wily

Tinggalkan Balasan

error: Content is protected !!

Eksplorasi konten lain dari D'Travellers

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca