Skip to content

Prasasti Rini, Peninggalan Sejarah di Lembah Sungai Rini Blitar

prasasti rini bebekanPrasasti Rini

Sungai dan Gunung merupakan dua unsur penting yang mempengaruhi kehidupan masyarakat masa klasik di Jawa. Sesuai dengan ajaran Hindu Budha yang mereka anut, sungai dan gunung memegang peranan penting bagi sistem peribadatan di masa silam. Di Blitar, sudah bukan rahasia lagi jika banyak ditemukan peninggalan sejarah masa klasik di sekitar Gunung Kelud dan Sungai Brantas. Lalu bagaimanakah dengan Blitar timur? Terutama yang terletak di timur Sungai Lekso dan di bawah naungan Gunung Kawi? Apakah juga begitu?

Gunung KawiGunung Kawi

Doko, sebuah kecamatan yang terletak di timur Lekso, membentang hingga Gunung Kawi di sisi utaranya. Dataran yang memiliki kontur berlembah-lembah ini ternyata menyimpan jawaban dari pertanyaan di atas. Tak perlu menjelajahi keseluruhan dari kecamatan yang luas ini. Cukup di Desa Doko saja kami bisa menemukan jejak jejak sejarah masa silam.

Tepatnya di Dusun Bebekan, Desa Doko, Kec. Doko, Kab. Blitar terdapat sebuah prasasti. Prasasti tersebut dikeramatkan oleh masyarakat setempat dan dikenal sebagai punden watu tulis. Prasasti tersebut sejatinya adalah Prasasti Rini. cungkup prasasti riniTidak lah sulit untuk menemukan Prasasti Rini. Dari Doko kami tinggal menuju Dusun Bebekan. Setelah melintasi Sungai Rini, kami pun tiba di Bebekan. Prasasti Rini berada di dalam cungkup, tepat di pinggir jalan dusun. Prasasti Rini sendiri dirawat oleh komunitas masyarakat Hindu asli Blitar, yang mungkin sudah memeluk Hindu turun temurun sejak masa silam. Prasasti Rini, Sungai Rini, dan komunitas Hindu Pribumi. Sepertinya itu berkaitan.

Sungai Rini merupakan sungai purba yang hulunya langsung berasal dari Gunung Kawi, nantinya sungai ini akan menyatu dengan Sungai Genjong dan berhilir di Sungai Brantas, Desa Pakel, Selopuro. Dalam cerita rakyat, Sungai Rini dikenal sebagai sungai yang aman. Apa bila terjadi letusan Gunung Kelud, material lahar yang mengalir melalui Sungai Brantas tidak akan pernah bisa mengalir ke Sungai Rini. Otomatis keberlanjuan peradaban di sekitar Sungai Rini bisa terjaga. Dan kebetulan keberadaan masyarakat Hindu lokal Dusun Bebekan juga masih bertahan hingga sekarang. Mungkin itulah dasar mengapa Prasasti Rini dianugerahkan di tempat ini.

prasasti rini blitar

Pembacaan Prasasti Rini oleh Mas Okim (Pecinta Batu Lawas):

Sana : angka sembilan : 9
Sara : Sengsara : 5
Kaga : burung : 1
Nunggal : menyatu : 1
Dawuhan : nama tempat

Berdasarkan pembacaan tersebut, diketahui bahwa prasasti ini memuat sengkalan “sana sara kaga nunggal” yang apa bila dituliskan ke dalam angka menjadi 9511. Karena ini merupakan sengkalan, maka membacanya dibalik dan menunjukkan angka tahun 1159 Saka (1237 M). Kurun waktu tersebut masuk dalam masa berkuasanya Raja Anusapati dari Kerajaan Tumapel (Kerajaan Singhasari)[1]. Sementara itu, kata dawuhan di belakang sengkalan diduga sebagai nama daerah. Di utara Dusun Bebekan memang terdapat sebuah dusun yang disebut Dawuhan. Selain itu dalam bahasa setempat dawuhan juga bisa diartikan sebagai mata air.

Dalam laporan Penelitian dan Pengkajian Kepurbakalaan di Sepanjang Sungai Lekso Kecamatan Wlingi Kabupaten Blitar, Propinsi Jawa Timur tahun 1995, disebutkan bahwa Prasasti Rini memuat angka tahun 1086 Saka[2]. Namun yang dimaksud prasasti berangka tahun 1086 Saka tersebut adalah Prasasti Kesamben yang sekarang berada di Museum Nasional dengan Kode D.137. Prasasti Kesamben dulunya memang berada di Perceel Rini, Distrik Wlingi sehingga terkadang menimbulkan kerancuan dalam menyebut Prasasti Rini dan Prasasti Kesamben.travellers at prasasti rini


Writer : Galy Hardyta

Photographer : Adon

Sumber :

  1. https://mygarudhara.blogspot.com/2019/06/situs-rini.html
  2. Penelitian dan Pengkajian Kepurbakalaan di Sepanjang Sungai Lekso Kecamatan Wlingi Kabupaten Blitar, Propinsi Jawa Timur

Participant : Adon, Galy, Syaiful

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan